
KANG CENDOL TERNYATA MILIARDER
Bab 3
"Bercanda ya?"
"Enggak kok, ayo kalo mau tidur bareng aku Sayang" godaku sambil berpose menantang di atas kasur.
Irpan beringsut mundur kebelakang
"Ayolah,"
"Sa-ya tidur lebih dulu ya Teh" ucap irpan gugup sambil berjalan ke arah ruang tamu.
"Sayang beneran gak mau nih? godaku, aku tak menyerah dan mengikuti irpan dari belakang.
"Muji teh, muji Teh"
"Teh--"
"Teteh kerasukan ya?"
"Saya mau merasakan keperkasaan kamu"
"Maksudnya?" tanya Irpan dengan raut wajah .
"Ayo, atau aku bunuh kamu" ancamku.
Aku akan membuktikanpada mereka, bahwa aku tidak bodoh dan mereka lah yang sudah memilih lawan yang salah!
____
Saat pagi tiba, irpan berlari ke kamar saat sadar kami berdua tidur bersama di atas kasur yang sama.
"Teh semalam apa kita--?"
"Teteh nangis? Apa sakit teh?"
"Teh maafin saya" jawabnya menangis terisak-isak.
"Teh saya siap tanggung jawab dengan apa yang sudah saya lakukan, saya bakalan nikahin Teteh" tambahnya dengan sungguh-sungguh, namun aku menggelengkan kepala.
'Ternyata masih ada pria seperti ini, pria yang mau bertanggung jawab, aku menjadi marasa bersalah telah menghadirkan dia di dalam hidupku.
"Ini semua salah, saya. Saya tidak sakit, kamu tenang saja."
"Saya gak yakin, pasti Teteh punya alasan yang lain kan" tebaknya.
"Saya mungkin lagi kesurupan kuntilanak gajen semalam,." kekehku
"Sudah, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, kita lupakan semuanya."
"Teh semalam kita udah ngelakuin dosa gede, tapi aku gak habis pikir sama Teteh, dengan gampangnya teteh nyuruh aku lupain semuanya" protesnya.
Aku diam tak mengubris ucapan lrpan, dari pada terus begini, lebih baik aku segera pergi dari sini.
Saat aku berlari keluar dari idekosnya Irpan langsung mengejarku namun aku segera sembunyi hingga akhirnya pria itu menyerah dan kembali masuk kedalam kontrakannya.
Aku di besarkan oleh Ayahku dengan didikan agama, aturan yang sangat ketat, apalagi jika tentang pergaulan bebas, aku bahkan di ancam tak di aku anak dan akan di bun"h jika melakukan itu sebelum menikah karena itu adalah sebuah dosa besar.
'Ayah maafkan aku, aku terpaksa memilih jalan ini, dari pada harus mati menjadi tumb@l keluarga Kang Satria' ucap batinku.
Aku tersenyum getir. Kenapa pria seperti Kang Satria harus ada di dalam hidupku? Dan lagi aku baru saja--.
Aku menjambak rambutku dengan prustasi.
'Ya Allah semoga engkau mengampuni semua dosaku' ucapku dalam hati sambil terus berjalan pulang.
"Kemana saja kamu semalam?" semprot Bu Melda~ibu tiriku, saat aku baru saja sampai di depan rumah.
Sedangkan Pak Ridwan~ayah kandungku menyuruhku masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Mega bilang kamu tidak pulang semalam?" tanya Bu Melda sedikit kesal.
'Wanita paruh baya ini kenapa terlalu emosi denganku yang tak pulang tadi malam?' batinku.
"Aku menginap di rumah Rani" jawabku asal.
Rani~ adalah teman kerjaku di pabrik garmen, sudah setahun aku berkerja bersamanya di sana.
"Sudah Bu, lagian Putri sudah besar di bisa ngejaga diri sendiri" ucap Pak Ridwan lembut.
Namun Bu Melda tak mengubris, ia begitu marah padaku yang tak pulang semalam.
"Tapi Pak, dia itu sebentar lagi mau menikah" ucap bu Melda dengan nada tinggi.
"Memang kenapa? Apa Putri salah menginap di rumah temannya?" tanya Pak Ridwan, kini pria paruh baya itu malah menatap heran dengan raut wajah dan sikap istrinya.
Menurut Pak Ridwan sikap istrinya itu terlalu berlebih-lebihan terhadap Putri, sementara dengan Mega yang sering tak pulang kerumah dengan alasan yang sama, yaitu menginap di rumah teman tak seemosi dan di marahi seperti ini.
"Bukan begitu, tapi aku takut saja dia kenapa-kenapa" jawab Bu Melda gugup.
Namun aku menatapnya aneh, aku mencoba mencerna semua ucapanya tadi, heran sejak kapan ibu tiriku perduli padaku? Aku curiga jangan-jangan dia juga bersekokol dengan keluarga Kang Satria, dia juga mengetahui rencana mereka.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





