
Kau Menikahi Aku Dengan Benci
Bab 3
Malam itu, Anjani tidak bisa tidur. Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah dan bingung. Jika Prakasa benar-benar kembali, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia mengakhiri pernikahannya dengan Arjuna? Tapi... bukankah pernikahan ini juga sah di mata hukum? Bahkan jika itu terjadi dalam keadaan darurat?
Anjani menatap jari manisnya. Cincin kawin dari Prakasa masih ia simpan di laci, sementara cincin dari Arjuna kini melingkar di jarinya. Dua simbol. Dua janji. Dua kehidupan yang kini saling beririsan.
Suara pintu kamar diketuk pelan. Anjani beranjak dan membukanya. Ia terkejut saat melihat Arjuna berdiri di depan pintu dengan wajah yang tak sekeras biasanya.
"Kita bisa bicara?" tanyanya pelan.
Anjani ragu, namun akhirnya mengangguk dan mempersilakan Arjuna masuk. Mereka duduk berseberangan, saling diam beberapa saat sebelum Arjuna membuka suara.
"Apa kamu... percaya Prakasa masih hidup?"
Anjani menatap mata suaminya. "Aku ingin percaya. Tapi aku juga takut... semua ini hanya akan menghancurkan hidupku dua kali."
Arjuna mengangguk pelan. Ia tampak berbeda malam ini-lebih tenang, tidak segalak biasanya.
"Kalau dia kembali... kamu akan pergi?" tanya Arjuna lirih.
Anjani menarik napas panjang. "Aku tidak tahu, Jun. Aku bahkan belum tahu seperti apa dia sekarang. Dua tahun tanpa kabar... dua tahun aku menunggu, dan ketika aku mulai berjalan lagi, dia tiba-tiba muncul dalam hidupku seperti hantu dari masa lalu."
Arjuna menggenggam kedua tangannya di pangkuan. "Aku pikir aku tidak peduli. Tapi ternyata... aku tidak suka membayangkan kamu pergi begitu saja."
Anjani menoleh. "Bukankah itu yang kamu inginkan sejak awal? Kamu sendiri yang bilang, kamu tidak pernah menganggapku istrimu."
Arjuna menatapnya, lama. "Aku tidak menyangka kamu akan bertahan sejauh ini. Tidak banyak wanita yang sanggup menanggung caci maki, diam, dan tetap berdiri."
"Aku tidak punya pilihan lain," balas Anjani. "Aku bukan Kirana. Aku tidak bisa kabur."
Arjuna tertawa miris. "Lucu. Tadinya aku pikir kamu adalah hukuman buatku. Tapi semakin hari, aku bingung... kamu ini hukuman, atau ujian?"
Anjani tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan ke jendela. Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma hujan yang belum turun.
Beberapa hari berlalu, dan berita tentang Prakasa makin sering ia dengar. Sore itu, seorang perwira dari kesatuan Prakasa datang ke rumah. Anjani dan Arjuna menerima tamu itu di ruang tamu.
"Bu Anjani, kami ingin menyampaikan bahwa Prakasa memang ditemukan dalam keadaan hidup, setelah sempat hilang dan tersesat selama misi di pedalaman."
Anjani menggenggam lengan kursi. "Dia... bagaimana keadaannya?"
"Saat ini dirawat di rumah sakit militer di Jayapura. Belum stabil, tapi bisa berkomunikasi."
"Apakah... dia menyebut namaku?" tanya Anjani lirih.
"Ya. Nama Ibu adalah nama pertama yang dia sebut saat sadar."
Air mata Anjani jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan tangan. Arjuna diam, lalu berdiri dan memanggil pelayan agar menyiapkan minuman untuk tamunya.
Setelah tamu itu pergi, suasana kembali sepi. Arjuna menghampiri Anjani, yang masih terduduk dengan mata sembab.
"Kamu mau pergi ke Jayapura?"
Anjani mengangguk lemah. "Aku harus melihatnya. Aku perlu tahu... dia masih sama atau tidak."
Arjuna terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku bisa antar kamu ke bandara besok."
Anjani menatapnya. "Kamu tidak marah?"
"Aku tidak punya hak untuk marah. Kamu bukan milikku."
Ucapan itu membuat dada Anjani sesak. Ada nada getir yang berbeda. Bukan ejekan, tapi... kehilangan.
Keesokan paginya, Arjuna benar-benar mengantar Anjani ke bandara. Tak ada kata-kata romantis atau pelukan perpisahan. Tapi saat Anjani turun dari mobil, Arjuna sempat berkata,
"Kalau kamu kembali... aku masih di sini."
Anjani hanya menatapnya, tidak berani menjawab.
Perjalanan ke Jayapura memakan waktu panjang. Sesampainya di rumah sakit militer, ia langsung diarahkan ke bangsal tempat Prakasa dirawat. Hatinya berdegup keras saat melihat tubuh itu-kurus, penuh luka, tapi masih hidup.
Prakasa membuka matanya perlahan. Ketika ia melihat Anjani, senyum lemah terbentuk di wajahnya.
"Anjani..." bisiknya.
Anjani menahan napas. "Prakasa... kamu benar-benar hidup."
Ia mendekat, duduk di tepi ranjang. Prakasa mengangkat tangannya dengan susah payah dan menggenggam jari Anjani.
"Aku... selalu berpikir tentangmu... setiap hari."
Anjani mengangguk, tapi air matanya terus mengalir. "Kenapa kamu tidak memberi kabar?"
"Aku... tertangkap kelompok separatis. Aku melarikan diri setelah hampir setahun... butuh waktu lama untuk sampai ke tempat aman."
Anjani membungkuk, memeluk tubuh yang lemah itu. Emosinya campur aduk-lega, haru, bingung, dan... bersalah.
"Aku menikah lagi, Prakasa," bisiknya.
Prakasa terdiam beberapa detik. "Aku tahu... mereka bilang saat aku sadar. Aku... tidak marah."
Anjani menatap wajah suaminya itu. "Kamu tidak marah?"
Prakasa menggeleng. "Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku tahu... kamu pasti menderita."
Anjani menahan isak. "Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku... masih terikat denganmu. Tapi... aku juga sudah punya kehidupan baru."
Prakasa menutup mata sejenak. "Ambil waktu, Anjani. Aku tidak akan memaksamu."
Selama tiga hari di Jayapura, Anjani menemani Prakasa menjalani perawatan. Ia melihat perubahan besar pada pria yang dulu sangat tegas dan ambisius. Kini, Prakasa menjadi lembut, penyabar, dan sangat menghargai setiap detik yang ia miliki.
Namun di sela-sela itu, pikirannya terus kembali pada Arjuna.
Ia teringat cara Arjuna menatapnya saat ia pergi, kalimat terakhir yang masih bergema di benaknya: "Kalau kamu kembali... aku masih di sini."
Di hari terakhirnya di Jayapura, Anjani berdiri di balkon rumah sakit, memandang senja. Prakasa menghampirinya dengan kursi roda.
"Kamu terlihat galau," gumamnya.
Anjani tersenyum kecil. "Aku merasa bersalah."
"Kamu tidak salah."
"Aku takut menyakiti kalian berdua."
Prakasa menatapnya. "Anjani... aku mencintaimu. Tapi aku tahu... mungkin hatimu sudah berubah. Aku sudah dua tahun hilang. Hidupmu tidak berhenti, bukan?"
Anjani menunduk. "Aku tidak tahu apa yang berubah dan apa yang tetap. Tapi aku ingin jujur pada diriku sendiri... dan pada kalian."
Prakasa mengangguk. "Kalau begitu, pulanglah. Temukan jawabannya."
Saat Anjani kembali ke rumah Arjuna, rumah itu tampak berbeda. Tidak ada lagi tatapan tajam dari Ny. Ratmi. Bahkan wanita itu menyapa Anjani dengan singkat namun sopan.
Arjuna sedang duduk di teras belakang, mengenakan kemeja santai dan membaca dokumen.
Anjani berdiri di ambang pintu. "Aku pulang."
Arjuna menoleh, lalu berdiri perlahan. "Selamat datang kembali."
Keduanya terdiam. Hingga akhirnya Anjani berkata, "Prakasa... memberiku kebebasan. Dia tidak menuntut apa pun. Tapi aku belum tahu... harus memilih siapa."
Arjuna mendekat satu langkah. "Aku tidak akan memaksa. Tapi aku ingin kamu tahu... selama kamu pergi, aku menyadari satu hal."
"Apa?"
"Aku tidak membencimu, Anjani. Aku hanya takut... takut kamu akan pergi sebelum aku sempat... mengerti siapa kamu sebenarnya."
Anjani menatapnya, dan untuk pertama kalinya, matanya tidak dipenuhi kesedihan... tapi harapan.
"Aku butuh waktu."
"Aku akan menunggu. Selama kamu belum menyerah."
Dan malam itu, Anjani menulis di buku catatannya:
"Aku berada di antara dua janji. Satu janji masa lalu yang belum selesai, satu lagi janji masa kini yang mulai tumbuh. Tapi kali ini, aku ingin memilih bukan karena kewajiban... tapi karena hati."
Anda Mungkin Juga Suka





