
Kei's Three Children
Bab 3
"B-bagaimana bisa?"
Kei menutup mulut. Membelalakkan netra sebagai tanda keterkejutan yang dirasanya. Ia tidak percaya. Hamil? Bukankah...
"Karena kamu wanita dewasa Kei. Segalanya bisa terjadi jika sudah melakukannya," Celica menjawab seadanya.
Wanita beranak tiga itu sejujurnya kasihan dengan Kei. Tapi yang bisa dibuat? Lelaki yang sudah melakukan hal itu pada Kei saja tidak kelihatan batang hidungnya.
Mengingat menurut cerita bibi Gin dari narasumbernya yaitu Kei, Kei dan pria itu melakukan percintaan satu malam.
Setelah melalui malam yang panjang, sama sama tak dikenal menjelang paginya. Namun di situ Celi tidak menganggap Kei wanita murahan.
Karena sahabat baiknya, anak bibi Gin juga mengalami kejadian sial sama seperti nasip Kei.
"Sabar ya, Kei," Celi mengelus bahu Kei.
"Apa yang sabar, bunda Hyan?"
Pandangan Kei dan Celi mengarah ke sumber suara.Ada bi Gin di samping kulkas. Menatap penasaran akan perbincangan kedua perempuan ini.
Bunda Hyan adalah sebutan untuk Celi karena anak pertamanya bernama Hyan. Kei tidak menyebut Celi dengan bunda Hyan, karena Celi tidak mengizinkan. Mengingat usia Celi dan Kei tidak terlampau jauh.
"Kei hamil, bi," ungkap Celi jujur.
Bi Gin menghampiri Kei. Setelah ia menutup mulut, ada naluri jika ia harus menenangkan perasaan Kei, si perempuan yang kini berwajah pucat bagai mayat.
"Sabar ya nak. Berpikirlah positif. Jangan depresi hingga pikiran iblis menguasaimu," pesan bibi Gin. Air mata membasahi pipi bibi Gin dan tak lupa ada Celi.
Kedua perempuan itu, sudah pernah kehilangan satu orang yang paling mereka sayangi. Anak bibi Gin, teman Celi sejak kecil. Malah mati muda… Dengan janin tak berdosa hasil perbuatan bejat lelaki yang sudah mati seminggu setelah anak bibi Gin meninggal.
Sedang Kei menatap terharu. Ia masih tidak percaya, ternyata masih ada orang baik yang mau menerima keberadaannya walau seperti ini.
****
Enam setengah tahun kemudian.
Sinar matahari hangat terbit, perlahan menggeser cahayanya memasuki setiap celah yang mampu dimasukinya.
Sebuah rumah rapi dengan jendela transparan sebagai dinding di beberapa ruangan tertutup gorden dua lapis.
Susunan cat, palet, kanvas. Kertas demi kertas, membentuk buku tebal terbuka di atas meja. Tulisan sangat rapi, sepertinya membentuk suatu cerita panjang di dalamnya.
Tiga ranjang berukuran mini ditempati tiga orang anak sedang tidur, tentunya. Dua perempuan, satu laki-laki. Mereka sangat nyenyak dalam alam mimpi.
Tok, tok, tok. Pintu dalam ruangan menyatu kamar dan ruang permainan, diketuk lembut oleh seorang wanita cantik berpakaian sederhana tampak memegang nampan berisi tiga piring.
"Anna, Alice, Andre. Bangun nak," wanita itu menyerukan nama anak-anaknya.
Sedetik. Dua detik. Tiga detik.
Ceklek.
"Bunda!"
"Bunda!"
"Bunda!"
Tiga anak balita itu seperti biasanya selalu mengagetkan Kei, nama panggilan wanita itu. Ketiga anak, memeluk di berbagai sisi, bagian kaki panjang berbalut celana hitam karet milik Kei.
"Haha, tunggu sayang. Jangan terburu-buru," Kei segera meletak nampan di atas meja dekat posisinya. Di sana terdapat susunan buku cukup tebal tampak sudah dicetak rapi.
Kei berjongkok, menunjukkan senyuman manis, keibuannya. Menatap tiga anaknya. Ya, tiga anak. Anak yang dikandung, dan dilahirkannya secara cesar lima setengah tahun yang lalu.
Anna, Alice, dan Andre, nama ketiga anak-anaknya. Sangat cantik dan tampan. Mata biru, dan rambut pirang menjadi dominasi permukaan wajah mereka.
Nampaknya tiada dari raut wajahnya ditiru oleh anak-anaknya kecuali kenyataan yang tidak pernah bisa terbantahkan, yaitu Kei adalah wanita yang melahirkan ketiga jagoan cilik ini!
"Selamat pagi sayang-sayang bunda!" sambut Kei melebarkan telapak tangan.
Dan anak-anaknya segera mendekatkan tubuh mereka ke dalam pelukan hangat ibu mereka.
"Pagi bunda!"
"Pagi sayangnya Alice."
"Pagi bundaku yang jelek!"
Dan begitulah Kei disebut oleh ketiga anak-anak kembarnya. Anna, si kakak besaran, biasa menyebut mamanya.
Sedang Alice, gadis cilik itu sangat sayang dengan mamanya. Uh, terlihat sekali jika Alice anak mami, sayang keluarga!
Serta Andre, dengan segala keusilan yang membentuk dirinya, entah dapat dari mana sifat itu, mengejek Kei, mamanya adalah kebiasaan usilnya tiap hari.
Karena menurutnya, tiada orang yang lebih luar biasa dari padanya.
Anda Mungkin Juga Suka





