Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH

KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH

Demi membahagiakan orang tuanya, Kanaya merelakan diri menikah dengan Bisma meski hatinya masih terpaut pada Hamdan. Namun, rumah tangga mereka diguncang kenyataan pahit saat Bisma diketahui menghamili kekasihnya, Vilia. Kanaya yang tegar justru memfasilitasi pernikahan keduanya. Ironisnya, saat Bisma mulai jatuh hati padanya, Hamdan justru kembali datang melamar. Kanaya kini terjebak dalam pusaran asmara dan dilema emosional yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pagi ini Kanaya bersiap-siap untuk memilih gaun pengantin yang akan dia kenakan besok pagi. Kanaya ditemani oleh sahabatnya, Ara.

"Apa mungkin, Bisma itu jodohku?" tanya Kanaya seakan-akan masih belum yakin.

"Pasti, Kanaya. Kenapa kamu masih ragu?"

"Aku belum siap, Ara."

"Siap tidak siap, kamu harus siap. Bagaimanapun, dia sudah melamar kamu dengan baik-baik."

Ara terus berusaha untuk memberikan Kanaya semangat. Ara ingin sahabatnya itu selalu berbahagia. Kanaya pun memilih gaun pengantin yang bagus. Gaun pengantin berwarna putih untuk dia kenakan saat akad nikah. Akad nikah yang akan berlangsung pukul 08.00. Kanaya tinggal di kota Malang, kota dingin dan banyak tempat pariwisata. Setelah semua kebutuhan sudah selesai. Kanaya dan Ara pulang.

"Cuma kamu pengantin yang beli gaun secara mendadak seperti ini. Padahal, akad nikah kamu akan dilaksanakan besok pagi," ujar Ara sembari menggelengkan kepala.

"Namanya juga dadakan, Ara. Semuanya serba mendadak. Aku juga sebenarnya masih dilema dan tidak percaya dengan apa yang telah aku alami," kata Kanaya menjelaskan.

"Kamu cinta sama Bisma?" tanya Ara meyakinkan.

"Aku juga tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Secara ini adalah sebuah perjodohan. Kamu tahu sendiri 'kan, laki-laki yang aku sukai," jawab Kanaya.

"Maksud kamu, Hamdan?"

"Iya, siapa lagi. Perbedaan antara mereka berdua itu sangat jauh. Hamdan itu lebih seperti seorang ustadz. Sedangkan Bisma, dia gaul," jelas Kanaya.

"Sudahlah, Kanaya. Kamu jangan terlalu berharap banyak kepada Hamdan. Kamu sudah lama menyimpan dan berhalusinasi tentang dia. Dia hanya menganggap kamu teman ngajar, tidak lebih dari itu," ujar Ara.

Kanaya masih membela dirinya, dia yakin satu hal, kalau Hamdan sebenarnya memiliki perasaan yang sama.

"Terserah kamu," kata Ara.

Hamdan dan Kanaya satu tempat mengajar di sebuah TPQ. Mereka berdua guru ngaji. Sering Kanaya dan Hamdan jalan bersama, itupun karena ada tugas yang harus dikerjakan bersama-sama.

Kedatangan Kanaya dan Ara disambut oleh Sinta, ibu Kanaya.

"Bagaimana gaunnya? Sudah ada?" tanya Sinta.

"Sudah dong, Tante."

"Bagus, terimakasih Ara."

"Sama-sama."

Sinta mempersilahkan Ara duduk, sedangkan Sinta membuat minuman jus untuk Ara dan juga Kanaya.

"Kamu harus banyak-banyak bersyukur loh, Kanaya. Kamu bisa memiliki ibu yang baik dan pengertian. Sebentar lagi juga kamu akan menikah," ucap Ara.

"Iya, aku bersyukur kok. Tapi, apa kamu kira kehidupan setelah menikah itu enak?" tanya Kanaya.

"Pastinya enaklah. Ada yang manjain, ada yang memberikan kasih sayang. Ada yang...,"

Belum sempat Ara meneruskan pembicaraannya, Sinta datang membawa nampan yang berisi dua gelas jus dan makanan ringan.

"Lagi bahas apa sih! Kayaknya seru banget!" ledek Sinta.

"Maklumlah, Tante. Namanya juga anak muda," ujar wanita yang bernama lengkap Tamara itu.

"Iya, deh! Tante gak ikut-ikutan," kata Sinta.

Ara dan Kanaya pun melanjutkan pembicaraan mereka. Kanaya menjelaskan, kalau pernikahan itu tidak seindah di film-film. Pasti ada yang namanya asam, manis dan pahit. Ara pun mengerti dengan maksud Kanaya, Ara pun pamit pulang. Kanaya harus beristirahat siang ini, agar dirinya bisa mendapatkan tenaga yang lebih baik. Meskipun pernikahan ini bukan keinginannya, dia harus berusaha untuk menetralisir perasaannya. Kanaya sudah bertekad untuk belajar mencintai Bisma, calon suaminya.

'Aku kira kehidupan yang aku jalani akan seperti di film ftv, aku akan menikah dengan orang yang aku cintai. Ternyata aku salah kaprah, ini dunia nyata,' batin Kanaya. Tidak terasa dia terlelap dalam tidurnya. Hari-hari yang dijalani Kanaya seperti biasanya, dia memang terbiasa tidur siang sebelum dia pergi mengajar ngaji di sore hari. Pukul 17.00 dia pulang ke rumahnya. Malamnya dia isi dengan mengajarkan les kepada anak-anak tetangga. Kanaya yang merupakan lulusan SMA, dia selalu mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Kanaya sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya hingga sarjana. Namun, hal itu terkendala oleh biaya. Jadi, hanya itu yang dapat dia lakukan agar ilmu yang diterima ketika SMA masih terus bermanfaat dan dia ingat.

"Kanaya, kamu sebaiknya menghentikan dulu rutinitas harian mu. Kamu besok 'kan, akad," ucap Sinta.

"Nanggung, Bu. Lagian besok hanya akad yang sederhana 'kan?" tanya Kanaya.

"Iya. Tapi, tetap saja kamu harus menjaga kesehatan," jawab Sinta.

"Iya, Ibuku sayang. Kanaya akan selalu menjaga kesehatan Kanaya. Tapi, Kanaya juga tidak bisa meninggalkan kewajiban yang biasanya aku kerjakan," ujar Kanaya sembari memeluk Sinta.

"Ya sudah kalau begitu, setelah selesai kamu harus berjanji. Kamu harus tidur," ucap Sinta.

"Iya."

Murid les yang belajar kepada Kanaya lumayan banyak. Total keseluruhan ada dua puluh anak, mereka juga yang menjadi pelipur lara Kanaya saat dirinya sedang gelisah, sedih dan juga marah.

Kanaya pun beranjak untuk tidur, setelah aktifitas dia lakukan sebaik mungkin. Sulit bagi Kanaya untuk tertidur lelap malam ini. Kanaya tidak bisa membayangkan, kalau dirinya akan memiliki status menjadi seorang istri besok pagi. Kanaya gugup, keraguan juga masih terus menghantuinya. Apalagi, tadi sore Hamdan mengakui perasaannya yang sudah lama Hamdan pendam. Hamdan tidak bisa mengatakannya dari dulu, dia belum siap untuk menikahi Kanaya.

"Mungkin aku memang laki-laki pengecut. Aku berani mengatakan semuanya hari ini, setelah kamu akan menjadi istri laki-laki lain. Beruntung laki-laki yang mendapatkan kamu. Maafkan aku, karena aku baru mengatakannya. Selain karena aku belum siap menikah, aku juga takut ditolak olehmu. Aku kira, perasaan yang aku pendam akan berujung manis. Kamu tidak akan menikah sampai aku datang melamar mu. Akan tetapi, aku salah dan aku lupa. Bahwa wanita tidak bisa menunggu lama. Wanita juga butuh kepastian, dan wanita layak memilih kebahagiaannya. Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakan banyak kesempatan. Semoga kamu selalu bahagia, walaupun bahagiamu bukan karena ku." Hamdan langsung pergi dari hadapan Kanaya setelah dia menjelaskan semuanya.

Wanita itu masih terus terbayang-bayang akan ucapan Hamdan sore itu. Mungkin memang waktunya tidak pas. Namun, wanita itu merasakan sesak dalam hatinya. Sesak karena Hamdan tidak mengetahui tentang perasaannya yang juga memiliki perasaan yang sama. Sebenarnya tidak ada kata terlambat untuk semuanya. Kanaya bisa saja meninggalkan rumah hari ini juga dan membatalkan pernikahannya. Akan tetapi, Kanaya masih menghormati ke dua orang tuanya yang sudah meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk menikahkan dia dengan Bisma. Setelah Kanaya lelah dengan pikiran-pikiran yang selalu menghantui dirinya, dia pun memutuskan untuk memaksakan dirinya memejamkan mata.

'Aku harus melupakan semuanya, mungkin ini adalah hal yang terbaik untuk ku. Aku yakin, ini semua jalan yang sudah diridhoi Tuhan.'

Pikirannya masih terus kalut, padahal dia sudah mencoba berbagai macam cara. Dia pun bergegas pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Dibacanya lembaran-lembaran Al-Qur'an. Setelah itu, dia kembali merebahkan tubuhnya dan terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menunggumu, Cintaku
8.9
Natalia gagal meluluhkan hati dingin Kenzo dan memilih pergi saat mengandung. Ia menghilang tanpa jejak, membuat Kenzo yang putus asa memperluas bisnisnya ke kancah global demi mencarinya. Pencarian buntu itu hampir membuat Kenzo gila hingga ia mengacaukan seisi kota. Bertahun-tahun berlalu, Natalia kembali sebagai sosok wanita berkuasa dan kaya raya. Namun, takdir kembali menjeratnya dalam pusaran emosi bersama Kenzo yang belum berhenti mengejarnya.
Sampul Novel Belaian Cinta
9.6
Ratih harus menjalani hubungan jarak jauh setelah suaminya, Prima, bekerja di Kalimantan demi masa depan putri mereka, Chika. Meski awalnya tampak baik-baik saja, perpisahan ini memicu konsekuensi tak terduga. Pesona Ratih menarik perhatian Wira sang duda, Heru tetangga depan rumah, hingga Derry yang masih sekolah. Tanpa perlindungan suami, Ratih terjerat dalam godaan mereka hingga hamil. Kini, ia harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan misteri ayah janin tersebut.
Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku
9.4
Grace jatuh terduduk dalam kehancuran setelah dipermalukan oleh Edward. Tidak ada lagi sikap keras kepala yang biasa ia tunjukkan. Di tengah isak tangisnya, Edward mendekat dan memeluknya erat sambil memohon maaf. Edward mengaku tindakannya dipicu oleh kecemburuan melihat kedekatan Grace dengan Kevin. Meski emosinya sempat meledak, Edward menyadari perasaannya yang kacau. Ia mencium kening Grace, berusaha menjelaskan sesak di dadanya yang selama ini tak ia pahami.
Sampul Novel Gairah Liar sang keponakan
8.4
Kehidupan seorang pria berubah drastis sejak keponakan yang dititipkan kakaknya mulai bertindak liar. Gadis yang awalnya terlihat polos itu ternyata menyimpan obsesi cinta hingga berhasil menjeratnya dalam satu malam penuh gairah. Kini, ia terjepit antara hasrat dan tuntutan restu sang kakak atas hubungan yang dianggap tabu oleh dunia. Namun, sebuah rahasia besar dari masa lalu perlahan terungkap, membongkar status hubungan mereka yang sebenarnya.
Sampul Novel Hamil Dengan Pengkhianat
8.6
Nasib buruk di Paris membawa Vera terjebak dalam malam panjang bersama pria asing. Betapa terkejutnya dia saat menyadari pria itu adalah Dante, perundung masa sekolah yang paling ia benci. Dua bulan berlalu di Jakarta, Vera mendapati dirinya hamil dan bertekad membesarkan janin itu sendirian demi menghindari bayang masa lalu. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Kehadiran Dante yang tiba-tiba membuat hidup Vera kian rumit dan penuh dilema.
Sampul Novel My Dangerous Husband
9.4
Dunia Senja mendadak runtuh saat Damar hadir membawa tuntutan pernikahan akibat kesalahan fatal sang ayah. Terjebak dalam ikatan tanpa cinta, Senja harus menghadapi sikap Damar yang sangat otoriter dan dominan. Namun, di balik sifat kerasnya, Senja perlahan menemukan sisi kebaikan yang tak terduga dalam diri suaminya. Meski benih rasa mulai tumbuh, berbagai rintangan berat terus menghantam keharmonisan rumah tangga mereka yang penuh dengan tekanan.