Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kill Me, Love Me

Kill Me, Love Me

Fajar adalah pemilik perusahaan teknologi yang menyembunyikan rahasia besar mengenai kondisi kepribadian gandanya. Meskipun ia memiliki kekasih bernama Mariska, hanya Indira yang mengetahui kebenaran tersebut. Kedekatan yang terjalin antara Fajar dan Indira memicu benih cinta yang rumit, di mana ketiga kepribadian Fajar justru jatuh hati pada Indira. Di tengah konflik batin ini, mampukah Indira menyembuhkan Fajar? Siapa yang akhirnya akan dipilih oleh hati Fajar?
Bab
Bagikan

Bab 2

BRAK

“SIALAN!” Fajar membanting semua yang dilihatnya sampai di rumah. “Siapa wanita itu?” menatap tajam pada Rifan.

Rifan mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Fajar “Wanita yang mana?” mencoba mengingat wanita yang dikatakan Fajar, “ah… cewek yang lo buat taruhan? Buat apaan? Udah nggak penting juga.”

Fajar menatap tajam, “gara-gara dia gue kalah.”

Rifan menatap bingung. “Dia salah apa? Deketin lo juga kagak terus gimana ceritanya dia bisa buat lo kalah taruhan? Ah...lo suka sama dia? Aduh… jangan macam-macam dia kesayangan semua karyawan lo.”

Rifan menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan, Fajar memicingkan matanya melihat reaksi Rifan yang seakan melindungi cewek sialan satu itu.

“Lo nggak mau kasih tahu? Gue akan cari sendiri dia.” Fajar menatap tajam pada Rifan yang terdiam. “Lo bantuin gue atau gue yang akan cari sendiri dia? Lo tahu kan akibatnya kalau gue yang turun tangan?”

“Gue pikirkan nanti.” Rifan memilih menyerah dengan semuanya, “tapi gue minta lo jangan berbuat macam-macam sama dia.”

Fajar tersenyum simpul mendengar perkataan Rifan. “Lo pulang, gue mau tidur.”

Berjalan meninggalkan Rifan seorang diri, Fajar bahkan tidak peduli dengan keadaan ruangannya yang berantakan. Masuk kedalam kamar, menatap penampilannya depan cermin dengan mengangkat bibirnya. Fajar membayangkan reaksi gadis itu besok saat berada dalam ruangannya, otaknya sudah merencanakan apa saja yang harus dilakukan nanti ketika berhadapan dengan gadis itu. Memilih untuk beristirahat untuk kehidupannya besok, bertemu dengan gadis sialan itu.

Matahari sudah menampakkan sinarnya, Fajar sudah berada di meja makan menikmati sarapannya. Menatap sekitar dimana tampak baik-baik saja, tersenyum kecil terasa hidupnya sangat sempurna. Memastikan penampilannya tidak berantakan, memberikan lip balm di bibirnya agar terlihat segar.

Sapaan dari beberapa karyawan membuat Fajar tersenyum dengan melambaikan tangannya membuat beberapa karyawan bingung, perubahan sikap Fajar bukan hanya membuat karyawan yang ditemuinya bingung, tapi juga membalas sapaan dengan hormat.

“Pagi, Kunto.” Fajar menyapa dengan memberikan senyum lebarnya.

“Pagi, Pak.” Kunto menjawab sedikit ragu, “didalam ada Bu Mariska.”

Fajar menatap pintu dengan tatapan tidak suka, “kamu usir dia, aku malas ketemu.”

Kunto membelalakkan mata mendengar perintah Fajar. “Mengusir?” Fajar mengangguk pasti, “tapi...”

“Ah...ya aku lupa kalau kamu tidak berani mengusirnya.” Fajar mengibaskan tangannya ke arah Kunto.

Melangkah menuju ruangan, membuka dengan keras membuat wanita yang berstatus tunangannya terkejut. Mariska berdiri mendekati Fajar, tangan Fajar langsung menghadap lurus menghentikan gerakan Mariska yang ingin memeluk atau mencium dirinya. Bergidik ngeri membayangkan jika itu memang terjadi, melangkah menjauh dengan membiarkan pintu terbuka.

“Aku masih banyak kerjaan, jadi sebaiknya kamu pergi.” Fajar menatap datar pada Mariska.

“Biasanya kamu memberikan ciuman panas sebelum aku pergi, kenapa sekarang kamu menjauh?” menatap Fajar dengan tatapan sedih.

Fajar seketika mual melihat reaksi yang berstatus tunangannya ini. “Aku tidak punya waktu untuk menghadapi kamu, jadi lebih baik kamu pergi.”

Fajar memilih duduk di kursi kebesarannya, menatap berkas di hadapannya dengan malas. Lebih malas lagi melihat wanita tunangannya yang ada di hadapannya kali ini, Fajar memilih membuka berkas di hadapan dan membiarkan Mariska tetap berdiri dihadapannya. Mencoba tidak peduli, lebih tepatnya lagi mencoba berinteraksi dengan berkas yang ada dihadapan.

“Permisi, Pak.” Kunto membuka pintunya membuat Fajar bernafas lega. “Pak Rifan ingin bertemu.”

Fajar langsung bersinar mendengar Rifan menginginkan bertemu dengannya, memilih menutup berkas dan meminta Kunto membawa Rifan masuk.

“Aku kira sudah tidak ada yang perlu dibahas, kamu sendiri tahu kalau aku sibuk jadi...silahkan keluar.”

Mariska menatap tidak percaya, mengambil barangnya dan langsung keluar. Melihat itu membuat Fajar tersenyum kecil, betapa bodohnya Fajar asli menyukai wanita tidak punya otak macam itu. Pintu terbuka membuat Fajar tersenyum lebar, bertemu dengan Rifan selalu membuat jantungnya berdetak kencang. Mengerutkan keningnya saat melihat Rifan masuk bersama dengan wanita, cantik dan pastinya berbeda jauh dengan Mariska dan satu lagi aura yang dimiliki wanita itu membuatnya menahan nafas.

“Saya membawakan Ibu Indira atas permintaan anda semalam.” Fajar menatap bingung pada Rifan. “Semalam anda meminta untuk membawakan Ibu Indira.” Rifan melanjutkan kata-katanya saat tidak mendapatkan tanggapan dari Fajar.

“Ah...aku ingat. Maafkan aku suka lupa akan beberapa hal.” Fajar menatap penuh sesal yang dibuat-buat “Bajingan itu telah melakukan apa semalam?” berkata lirih untuk dirinya sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Indira berkali-kali. “Apa sebaiknya kita keluar? Aku bosan berada disini.”

Fajar mengambil tasnya, berjalan mendekati Indira. Menatap wajahnya dan memberikan kode untuk mengikutinya. Fajar mengalihkan pandangan pada Rifan dan Mariska bergantian, mereka berdua tampak bingung dengan perubahan sikap Fajar. Mariska berhenti melangkah saat Fajar berjalan kearah Indira dan Rifan, seakan menunggu apa yang dilakukannya.

“Ada yang saya ingin bicarakan pada Ibu Indira, berdua.” Fajar mencoba untuk berkata datar dengan memberikan tatapan tajam. “Anda masih mau disini atau bersiap?” mengalihkan pandangan pada Indira yang terdiam membisu. “Apa perlu diulang kembali?” Fajar menatap kesal pada Indria yang hanya diam.

“Baik, Pak.” Indira berkata terkejut.

Fajar tersenyum kecil melihat bagaimana reaksi Indira saat ini, keluar dari ruangannya dengan tergesa. Mengalihkan pandangan ke arah Rifan dan Mariska yang masih terkejut dan juga menilai kejadian tadi, tapi tidak dipedulikan sama sekali. Langkah Fajar menuju Kunto yang sibuk dengan pekerjaannya, Kunto menatap bingung dengan keberadaan Fajar dihadapannya.

“Bilang pada security atau resepsionis di bawah jika Mariska datang harus menunggu keputusan aku.” Fajar menatap datar pada Kunto yang hanya bisa mengangguk, “aku keluar dengan Indira, tolong bersihkan ruangan dari bakteri, satu lagi makanan yang ada disana suruh bawa OB.”

“Fajar.” Mariska menatap tidak percaya dengan apa yang dibicarakan.

“Aku pinjam bawahanmu, bukankah kita ada perjanjian dengan salah satu perusahaan untuk kerjasama? Aku mau melihat bagaimana dia bekerja.” Fajar berkata dengan menatap Rifan datar, “bawa semua berkas dan aku tunggu di lobby.”

Berjalan meninggalkan mereka, sangat tahu jika mereka bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada dirinya. Fajar melangkah ke arah lobby, menunggu Indira dan memikirkan apa yang akan dirinya lakukan pada wanita satu itu. Fajar tidak menyadari apa yang diinginkan Fajar satunya, mendekati wanita yang sama sekali tidak sesuai dengan kriterianya. Bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi semalam pada Fajar lainnya itu, memikirkan apa yang dilakukan semalam membuatnya pusing.

“Saya sudah siap, Pak.” Fajar menatap sumber suara, menelan saliva kasar.

Berdehem singkat menghilangkan rasa gugup, “kita berangkat.”

Berdiri melangkah ke tempat dimana mobilnya berada, berangkat berdua dengan Indira membuat Fajar tidak tahu melakukan apa. Semua mata memandang ke arah mereka dengan tatapan bertanya-tanya, baik Fajar dan Indira tidak peduli dengan itu semua.

“Aw...sakit.” Fajar menghentikan langkahnya membuat Indira melakukan hal yang sama. “Sakit sekali kepalaku.”

“Bapak kenapa?” Indira menatap khawatir melihat Fajar memegang kepalanya, “kepalanya sakit? Tunggu saya mencari pertolongan.”

Fajar memijat kepalanya, tidak mendengarkan apa yang Indira katakan sama sekali. Rasa sakit di kepala yang sering terjadi akhir-akhir ini, membuat sesuatu dalam diri Fajar tidak bisa dikendalikan lagi. Mereka keluar tanpa bisa dicegah, hal ini membuat Fajar tidak bisa lagi mengontrol apa yang terjadi pada dirinya.

“Minta tolong bawa Pak Fajar duduk di sofa.” Indira berkata pelan.

“Apa yang kalian lakukan? Kembali ke pekerjaan masing-masing. Tidak ada yang boleh menyentuh tubuhku tanpa ijin.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alisha: Wanita yang Kau Sia-siakan
9.1
Alisha hancur saat Rama, suami yang ia cintai, berselingkuh dengan seorang aktris. Tanpa kata maaf dari Rama, ia pergi membawa luka dan mulai mencari kerja bermodal ijazah SMA. Alisha akhirnya menjadi pengasuh anak Damar, seorang CEO muda. Ketulusan Alisha memikat hati bosnya, namun tiba-tiba Rama muncul kembali untuk meminta rujuk. Kini, Alisha bimbang memilih antara Damar yang tulus atau mantan suaminya yang datang membawa penyesalan mendalam.
Sampul Novel ANTARA BISNIS DAN CINTA
9.4
Pasca kematian ayahnya, Jessica Marie Armantyo harus memimpin PT Gembira Raya karena Arnold, kakaknya, terjerat judi. Masalah memuncak saat Joshua Danujaya merebut posisi pemegang saham mayoritas lewat utang Arnold. Jessica yang skeptis terpaksa bekerja sama dengan Joshua yang ambisius. Di sisi lain, hubungan sepuluh tahun Jessica dan Alan kandas karena karier YouTube Alan. Di tengah patah hati, pesona Joshua mulai menggoyahkan kebencian Jessica. Akankah cinta bersemi dari persaingan bisnis ini?
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel Dijodohkan dengan CEO tanpa Hati
8.5
Satu bulan membina rumah tangga, Ana Puspita Ningsih belum pernah disentuh oleh Louis Kusnadi. Pernikahan paksa ini mempertemukan dua kepribadian yang bertolak belakang. Ana dikenal sebagai wanita penyantun yang tulus membantu kaum papa, sementara Louis adalah CEO arogan yang gemar menindas orang lain. Di balik kekayaannya, Louis sangat pelit dan kerap menyakiti hati istrinya. Ana kini harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sedingin es dan penuh amarah.
Sampul Novel Dream come true
8.7
Zefanya sempat merasa dicintai Andrew, hingga kesalahpahaman fatal menghancurkan segalanya. Kehormatan Zefanya direnggut secara paksa, menghancurkan impiannya untuk memiliki keluarga tulus. Sepuluh tahun berlalu, Andrew hidup menderita dalam kekayaan dan rasa bersalah yang mendalam. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Zefanya bukan lagi wanita yang sama. Andrew kini berjuang keras demi sebuah maaf, namun benarkah hanya itu yang ia inginkan?
Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
9.1
Nadine terburu-buru menikah dengan pengusaha yang dikabarkan bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban mulai terjadi. Nadine memenangkan Porsche dan vila mewah secara tak terduga. Segala masalahnya tuntas berkat bantuan sang suami yang misterius. Semula ia tak curiga, hingga orang-orang memujinya karena bersuamikan pria kaya raya. Nadine akhirnya menyadari bahwa suaminya bukan orang biasa, melainkan seorang konglomerat ternama.