
Karena Anak Hatiku Melunak
Bab 3
Tanti menghentikan perkataannya pada saat melihat orang yang ada di depannya. Ia pun ketakutan dan lekas berlari untuk bersembunyi. Sementara itu Darian terpaku melihat wanita berperut besar itu.
"Astaga. Bukankah itu orang yang selama ini aku cari?" Darian mencoba untuk mengingat, tap jika bukan, kenapa wanita itu harus lari?
Tanti dengan cepat bersembunyi, meninggalkan cangkir yang tadi dia pegang di meja dekat Darian berdiri.
“Astaga. Ada dia di sini!” Dada Tanti berdebar kencang. Dia benci dengan laki-laki itu dan tidak ingin bertemu dengannya.
Darian berusaha mencari keberadaan Tanti tapi sebelum usahanya berhasil, seorang wanita menghampirinya.
“Ternyata Anda ada di sini, Tuan Darian. Tuan Rocky sudah menunggu,” ucap seorang wanita, sekretaris pribadi Darian yang telah lama menaruh hati padanya.
Darian kesal, dengan sangat terpaksa dia menghentikan pencariannya terhadap Tanti karena ia tidak ingin mengecewakan klien barunya.
Masih ketakutan, Tanti meminta izin pulang sebelum waktunya dengan alasan kurang enak badan.
“Apa yang dia lakukan? Apa dia akan membawa anakku?” Pikiran Tanti sudah sampai pada hal yang jauh. Apa lagi kan?
Sesampainya di rumah Arin, ia berpamitan pada ibunya Arin untuk mencari tempat tinggal yang lain. Ia juga menceritakan perihal yang barusan terjadi padanya.
Tanti sangat ketakutan, terlintas lagi di dalam pikirannya kejadian beberapa bulan yang lalu.
Sementara Darian juga terbayang pada Tanti terus. Bahkan ia penasaran dengan kehamilan Tanti.
"Ya Allah, apakah anak yang di kandungnya anakku? Alangkah berdosa aku jika memang hal itu benar," batin Darian.
Dengan berbekal rekomendasi dari Arin, Tanti berhasil mendapatkan pekerjaan di cafe cabang dari cafe sebelumnya. Arin pintar berkata hingga Tanti bisa mendapatkan pekerjaan lagi walaupun kondisi kehamilannya sudah besar.
"Arin, terima kasih ya. Selama aku susah, kamu dan ibumu selalu ada buatku. Bahkan berkat pertolonganmu juga, aku bisa bekerja lagi dan tinggal di rumah kontrakan ini."
Dengan wajah sendu, Tanti menatap ke arah Arin seraya menggenggam kedua tangannya.
"Kamu teman baikku, Tanti. Dan jika waktu itu kamu tidak pergi dari rumahku, juga berbahaya untukmu. Karena ada seorang pria bertubuh tinggi tegap mencarimu ke rumah.”
Tanti terkejut akan ucapan Arin barusan. Dia tidak menyangka jika laki-laki itu mencarinya hingga ke rumah Arin.
“Apa kamu bilang aku ada di sini?”
“Tidak. Sesuai dengan permintaanmu, aku dan ibu sama sekali tidak memberi tahu tentang keberadaanmu. Tetapi, aku tidak tega loh, jika kamu tinggal di rumah kontrakan ini seorang diri dalam kondisi hamil besar seperti ini. Apakah sebaiknya aku dan ibu tinggal di sini saja ya, untuk menemanimu," ucap Arin merasa iba melihat kondisi sahabatnya tersebut.
Tanti menolak, ia tidak ingin terlalu banyak berhutang budi pada Arin dan ibunya. “Kamu nggak usah khawatir, semua tetangga disini baik kok. Jadi, kamu dan ibu tidak usah jauh-jauh pindah kemari. Jika ada apa-apa denganku, pasti akan ada yang menolong."
Arin semakin kagum dengan Tanti yang terlihat tegar.
"Masya Allah, Tanti. Aku benar-benar salut dan heran denganmu. Kamu bahkan mempertahankan anak yang tidak kamu inginkan ada di dunia ini. Kalau aku jadi kamu, aku sudah bunuh diri," ucap Arin memuji ketegaran Tanti yang sama sekali tidak terlihat air mata. Arin melihat Tanti menangis hanya pada saat Tanti di usir dari rumahnya sendiri dan dalam kondisi hamil.
Tanti tersenyum mendengar pujian dari Arin. “Aku memang tidak mengharapkan anak ini. Tapi Allah yang berkehendak. Bukannya segala sesuatu ada atas seizin Allah. Anakku tidak bersalah walaupun cara ia hadir dengan tidak aku harapkan. Tetapi, aku tidak akan pernah menolak anakku sendiri, Arin."
Rasa kagum semakin terlihat di wajah Arin, ia memeluk Tanti dan mengusap pundak temannya itu dengan lembut.
"Aku yakin Allah akan selalu menjagamu dan calon anakmu ini dengan segala macam cara, walaupun aku dan ibu tidak ada di sampingmu. Tapi kami akan sering-sering datang kemari untuk menjengukmu dan calon keponakanku."
Sejak saat itu, Arin dan ibunya sering datang ke kota dimana Tanti sekarang tinggal. Bahkan tak terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Kini Tanti sudah memiliki seorang anak berumur enam tahun yang bernama Ade. Ade anak yang cerdas, pintar, dan berkepribadian sangat baik.
"Bu, aku berangkat ke sekolah, ya. Ibu nggak perlu antar aku, toh aku sudah besar bahkan aku sudah bisa menjaga ibu."
Ade yang baru duduk di kelas 1 SD, mempunyai sifat yang dewasa tidak sesuai dengan umurnya yang masih terlalu kecil.
Anda Mungkin Juga Suka





