
KASIH YANG TAK DIINGINKAN
Bab 3
"Cuci sendiri! Kamu bukan bayi, dan aku bukan pembantu," ucapku tegas.
"Tapi itu tugasmu ....!" jawab Ririn tak mau kalah.
"Sudah bagus aku mencuci pakaianmu, apa otakmu sudah tidak bisa dipakai, seperti anggota tubuhmu yang lain?" Ku tatap ia dengan tajam.
"Maksudnya? Kamu sebut aku lumpuh?" Mata Ririn yang besar itu seakan melompat dari tempatnya.
"Bukan aku yang bilang," jawabku santai.
"Tadi, kamu bilang aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, apa namanya itu kalau bukan lumpuh?"
"Hanya orang sakit yang nggak bisa bekerja, minimal untuk membersihkan barang pribadi sendiri, masa harus aku juga yang membersihkan? Belum lagi, itu ada warna merah apa? Kamu lagi datang bulan kan? Dosa tahu, apa kamu juga amnesia? Nggak sekalian aku mandiin nanti?"
"Kamu ...." Semakin nyalang ia menatapku, kali ini dibarengi dengan jari telunjuknya yang diarahkan ke wajahku. Walaupun ia harus agak mendongak untuk melakukannya. Posisi kami saat ini saling berhadapan.
"Aku capek, mau mandi dulu, sudah hampir magrib soalnya. Selamat mencuci, Ririn Sayang ...." ucapku selembut mungkin, dan berlalu dari tempat mencuci dengan menahan tawa, karena wajahnya yang menahan marah sangat menggelikan.
Mungkin Ririn sedikit terkejut dengan semua ucapanku. Wajar jika ia merasa begitu, karena selama ini aku diam saja, aku hanya merasa di usiaku yang sekarang hanya ingin lebih menyayangi diri sendiri, karena tak ada yang benar-benar menyayangi apalagi menginginkan kehadiranku di sisi mereka.
Sebenarnya ada Paman Darto yang cukup peduli padaku, sayangnya Paman jarang di rumah, karena harus kerja bisa sampai dua minggu di lokasi tambang tradisional yang agak jauh ke hutan belantara di desa tetangga.
Jika ada paman, Bibi bersikap lebih baik padaku, kebetulan semalam Paman baru sampai dari lokasi, jadi aku sedikit tenang beberapa hari ke depan. Karena Bibi akan banyak membantuku. Walau aku tahu itu terpaksa, aku tetap merasa terbantu, dan bersyukur karenanya.
*****
Hari minggu yang dinanti oleh sebagian besar anak-anak seusiaku, karena tak harus bangun pagi untuk sekolah, nyatanya tidak berlaku untukku.
Lebih baik bagiku tak ada libur sama sekali, setidaknya aku bisa belajar sambil mengistirahatkan tubuhku, yang walaupun tanpa makan yang bergizi apalagi enak, tetap saja bisa tumbuh tinggi dan sehat.
Aku terbiasa bangun jam empat pagi untuk persiapan shalat subuh di Musholah dekat rumah, lalu pulang dari shalat, aku hanya menyimpan mukena dan sajadah, setelah itu mulai membersihkan rumah dan menanak nasi di rice cooker. Setidaknya pekerjaan ini lebih mudah.
Setelah bersih seisi rumah dan halaman, lanjut membantu Bibi menyiapkan sarapan, dan setelah sarapan aku mandi lalu menjaga warung sampai magrib, jika sudah masuk waktu shalat dzuhur dan ashar, aku minta tolong pada Bibi untuk gantian jaga.
Untungnya Bibi tidak pernah protes soal yang satu ini. Karena ia senang aku bisa shalat dan mengaji, memang Bibi dan Paman memasukkan kami bertiga ke Taman Pengajian Quran, sejak aku berusia delapan tahun. Namun yang benar-benar lancar dan sampai sekarang masih terus membacanya hanya aku.
Seperti biasa, Bibi tidak memaksa anaknya untuk selalu belajar, yang penting sudah tahu. Ya, sekedar itu saja, dan aku tak bisa komentar banyak soal itu. Ujung-ujungnya nanti aku juga yang kena marah.
"Kasih, kamu sudah selesai shalat ashar nya kan?" tanya Bibi masuk ke warung kelontong milik Bibi yang mulai sepi pembeli.
"Sudah Bi, kan tadi Bibi gantian jaga sama saya ...." jawabku sedikit heran. Cepat sekali bibi lupa soal ganti jaga itu. Jangan-jangan ketularan amnesianya Ririn lagi.
"Iya, Bibi hanya ingin memastikan saja," jawab Bibi pelan, sedikit kikuk di mataku. Curiga ada sesuatu nih.
"Kenapa Bi? Tumben Bibi ingin memastikan shalatnya saya? Atau Bibi ada maksud lain?" tanyaku nekad.
"Emang nggak boleh Bibi nanya?" Intonasinya sudah mulai meninggi.
"Saya juga hanya bertanya Bi, maaf," ucapku pelan. Dalam hati aku yakin ada sesuatu.
"Iya nggak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi, nggak sopan itu namanya!"
"Baik Bi," Kali ini aku menyerah menebak ada apa. Lebih tepatnya tak perduli lagi maunya Bibi apa. Toh aku nanti juga dipaksa ikuti maunya.
"Nah gitu dong, jadi gini Kasih ... sebenarnya -"
"Ayo Ma, kita sudah siap nih ...." Suara cempreng Ririn terdengar lebih riang dari biasanya.
Perhatianku otomatis teralihkan pada kakak beradik yang kini sudah berdiri di depan warung dengan penampian santai untuk jalan. Saat itu aku baru sadar jika Bibi juga tidak memakai daster, melainkan gamis yang baru dibeli seminggu yang lalu.
"Buruan Ma, nanti tutup restorannya ...." Kali ini suara Kak Risa yang terdengar.
"Kasih, kamu nggak apa-apa kan jaga warung? Bibi nggak bisa ajak kamu pergi, kita nggak akan lama kok, masalahnya kalau ngajak kamu, terus yang jaga warung siapa?"
"Ngapain sih, Ma, pake acara nggak enakan begitu sama Kasih, jaga warung kan memang tugasnya dia!" Ririn bertanya sambil menatapku kesal." Sepertinya dia masih dendam dengan kejadian tadi sore.
Bibi hendak mengatakan sesuatu, namun tak jadi, karena suara di belakang Kak Risa dan Ririn terdengar lebih dulu.
"Kenapa semua berkumpul di sini?" Paman menatap kami semua dengan heran, terutama padaku. "Kasih, kamu belum siap-siap?"
Anda Mungkin Juga Suka





