
Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
Bab 2
Lara memejamkan mata. Udara segar desa yang masuk melalui jendela gubuknya terasa seperti balsem untuk jiwanya yang terluka. Ia menghirup dalam-dalam, berusaha menyingkirkan aroma anyir kebohongan dan pengkhianatan yang selama ini melekat padanya di kota. Di sini, di desa kecil yang terpencil ini, ia adalah Lara yang baru. Bukan Lara Adistia, anak sopir yang dipaksa menikah dengan pewaris Bagaskara, atau Lara yang terbuang karena tak dianggap. Di sini, ia hanya Lara, seorang wanita yang kini menemukan kedamaian dalam kesederhanaan.
Sejak ia meninggalkan ibu kota, enam bulan lalu, hidupnya berubah drastis. Enam bulan yang terasa seperti enam tahun, namun juga sekejap mata. Setiap hari adalah penemuan baru. Ia belajar bercocok tanam dari Mbah Karsih, tetangga sebelahnya yang sudah renta namun semangatnya tak pernah padam. Tangannya yang dulu terbiasa memegang buku pelajaran atau menyentuh kain-kain mahal kini mahir menggali tanah, menanam benih, dan memangkas dahan. Kulitnya yang dulu putih kini kecokelatan terpapar matahari, namun ia tak peduli. Kebun bunga kecil di belakang gubuknya adalah surganya. Mawar, melati, kenanga, kamboja-semua tumbuh subur di bawah sentuhannya.
Ide membuat sabun dan parfum muncul secara tidak sengaja. Suatu sore, saat ia sedang memetik bunga melati, ia teringat aroma sabun yang selalu dipakai mendiang ibunya. Rasa rindu itu memicu keinginannya untuk mencoba membuat sesuatu dengan tangan sendiri, sesuatu yang bisa menyimpan aroma keindahan alam. Dengan modal nekat dan beberapa buku resep warisan Mbah Karsih tentang ramuan tradisional, ia mulai bereksperimen. Awalnya gagal. Sabunnya terlalu lembek, parfumnya cepat hilang aromanya. Namun Lara tak menyerah. Ia terus mencoba, mencampurkan berbagai bahan alami, mengolahnya dengan hati-hati, hingga akhirnya ia berhasil menciptakan formula yang sempurna. Sabun dengan aroma melati yang menenangkan, dan parfum dengan wangi mawar yang lembut namun tahan lama.
Produknya mulai dikenal di desa. Ibu-ibu tetangga sering datang untuk membeli sabun buatannya, memuji wanginya yang khas dan busanya yang lembut. Beberapa bahkan memesan parfum khusus untuk acara-acara penting. Lara tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa berharga, merasa karyanya diakui. Bukan karena nama keluarga yang melekat padanya, bukan karena janji yang ia penuhi, melainkan karena kerja keras dan kemampuannya sendiri.
Namun, di balik semua kedamaian itu, ada sebuah rahasia yang semakin membesar di dalam dirinya. Sebuah kehidupan yang tumbuh, tak terduga, namun nyata. Mual di pagi hari yang semula ia kira masuk angin, kelelahan yang tak kunjung hilang meski sudah beristirahat, dan nafsu makan yang berubah drastis. Hingga suatu pagi, saat ia terbangun dengan perut yang terasa begitu sensitif, ia akhirnya menyadari. Siklus bulanan yang teratur kini absen selama hampir tiga bulan. Dengan tangan gemetar, ia mengambil kalender usang yang tergantung di dinding bambu. Jeda itu terlalu panjang untuk diabaikan.
Jantung Lara berdegup kencang. Ia mencoba mengingat kembali. Malam itu. Malam kehancuran itu. Malam di mana ia melarikan diri dari kenyataan pahit, dari surat cerai yang mematahkan hatinya, dari Elara yang menganggapnya tak lebih dari sampah. Ia tidak ingin mengingatnya. Ia telah berusaha keras mengubur memori itu dalam-dalam. Namun kini, ingatan itu mencuat kembali, seperti hantu yang tak pernah bisa diusir. Elara. Pria yang membencinya. Pria yang telah menganggapnya mati. Pria yang kini bertunangan dengan wanita lain. Ayah dari bayi yang kini tumbuh di rahimnya.
Air mata membasahi pipinya. Ini adalah ironi terkejam dari takdir. Ia telah kehilangan segalanya: kehormatannya, janjinya pada Bastian, dan masa depannya dengan Elara. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia membawa serta bagian dari pria yang begitu ingin melupakannya. Bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan ini? Bagaimana ia bisa membesarkan anak ini sendirian, di desa terpencil ini, tanpa seorang ayah, tanpa penjelasan?
Panik melandanya. Ia ingin lari. Ingin menghilang. Namun ke mana? Ia tidak punya siapa-siapa. Orang tuanya sudah meninggal. Bastian koma. Dan Elara... Elara mungkin akan lebih membencinya jika tahu tentang ini. Ia bahkan bisa membayangkan bagaimana Stella akan bereaksi, cacian dan hinaan yang akan wanita itu lontarkan. Tidak. Ia tidak bisa kembali ke sana. Ia harus menghadapi ini sendirian.
Lara memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya. Ia hanya bisa mempercayai Mbah Karsih, yang memiliki pengetahuan luas tentang pengobatan tradisional. Dengan dalih sering merasa lelah, Lara meminta Mbah Karsih untuk meracikkan jamu. Mbah Karsih, dengan kebijaksanaannya, mungkin merasakan ada yang berbeda, namun ia tidak bertanya banyak. Ia hanya tersenyum dan memberikan ramuan herbal yang konon bisa menguatkan tubuh.
Minggu-minggu berikutnya adalah perjuangan berat bagi Lara. Ia harus menutupi gejala kehamilannya dari pandangan tetangga yang ramah namun juga ingin tahu. Ia mengenakan pakaian longgar, menghindari kegiatan fisik yang terlalu berat, dan mencari alasan setiap kali ia menolak makanan tertentu yang memicu mual. Namun, perutnya semakin membesar, dan ia tahu, waktunya semakin sempit. Ia harus membuat keputusan. Apa yang akan ia lakukan setelah bayi ini lahir?
Di tengah kegalauannya, Lara menemukan secercah harapan. Ia ingat perkataan mendiang ibunya tentang keberanian, tentang kekuatan seorang wanita dalam menghadapi badai. Ibunya selalu mengajarkan bahwa hidup harus terus berjalan, tidak peduli seberapa berat rintangan yang menghadang. Lara memandangi perutnya yang semakin membesar. Bayi ini adalah bagian dari dirinya, darah dagingnya. Ia tidak akan meninggalkannya. Ia akan melindunginya, membesarkannya dengan cinta, apapun yang terjadi.
Keputusan itu memberinya kekuatan baru. Ia akan menghadapi ini. Ia akan menjadi ibu. Seorang ibu tunggal, mungkin, tetapi ia akan melakukan yang terbaik. Ia mulai mencari informasi tentang persalinan, tentang perawatan bayi, membaca buku-buku lama yang ia temukan di rumah Mbah Karsih. Ia juga mulai menabung dari hasil penjualan sabun dan parfumnya, mempersiapkan diri secara finansial untuk kedatangan sang buah hati.
Ia juga harus memikirkan tentang Elara. Akankah Elara pernah mengetahui tentang anak ini? Jika ya, apa yang akan terjadi? Lara tidak ingin anak ini menjadi sumber konflik baru bagi Elara. Ia ingin anak ini tumbuh dalam kedamaian, jauh dari intrik dan kebencian keluarga Bagaskara. Mungkin, ia harus menghilang lebih jauh lagi. Mencari tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya, di mana ia bisa membesarkan anaknya dengan tenang, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan.
Setiap malam, Lara berbicara dengan bayinya. Ia menceritakan tentang bunga-bunga di kebun, tentang sungai yang mengalir jernih di dekat gubuknya, tentang langit malam bertabur bintang yang begitu indah di desa. Ia ingin bayinya merasakan cinta, merasakan kehangatan, meskipun ia tidak bisa memberikan keluarga yang utuh seperti anak-anak lain. Ia berjanji akan menjadi ibu terbaik, menjadi pelindung, menjadi dunianya.
Di sisi lain kota, Elara Dirgantara sibuk dengan persiapan pernikahannya dengan Elena. Media massa gencar memberitakan setiap detail, mulai dari gaun pengantin rancangan desainer ternama, hingga lokasi resepsi yang kabarnya akan menjadi pesta termewah tahun ini. Elara tersenyum di hadapan kamera, berpose mesra dengan Elena, menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menemukan kebahagiaannya. Ia tidak pernah menoleh ke belakang, tidak pernah sedikit pun memikirkan Lara, wanita yang pernah ia nikahi dan kini telah ia buang dari hidupnya.
Hidup Elara kini terasa lengkap. Bisnisnya semakin maju, ia memiliki Elena yang cantik dan pintar di sampingnya, dan ia akan segera menikah. Ia yakin, setelah ini, hidupnya akan sempurna. Namun, di sudut hatinya, ada sesuatu yang terasa hampa, sebuah kekosongan yang terkadang mengusiknya di malam hari. Ia sering bermimpi aneh, tentang seorang wanita yang wajahnya samar, namun matanya begitu sedih. Elara selalu menepisnya, menganggapnya hanya bunga tidur atau efek kelelahan. Ia tidak tahu, bahwa bayangan itu adalah Lara, dan kesedihan di mata wanita itu adalah beban yang ia tanamkan sendiri.
Ia juga tidak menyadari bahwa malam di mana ia menghabiskan waktu dengan seorang wanita di kelab malam, setelah pertengkaran hebat dengan ibunya tentang Lara, bukanlah Elena. Ia terlalu mabuk, terlalu frustrasi, dan terlalu buta oleh amarah. Dalam pikirannya, Elena adalah satu-satunya wanita yang ada di sana. Kenyataan pahit itu, kebenaran tentang siapa yang sebenarnya ia tiduri malam itu, masih tersembunyi rapat, menunggu waktu untuk terungkap, siap untuk menghancurkan semua kebahagiaan semu yang kini ia bangun.
Stella, ibu Elara, adalah orang yang paling bahagia dengan berita pertunangan ini. Impiannya untuk memiliki menantu dari kalangan atas kini terwujud. Elena adalah putri seorang konglomerat terkemuka, seseorang yang pantas bersanding dengan putranya. Stella seringkali dengan bangga menceritakan tentang Elena kepada teman-temannya, membandingkannya dengan Lara yang ia anggap tak lebih dari sampah. Ia benar-benar yakin, ia telah berhasil menyingkirkan duri dalam daging dan membersihkan nama baik keluarga Bagaskara dari aib pernikahan yang tidak diinginkan itu. Namun ia juga tidak tahu, bahwa benih dari pernikahan yang ia benci itu kini tumbuh, jauh dari pandangannya, di rahim wanita yang telah ia usir.
Anda Mungkin Juga Suka





