Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira

Ketika Dokter Menentang Perwira

Nayra Adeline, dokter ortopedi yang gila kerja, tewas akibat kelelahan usai operasi 48 jam. Keajaiban membawanya terbangun di Bandung tahun 1975 sebagai Ratri Larasati, wanita pemalas bertubuh tambun yang dibenci lingkungan asrama militer. Nayra harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, sangat dingin dan enggan menyentuhnya karena reputasi buruk Ratri. Di tengah keterbatasan zaman, Nayra berjuang memperbaiki hidup barunya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara seragam disetrika bergesekan dengan papan kayu. Uap panas dari setrika arang mengisi udara kamar sempit itu. Nayra berdiri di depan meja setrika, mencoba memahami cara kerja alat yang belum pernah ia pakai seumur hidup. Dulu, ia terbiasa dengan mesin canggih, ruangan steril, dan perawat yang siap membantu setiap kali ia lelah. Sekarang, tangannya melepuh karena arang yang terlalu panas.

Namun ia tidak mengeluh.

Justru, ada sesuatu yang aneh dalam dirinya - semangat yang dulu perlahan padam di dunia modern, kini kembali menyala di tengah kesederhanaan.

"Kalau kau terus begini, bisa-bisa malah jadi contoh untuk ibu-ibu di blok ini," kata Bu Ningsih, tetangga yang datang membawa sayur. Perempuan itu menatap Nayra dengan ekspresi campur antara kagum dan curiga.

Nayra menatapnya dengan senyum tenang. "Contoh yang baik, semoga."

Bu Ningsih berdehem. "Dulu kau kalau diminta bantu acara masak di pos, selalu menolak. Katanya sakit kepala. Sekarang malah rajin benar."

Nayra hanya menanggapinya dengan tawa ringan. "Mungkin dulu aku sakit hati, bukan sakit kepala."

Bu Ningsih terdiam, lalu tertawa kecil. "Kau berubah, Ratri. Tapi baguslah. Mungkin Kapten Ardan juga akan mulai menatapmu lagi."

Nayra menunduk, menyembunyikan debar di dadanya. "Aku tidak melakukan ini untuk dilihat siapa pun, Bu. Aku hanya ingin hidup dengan baik."

Sore itu, kompleks militer ramai. Anak-anak bermain karet di lapangan, sementara para istri perwira berkumpul di pos ronda membicarakan kegiatan "Hari Kemerdekaan" yang akan datang.

"Bu Ratri, tolong bantu bagian kesehatan, ya. Dengar-dengar dulu kau pernah ikut kursus P3K?" kata salah satu pengurus.

Nayra mengangguk sopan. "Tentu, dengan senang hati."

Beberapa wajah terkejut. Dulu, nama Ratri identik dengan penolakan, kemalasan, dan drama. Kini, ia justru menjadi orang pertama yang menawarkan diri membantu.

Sepanjang sore, Nayra sibuk memeriksa kotak obat, menulis daftar kebutuhan medis, dan memberikan arahan kecil tentang cara membalut luka. Tangannya cekatan, logikanya rapi - semua kebiasaan dari masa lalunya sebagai dokter kembali muncul secara alami.

"Wah, kau ini seperti perawat sungguhan," kata salah satu istri bintara. "Kau belajar dari mana, Bu Ratri?"

Nayra hanya tersenyum samar. "Dari kehidupan."

Sementara itu, di markas komando, Kapten Ardan berdiri di depan meja besar penuh peta. Ia baru saja menerima laporan tentang kegiatan warga kompleks yang akan melibatkan dirinya sebagai pembina upacara.

Letnan Darto, bawahannya yang juga sahabatnya, menepuk bahunya pelan. "Aku dengar istrimu berubah banyak, Dan. Anak-anak blok depan malah cerita, dia sekarang rajin bantu-bantu dan tidak marah-marah lagi."

Ardan menghela napas. "Cerita ibu-ibu di kompleks selalu dilebih-lebihkan."

"Tapi kau sendiri tidak penasaran?" Darto menatapnya dengan senyum menggoda. "Dulu kau ingin segera cerai, sekarang malah bungkam."

"Tidak ada yang perlu dibahas," balas Ardan singkat. Tapi pikirannya menolak berhenti di situ. Ia teringat cara Nayra menatapnya malam itu - tenang, berbeda, seolah perempuan itu bukan lagi Ratri yang ia kenal. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Ia menepis pikirannya. "Sudah, urus laporan logistik itu. Aku akan pulang malam ini."

Senja merayap di atas kompleks. Langit Bandung memerah keemasan. Nayra duduk di teras rumah, menjahit robekan pada seragam Ardan. Jemarinya kaku, tapi hatinya tenang.

Dari kejauhan, ia melihat beberapa anak berlari-lari membawa bendera kecil. Salah satunya tersandung batu dan terjatuh. Refleks, Nayra berlari menghampiri. Luka di lutut anak itu berdarah.

"Jangan menangis," katanya lembut sambil mencuci luka dengan air hangat. "Kalau kau menangis, kuman suka datang."

Anak itu meringis, tapi menahan tangis. "Bu, sakit..."

"Sebentar, ya." Nayra meniup luka itu pelan. "Kalau nanti sembuh, kau harus janji berhati-hati."

Seorang ibu muda datang tergopoh. "Ya ampun, Bu Ratri, terima kasih sudah tolong anak saya!"

Nayra tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Hanya luka kecil."

Perempuan itu menatapnya lama, seolah tak percaya bahwa "Ratri pemalas" yang dulu suka berteriak kini sedang mengobati anaknya dengan sabar.

Ketika malam tiba, suara kabar tentang kejadian itu sudah menyebar.

"Bu Ratri sekarang jadi penyelamat anak-anak."

"Dia bisa mengobati luka seperti tenaga medis sungguhan!"

Namun bagi Nayra, semua itu bukan kebanggaan. Hanya rasa syukur kecil - bahwa ia masih bisa menolong orang, meski di waktu dan tubuh yang berbeda.

Beberapa hari kemudian, Ardan pulang lebih awal. Ia menemukan rumah rapi, aroma makanan menggoda tercium dari dapur. Tak seperti biasanya, tidak ada suara televisi keras, tidak ada keluhan panjang, hanya keheningan hangat.

"Selamat datang, Kapten," sapa Nayra sambil menaruh sendok di meja makan.

Ardan terdiam. Di depan matanya terhidang sup ayam bening, sayur asem, dan tempe goreng hangat. Semua tampak sederhana tapi rapi.

"Kau masak sendiri?" tanyanya curiga.

"Ya. Kenapa?"

"Biasanya kau... menyuruh tetangga."

Nayra tersenyum kecil. "Biasanya aku juga tidak peduli, tapi sekarang aku ingin mencoba hidup dengan benar."

Ardan duduk perlahan. Tatapannya tak beranjak dari wajah istrinya yang tampak berbeda - bukan hanya karena berat badan yang mulai turun, tapi karena caranya berbicara, caranya menatap. Ada ketenangan yang dulu tidak pernah ia lihat.

Mereka makan dalam diam. Sesekali Ardan melirik, dan menemukan dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan. Bukan karena kagum, tapi karena bingung. Siapa perempuan ini sebenarnya?

"Kapten," kata Nayra pelan setelah beberapa menit. "Aku ingin ikut ujian masuk universitas tahun ini."

Ardan berhenti mengunyah. "Universitas?"

"Ya, kedokteran. Aku tahu ini gila, tapi aku ingin belajar lagi."

"Untuk apa?" nada suaranya tajam. "Kau tahu perempuan jarang diterima di situ. Lagipula, kau pikir aku akan membiayai?"

Nayra tidak gentar. "Aku tidak minta biaya darimu. Aku akan cari cara sendiri."

Ardan menatapnya lama, mencoba membaca keseriusannya. Tapi di balik tatapan itu, ada rasa aneh - antara kagum dan takut. Karena selama ini ia yakin, perempuan itu tak akan pernah punya keberanian untuk bermimpi.

"Aku tidak melarang," katanya akhirnya. "Tapi jangan sampai mempermalukan namaku."

Nayra tersenyum. "Aku justru ingin membuatmu bangga."

Kata-kata itu menghantam lebih dalam dari yang ia sadari.

Keesokan paginya, Nayra berangkat ke kota naik becak. Ia membawa map cokelat berisi dokumen pendaftaran. Jalanan Bandung pagi itu berkabut, tapi hatinya terang.

Ia berhenti di depan gedung tua bertuliskan Universitas Padjadjaran. Di gerbang, puluhan anak muda berdiri dengan wajah penuh semangat. Nayra menatap mereka dengan perasaan campur aduk - ia lebih tua dari mereka semua, dan hidup di tubuh yang bukan miliknya. Tapi langkahnya tak goyah.

Salah satu panitia, mahasiswa muda berkacamata, menatapnya heran. "Ibu mau daftar juga?"

Nayra tersenyum. "Ilmu tidak mengenal umur, bukan?"

Pemuda itu terdiam, lalu mengangguk dengan hormat.

Setelah menyelesaikan pendaftaran, Nayra berjalan pulang sambil membawa secarik kertas ujian masuk. Matanya berkaca-kaca - bukan karena sedih, tapi karena ini pertama kalinya ia melakukan sesuatu murni untuk dirinya sendiri.

Namun kehidupan di kompleks militer tak pernah sepi dari gosip. Begitu kabar pendaftaran itu menyebar, para istri perwira kembali memperbincangkannya.

"Kau dengar? Bu Ratri mau kuliah kedokteran! Padahal dulu susah bangun pagi."

"Kasihan Kapten Ardan, punya istri aneh begitu."

Komentar itu sampai juga ke telinga ibunya. Malam itu, ibunya memanggil Nayra dengan wajah khawatir.

"Ratri, kenapa kau bikin ribut begitu? Orang-orang bilang kau tidak tahu diri. Suamimu perwira, masa istrinya mau jadi mahasiswa?"

Nayra menatap ibunya lembut. "Mah, kalau aku terus menuruti omongan orang, aku akan mati sebelum sempat hidup."

Ibunya terdiam, bibirnya bergetar. "Aku hanya takut kau kecewa."

"Aku sudah pernah mati karena kecewa, Mah," jawab Nayra perlahan. "Sekarang aku ingin hidup dengan keyakinan."

Kata-kata itu membuat perempuan tua itu menatap anaknya lama, lalu memeluknya tanpa kata.

Malam berikutnya, Nayra tidak bisa tidur. Ia duduk di teras, menatap bulan. Dari kejauhan, terdengar suara langkah berat - Ardan pulang. Ia menoleh, dan mereka bertatapan sejenak dalam senyap.

"Belum tidur?" tanya Ardan.

"Tidak bisa."

"Kenapa?"

"Pikiranku terlalu penuh. Tapi bukan karena cemas, lebih karena semangat."

Ardan mendekat. Cahaya lampu jalan menyorot wajahnya yang teduh. "Kau benar-benar ingin melanjutkan kuliah?"

Nayra mengangguk. "Aku ingin berguna."

"Dan kalau gagal?"

"Setidaknya aku mencoba."

Ardan menghela napas. "Kau berubah begitu banyak, sampai aku tidak tahu bagaimana memperlakukanmu sekarang."

Nayra tersenyum samar. "Mungkin cukup dengan cara yang manusiawi, Kapten."

Kata itu membuatnya tertawa kecil. Tawa yang jarang sekali keluar dari mulut seorang prajurit keras sepertinya. "Kau benar-benar bukan Ratri yang kukenal."

"Mungkin Ratri juga butuh kesempatan kedua," balas Nayra lembut.

Mereka terdiam. Angin malam berhembus membawa aroma tanah basah. Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terasa tidak setajam dulu.

Beberapa minggu berlalu. Nayra semakin sibuk belajar. Ia meminjam buku dari sekolah perawat di dekat pasar, mengajar anak-anak tetangga membaca, dan bahkan membuka kelas kecil di rumahnya. Anak-anak menyebutnya "Bu Dokter Ratri," meski belum tentu gelarnya kembali ia raih.

Suatu sore, ketika ia sedang mengajar, suara langkah sepatu tentara terdengar di halaman. Semua anak langsung diam. Ardan berdiri di pintu, menatap pemandangan itu - istrinya, dengan wajah penuh sabar, menjelaskan pelajaran sederhana pada anak-anak kecil.

"Bu Dokter, suamimu datang," bisik salah satu anak.

Nayra menoleh, tersenyum canggung. "Kau sudah pulang, Kapten?"

Ardan mendekat, matanya menyapu ruangan. "Apa ini?"

"Kelas membaca. Anak-anak di kompleks banyak yang belum bisa baca lancar."

Ardan menatap anak-anak itu, lalu menatap istrinya lagi. "Kau melakukannya tanpa izin siapa pun?"

"Tidak perlu izin untuk menebar ilmu," jawabnya tenang.

Ardan menghela napas panjang, menatap ke langit-langit sejenak. "Aku tidak tahu harus marah atau bangga."

Nayra tersenyum. "Pilih yang membuatmu tidur lebih nyenyak malam ini."

Ardan menatapnya lama, lalu akhirnya berbalik, tapi langkahnya melambat di depan pintu. "Kalau kau butuh papan tulis, aku akan minta di gudang markas. Anak-anak butuh alat yang layak."

Ucapan itu membuat dada Nayra hangat. Ia hanya mengangguk pelan. "Terima kasih, Kapten."

Hari ujian tiba. Pagi itu, langit mendung. Nayra mengenakan kebaya sederhana, rambut disanggul rapi. Ia menatap cermin sebentar - bukan untuk memastikan kecantikan, tapi untuk mengingat janji: bahwa ia akan menghargai kehidupan kali ini.

Ardan berdiri di ambang pintu ruang tamu. "Aku akan antar."

Nayra menatapnya heran. "Tidak usah, Kapten. Aku bisa naik becak."

"Aku tahu. Tapi aku ingin tahu seperti apa perempuan yang bisa membuat seluruh kompleks membicarakannya dengan kagum."

Nayra tertawa pelan. "Kau mulai bisa bercanda juga sekarang."

"Anggap saja belajar dari seseorang yang tiba-tiba jadi bijak."

Perjalanan ke kampus berjalan dalam diam, tapi tidak canggung. Di sepanjang jalan, Ardan beberapa kali mencuri pandang. Di balik penampilannya yang sederhana, ada sesuatu dalam diri Nayra yang memancarkan keyakinan - sesuatu yang tak pernah ia lihat pada Ratri sebelumnya.

Sesampainya di depan gedung ujian, Nayra turun dari jeep. "Terima kasih sudah mengantar."

Ardan mengangguk singkat. "Lakukan yang terbaik. Aku akan menunggu di sini."

"Tidak perlu. Ujiannya lama."

"Aku punya waktu."

Nayra menatapnya sejenak, lalu tersenyum dan melangkah masuk.

Selama tiga jam, ia menulis, berhitung, dan menjawab pertanyaan esai dengan tekad bulat. Saat keluar dari ruang ujian, tangannya gemetar, tapi wajahnya cerah.

Ardan masih di sana, bersandar pada mobil. "Bagaimana?"

"Sulit. Tapi menyenangkan."

"Begitu ya."

Mereka berjalan pelan menuju mobil. Di sepanjang trotoar, mahasiswa lain menatap mereka dengan rasa ingin tahu. Seorang perwira dengan istrinya yang sederhana - pemandangan langka.

Ardan menatapnya di bawah cahaya sore. "Kau tampak hidup, Nay-"

Ia berhenti, menyadari nama yang hampir lolos dari bibirnya. Nayra menoleh pelan. "Apa tadi kau bilang?"

Ardan berdeham. "Ratri. Maksudku, Ratri."

Ia tersenyum samar. "Mungkin suatu hari nanti, aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya."

"Dan aku akan mendengarnya kalau waktunya tiba," jawabnya tenang.

Mobil melaju pulang melewati jalanan kota yang berdebu. Tak ada kata lagi di antara mereka, tapi di udara ada sesuatu yang tumbuh - bukan cinta yang manis, melainkan rasa saling menghormati yang perlahan berubah menjadi pengertian.

Malam itu, di halaman rumah, Ardan berdiri menatap langit. Nayra keluar membawa dua gelas teh panas.

"Untukmu," katanya singkat.

Ardan menerimanya tanpa banyak bicara. "Kau tahu," katanya akhirnya, "dulu aku pikir aku menikahi bencana."

Nayra menatapnya, tidak tersinggung. "Mungkin memang begitu."

"Tapi sekarang, aku mulai takut kehilangan bencana itu."

Nayra terdiam. Suara jangkrik menjadi satu-satunya yang terdengar. Lalu perlahan, ia tersenyum. "Kalau begitu, semoga Tuhan memberimu kesabaran untuk menghadapi versiku yang baru."

Ardan menatapnya dalam, dan untuk pertama kalinya, matanya tak lagi dingin.

Malam terasa lebih hangat dari biasanya.

Dan di dalam hati Nayra, sebuah kalimat bergaung pelan - janji yang hanya bisa diucapkan dalam diam:

"Kehidupan keduaku baru dimulai."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya
8.9
Pasca kematian sang ayah oleh Rufus Black, Calista Kaz menyadari warisan darah penyihir dan psikokinesis dalam dirinya. Bersama Brisa, Ness, dan Darren, ia menuju Lembah Crystal demi memenuhi ramalan sebagai pembangkit naga. Namun, kegagalan Calista justru membuat lembah itu hancur diserang Zorca. Kini, di tengah perlindungan bangsa Elf Amorilla, Calista harus berjuang membangkitkan roh Arkhataya demi memenangkan pertempuran terakhir sekaligus mengurai kisah cintanya.
Sampul Novel Fatal
9.2
Esther terjebak dalam lingkaran penyesalan setelah insiden maut di masa lalunya merenggut nyawa seseorang. Kini, ia harus menanggung konsekuensi berat dengan menjalani pernikahan yang penuh penderitaan. Felix, kakak dari wanita yang tewas akibat kesalahannya, bertekad membalas dendam melalui ikatan tersebut. Esther pun terpaksa menerima peran sebagai istri yang disiksa demi menebus dosa besar yang pernah ia perbuat di bawah bayang-bayang amarah Felix.
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Pasca kematian tragis putranya, Eva Anindita justru dikhianati suaminya, Jaksa David Adiwijaya. Demi melindungi Karin, pelaku tabrak lari, David memenjarakan Eva atas tuduhan palsu. Setelah tiga tahun mendekam di penjara dan kehilangan anak keduanya, Eva bebas hanya untuk melihat kenyataan pahit. David telah membina keluarga baru bersama Karin. Kini, jurnalis investigasi ini siap menuntut balas atas pengkhianatan keji yang menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.
Sampul Novel Obsesi Mafia Tampan
9.0
Haruka Arsya terjebak dalam karier model dewasa yang tak diinginkannya hingga ia diculik oleh penggemar fanatik bernama Agaskara Angkasa. Terobsesi memiliki Haruka sepenuhnya, pria itu nekat menggunakan obat terlarang demi memutus hubungan sang idola dengan kekasihnya. Haruka mencoba melarikan diri, namun situasi kian pelik saat musuh Agaskara menjadikannya sandera. Kini, ia harus bertahan di tengah konflik mafia dan obsesi gila yang mengancam nyawanya.