
Karma Untuk Istri Durhaka
Bab 3
Dalam video tersebut, Melissa juga Rudy tengah telanjang dan saling bergumul.
Keduanya bagaikan binatang buas, mengeluarkan jeritan yang memalukan.
Aku mematikan video tersebut dengan marah dan menatap wanita itu.
"Siapa kamu? Apa tujuanmu menunjukkan semua ini padaku?"
Wanita itu memperbaiki letak kacamata hitamnya dan berkata dengan nada genit.
"Aku yakin, kamu sudah bisa menebak siapa diriku."
"Sesama korban nggak perlu saling kenal."
"Informasi ini mungkin berguna bagimu. Anggaplah aku berbaik hati dan memberikannya padamu."
Setelah berkata seperti itu, wanita tersebut berbalik lalu pergi dan hanya menyisakan aroma harum di udara.
Aku mengepalkan tinjuku dan merasakan mual di perutku.
Wanita yang bisa memberikan video pribadi semacam ini, identitasnya tidak sulit untuk ditebak. Dia pasti wanita yang dekat dengan Rudy.
Lantaran informasi ini, bayangan terakhirku mengenai diri Melissa langsung lenyap tak berbekas.
Tubuhku belum pulih sepenuhnya. Aku masih harus tinggal di rumah sakit selama beberapa hari lagi.
Berhubung merasa bosan, aku pun mendorong kursi rodaku keluar dari ruang rawat inap untuk berjalan-jalan.
Ketika sampai di tikungan, tiba-tiba saja aku mendengar suara yang sudah tidak asing lagi bagiku, sedang berbicara di telepon.
"Bayi ini sudah berusia tiga bulan dan kamu memintaku untuk menggugurkannya?" Mustahil!"
"Bukankah kamu bilang akan menceraikannya setelah wanita itu melahirkan anak? Kenapa jadi seribet ini sih?"
"Aku nggak perlu istirahat. Aturlah agar aku bisa bergabung dengan perusahaan secepatnya!"
"Apa? Kamu nggak mau ngasih pekerjaan dan status untukku? Kamu mau berhubungan seks tanpa bayar?"
Suara Melissa yang jernih itu terdengar di telingaku.
Aku ingin berpura-pura tidak tahu, tetapi aku tidak bisa melakukannya.
Jika dipikir-pikir, sungguh sangat ironis. Aku ingin melindungi Melissa sepenuh hati. Namun, ternyata Melissa malah ingin menjadi wanita simpanan orang lain.
Aku memohon pada Melissa untuk mempertahankan anak kami. Akan tetapi, dia bersikeras untuk menggugurkannya.
Sekarang, saat orang lain tidak menginginkan anaknya, Melissa justru bersikeras untuk melahirkannya.
Namun, itu masalah buruk Melissa sendiri. Tidak ada hubungannya dengan diriku.
Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun dan menganggap seakan tidak mendengar apa-apa.
Ketika menutup telepon, Melissa berbalik dan melihatku.
Dia menjadi sangat marah.
"Edwin, kamu benar-benar gila! Nggak kusangka, ternyata kamu mengikutiku!"
"Kamu juga menguping teleponku. Apa kamu itu nggak tahu malu?"
"Jangan pikir kamu bisa mengambil keuntungan dari situasi ini, cuma karena kamu mengetahui konflik antara diriku dan Kak Rudy!"
"Sudah kubilang, berhentilah bermimpi! Perceraian kita sudah diputuskan!"
Aku tersenyum sinis.
"Melissa, aku sarankan padamu untuk berhenti bersikap terlalu percaya diri."
"Aku benar-benar nggak tertarik untuk mengetahui semua masalah kacaumu itu!"
"Sekarang setelah nggak sengaja mengetahuinya, aku langsung merasa mual."
"Kamu sama sekali nggak malu jadi simpanan orang lain, selingkuh dan hamil waktu kamu masih menikah."
"Untuk wanita sepertimu, meski kamu berlutut dan memohon maaf padaku, aku nggak akan pernah kembali padamu!"
Setelah berkata seperti itu, aku mendorong kursi rodaku dan pergi ….
Meninggalkan sekelompok orang yang menyaksikan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Melissa.
Telepon itu mengungkapkan begitu banyak informasi.
Ternyata Rudy sudah berkeluarga. Dia tidak ingin menikahi Melissa atau berencana memberikan pekerjaan pada Melissa.
Pantas saja, Melissa buru-buru mencari perusahaan lain.
Melissa juga terus menunda urusan perceraian. Mungkin, dia masih ingin menjadikanku sebagai cadangan.
Bagaimana mungkin aku membiarkan Melissa mendapatkan apa yang dia inginkan?
Beberapa hari kemudian, aku keluar dari rumah sakit.
Setelah kembali ke perusahaan, aku bertanggung jawab atas wawancara rekrutmen untuk posisi penting.
Melissa langsung memasuki ruanganku dan menatapku dengan penuh semangat.
"Edwin, dari mana kamu mendapatkan begitu banyak uang?"
"Aku sudah memeriksanya. Perusahaan ini nggak bisa mencapai skala sebesar ini tanpa adanya investasi lebih dari 20 miliar!"
Aku menatap Melissa dengan dingin. "Apa semua itu ada hubungannya denganmu?"
Tanpa merasa malu, Melissa pun berkata, "Kenapa nggak ada hubungannya? Itu 'kan harta gono-gini?"
"Jadi?" Aku menyembunyikan kemarahan di dalam hati dan bertanya pelan.
Aset yang kudapatkan seorang diri ini, awalnya ingin kubagi dengan Melissa.
Akan tetapi, sekarang dia malah selingkuh dan hamil demi uang.
Bagaimana mungkin dia berhak menggunakan uangku, jika dia menginjak-injak harga diriku seperti ini?
"Aset perusahaan ini dibagi dua. Berikan setengah sahamnya padaku, atau bayar dalam bentuk uang!"
Melissa mengutarakan tuntutannya dengan wajah serakah.
Aku mencibir, "Aku sendiri yang mendapatkan uang itu. Jadi, aku bisa ngasih kamu satu sen pun!"
Melissa berteriak dengan tidak rela, "Atas dasar apa? Kalau kamu nggak mau membayarnya, aku akan menunda perceraian kita!"
"Aku akan mengandalkanmu untuk membantuku membesarkan anak pria lain!"
Aku melemparkan flashdisk dengan marah. "Melissa, sebelum mengancam orang lain, pastikan dulu sebelumnya kalau orang itu nggak punya informasi di tangan mereka, yang bisa digunakan untuk menjatuhkanmu!"
Anda Mungkin Juga Suka





