
Kenikmatan Di Kelas Bisnis
Bab 3
Mendengar ucapanku, Stella langsung terkekeh pelan. “Oke, oke, murni karena penasaran, ya? Kamu memang cuma penasaran, puas?”
“Aku…”
Wajahku memerah, belum sempat menjelaskan, dia sudah melanjutkan, “Aku akan pulang malam ini. Besok kamu ambil cuti, aku akan ajak kamu merasakan… seperti apa sebenarnya surga bagi seorang wanita.”
“Sudahlah. Pokoknya kamu siap saja. Aku tutup ya, ini bikin aku capek sendiri.”
Sebelum aku bisa menjawab, telepon sudah diputus. Dia sudah mengambil keputusan untukku.
Aku menatap layar ponsel, menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba meyakinkan diri sendiri.
Jadi… aku hanya ingin tahu.
Tidak akan melakukan apa pun. Hanya… melihat.
Dengan niat menenangkan diri sendiri, malam itu aku tak bisa tidur.
Gelisah, hingga baru terlelap menjelang fajar.
Pukul sepuluh lebih sedikit, Stella datang.
Ia berdiri di depan pintu sambil menguap.
Melihatku yang sudah berdandan rapi, ia bercanda, “Wah, siapa nih? Mirip pengantin baru! Cantik sekali, bisa bikin banyak pria bertekuk lutut, nih.”
Wajahku memanas, buru-buru menarik tangannya dan keluar.
“Kamu malah lebih semangat dari aku,” komentarnya sambil tertawa.
Kami pergi ke bandara. Begitu masuk, sudah ada seorang pramugara tampan yang menunggu di dekat pintu masuk.
“Ini teman baik yang kamu maksud, Kak?” tanyanya sambil menatapku sekilas dan mengambil alih barang bawaan kami.
Stella merangkul bahuku, tersenyum menggoda pada si pramugara, “Betul. Temanku ini sudah lama ‘kelaparan’. Tolong, siapkan yang terbaik untuknya.”
Pramugara itu membalas dengan senyum hangat. “Tentu saja. Kami selalu berusaha membuat setiap tamu merasa puas.”
Mendengar percakapan mereka, jantungku mulai berdetak tak menentu.
Setelah melalui beberapa belokan, kami menaiki sebuah pesawat.
Aku memperhatikan penumpang lain sepanjang jalan.
“Stella, pesawat ini… tidak jauh berbeda dengan pesawat komersial biasa, ya?” bisikku pelan.
Dia melirikku sambil mengangkat alis, “Aku tahu kamu sudah tidak sabar. Sebentar lagi kamu akan tahu.”
Tak lama kemudian, kami memasuki kabin kelas bisnis.
Begitu masuk, aku langsung menyadari betapa berbeda tempat ini.
Setiap kursi berdiri terpisah, masing-masing memiliki pintu yang dapat ditutup, menciptakan ruang pribadi sepenuhnya.
Yang membuatku semakin terkejut, seluruh penumpang di kabin ini adalah perempuan. Tak ada satu pun laki-laki.
Aku mulai memahami sesuatu dan ada sesuatu dalam diriku yang perlahan bergejolak.
Kemudian, sekelompok pramugara tampan memasuki kabin. Dua di antaranya adalah pria asing berpenampilan mencolok.
Beberapa dari mereka tampak familiar, aku pernah melihat wajah-wajah itu di foto dan video yang Stella kirimkan padaku.
Begitu mereka masuk, para perempuan di ruangan ini sontak memancarkan sorot mata berbinar.
Mereka tak perlu berkata apa pun. Para pramugara itu dengan gesit menghampiri masing-masing dari mereka.
Dua pria asing itu berjalan ke arah kami.
Semakin dekat mereka melangkah, napasku kian berat.
Tanganku mengepal, telapak mulai lembap.
“Jason, kamu ke sini. Sam, temui temanku.”
Stella melambaikan tangan ke arah pramugara berambut pirang dan bermata biru, pria yang semalam kulihat di video. Lalu, dengan dagunya, ia menunjuk pria lain yang wajahnya sekilas mengingatkanku pada Beckham dan pria itu ditujukannya padaku.
Keduanya tersenyum, lalu masuk ke ruangan masing-masing.
Begitu pria asing bernama Sam itu menutup pintu, seluruh tubuhku seketika menegang tanpa sadar.
“Nona, ini pertama kalinya anda datang ke sini?”
Di luar dugaanku, pria asing itu ternyata fasih berbahasa Mandarin
Aku mengangguk pelan. Dia tersenyum, lalu dengan santai melepas seragamnya, memperlihatkan tubuh atletis dan proporsional.
Tanpa sadar, pandanganku jatuh pada tubuh atletis dan proposionalnya, dan entah mengapa, sulit sekali untuk mengalihkan mata darinya.
Sebelum aku sempat bereaksi, tubuhku sudah terangkat dari tempat duduk, diangkat dengan mudah oleh lengannya yang kuat.
Ia tersenyum tipis, lalu sebelum sempat aku bereaksi, tubuhku sudah terangkat dalam pelukannya yang tiba-tiba.
“Ah!”
Refleks, aku terkesiap pelan, dan dalam sekejap tubuhku sudah melekat erat padanya, seperti anak kanguru yang bergelayut di pelukan induknya.
Aku memeluk tubuhnya dengan erat. Detik berikutnya, aku merasakan ada sesuatu yang keras menekan dari arah belakang tubuhku.
Aku bukan gadis polos yang tak tahu apa-apa. Aku paham apa itu.
Saat ini, yang ada dipikiranku adalah, ternyata Stella tidak membohongiku! Besar sekali!
Sam menopang tubuhku dengan mantap, sementara jemarinya perlahan menelusuri punggung dan lenganku, gerakannya tenang namun mengandung sesuatu yang sukar dijelaskan.
Setiap sentuhan seolah membawa aliran hangat yang membuatku tak kuasa menahan gemetar halus di sekujur tubuh.
“…Hmm…”
Aku tak mampu menahan suara lirih yang lolos dari bibirku.
Saat itu, tubuhku sudah nyaris terbuka seluruhnya dalam pelukannya. Hanya selembar kain tipis yang tersisa, menggantung nyaris sia-sia.
Di luar, samar-samar terdengar desahan lirih dan suara-suara lembut dari ruangan lain.
Dalam atmosfer yang memabukkan itu, pandanganku mengabur. Tubuh bawahku mulai basah, napas menjadi berat.
“Aku akan masuk sekarang.”
Suara baritonnya terdengar pelan di telingaku. Ia kemudian menarik pakaian terakhir yang menutupi tubuhku, memelukku erat, lalu mendekat perlahan ke arah yang membuatku diliputi rasa cemas dan penasaran sekaligus.
Anda Mungkin Juga Suka





