Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEMBALI DALAM SENJA

KEMBALI DALAM SENJA

Kehidupan rumah tangga yang dijalani tanpa landasan cinta membuat sang istri terjebak dalam rasa sakit yang mendalam. Meski ia mencoba bertahan dan bersikap hormat, Mas Fairuz justru bersikap dingin serta tidak peduli. Pertanyaan tulus darinya hanya dibalas dengan kata-kata kasar yang menusuk hati, menegaskan bahwa komitmen mereka hanyalah beban tanpa kebahagiaan. Di tengah sikap abai sang suami, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit dalam kesendirian yang menyesakkan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Sebelum baca jangan lupa subcribe Kak, kritik dan sarannya sangat NQ harapkan...

"Mana suamimu. Kok aku lihat tidak ada di sampingmu?" Pertanyaan dari temanku membuatku menelan saliva saja.

"Dia lagi menemui temannya Mbak. Sebentar lagi pasti datang kok." Aku tersenyum kecut menimpalinya, seraya tersenyum.

"Ya Allah, pernikahan bagaimana ini. Suamiku tidak berdiri di sampingku." Batinku.

Manaku tahu sekarang suamiku di mana, yang aku tahu, aku lagi sendirian tersenyum kala ada tamu, menjawab jika ditanya. "ah... Pengantin macam apa aku ini," gumamku lagi dalam hati. "kayak orang dakdung saja," Pikirku lagi sejenak sambil memilin-milin bunga yang ku pegang.

***

Pernikahan yang diinginkan orang tuaku, membuatku bingung sendiri, dan ini pernikahan yang tidak pernah diinginkan olehku.

"Kenapa harus aku yang berkorban?" lirihku dalam hati.

Tiba-tiba aku dirangkul seseorang dari belakang. Aku terperangah bukan kepalang. "apakah ini suamiku?" tanya batinku menerka-nerka.

"Sayang, kenapa hanya berdiri di sini?" Tanya suara perempuan membuatku sedikit lega dan kecewa. Aku mengharap suamiku datang memberi kejutan, tapi ternyata mertuaku yang datang, dan menuntunku menemui teman-temannya. Memperkenalkan mantu kesayangannya kepada mereka rekan-rekan busnisnya.

"Jeng. Cantik kali mantu kau." Puji salah seorang yang bergaun merah, tapi tatapan matanya membuatku pesimis. Mama yang melihat aura wajahku berubah tidak senang langsung merangkul dan menenangkannya.

"Jangan di pikir sayang. Biasa, orang yang merasa di bawah kita akan seperti itu."

Aku tersenyum mendengar penuturan Mama. "terima kasih Ma," balasku sambil memegang kedua tangannya.

"Yuk Mama kenalkan sama teman Mama yang lain."

Sambil menyapa teman mama juga kolega-kolega bisnisnya aku masih terus mengedarkan pandangan kesana-kemari, mencari sosok laki-laki berjas Tuksedo hitam. Ekor mataku berhenti ke arah sosok yang asik bercanda dengan temannya.

Diujung koridor sana aku melihat Mas Fairuz tersenyum berbicara dengan koleganya. Kelihatannya pembicaraan mereka santai dan seru. Sekali-kali teman-temannya melihatku dan tersenyum, Mas Fairuz hanya tersenyum tanpa menoleh kepadaku. Tangan kanannya memegang gelas, tangan kirinya dimasukkan kedalam saku celananya. "cool banget Mas Fairuz," gumamku. Hanya bisa melihat dari jauh tidak bisa berdekatan, hanya bisa berharap ia datang dengan gagahnya menghampiriku, tersenyum, meeaih tanganku dengan mesra, tapi sayang itu hanya berandai-andai.

***

Acara berlangsung dengan lancar, para undangan sudah banyak yang beranjak pergi, karena acara telah usai, hanya tinggal kerabat saja untuk menyempurnakan pertemuan bahagia malam ini.

Malam bahagia menurut mereka, tapi apakah bagiku ini kebahagianku, sedangkan sejak tadi aku tidak melihat suamiku, seperti apa dia sekarang, bagaimana penampilannya atau dia akan sama sepertiku mencari-cari pasangannya yang tidak muncul batang hidungnya.

Aku terdiam sendiri dalam kamar, memandang pantulan diriku di cermin. Bertanya-tanya, apakah aku istri yang diharapkannya, apakah aku istri idamannya.

"Aku sudah menikah. Aku sudah bersuami. Sekarang statusku berubah menjadi seorang istri. Istri dari Muhammad Fairuz Azam." Batinku sambil menarik nafas dalam-dalam.

Senyum terlihat jelas di kedua bibirku, senyum seorang puteri kecil yang tumbuh dewasa dengan menjadi seorang istri, bukan karena sudah menikah, akan tetapi semua ini dilakukan hanya karena demi Ayah dan Ibu, demi kebahagiaan mereka aku akan melakukan semuanya. Mungkin baktiku dengan mengikuti keinginan mereka.

"Demi kalian berdua aku korbankan perasaan, menikah dengan orang yang tidak dikenal dan aku pun tidak tahu seperti apa dirinya, namun aku bahagia bisa menolong kedua orang tuaku dalam kesulitan," pikirku sembari melangkah untuk ke luar kamar, namun langkahku terhenti dengan percakapan seseorang.

"Bukannya Zahwa nikah karena terpaksa?" Suara seorang prempuan membuka percakapannya.

"Pernikahan ini sudah direncanakan jauh sebelum Zahwa berumur lima tahun." Suara perempuan berikutnya menimpali.

"Apakah sejak tragedi itu?" Tanya perempuan yang membuka percakapan pertama kali.

"Iya. Tragedi itu sangat memukul Pak Halimi, untuk menjaga aset-aset yang sudah menjadi incaran orang-orang yang tidak menyukai Pak Halimi, maka Pak Rahmad dan Pak Halimi mengambil keputusan ini."

Percakapan dua perempuan itu menghentikan langkah kakiku. Mataku berkaca-kaca seketika mendengar kenyataan bahwa aku menikah sudah rencana dari awal.

"Terus. Hutang Ayah dan Ibu yang bermiliaran itu kabar apa?" Teriak batinku.

"Apakah aku telah di bohongi?" Tanyaku resah. "Apakah ayah dan ibuku rela membohongiku?" Tanyaku lagi. Air mata yang berusaha ku bendung tumpah ruah juga. Hatiku begitu sakit mendengar kebenarannya. Tidakkah dua perempuan itu sadar bahwa di balik pintu pemilik nama yang mereka bicarakan sedang mendengarkan pembicaraannya.

"Pernikahan apa ini." Lirihku pelan sambil bersimpuh di lantai, karena tidak kuat akan mendengar kebenarannya, aku kuatkan batinku, ragaku serta jiwaku. Akan aku ikuti apa jalan rencana mereka, meski pun kenyataannya mereka menyangka aku tidak tahu apa-apa, tapi aku punya rencana lain untuk mengetahui kebenarannya tanpa mereka sadari.

***

Aku kaget dengan suara ketokan pintu dari luar kamar. Hatiku was-was, ragu dan bimbang. Bertanya-tanya siapa yang datang. Selang dua langkah dari tempat ku berdiri seorang laki-laki dengan berpakaian jaz masuk. Ia sedikit pun tak menoleh kepadaku.

"Apakah ini Fairuz? Apakah ini suamiku? Tapi kenapa tidak menyapaku selayaknya pengantin baru. Kenapa ia bergerak seenaknya tanpa mempedulikan aku yang menatapnya." batinku bertambah ragu dan gusar.

Awalnya aku merasa deg degkan, gemetar karena dia masuk, namun melihat tingkahnya yang sangat cuek seperti itu membuatku dongkol dan menahan amarah.

"Mas Fairuz" dengan intonasi setenang mungkin ku menyapanya. Dia menoleh tapi tak menjawab panggilanku serta langsung pergi ke kamar mandi.

Aku bagaikan patung. Sontak ku hembuskan nafas pelan-pelan agar tidak marah, ku tahan amarahku sebisa mungkin.

"Mungkin seperti itu sifatnya ya?" Tanyaku pada diri sendiri. Mencoba berdamai dengan diri.

Pikiranku pun kemana-mana mendengar guyuran air dari kamar mandi membuatku tidak fokus saja.

"Apa yang akan dia perbuat setelah mandi? Apakah akan mendatangiku dan-- atau----. Ahhh! Aku tidak bisa membayangkannya. Tapi kenapa aku takut. Dia kan suamiku" tegasku lagi, menyemangati diri sendiri.

Tujuh menit usai. Mas Fairuz keluar dari kamar mandi. Dia benar-benar mendatangiku yang berdiri di depan cermin. Ia melangkah tanpa ragu. Bau wangi badannya mulai tercium dari jarak yang lumayan dekat. Kakinya dengan santai terus mendekat. Aku gemetar dan hatiku sudah tidak tahu apakah berada di tempatnya atau masih bisa bersuara.

"Mas Fairuz menghampiriku" batinku, seketika itu ku persiapkan diri sekuat aku berdiri.

"Aku tidak boleh menolak. Aku kan istrinya" kataku lagi, batinku berperang sendiri.

"Apa kau hanya akan mematung di sini?!" Katanya dengan dingin.

Sontak aku kaget mendengar perkatannya. Tatapan yang tajam menusuk hatiku, membuatku takut. Aku bergeser dua langkah kesamping menghindarinya.

Ternyata Mas Fairuz bukan menghampiriku, akan tetapi ia hanya berniat mengambil sisir yang berada tepat di belakangku. Ia menyisir rambutnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ku definisikan.

Malam pertama yang tertunda mungkin. Menerka-nerka sendiri, bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Aku bak orang linglung tak tahu arah saja kala berhadapan dengan Mas Fairuz, sedangkan Mas Fairuz melihat pun tidak, dia hanya fokus pada dirinya sendiri tanpa menghiraukan aku yang di sini, seorang istri yang hanya bisa mengharap dan mengharap dari sang suami.

Untuk menghindari, aku pergi ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa make up. Bukan kesenangan dan bahagia ku dapat, tapi malam pengantin di mulai dari ketakutan kepadanya dan rasa malu yang amat mendera.

Apakah seperti ini hubungan pernikahan tanpa ada ikatan yang baik antara suami istri. Aku termangu di cermin fastafel dan terus berkaca dan bertanya-tanya sendiri.

"Apakah arti pernikahan ini?" Batinku.

"Apakah kebenarannya akan lebih sakit dari ini?" Tanyaku lagi dalam tangis pilu mendera.

***

Apakah Zahwa kuat dengan pernikahan yang tidak harmonis. Bertahankah kekagumannya yang selama ini di sembunyikan di pupuk dan ditanam akhirnya pupus juga. Suara hati istri yang tak dianggap.

😀🙈

Bagaimana ceritanya Kak. Yuk kita baca selanjutnya 😍

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
8.6
Haera merenungkan filosofi Peter Pan yang mampu memberi kebahagiaan bagi Wendy namun tak bisa memilikinya, layaknya idola kepada penggemar. Saat diskusi beralih pada sosok Tinker Bell, sang sahabat setia, sebuah pemikiran baru muncul di tengah proses penulisan ceritanya. Haera menyadari bahwa meski Peter Pan tak bisa meraih Wendy, Tinker Bell akan selalu ada di sisinya. Sebuah kisah tentang kesetiaan dan perasaan yang tersembunyi di balik bayang-bayang persahabatan.
Sampul Novel Cintaku Direbut Sahabatku Sendiri
9.6
Hidup Lara hancur total saat Darren, suaminya, berselingkuh dengan Maya yang merupakan sahabat dekatnya sendiri. Pernikahan mereka berakhir tragis setelah Darren memilih menceraikan Lara demi selingkuhannya. Penderitaan Lara kian memuncak ketika kecelakaan hebat merenggut janin dalam kandungannya. Meski mencoba membuka hati untuk cinta yang baru, rentetan cobaan seolah tak berhenti mengejarnya. Mampukah Lara menemukan setitik kebahagiaan setelah segala miliknya hilang?
Sampul Novel Crazy Playboy - Gairah dan Obsesi Aktor Tampan
9.7
Permainan Truth or Dare mengubah hidup Syila saat ia memilih tantangan berani. Ia diwajibkan mencium pria pertama yang ditemuinya di depan toilet. Takdir mempertemukannya dengan Jaguar Adytama, aktor tampan yang kerap terjerat skandal bersama banyak wanita. Pertemuan tak terduga itu membuat Jake menjadi pria pertama dalam hidup Syila. Kini, Syila harus menghadapi konsekuensi setelah berurusan dengan sang playboy yang penuh gairah dan obsesi.
Sampul Novel Gairah Liar Tuan Xavier
8.5
Bella terjebak dalam situasi yang sangat mencekam saat ia berusaha keras menolak klaim sepihak dari Tuan Xavier. Meski Bella berteriak menentang takdir yang dipaksakan kepadanya, pria berkuasa itu dengan tegas menyatakan bahwa Bella kini menjadi miliknya sepenuhnya. Xavier tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Bella untuk melarikan diri atau memberikan bantahan. Kini, Bella harus menghadapi obsesi liar sang tuan yang tidak mengenal kata penolakan.
Sampul Novel Godaan Maut Ipar dan Mertua
8.9
Nikmati rangkaian kisah menarik yang dirancang khusus untuk menghibur dan membawa pembaca hanyut dalam alur tanpa beban konflik yang rumit. Narasi ini hadir sebagai pelipur lara dan teman istirahat di tengah padatnya rutinitas harian. Sangat ideal bagi pembaca dewasa yang mencari penyegaran agar terhindar dari stres, karya ini menawarkan kesenangan murni yang membuat siapa pun ketagihan. Temukan kedamaian lewat cerita yang ringan namun tetap penuh makna mendalam.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun Loraine setia mengabdi, namun Marco justru memperlakukannya dengan hina. Muak dengan pengkhianatan suaminya, Loraine memilih cerai demi mengejar warisan triliunan rupiah. Publik awalnya mengira ia gila, hingga identitasnya sebagai miliarder termuda terungkap. Saat Marco melihat mantan istrinya dikelilingi pria tampan, ia menyesal dan memohon untuk rujuk demi aliansi bisnis. Namun, Loraine hanya menatapnya penuh rasa jijik dan sudah tak lagi mencintainya.