Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kayungyun

Kayungyun

Sejak kecil, tubuh Fatih menjadi wadah bagi entitas misterius yang disebut sebagai teman. Seiring bertambahnya usia, beban mistis ini kian tak terkendali hingga membuat hidupnya kewalahan. Kehadiran sosok-sosok tak kasat mata tersebut mulai meneror ketenangan Fatih dan mengancam keselamatan orang-orang di sekitarnya. Kini, ia harus menghadapi gangguan supranatural yang kian agresif dan merusak tatanan realitas di lingkungan terdekatnya secara perlahan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Fatih terbangun dengan keringat yang bercucuran di tubuhnya. Fatih tahu, gangguan itu pasti datang lagi, karena Fatih baru saja bermimpi didatangi atau mendatangi --Fatih tidak tahu-- dua lelaki itu lagi. Yang satu sudah tidak muda lagi dengan rambut pendek dan beruban sempurna, sementara lelaki satunya memiliki rambut panjang. Keduanya tertawa, sepertinya mentertawakan Fatih. Ah, mimpi itu sangat mengganggu Fatih. Mimpi itu seakan hendak memberi tahu Fatih tentang sesuatu, tetapi Fatih tidak paham, dia hanya bisa menduga-duga saja.

Fatih mendongak dan melihat seorang wanita yang memakai baju panjang putih duduk di atas lemari bajunya. Wanita itu tertawa melihat Fatih terbangun. Wanita kemudian melayang dan duduk di samping Fatih.

"Wis le turu? Menungso ki le turu suwe, ya? (Sudah tidurnya? Manusia itu kalau tidur lama, ya?)" tanya wanita berbaju putih dengan nada suara tinggi dan membuat merinding orang yang mendengarnya. Fatih bergidik, dia menggeser sedikit posisi duduknya. Wanita berwajah putih pucat itu tertawa terkikik-kikik.

"Ngopo? Kowe wedi karo aku? (Kenapa? Kamu takut denganku?)"

Fatih berdecak dan bangkit meninggalkan wanita jadi-jadian itu sendirian. Tawa wanita itu semakin keras.

"Fatih! Tih! Jangan pergi!"

Fatih tidak memedulikan teriakan-teriakan absurd itu, dia bergegas ke kamar mandi dan berwudhu, dia ingin menghilangkan gangguan yang membuatnya sangat tidak nyaman. Setelah Fatih keluar dari kamar mandi, suasana menjadi hening dan sepi. Fatih mengembuskan napas lega, sepertinya gangguan itu sudah menghilang.

Fatih segera menggelar sajadah dan melakukan salat Tahajjud. Belum lagi Fatih salam yang kedua, wanita berbaju putih tadi sudah berbaring di depan Fatih.

"Astaghfirullah!"

"Halah ora sah kemaki. Wis gek ndang turu, neh. Aku arep ngomong penting karo kowe, Tih! (Halah, nggak usah sok-sok.an. Ayo, tidur lagi. Aku mau ngomong penting sama kamu, Tih!)"

Fatih bergidik, dia buru-buru beristighfar dan membaca doa yang diingatnya untuk mengusir gangguan mahluk halus itu. Wanita itu mencibir.

"Halah bacaanmu, tu, Tih ... Tih! Masih salah-salah, kok, nekat mau ngusir aku. Aku, lo, sudah puluhan tahun di tubuhmu nggak terpengaruh sama sekali dengan doa-doamu, dengan ibadahmu yang masih bolong-bolong itu."

Fatih diam saja. Dia terus membaca doa yang sudah dihafalnya di luar kepala itu. Sang wanita berdecak kesal.

"Sudah, Tih! Sudah! Aku ini diititipin Mbah Atmo ke tubuhmu itu bukan untuk diusir seperti ini. Aku itu dititipkan ke tubuhmu untuk melindungimu. Hati-hati, lo, aku ini amanah dari Mbah Kakungmu, lo!"

Rupanya perkataan wanita jadi-jadian mengusik Fatih. Dia mendongak dan memandang wanita itu dengan marah.

"Kadita! Jangan bawa-bawa simbahku dalam hal ini!" teriak Fatih. Wajahnya merah merona menahan marah.

Wanita jadi-jadian yang bernama Kadita itu tertawa terkikik-kikik lagi. Kadita berdiri di depan Fatih.

"Makanya kusuruh sudah berdoanya. Tidur lagi saja ...."

"Nggak! Mending aku ke masjid saja." potong Fatih dan dia segera bergerak meninggalkan Kadita.

Kadita mendelik. Dia memanggil-manggil Fatih histeris.

"Tih! Fatih! Tunggu dulu! Jangan pergi dulu! Fatih!"

Fatih menoleh dan tertawa mengejek, kemudian melanjutkan langkahnya menuju masjid di depan indekosnya.

"Awas kamu, Tih!" teriak Kadita dengan marah.

**

Rahman bangun karena terkejut mendengar seseorang menutup pintu depan indekosnya dengan keras. Rahman bangkit dan mengintip dari jendela kamarnya.

"Fatih. Kenapa lagi anak itu?" gumam Rahman, "pasti ada sesuatu di kamarnya."

Rahman bergegas menuju ke kamar Fatih. Rahman tahu Fatih terganggu dengan entah apa yang ada di kamar indekosnya. Fatih belum pernah bercerita pada Rahman apa yang ada atau apa yang terjadi di kamarnya, tetapi Fatih pernah bercerita bahwa dia terganggu dengan sesuatu di dalam kamarnya. Sehingga sekarang Rahman ingin tahu apa yang sebenarnya ada di kamar Fatih.

Rahman mengendap-endap ke kamar Fatih. Rahman berharap tidak ada teman indekosnya yang tahu apa yang hendak dilakukannya. Perlahan Rahman membuka pintu kamar Fatih dan dia mendengar seorang wanita sedang menyanyi lagu jawa dengan kata-kata yang tidak jelas. Rahman merinding, tetapi juga penasaran, sehingga Rahman tetap berdiri di depan pintu kamar Fatih dan membuka pintu kamar Fatih lebih lebar lagi.

Seketika udara dingin melingkupi tubuh Rahman. Dia menggigil dan menjengit ketika melihat siluet wanita berambut panjang di salah satu sudut kamar Fatih yang remang-remang. Rahman menelan ludah ketika siluet wanita itu seakan menoleh ke arahnya. Rahman bergidik ketika mendengar wanita itu terkikik panjang dan dalam sekejap siluet itu berada di depan Rahman.

Rahman menjerit kaget. Siluet wanita itu tertawa semakin keras. Dia mencengkeram tangan Rahman erat sambil berbisik manja.

"Kowe wae sing dadi kancaku, ya? (Kamu saja yang jadi temanku, ya?)"

**

Pagi itu Karang Pandan dingin sekali. Seorang pria berambut panjang keluar dari ruang terapi ruqyah sambil menggendong seorang anak perempuan. Mereka menuju ke lapangan di depan ruang terapi ruqyah itu dan disambut dengan ceria oleh seorang pria.

"Wah, cucuku datang! Hei, mau main basket dengan simbah? Mana adik-adikmu, Ndhuk? Sini, biar Fatihah sama aku saja, Fad. Kamu mbantuin Yasna saja," kata pria itu kepada pria berambut panjang di depannya.

"Nggak, Om. Fadli disuruh untuk membawa Fatihah di sini biar Yasna bisa bersih-bersih rumah, mumpung Naim dan Naimah masih tidur," jawab pria berambut panjang yang bernama Fadli itu.

"Oalah, kamu nggak ngajar?"

"Nanti, Om, jam delapan."

"Oh, okelah. Yuk, sini main sama simbah." Pria itu segera menggendong anak perempuan kecil yang tertawa ceria menyambut ajakan simbahnya untuk bermain. Fadli menyerah dan membiarkan anaknya diajak bermain dan berkeliling lapangan oleh pamannya. Fadli memilih untuk duduk di pinggir lapangan dan menunggui paman dan anaknya bermain-main dengan ceria.

"Santai, Mas?"

Fadli terlonjak kaget dan melihat seorang pria mendekatinya. Fadli tersenyum melihat siapa yang menyapanya.

"Nggih, Pak Sapto. Sebenarnya disuruh momong Fatihah, tetapi malah diambil alih sama Om Fatih, ya, sudah saya duduk saja," jawab Fadli.

Pria berambut putih sempurna dan bertubuh tinggi besar bernama Sapto itu tersenyum dan duduk di samping Fadli.

"Tidak disuruh membantu Mbak Yasna?" tanya Sapto menggoda. Fadli tertawa.

"Menurut Yasna inilah cara saya membantunya, Pak. Bagi Yasna lebih baik saya pergi dulu ketika dia membersihkan rumah dan masak daripada saya berada di rumah dan ikut membantu beres-beres. Nanti malah pecah perang dunia," jawab Fadli dengan tawa geli. Mereka berdua tertawa.

"Hari ini kuliah, Mas Fadli?" tanya Sapto. Fadli mengangguk

"Njih, Pak. Sampai sore sepertinya. Nanti ibuk saya ke sini untuk membantu Yasna," jawab Fadli, "biasa, Pak, ibuk merasa ikut bersalah karena saya jarang di rumah."

Mereka berdua tertawa lagi.

"Wah, Bu Lintang baik sekali. Apa tidak repot, Mas?"

"Sepertinya ibuk saya tidak punya pekerjaan, Pak dan sepertinya bapak tidak di rumah, jadi ibuk ke sini. Alasannya sih, mau ikut merawat Fatihah dan si kembar, padahal sebenarnya ibuk saya takut di rumah sendirian, Pak," jawab Fadli dan mereka tertawa lagi.

Tiba-tiba paman Fadli --yang menggendong Fatihah-- berlari ke arah Fadli dan Sapto yang sedang tertawa.

"Fad! Fad! Itu, Fad!"

**

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Rahasia Dibalik Identitas Tersembunyi
9.3
Keinginan Putri Daniella untuk menikah dengan Pangeran Philip mulai goyah sejak kehadiran Erik Sebastian. Meski hanya seorang sopir dari desa, Erik menyimpan rasa cinta mendalam pada sang putri sejak mereka masih kecil. Namun, sebuah rahasia besar perlahan terkuak dan mengubah segalanya. Ternyata, identitas Erik yang sebenarnya bukanlah pemuda biasa, melainkan sang putra mahkota yang asli. Kini, takdir dan cinta mereka terjebak dalam misteri identitas.
Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent wafat penuh sesal setelah delapan tahun pernikahan hambar dan vonis kanker mematikan. Di detik terakhir, Zach Jardin tak kunjung datang hingga Madelyn bersumpah takkan mencintainya lagi jika waktu terulang. Keajaiban membawanya kembali ke usia delapan belas tahun. Madelyn bertekad menjauhi Zach demi masa depan baru, namun takdir berkata lain. Pria itu justru muncul kembali, mendekat dengan aura intimidasi dan janji untuk menjaganya seumur hidup.
Sampul Novel HARLEIN
9.8
Harlein, sang pewaris takhta Kerajaan Fortania, terjebak dalam dilema asmara dengan Anggara Mahesa. Meski Harlein percaya cinta melampaui kasta, Anggara justru merasa tidak layak bersanding dengannya karena perbedaan status sosial mereka. Anggara memilih menjauh demi kebaikan bersama, namun Harlein menuntut perjuangan yang setara. Di tengah penolakan dan rasa lelah karena terus mengemis perhatian, mampukah sang putri mempertahankan perasaannya saat pasangannya sendiri menyerah?
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel My Ghost
8.4
Syafira baru menyadari alasan di balik harga sewa apartemennya yang sangat murah. Hunian itu ternyata berhantu, hingga membuat para tetangga merasa ngeri. Bukannya takut, Syafira justru terpesona oleh ketampanan sang arwah. Imajinasi romantisnya mulai liar hingga ia merasa nyaman dengan sentuhan dingin makhluk tersebut. Namun, perbedaan alam mulai menghantui logika Syafira. Mampukah hubungan beda dunia ini berakhir indah layaknya novel yang ia tulis?
Sampul Novel Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius
9.0
Wira, seorang sarjana genius, mendapati dirinya terbangun di masa lalu dalam kondisi miskin di sebuah rumah kumuh. Ia kini menempati raga seorang sarjana tidak berguna yang gemar berfoya-foya dan kerap menyakiti istrinya sendiri. Menolak pasrah pada takdir buruk ini, Wira memutuskan untuk mengambil alih kendali nasibnya. Mengandalkan berbagai wawasan dan pengetahuan mutakhir dari masa depan, ia memulai langkah besar untuk mengubah kehidupan barunya demi menjadi sosok paling kaya di seluruh kerajaan.