Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kata Cinta Membuat Sakit Hati

Kata Cinta Membuat Sakit Hati

Hamil empat bulan tidak membuat suami dokterku memprioritaskan pernikahan kami. Enam belas kali dia membatalkan janji mengurus surat nikah demi menolong perawat mudanya, mulai dari alasan pingsan hingga membelikan pembalut. Puncaknya, dia berbohong demi menjaga perawat itu di rumah sakit saat hujan deras. Kecewa dan mati rasa, aku memutuskan menggugurkan kandungan lalu pergi jauh ke luar negeri. Namun, pria yang telah menghancurkan hatiku itu tiba-tiba menyusul dan memohon maaf.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku membalikkan badan, menatap langsung ke arah Joshua.

Dia sama sekali tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan, hanya mengerutkan kening.

"Siapa yang menyuruhmu datang mencariku ke rumah sakit tanpa izin? Aku sudah bilang kalau ini tempat aku bekerja, bukan tempat hiburan," kata Joshua.

Wajah seriusnya kini benar-benar berbeda dari sikap lembut yang dia tunjukkan pada Bella tadi.

Seharusnya aku merasa sedih, sama seperti setiap kali dia mengabaikanku sebelumnya.

Namun, kali ini yang aku rasakan hanyalah dingin yang menusuk di dada.

"Kamu mengatakan di telepon kalau kamu sakit, jadi aku datang untuk menjengukmu," jawabku.

Hari ini aku menunggu seharian di depan Kantor Catatan Sipil. Baru saat jam kerja selesai, aku berhasil menghubungi Joshua.

Dia mengatakan bahwa dirinya sedang sakit, sementara aku langsung datang tanpa berpikir panjang.

Sekarang, aku bersyukur aku datang.

Jika tidak, mungkin aku masih akan terus dipermainkan seperti ini.

Joshua tertegun sejenak, lalu mengalihkan pandangan dengan rasa bersalah.

"Kamu salah dengar. Yang sakit bukan aku, tapi Be …."

"Nggak, ini salahku."

Aku memotong ucapannya.

Ini memang salahku.

Sejak awal memang salahku.

"Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu kalian lagi," kataku.

Aku berbalik untuk pergi.

Joshua tidak mengejarku, karena Bella sedang menangis.

"Apa Bu Amelia marah padaku? Semua ini salahku .… Kenapa aku selalu sakit .…"

Joshua menenangkannya dengan suara lembut, "Bukan salahmu. Itu karena hatinya yang terlalu picik."

Aku mempercepat langkahku.

Di dalam mobil saat perjalanan pulang, aku menerima telepon dari Joshua.

Sebenarnya aku tidak ingin mengangkatnya, tetapi dia terus menelepon.

"Halo?"

"Kamu akhir-akhir ini seharusnya nggak terlalu sibuk, 'kan?"

Suara Joshua kini terdengar lembut.

Aku hanya diam, tidak menjawab.

Namun, dia tetap melanjutkan kata-katanya sendiri.

"Bella baru saja menjalani operasi kecil, dia harus dirawat inap selama tiga hari."

"Kamu juga nggak ada kesibukan, 'kan? Jadi, selama tiga hari ini kamu bisa memasak, lalu membawakan makanan untuknya setiap hari."

"Dia hanya seorang gadis yang baru mulai bekerja, nggak ada siapa-siapa di sisinya untuk merawatnya. Kamu adalah istri gurunya, jadi kamu harus merawatnya."

Saat menyebutkan tentang Bella, kata-kata Joshua dipenuhi dengan rasa sayang.

Padahal demi pria itu, aku sampai bertengkar hebat dengan orang tuaku, hingga akhirnya memutuskan hubungan dengan keluargaku. Aku sering terbangun dengan air mata karena merindukan rumahku.

Di kota yang asing ini, satu-satunya orang yang aku kenal hanyalah Joshua.

Namun, pria itu tak pernah memperhatikanku dengan kepedulian seperti itu.

Karena ketika mencintai seseorang, barulah kamu akan peduli padanya.

Aku butuh waktu lima tahun untuk aku memahami hal ini.

Karena aku terus diam, Joshua seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.

Namun, aku langsung memotongnya, "Baiklah."

Telepon di seberang langsung hening.

Joshua mungkin tidak menyangka aku akan setuju secepat itu.

Lagi pula, ini adalah masalah memasak untuk wanita lain, wanita yang begitu dekat dengannya.

Namun, yang tidak Joshua tahu, aku sudah membuat keputusan untuk meninggalkannya.

Sebelum keluar dari rumah sakit tadi, aku sudah membuat janji untuk melakukan operasi aborsi dalam tiga hari, juga membeli tiket pesawat pulang untuk hari itu.

Joshua pernah berkata padaku bahwa selembar surat nikah tidak bisa mengikatnya, hanya cintaku yang bisa.

Namun, jika cintaku pun tidak bisa mengikatnya, aku tidak menginginkan pria itu lagi.

Setelah sampai di rumah, aku menggunakan air dingin untuk mandi.

Pemanas air sudah rusak setengah bulan lalu. Hanya butuh satu suku cadang kecil untuk memperbaikinya.

Joshua mengatakan tidak perlu memanggil teknisi, dia sendiri yang akan mengurusnya.

Namun, selama hari-hari berikutnya, dia selalu mengatakan sedang sibuk karena harus merawat Bella yang selalu saja dalam masalah.

Aku terus menunggu, sama seperti aku menunggu pernikahan yang pernah dia janjikan.

Namun, hubungan kami sama seperti pemanas air itu, yang sudah lama rusak.

Dengan menahan rasa sakit, aku akhirnya mencari tukang reparasi profesional lewat internet.

Saat pemanas air akhirnya diperbaiki, hatiku pun ikut tenang.

Ternyata, tanpa Joshua pun aku masih bisa tetap hidup.

Sepanjang malam itu, Joshua tidak pulang.

Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, aku membawakan makanan untuk Bella.

Malam kedua, Joshua masih belum pulang juga.

Siang di hari ketiga, saat aku turun membawa kotak makan, aku melihat Joshua berdiri di pinggir jalan menungguku.

Dia bersandar di pintu mobil sambil merokok, wajah sampingnya tampak tampan.

Aku tak menyangka dia akan datang tiba-tiba. Aku merasa cukup terkejut.

Namun, pria itu langsung berjalan ke arahku, mengambil kotak makanan dari tanganku, lalu berkata, "Terima kasih atas kerja kerasmu …."

Tentang masalah mengurus surat nikah denganku, dia terus menundanya. Namun, jika ini adalah tentang membawakan makanan untuk Bella, dia begitu antusias.

Aku merasa itu lucu. Aku pun tertawa dalam hati.

Kemudian, dia menyentuh rambutku yang terurai di sisi telinga, lalu berkata, "Maaf, aku yang salah karena sekali lagi nggak menepati janji. Begini saja, setelah Bella keluar dari rumah sakit, kita akan langsung mengurus surat nikah, ya?”

Aku tidak lagi merasa bahagia seperti dulu. Pikiranku hanya dipenuhi cara untuk menolaknya.

Sampai ponselnya tiba-tiba berdering.

Sekilas, tulisan nama Bella di layar menusuk mataku.

Baru dua detik berbicara di telepon, Joshua langsung berbalik dengan cemas.

"Bella merasa nggak enak badan, aku harus ke sana dulu. Kamu pulanglah, jaga dirimu baik-baik," kata pria itu.

Sama seperti 16 kali sebelumnya, telepon dari Bella adalah perintah, sementara Joshua adalah pelayan paling setia.

Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu mulai berkemas begitu aku sampai di rumah.

Karena aku yang menyesuaikan diri dengan kehidupannya, barang-barangku di rumah ini tidak banyak. Hanya dalam waktu singkat, semuanya sudah rapi di dalam koper.

Aku memandang sekeliling, menyadari bahwa meskipun semua barangku sudah dikemas, rumah ini tidak berubah sedikit pun.

Seolah kehadiranku selama ini sama sekali tidak berarti.

Saat hendak beristirahat, tiba-tiba pesan baru masuk di ponselku. Pesan itu bertuliskan, [Ini Bella.]

Aku pun berniat membalasnya.

Namun, aku langsung menyesal pada detik berikutnya.

Aku sudah menduga wanita ini tidak memiliki niat yang baik, tetapi aku tidak menyangka dia tidak berbasa-basi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Meri terpaksa melakoni profesi pembunuh bayaran demi uang karena sulit mencari kerja. Mike adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelam ini. Meski Meri mencintai sahabatnya itu, ia memilih memendam rasa demi menjaga pertemanan, apalagi Mike sudah memiliki kekasih seorang model cantik. Namun, pertemuan tak terduga dengan seorang dokter tampan di rumah sakit mulai menggoyahkan hatinya. Siapakah sebenarnya belahan jiwa yang ditakdirkan untuk Meri?
Sampul Novel DIUJUNG JALAN
7.9
Di sebuah desa terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan lebat, takdir mempertemukan dua jiwa dari latar belakang keluarga yang kontras. Sarah dikenal sebagai gadis periang yang selalu memancarkan energi positif dalam kesehariannya. Di sisi lain, ada David, seorang pemuda berparas menawan yang memiliki sifat lembut serta penuh kasih sayang. Kisah romansa modern ini menyoroti dinamika hubungan mereka di tengah kesederhanaan lingkungan tempat tinggalnya.
Sampul Novel FORBIDDEN INLAWS
9.1
Bagi Alexys, dicintai sepenuh hati adalah impian terbesar. Namun, ia tak menyangka bahwa sosok yang memendam perasaan mendalam padanya justru sang kakak ipar sendiri. Selama ini, Alexys mengira hidupnya akan berjalan normal setelah pernikahan kakaknya, tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Saat rahasia terlarang ini mulai terkuak, akankah Alexys menyadarinya? Bagaimana nasib hubungan mereka jika Alexys ternyata memiliki rasa yang sama?
Sampul Novel Kau Adalah Obatku
9.5
Acara kantor di pemandian air panas pegunungan berubah rumit saat jalur pulang ditutup, memaksa semua orang menginap. Ini pertama kalinya sang protagonis bermalam di luar, hingga rahasia kondisi fisik khususnya mendadak terbongkar. Terdesak situasi, ia terpaksa meminta bantuan kepada seorang pria yang tampak paling pendiam di sana. Namun, pilihan tersebut justru membuatnya terjebak dalam perangkap hubungan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Masih Adakah Cinta Untukku
8.8
Sonya Maharani Iskandar terpaksa menikahi Daffin, sang sopir pribadi, setelah Ken menolak janin di rahimnya. Delapan tahun berlalu, rahasia besar Daffin mulai terkuak tepat saat Ken muncul kembali. Di tengah ambisi balas dendam, ada Darren, bodyguard setia yang mencintainya dalam diam. Setelah berpisah dari Daffin, akankah Sonya memilih cinta lama atau perlindungan Darren? Terlebih saat ia sadar seluruh hidupnya hanyalah pion dalam rencana besar seseorang.