
Kepentok cinta om cupu
Bab 3
"Astagaaaa!" pekik Zoya seraya membelalakan mata dengan mulut terbuka.
Karena tidak ingin berlama-lama menahan rasa penasaran, begitu Lisa pergi, Zoya langsung membalik foto yang sedari tadi dia pegang guna melihat seperti apa bentuk putra dari wanita itu. Dan betapa terkejutnya Zoya saat tahu gambar di foto itu sangat mirip dengan pria yang beberapa saat lalu membuat dirinya menangis. Ralat, bukan lagi mirip, melainkan itu memang orang yang sama.
"Ada apa?" Vina yang tadinya masih merenungi permintaan Lisa, terkejut mendengar teriakan Zoya yang memengkakkan telinga. Terlebih Melly, gadis itu sampai terjingkat, karena posisinya tepat di samping Zoya.
"Bu—bukannya ini pacar, ups.. maksudku om Danu." ucap Zoya dengan lantang.
"Iya.. Tapi nggak usah teriak-teriak juga Oneng, kita belum budek." saut Melly seraya menggosok telinganya yang berdengung.
"Jadi kalian tau kalau tante Lisa emaknya Danu?" lanjut Zoya tanpa memperdulikan wajah jengah kedua sahabatnya.
"Iya.." seru mereka bersamaan.
"Kok bisa?"
"Jadi begini, monggo dijelaskan Tuyem." Vina yang di panggil langsung menolehkan pandangan.
"Kok aku?"
"Ya kan kamu yang diajak diskusi langsung sama tante Lisa tadi."
"Tunggu tunggu.. diskusi, diskusi apa? Ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Zoya dengan pandangan menyelidik kedua sahabatnya.
"Sebelumnya aku minta maaf ya Zo, karena ide gila dariku kamu harus berurusan dengan mereka. Coba saja tadi aku tidak memintaku melakukan itu, pasti semua ini nggak bakalan terjadi. Maaf ya Zo, sumpah aku nyesel banget." Vina hanya mampu terisak seraya mengucap kata 'Maaf' berulang kali menyesali semua perbuatannya.
"Aku juga minta maaf Zo, kami memang salah." ucap Melly yang juga ikut terisak.
"Kalian memang salah, tapi aku juga salah.. Kita semua salah.." melihat kedua sahabatnya berderai air mata penyesalan, menguap sudah emosi yang tadi sempat menghinggapi dirinya.
"Mungkin ini teguran untuk kenakalan kita selama ini. Kedepannya, jangan lagi taruhan ya, itu hanya akan merugikan kita sendiri. Sini peluk, jangan pada nangis, aku jadi ikutan nangis kan." ketiganya berpelukan dan menangis bersama, menyesali semua yang sudah terjadi, dan menjadikan kesalahan sebagai pelajaran berharga dalam hidup mereka. Dari situ juga mereka menyadari satu hal, 'jangan pernah mencoba sesuatu jika itu hanya akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.'
"Sekarang ceritakan dengan detail bagaimana tante Lisa bisa menemui kalian?" ucap Zoya setelah tangis mereka
mereda dan melepas pelukannya.
"Tadi waktu kamu masih di dalam kafe tante Lisa tiba-tiba mendekatiku dan Melly ditempat biasa kita nongkrong.." Vina dengan ragu mulai menjelaskan.
"Terus.."
"Awalnya kita gak tau kalau dia emaknya Danu, karena kita khawatir istrinya Danu itu datang terus neriakin kamu pelakor. Kita berdua sudah siap mau masuk, tapi tiba-tiba tante Lisa bilang…"
"Bilang apa?" tanya Zoya penasaran saat Vina menggantung kalimatnya.
"Danu masih lajang, dan itu emak-emak minta kita berdua bantuin dia buat mendekatkan kamu sama anaknya, kalau nggak dia akan menghukum kita semua, karena sudah jadiin putrinya bahan taruhan." kali ini yang menjelaskan Melly dengan menggebu.
"Wah nekat juga tuh emak." celetuk Zoya.
"Makanya kita cuma bisa nurut, waktu dia ngajak kita pulang duluan." lanjut Vina.
"Maaf ya Zo, kalau kamu marah, aku siap menerima kemarahanmu." ucap Viba lirih.
Zoya hanya diam dengan pikiran menerawang pada beberapa waktu sebelum dirinya bertemu Danu.
Siang itu Zoya the gang tengah menghabiskan waktu luangnya di bawah pohon rindang yang ada kursi panjang di bawahnya, pohon itu sendiri berada tepat di depan sebuah kafe yang cukup viral, hingga selalu ramai pengunjung apalagi di saat jam-jam makan siang.
Merasa bosan dengan apa yang mereka lakukan. Akhirnya tercetus ide konyol Vina untuk melakukan taruhan, seperti biasa yang mereka lakukan.
Yah, Zoya dan kedua sahabatnya memang gemar melakukan taruhan, apapun mereka jadikan bahan taruhan. Termasuk siang itu, ketiganya ingin bertaruh dengan tantangan yang lebih ekstrim dari biasanya, yaitu yang kalah mendapat hukuman, dan pemenangnya akan jadi ratu kost selama seminggu.
Naasnya disaat yang bersamaan mata tajam Vina melihat dua pria yang memiliki gaya penampilan berbeda jauh, yang satu jadul juga terkesan cupu, berbeda dengan yang mengenakan setelan jas hitam terlihat stylish dan kekinian. Hingga terlintas ide gila di benak Vina. Jika yang kalah harus meminta pria berpenampilan cupu itu untuk mau menjadi kekasihnya, dengan syarat harus diterima. Jika ditolak hukuman akan bertambah. Detik-detik dimulai saat serentak ketiganya berseru…
Batu gunting kertas
Permainan anak kecil yang cukup populer di masanya itu rupanya juga menjadi kegemaran mereka, sehingga timbul ide taruhan yang semakin candu ketiganya lakukan. Dan tanpa mereka sadari dari permainan itu juga menjadi cikal bakal suatu hubungan baru yang tidak pernah terduga sebelumnya.
Zoya si ratu kemenangan julukan yang disematkan untuk dirinya sendiri, hari itu harus menelan pil kecewa lantaran harus mengalami kekalahan.
"Haah seandainya kalian tahu apa yang terjadi padaku tadi, sungguh memalukan." desah Zoya seraya menunduk lesu mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Tapi kalau dilihat dari fotonya pria itu lumayan juga." celetuk Melly.
"Ya.. kamu memang benar, dia lumayan menjengkelkan."
"Tampan Oneng?" sela Melly.
"Entahlah aku tidak terlalu memperhatikan itu."
"Lalu kamu diterima?" tanya Melly lagi, Zoya hanya menggeleng pelan.
"Dia malah menuduh aku ingin mempermalukan dia, dan semua yang aku lakukan hanya demi uang." jelas Zoya apa adanya.
"Maaf ya Zo, kamu harus mengalami semua ini.. Semua salahku." Vina kembali terisak saat mengingat ide konyolnya.
"Sudahlah Vin, semua juga sudah terjadi. Untuk apa menyesali sesuatu yang jelas tidak bisa terulang lagi, nikmati saja yang ada. Sudahlah, aku tidak apa-apa." Zoya mencoba menenangkan dengan mengusap pelan bahu sahabat itu.
Sungguh Vina sangat menyesali perbuatannya, andai waktu bisa diulang kembali dia tidak akan melakukan semua itu. Yang akhirnya berimbas pada sahabatnya sendiri. Vina semakin merasa bersalah ketika teringat jika dirinya juga menyanggupi permintaan Lisa untuk mendekatkan Zoya dengan Danu. Pria yang selalu berhasil menarik perhatian semua mata karena visualnya yang cupu.
"Lalu sekarang apa rencanamu Zo?"
Anda Mungkin Juga Suka





