
Ketua Geng Itu Suamiku
Bab 3
Gue masih ngerasa kayak lagi di mimpi buruk ketika akhirnya gue duduk di depan penghulu. Nggak ada pesta pernikahan. Nggak ada resepsi. Cuma akad sederhana di ruang tamu rumah gue, disaksikan sama keluarga gue dan keluarga Bin. Semua ini terjadi begitu cepat, dan gue sama sekali nggak siap.
"Dengan mas kawin tersebut, apakah kamu, Ayu Renjana, bersedia menikah dengan Arbinata Moon...?"
Nama panjangnya terdengar asing di telinga gue. Arbinata Moon? Itu nama asli Bin? Gue baru tahu hari ini, setelah bertahun-tahun cuma manggil dia "Bin," yang gue kira nama panggilan berandalan sekolah biasa. Ternyata dia punya nama seaneh itu. Dan gue sama sekali nggak nyangka kalau Bin ternyata beda kelas, baik secara akademis maupun latar belakang keluarga.
Gue sempat ngelirik ke arah Bin yang duduk di samping gue. Wajahnya datar, nggak ada ekspresi apa-apa. Kayak dia nggak peduli sama apa yang terjadi di sekitarnya. Gue nggak tau apa yang ada di pikirannya, tapi gue tahu satu hal, gue nggak mau ada di sini. Gue nggak mau menikah sama dia.
"Bersedia," jawab gue dengan suara pelan, setengah terpaksa. Nggak ada pilihan lain. Gue nggak bisa ngelawan keputusan orang tua, dan lebih buruk lagi, gue nggak sempat membela diri di depan mereka tadi.
Setelah itu, semuanya berlangsung begitu cepat. Surat pernikahan ditandatangani, dan sebelum gue sadar, gue udah resmi jadi istrinya Arbinata Moon.
**
Gue lagi duduk di sofa rumah yang sekarang jadi tempat tinggal gue dan Bin. Rumah ini dikasih sama keluarga Bin, katanya buat kami tinggal berdua setelah menikah. Rumahnya gede banget, jauh dari apa yang gue bayangin buat seorang berandalan kayak Bin. Gue kira dia bakalan tinggal di tempat sempit dan kotor, tapi ternyata gue salah besar.
Baru tadi gue tahu kalau ayah Bin itu seorang pejabat besar. Orang kaya yang punya pengaruh di kota ini. Rasanya makin aneh aja. Gimana bisa anak pejabat yang punya segalanya malah jadi berandalan sekolah dan menurut rumornya sih dia juga punya geng kayak si Jeni.
Bin sendiri dari tadi nggak banyak ngomong. Dia cuma ngasih gue tatapan cuek dan langsung naik ke lantai atas setelah kami tiba di rumah ini. Gue cuma bisa bengong, nggak tahu harus ngapain.
"Lo nggak bakal ngomong apa-apa?" tanya gue pelan, meski gue tahu Bin udah nggak di sekitar. Pertanyaan itu lebih ke diri gue sendiri.
Gue masih nggak ngerti kenapa hidup gue tiba-tiba berubah drastis kayak gini. Seorang murid berprestasi, penerima beasiswa, yang sekarang malah terjebak dalam pernikahan yang nggak pernah gue inginkan, apalagi sama orang yang gue benci.
Gue pikir setelah menikah, mungkin ada sedikit perubahan, atau paling nggak, ada penyesuaian antara gue dan Bin. Tapi ternyata gue salah besar. Hidup sama Bin itu kayak neraka. Kami berdua nggak pernah berhenti bertengkar, dari pagi sampai malam. Kayak kucing dan anjing yang nggak pernah bisa akur.
"Bin, lo serius nih? Ini udah tiga hari sampahnya nggak lo buang. Gue udah bersihin dapur, kamar, bahkan kamar mandi. Tapi lo malah nambahin berantakan lagi!" Gue ngomel sambil nunjuk ke arah tumpukan baju kotor yang berserakan di ruang tamu.
Bin, yang lagi rebahan di sofa sambil main handphone, cuma ngelirik sekilas dengan muka datar. "Santai aja, Yu. Besok gue buang, kok."
Besok? Gue udah denger kalimat itu berkali-kali, tapi 'besok' versi Bin tuh kayak nggak pernah datang.
"Nggak bisa gitu, Bin! Gue nggak bisa hidup di rumah yang jorok gini!" Gue mulai frustrasi, nggak tahan sama kebiasaan Bin yang berantakan dan nggak peduli sama kebersihan rumah.
Bin malah ngangkat bahu. "Ya udah, kalau lo nggak tahan, lo yang buang aja. Gue capek abis sekolah, ya wajar lah mau istirahat bentar."
Gue bisa ngerasain darah gue mendidih. Bin itu bener-bener nggak bisa diatur! Selalu cuek, nggak peduli sama apa yang gue lakukan buat bikin rumah ini nyaman. Gue udah bersihin hampir semua sudut rumah, tapi dia malah nambahin kerjaan dengan barang-barang yang berserakan di mana-mana.
"Lo pikir gue robot apa, ngurusin rumah sendirian?" Gue melotot ke arahnya, tapi Bin cuma menghela napas panjang, seakan-akan gue yang salah di sini.
"Lagian, ngapain sih lo repot-repot? Rumah ini emang gede, nggak usah lo beresin tiap hari juga nggak apa-apa," jawabnya santai.
Gue bener-bener nggak tahan lagi. Gue ngerasa kayak cuma gue yang berusaha bikin hubungan ini berjalan, sementara Bin nggak peduli sama sekali. Rasanya capek, terus-terusan berantem tentang hal yang sama, tapi nggak pernah ada perubahan.
Akhirnya, gue cuma bisa ngeluh dalam hati, sambil masuk ke kamar gue. Ya, kamar gue. Gue dan Bin masih tidur terpisah. Itu pun untungnya buat gue, karena kalau kami harus tidur sekamar, gue nggak tahu gimana caranya bisa tidur tenang setiap malam dengan berantem kayak gini terus.
Hidup sama Bin bener-bener ujian kesabaran. Setiap hari ada aja yang bikin gue kesel. Dan satu hal yang paling nyebelin? Dia selalu nyuruh-nyuruh gue buat masakin dia mie instan.
"Yu, bikinin mie dong. Gue laper," serunya dari ruang tamu sambil nonton TV. Padahal dia tinggal bangun, ke dapur, dan masak sendiri. Tapi kayaknya males itu udah jadi nama tengahnya.
Gue ngelirik dia dari dapur dengan muka sebel. "Lo kan bisa masak sendiri, Bin. Gampang banget bikin mie doang."
"Ya tapi gue lagi capek, abis motoran sama anak-anak," jawabnya dengan nada santai, seakan-akan itu alasan yang cukup buat nyuruh-nyuruh gue.
"Gue bukan pembantu lo, Bin," gue ngomong tegas, berusaha nahan emosi. Bener-bener nggak adil, dia cuma duduk leha-leha, sementara gue harus ngurus rumah, masak, dan segala macam.
Dia langsung ngelirik ke gue dengan tatapan tajam. "Kalau lo nggak mau bikinin, lo bisa cabut dari sini sekarang juga."
Ancaman itu bikin jantung gue berdegup kencang. Gue bener-bener nggak nyangka dia akan ngomong kayak gitu. Diusir? Gue sempat mikir buat kabur aja dari rumah ini, balik ke rumah orang tua gue. Tapi terus gue kepikiran, kalau gue pulang, pasti mereka bakal khawatir banget anak semata wayangnya ini di perlakukan gak adil. Nanti nyokap gue ngadu lagi ke bokapnya Bin, panjang lagi masalahnya nggak kelar-kelar!
Jadi, dengan berat hati, gue cuma bisa menunduk dan ngikutin perintahnya. Gue bikin mie instan buat dia, walaupun hati gue rasanya kayak diperas. Bukan karena gue nggak bisa masak, tapi karena gue ngerasa nggak ada harga diri lagi. Ini rumah gue juga, tapi Bin memperlakukan gue seolah-olah gue cuma penumpang.
Sambil nunggu mie mateng, gue cuma bisa ngelamun, mikirin gimana caranya bertahan dalam situasi ini. Gue tahu kalau gue pulang, masalah bakal tambah rumit. Jadi, lebih baik gue turutin aja dulu kemauan Bin, setidaknya sampai gue nemu cara buat keluar dari situasi ini.
Anda Mungkin Juga Suka





