Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Suami Tak Lagi Peduli

Ketika Suami Tak Lagi Peduli

Arista berharap pernikahan dengan Yoga penuh kelembutan, namun realitanya justru menyakitkan. Setelah berhenti bekerja demi suami, dia malah diabaikan dan tidak diberi nafkah dengan alasan gaji yang tertunda. Kesabaran Arista mencapai batasnya saat ia memergoki kebohongan Yoga ketika buah hati mereka jatuh sakit. Kini, Arista bertekad menguak kebenaran di balik sikap dingin suaminya. Rahasia gelap apa yang sebenarnya disembunyikan Yoga selama ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ingatanku kembali terdampar. Aku ingat betul, dulu saat awal kehamilan Mas Yoga sama sekali tidak memberiku uang sebagai pegangan. Alasannya karena Mas Yoga sendiri yang bisa memenuhi semua keperluan kami. Dia berkata akan mengatur keuangan sebagai kepala keluarga.

Aku jelas tersinggung karena merasa tidak dipercaya untuk mengelola rumah tangga kami. Namun aku hanya bisa mengalah. Sejak saat itu kami selalu memiliki alasan untuk bertengkar. Aku merasa tertekan karena tidak berhak membeli kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan Zidan. Semuanya harus meminta izin dan persetujuan dari Mas Yoga.

Sebagai seorang istri, aku tetap berusaha untuk patuh. Sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan uang terlalu banyak untuk diriku sendiri. Aku jarang berdandan dan makan seadanya. Bagiku yang terpenting adalah mengedepankan kesehatan Zidan.

Anakku tidak bersalah. Seburuk apapun kondisiku, aku tidak menyesal telah mengandung dan melahirkannya ke dunia. Namun saat melihat keperluan Zidan sangat memprihatinkan, aku menyalahkan diri dan merutuki nasib yang sedang kujalani. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa memasrahkan segalanya pada Tuhan.

Mas Yoga jarang sekali mengantarku untuk memeriksakan kandungan. Kehamilanku selama sembilan bulan hanya diisi dengan rasa miris. Terkadang aku menatap iri para wanita hamil lain yang diperlakukan begitu baik oleh suami mereka. Aku melihat bagaimana mereka ditenangkan saat hendak melakukan pemeriksaan. Aku sangat menginginkan itu, tetapi Mas Yoga beralasan dia harus lembur di kantor karena pekerjaan yang menggunung. Di dalam hati, aku meragukannya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi selama ini aku selalu berusaha untuk mengendalikan pikiranku dari prasangka buruk.

Malam hari, setelah aku memastikan Zidan terlelap dengan nyaman, aku memilih bangkit dari tempat tidur. Perutku berbunyi. Lapar, itu yang sedang aku rasakan.

Kedua langkah kakiku beranjak, keluar dari kamar dengan suara sepelan mungkin agar Zidan tidak terganggu. Dia sangat sensitif terhadap suara sekecil apapun. Jika Zidan sampai terbangun, akan sangat sulit untuk membuatnya tertidur kembali.

Pandanganku menangkap televisi yang menyala tanpa keberadaan Mas Yoga. Kedua alisku terangkat, dimana dia? Mengurungkan niatku untuk pergi ke dapur, aku memilih berjalan keluar dari rumah untuk memeriksa keberadaan Mas Yoga. Rasanya tidak mungkin jika suamiku pergi dari rumah, besok dia harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.

Aku tertegun sebentar, terpaku di ambang pintu dengan pandangan fokus pada Mas Yoga. Aku menatapnya tanpa ekspresi. Perasaanku campur aduk begitu saja. Ini bukan kali pertamanya aku mendapati Mas Yoga menelepon seseorang tanpa memikirkan keadaan sekitar. Dia tidak mempedulikan bahwa ini sudah larut malam. Pria itu seolah melupakan waktu, bahkan sesekali aku melihat tawa bahagia yang jarang ia berikan untuk sekedar menghiburku.

Kulihat ia menyadari keberadaanku, lantas berdeham satu kali. Aku masih berdiri di ambang pintu, berharap dia menghampiriku lebih dulu. Mas Yoga bersuara pada seseorang dalam telepon lagi, mengatakan jika akan menghubungi lagi nanti. Setelahnya memasukkan ponsel ke dalam saku celana, dan berjalan mendekat dengan wajah netralnya.

“Telepon dari siapa, Mas?” tanyaku sembari mengerutkan dahi.

Mas Yoga membasahi bibir berulang kali, kebiasaannya saat hendak berbohong. Kami sudah menikah cukup lama, aku tahu kapan ia berbohong dan kapan dia mengatakan yang sebenarnya. Dan geliatnya sekarang cukup membuktikan, Mas Yoga hendak menutupi sesuatu.

"Arya, dia menawariku untuk membeli motor tarikan dari customer yang gagal bayar," jawabnya santai. Mas Yoga berusaha tenang, tapi aku merasa ada yang janggal.

"Selarut ini?" tanyaku lagi.

Aku tidak terlalu bodoh untuk bisa memahami. Mas Yoga terlalu meremehkan kepekaanku terhadap gelagat mencurigakannya selama ini. Lagipula jika ini urusan kantor, mengapa dia harus pergi ke luar rumah untuk menjawab telepon? Bahkan sampai meninggalkan siaran bola favoritnya begitu saja.

"Kenapa menjawabnya di luar? Mengapa tidak di dalam rumah saja? Ini sudah malam, Mas, bagaimana jika tetangga kita merasa terganggu" tanyaku beruntun.

Aku berusaha untuk tidak meninggikan nada bicara marena tidak ingin didengar oleh tetangga. Jarak antar rumah petakan memang sangat dekat, hanya terpisah oleh setengah dinding. Aku yakin mereka bisa mendengar setiap kali kami berseteru.

Mas Yoga memutar bola mata malas, lalu menatapku dengan kedua alis menyatu.

"Kamu ingin membuat Zidan terbangun tengah malam?" tanya Mas Yoga balik. Aku tertawa sumbang, Zidan selalu menjadi alasan. Aku tidak akan percaya, karena sudah kesekian kalinya ia memaparkan alibi yang sama.

Karena enggan berdebat di malam hari, aku memilih untuk meninggalkannya di ambang pintu. Daripada kesal sendiri, aku masuk ke dalam kamar. Bahkan rasa lapar yang tadi begitu menyiksa mendadak lenyap begitu saja. Napsu makanku sudah terkalahkan oleh amarah terpendam yang siap meledak kapan saja. Aku lelah menghadapi Mas Yoga.

Di dalam kamar, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Bulir air mataku mulai turun. Bibir bawahku kugigit dengan kencang, berusaha untuk tidak mengeluarkan sedikit pun suara agar Zidan tidak terjaga.

***

Tangisan kencang Zidan berhasil membuatku mengerjapkan pandang. Di subuh yang dingin ini, aku terbangun dengan mata sembap karena menangis terlalu lama. Pandanganku beralih pada Zidan sembari mengumpulkan kesadaran yang tersisa.

Terkejut, aku terkejut bukan main saat sprei bagian tengah basah. Namun itu bukan ompol, aku bisa melihat cairan pekat kemerahan mengenai paha Zidan. Bahkan selimut kecil yang sebelumnya aku selubungkan ke tubuh mungil putraku telah merosot karena kedua kakinya bergerak tak nyaman.

Aku bergegas membuka popok dengan pandangan khawatir. Darimana asal darah itu? Sejenak, aku terpaku. Tanganku bergetar saat mendapati Zidan buang air besar bercampur darah dengan jumlah banyak.

"Ya Tuhan. Kamu kenapa, Nak?” tanyaku dengan bibir gemetaran. Aku panik bukan main hingga kembali menangis. Isakanku padam karena tangisan Zidan jelas lebih kencang dariku.

Pikiranku langsung tertuju pada Mas Yoga. Aku harus memberitahukan kondisi Zidan pada suamiku. Zidan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kedua kakiku beranjak turun dari tempat tidur, mencari keberadaan Mas Yoga yang rupanya berbaring di dalam kamar. Kulihat ia malah memejamkan mata di atas kursi dengan televisi yang masih menyala. Aku bergegas menggoyang-goyangkan tubuh Mas Yoga sementara air mataku masih berlinang. Khawatir dan takut akan kondisi Zidan membuat pikiranku kacau.

"Mas, bangun! Antar aku dan Zidan ke rumah sakit sekarang!" seruku. Aku berusaha sekeras mungkin untuk membangunkan Mas Yoga, tetapi dia tidak kunjung terjaga.

“Mas!” Aku kembali berseru. Setengah terkejut Mas Yoga langsung menyentak kedua tanganku dengan gerakan kasar. Aku hampir terjatuh ke atas lantai karena tidak bisa menjaga keseimbangan.

"Arista! Kenapa mengagetkan, hah? Aku baru saja tidur! Kamu mau membuatku kena serangan jantung!" serunya mengomel.

Aku menatap Mas Yoga dengan pandangan kecewa. Bahkan saat anak kami sedang tidak baik-baik saja, Mas Yoga lebih memilih melanjutkan tidurnya.

“Mas, tolong bangun. Zidan harus segera dibawa ke rumah sakit,” lirihku kembali. Menepis segala kekecewaan dan ketakutan yang ada agar Zidan ditangani secepatnya. Mas Yoga mengerang marah sebentar, lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Dia bangun setelah mendengar suaraku yang lemah dan tidak berdaya.

"Ayo, cepat!” serunya tidak sabar. Dia menyambar jaket hitamnya yang tersampir di kursi. Aku bergegas menghapus air mataku dengan gerakan kasar, lalu berlari kecil menuju kamar untuk menggendong Zidan.

***

Sudah sekitar satu jam Zidan ditangani, namun dokter tidak kunjung menampakkan diri. Mas Yoga melanjutkan tidurnya di kursi tunggu, sementara aku menatap was-was di depan pintu IGD.

Pintu terbuka, seorang dokter dan suster di belakangnya keluar. Aku langsung mendekat dengan wajah khawatir. Dokter itu sempat melihat Mas Yoga yang terpejam nyaman dalam tidurnya, lantas beralih menatapku dengan senyuman singkat.

"Ibunda Zidan?” tanya dokter. Aku mengangguk cepat sebagai jawaban.

“Zidan menderita diare akut, untung saja dibawa kemari tepat waktu. Zidan harus segera diopname karena menunjukkan gejala dehidrasi, Bu. Darah di fesesnya juga sangat pekat dan membutuhkan penanganan lebih serius. Kami sudah memanggil dokter spesialis anak agar segera memeriksa Zidan," terang dokter jaga tersebut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Kebodohanku berujung fatal saat aku menikahi pria yang ternyata berhati iblis. Di tengah kondisi fisik yang kian melemah, aku mulai curiga bahwa suamiku sendiri sedang meracuniku secara perlahan. Kejanggalan terus muncul, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan bahwa anakku adalah darah dagingku sendiri. Terjebak dalam penjara rumah tangga ini, aku bersumpah akan mengungkap semua rahasia gelapnya dan membalas dendam meski harus bertaruh nyawa.
Sampul Novel Cintaku Direbut, Takdir Membalasnya
8.6
Setelah tewas ditikam dua belas kali oleh kakak kandungnya yang serakah, sang protagonis mendapati dirinya terbangun di masa lalu. Sang kakak, yang ternyata juga terlahir kembali, kini menolak menikahi Yanto, putra seorang atasan, dan justru memaksa sang adik menggantikan posisinya demi uang mahar kuliah. Mengetahui nasib buruk yang menanti kakaknya akibat keserakahan di kehidupan sebelumnya, sang adik memutuskan menerima pernikahan tersebut dan berhenti sekolah demi membiarkan takdir membalas segalanya.
Sampul Novel Dangerous Touch (Sentuhan Berbahaya)
9.7
Pasca kehilangan ibu dan kakaknya, Isabel menjalani hidup yang penuh duka. Beban sebagai Putri Mahkota terasa kian menyesakkan tanpa keluarga di sisinya. Namun, takdir mempertemukannya dengan Joseph, seorang miliarder playboy yang terbiasa hidup mewah. Pertemuan tersebut memicu gairah membara di antara keduanya. Meski ketertarikan mereka begitu kuat, jalan menuju kebahagiaan terhalang rintangan besar. Mereka dipaksa berjuang melawan badai masalah yang mengancam hubungan tersebut.
Sampul Novel Gigolo Kampungan
8.9
Alex adalah pemuda tampan yang bertahan hidup sebagai gigolo di kota besar. Meski dikelilingi kemewahan dan wanita yang mencari kehangatan, ia merasa hampa karena profesi ini hanya bersifat sementara. Terdorong kebutuhan ekonomi sejak muda, Alex mahir memikat hati klien demi nafkah. Namun, di balik pesonanya, ia memendam kesepian mendalam dan krisis identitas. Setiap malam usai bekerja, ia merenungi nasibnya dan mendambakan kehidupan yang lebih bermakna.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Lelaki Yang Tak Terlihat Kaya
9.8
Gerald Crawford tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah drastis dalam semalam. Selama ini, ia mengira keluarganya hanyalah pekerja biasa di luar negeri. Namun, sebuah pengakuan mengejutkan dari orang tua dan saudara perempuannya mengungkap identitas aslinya. Gerald ternyata adalah pewaris takhta kekayaan bernilai triliunan dolar. Kini, sang pemuda harus menghadapi realita baru sebagai keturunan konglomerat yang selama ini tersembunyi.