
Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
Bab 3
Pikiran Chelsea menjadi kosong bagaikan gelas yang terbalik, kakinya terpaku di trotoar.
Mobil itu melaju cepat melewatinya, seperti anak panah yang baru saja lepas dari busur.
Akibat embusan angin yang keras, Chelsea terkapar ke jalanan yang keras.
Di jalan yang sepi itu, logika mengatakan sang pengemudi akan menghilang dalam kegelapan malam—tidak ada saksi, tidak ada konsekuensi, tidak ada jejak yang bisa diikuti.
Namun takdir punya rencana lain. Mesin kendaraan itu meraung saat berbalik arah, berhenti hanya beberapa senti dari tempatnya terbaring.
Pintu penumpang terbuka dengan anggun, memperlihatkan sosok elegan melangkah maju. Sepatu kulit hitam yang dibuat dengan khusus menyentuh jalanan saat pemiliknya muncul, membentangkan payung hitam yang melindunginya dari hujan deras yang tiada henti.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Suara Nicholas Herdian yang dalam bergema di udara yang basah oleh hujan.
Pandangan Chelsea bergerak ke atas, mengamati pemandangan di hadapannya. Wajah pria itu adalah seolah-olah dibuat dari mesin pemotong dengan ketepatan tinggi—sudut-sudut tajam dan bidang-bidang tegas berbicara tentang kebangsawanan, sementara matanya menyimpan daya tarik yang tak dapat dijelaskan, yang menarik ujung ingatannya.
Sepasang mata itu menggugah sesuatu dalam kesadarannya—bisikan pengenalan yang menari-nari di luar jangkauannya.
"Aku baik-baik saja, terima kasih ...." Kata-kata itu meluncur dari tenggorokannya hanya dalam bisikan.
Upayanya untuk berdiri berakhir dengan kegagalan ketika rasa sakit menusuk melalui kakinya yang tergores dan telapak kakinya yang terluka, membuatnya terjatuh kembali ke jalanan.
Sebelum gravitasi dapat menjatuhkannya lagi, sebuah lengan kuat melingkari pinggangnya, menariknya ke dinding kekuatan yang kokoh.
Rasa dingin yang memancar dari tubuh Nicholas menyelimutinya saat dia mendapati dirinya menempel di dada pria itu.
Telapak tangannya bersentuhan dengan permukaan tubuhnya yang kokoh, dan hawa panas mengalir di bawah jari-jarinya meskipun sikap pria itu dingin.
Kontras sensasi itu menguasai indranya. Nalurinya mendorongnya menjauh, tetapi Nicholas merespons dengan memeluknya lebih erat, mengangkatnya dengan anggun tanpa perlu bersusah payah.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Turunkan aku!" Rasa dingin terdengar dalam suara Chelsea, cocok dengan ekspresi yang tiba-tiba muncul di wajahnya.
Kontak intim itu menimbulkan nada sumbang—bahkan Billy, teman kencannya selama tiga tahun, tidak pernah melangkah lebih jauh dari sekadar berpegangan tangan. Tindakan berani orang asing ini menimbulkan gelombang yang tidak nyaman dalam dunianya yang tertata rapi.
Pandangan Nicholas yang tajam tertuju padanya, suaranya mengandung kewibawaan yang tenang. "Kamu terluka. Kamu harus pergi ke rumah sakit."
"A—aku bisa jalan sendiri," protes Chelsea, meski kedekatan pria itu mengirimkan gelombang ketegangan ke sekujur tubuhnya, aura dinginnya menekan dari segala sisi.
"Jangan bergerak." Perintah itu meluncur dari bibir Nicholas dengan penuh kewibawaan, tak menerima bantahan dan menenangkan perlawanannya.
Suasana dingin di dalam mobil membuat Chelsea bersin.
Tangan Nicholas menemukan tombol pengatur suhu, dan mematikannya. Menyadari tubuhnya yang gemetar, dia menyampirkan jasnya di bahunya dengan kelembutan yang mengejutkan. "Jangan sampai masuk angin."
"Terima kasih." Jas itu membawa esensinya—baik aromanya maupun kehangatan yang tersisa—yang membuat jantung Chelsea berdebar kencang tak terduga.
Secercah rasa geli tampak di mata Nicholas saat dia melihat rona merah muncul di pipi wanita itu. "Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih padamu."
Kebingungan tampak di wajah Chelsea. "Apa?"
Suara Nicholas tetap stabil seperti baja. "Terima kasih telah menerima permintaan maafku dan memberiku kesempatan untuk memperbaikinya."
Mereka tiba di rumah sakit terdekat, di mana Chelsea bersikeras berjalan meskipun terluka. Nicholas menyamai langkahnya yang terhenti-henti dengan kesabaran hingga mereka mencapai tujuan.
Sekembalinya dari perawatan, dia mendapati pria itu sedang menelepon, sosoknya yang tinggi membentuk siluet mencolok dengan dinding rumah sakit. Saat dia mendekat, Nicholas mengakhiri pembicaraan dan mengulurkan kartu nama. "Ini informasi kontakku. Jika kamu butuh sesuatu, jangan ragu untuk menelepon."
"Aku tidak butuh apa pun lagi." Penolakannya yang sopan membawa finalitas—dia tidak suka memperpanjang hal seperti ini.
Dia mengulurkan jasnya ke arahnya. "Ini jasmu. Aku akan menanggung biaya pembersihannya."
Bibir Nicholas melengkung membentuk senyum tipis dan penuh arti saat dia melirik jas di tangan wanita itu yang terulur. "Simpan saja. Kamu lebih membutuhkannya daripada aku."
Perkataannya, walaupun sederhana, menyentuh sesuatu di dalam hatinya secara tak terduga. Ada rasa tercekat di tenggorokannya saat dia berusaha menahan gelombang emosi yang tiba-tiba muncul.
Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa itu semua karena kejadian hari ini—kejutan, kelelahan, dan patah hati. Tentunya itulah sebabnya dia merasa begitu tersentuh oleh kebaikan hati orang asing yang sekilas itu.
"Terima kasih. Tapi aku harus pergi sekarang," ucap Chelsea dengan lembut, suaranya mengandung nada rapuh. Sambil menegakkan tubuh, dia berjalan pergi, bertekad untuk kembali ke rumah Keluarga Adika dan menangani beberapa masalah penting.
Nicholas tetap terpaku di tempatnya, memperhatikan sosoknya yang menjauh dengan tatapan yang tak dapat dipahami. "Kita akan bertemu lagi."
Anda Mungkin Juga Suka





