Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KANDAS!

KANDAS!

Segala pengorbanan dan upaya keras yang telah dikerahkan demi mempertahankan hubungan asmara selama ini ternyata harus menemui jalan buntu. Meskipun seluruh tenaga dan perasaan telah dicurahkan untuk menjaga keutuhan cinta tersebut, takdir berkata lain. Kisah romansa yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan itu akhirnya terhenti di tengah jalan dan hancur berantakan. Harapan yang dulu dipupuk kini sirna saat jalinan kasih itu resmi dinyatakan kandas.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mas, apakah kamu mencintaiku?"

Pertanyaan itu kembali terucap dari bibirku. Menerobos begitu saja, sehingga membuat tatapan Mas Angga seakan menghujam ulu hati.

"Kamu menanyakan itu lagi? Apakah itu penting, Rum? Harusnya kamu lihat bagaimana aku berjuang mencari nafkah."

Aku hanya bisa menelan saliva, menunduk dalam-dalam. Seketika itu juga, kakiku bergetar merasa takut. Salah aku juga sudah memancing jengkel Mas Angga kembali.

Belum sempat aku pergi, Mas Anggara justru lebih dulu meninggalkanku. Huft! Ku hembuskan nafas yang sejak tadi mendesak. Agak plong, tetapi hatiku menjadi ngilu.

Memutar bola mata, agar genangan air bening yang mulai menggenang, tak jatuh mengotori wajah.

Tatapan pun aku alihkan pada Bilqis–putri kecil kami. Aku melangkah mendekati bayi enam bulan itu. Kuusap lembut kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam yang indah. Untuk sesaat kesedihan pergi begitu saja.

Aku harus kuat! Meskipun Mas Angga tak pernah mengatakan kalimat yang aku rindukan itu. Setidaknya di depan mataku ada bukti. Ya, Bilqis adalah buah cinta kami.

Pernikahanku dengan Mas Angga bisa dikatakan masih seumur jagung. Bahkan, baru memasuki tahun kedua. Aku juga tidak pernah mengira, Allah justru menjodohkan aku pada pasangan yang dingin sepertinya.

Tidak ada kata ungkapan cinta. Tidak ada kata romantis, apalagi rayuan sekedar penarik bibir agar melengkung dengan senyuman yang manis. Kami memang dijodohkan, sehingga tidak pernah ada yang namanya pacaran. Jalan berdua seperti yang anak-anak muda lakukan. Jadi wajar bukan, jika aku tidak tahu bagaimana karakter dan tindak tanduknya.

Aku yang hanya anak yatim piatu pun, tidak mampu menolak tawaran dari Bu Yanti–pengurus panti. Semuanya berlangsung begitu cepat. Hanya lewat pertemuan yang tidak banyak, aku pun tidak banyak berontak. Aku yakin dengan pilihan Bu Yanti. Wanita itu sudah banyak berjasa padaku. Jadi, aku juga tidak mampu untuk menolak pilihannya.

Mas Angga hanyalah seorang teknisi listrik.

Namun, kala itu aku yakin sepenuhnya. Aku bisa bahagia hidup dengannya, dan dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Pernikahan kami berlangsung dengan sangat sederhana. Dilaksanakan di panti asuhan, tempat aku dibesarkan. Setelah aku halal menjadi istrinya, Mas Angga pun memboyong aku untuk tinggal seatap dengannya.

Walaupun hanya tinggal di rumah kontrakan sederhana. Setidaknya Mas Angga membuktikan dia sangat bertanggung jawab. Memberiku rumah untuk berteduh, dan memenuhi nafkah lahir dan juga batinku. Meskipun, tanpa kata ungkapan cinta yang selalu aku rindukan.

Tahun pertama pernikahan kami, semua terasa berat aku lalui. Impian memiliki pangeran yang bucin pada diriku, semua rontok oleh sikap Mas Angga. Aku terlalu obsesi atas cerita Bu Yanti semasa aku kecil dulu. Impian itu pun masih abu-abu. Apakah akan terwujud atau tidak akan pernah sama sekali.

Apa yang hendak aku katakan, ketika dia hendak memulai ritual bercinta pun, tak ada kata-kata indah yang membuat jantungku berdebar. Semua berlalu dan terjadi begitu saja.

Saat itu, aku pikir mungkin Mas Anggara masih malu-malu, atau mungkin belum terbiasa. Namun, setelah sekian bulan usai ijab kabul, tidak ada perubahan sedikitpun.

Aku masih terus berharap sikap cueknya sedikit demi sedikit terkikis oleh waktu. Ternyata tidak semudah itu. Sampai aku hamil anak pertama kami, bahkan sampai aku melahirkan.

Ketika tubuh bermandikan keringat, berjuang bertaruh nyawa, Mas Angga tak juga menyatakan rasa cintanya padaku. Dia hanya tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia fokus pada Bilqis.

Aku hanya mengelus dada, seraya terus berdoa suatu saat Mas Angga mau berubah jadi pangeran impianku, seperti keinginan sewaktu aku kecil dulu.

Semoga saja.

*****

Pagi yang cerah menyambut hatiku yang hampa. Mempersiapkan bekal untuk Mas Angga, kemudian memandikan si kecil Bilqis.

Mas Angga tidak suka, apabila aku bangun terlambat, dan Bilqis belum wangi sebelum dia berangkat kerja.

"Mas, semuanya sudah siap. Mas mau sarapan dulu?"

Aku bertanya, seraya tersenyum semanis mungkin. Tentu saja aku tidak lupa memoles bibir dengan lipstik, dan membedaki wajah tipis-tipis. Wangi semerbak pun tidak ketinggalan. Aku selalu memakai parfum usai membereskan semuanya.

Itu aku lakukan untuk memikat hati sang pangeran.

"Tidak usah, Rum. Terima kasih."

Angga langsung mengambil tas kerjanya, tidak lupa dia menggendong Bilqis sebentar. Kemudian, dia segera pergi setelah memakai sepatu.

Aku hantarkan Mas Angga ke depan pintu, sambil menggendong Bilqis. Melambaikan tangan melepas kepergiannya.

Tidak ada kecupan di dahi. Tidak ada senyuman sebelum pergi. Tidak ada juga pelukan atau usapan lembut di ubun-ubun.

Aku masih bertahan menunggu saat indah itu tiba.

Tidak ingin berlama-lama di ambang pintu, aku segera masuk ke dalam kontrakan. Menyiapkan makan Bilqis yang sudah siap untuk disajikan, karena sudah siap aku masak.

Menyuapi Bilqis sambil terus memikirkan Mas Angga. Hati terus bertanya-tanya, kenapa dan kenapa. Aku rasa, aku tidak jelek untuk standar kecantikan wanita Indonesia. Aku ingin tahu sebabnya, niat untuk bicara hati ke hati pun terlintas.

"Hmmm mmmm ammm."

Celoteh Bilqis menyadarkan lamunan. Aku kembali memusatkan perhatian pada Bilqis. Saat ini, pasti Bilqis sangat membutuhkanku. Tidak ingin, kebucinan justru mencelakakan sang buah hati.

*****

Ketukan pintu yang terdengar nyaring membuatku bergegas keluar kamar. Acara ngelonin Bilqis segera aku akhiri. Lagipula bayi enam bulan itu sudah tertidur dengan sangat pulas.

Pintu terbuka, Mas Angga masuk setelah membuka sepatunya. Aku menyambut tas kerjanya dengan suka cita, dan kembali menutup pintu.

Semerbak bau keringat bukti perjuangannya untuk aku dan Bilqis, menguar begitu saja. Itu tidak pernah menjadi masalah untukku.

"Mas mau mandi dulu apa gimana?"

"Hmm, Bilqis sudah tidur?" tanya Mas Angga.

Bukannya menjawab pertanyaan yang diutarakan, Mas Angga malah balik melemparkan pertanyaan.

"Bilqis sudah tidur Mas."

"Baguslah," ucap Mas Angga melangkah ke kamar.

Ketika aku membereskan sepatu dan tas kerjanya, panggilan dari Mas Angga membuatku bergegas melangkah. Memasuki kamar dengan senyuman yang merekah.

"Ada apa, Mas?"

"Mumpung Bilqis sedang tidur, Rum."

Mas Angga berdialog dengan tatapan datar. Tak ada senyuman dari bibirnya yang seksi.

"Mas nggak mandi dulu? Biar lebih segar."

Aku berusaha mengingatkannya, bahwa dia baru pulang kerja dan masih bau keringat.

"Memangnya kenapa kalau belum mandi, Rum? Kamu keberatan?"

Aku memilih diam. Kalau sudah begitu, mengalah akan menjadi pilihan.

Aku sudah sangat paham apa yang diinginkan Mas Angga. Segera mengangguk untuk memenuhi ajakannya. Kalau bukan karena aku mencintainya, tentu saja aku akan menolak ajakannya. Bagaimanapun bau keringatnya membuatku tak nyaman. Namun, aku tidak ingin mempermasalahkan semua itu.

Suasana kamar berubah menjadi gelap. Itulah yang akan terjadi di setiap ritual ibadah kami. Mas Angga sudah membuka baju dan celana jeansnya. Aku segera membuka pakaian yang menempel di tubuh. Kemudian, segera mengambil posisi.

Aku terima semua sentuhan Mas Angga dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa tak enak bercampur dengan rasa ingin membuatnya bahagia. Aku tidak ingin Mas Angga kecewa.

Mas Angga sudah bersiap di posisinya, setelah melakukan pemanasan yang singkat. Sebenarnya aku belum siap, tetapi memilih mengalah agar Mas Angga tak kecewa.

Rasa perih dan tak nyaman sedikit aku rasakan, karena tubuh intim belum sepenuhnya siap untuk dimasuki. Namun, milik Mas Angga sudah terlanjur bersarang di dalam sana.

Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain hanya berpura-pura menikmati permainan. Lagi, aku tidak ingin membuatnya kecewa. Beberapa saat berlalu, aku pun berpura-pura klimaks. Setelah itu disusul oleh erangan Mas Angga. Dia pun menindih tubuhku begitu saja.

Jari pun memilih untuk mengusap lembut, punggungnya yang basah oleh keringat. Setelah itu Mas Angga berguling ke samping.

Hening! Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Mas Angga. Begitu juga aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mencoba mengobati luka hatiku. Berperang dengan perasaan dan logika.

Apakah hubungan kami ini masih wajar? Mas Angga seakan tidak peduli akan apa yang aku rasakan. Di buku-buku novel yang aku baca, seharusnya setelah berhubungan Intim, pasangan suami istri akan mengobrol dan saling berpelukan. Sementara Mas Angga?

Sejurus kemudian, dengkuran Mas Angga membuatku semakin terusik. Pertanyaan yang sama pun kembali muncul.

"Apakah Mas Angga mencintaiku?" aku bertanya di dalam hati.

Percuma bertanya pada diri sendiri, aku pun hendak bangkit dari sisi Mas Angga. Namun, belum sempat aku bangun, Mas Angga mengucapkan kalimat yang membuatku terkejut. Aku tertegun.

"Mas Angga, apa yang kamu ucapkan?"

Bersambung ….

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintai Aku, Suamiku
9.2
Kehidupan pernikahan Suci dan Ricko didera ketegangan hebat saat Ricko menuduh istrinya telah berubah. Namun, Suci justru merasa sikap Ricko-lah yang mendingin sejak mereka menikah. Ricko tak membantah dan mengisyaratkan alasan di balik sikapnya tersebut. Suci menyadari bahwa sosok Lona kembali menjadi pemicu keretakan hubungan mereka. Di tengah tetesan air mata yang tak terbendung, Suci harus menghadapi kenyataan pahit bahwa bayang-bayang masa lalu suaminya belum juga sirna.
Sampul Novel Dia Canduku
9.5
Dalam kondisi setengah sadar, Amira dikhianati oleh suaminya sendiri yang tega menjualnya kepada Raka, seorang pengusaha yang butuh pelampiasan. Pertemuan intim yang tak terduga itu ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi Raka hingga ia terus terbayang sosok Amira. Takdir kembali mempertemukan mereka secara mengejutkan di kediaman Raka seminggu kemudian. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah rahasia kelam di malam panas itu mulai terungkap?
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.
Sampul Novel Jangan salahkan aku minta cerai
8.1
Elsa menyadari Thomas memiliki keluarga rahasia dengan mantan kekasihnya. Meski berjuang keras menjaga pernikahan dari pihak ketiga, Elsa akhirnya sadar bahwa cinta yang pudar tak bisa dipaksakan. Ia pun memilih mundur dan melepaskan suaminya demi ketenangan batin. Di tengah kesendirian, seorang pria baru hadir mengusik hatinya. Kini Elsa bimbang, haruskah ia memulai lembaran baru atau menerima kembali suaminya yang tiba-tiba menyesal dan ingin bertobat?
Sampul Novel KISAH PANAS STEWART RANZO
8.0
Ranzo menavigasi perjalanan hidup yang penuh gejolak emosi dan hasrat mendalam saat ia beranjak dewasa. Dalam pencarian cinta sejati, pria tampan ini terlibat dalam berbagai hubungan romantis dan pengalaman ranjang yang mendebarkan dengan beragam wanita unik. Setiap pertemuan membawa tantangan baru bagi Ranzo. Akankah keberuntungan terus menemaninya di tengah intrik asmara yang panas? Temukan kisah fiktif khusus dewasa ini yang mengupas tuntas liku-liku pencarian jati diri.
Sampul Novel Menikahi Asistenku
8.4
Anton Pratama dikenal sebagai pengusaha sukses yang sangat tegas serta cerdas di kota besar. Namun, di balik kegemilangan kariernya, tersimpan sebuah kisah rahasia yang jarang diketahui publik. Sementara itu, Alya baru saja bergabung sebagai asisten di perusahaan Anton dengan perasaan yang campur aduk. Meski merasa sangat gugup, ia tetap antusias menghadapi peluang langka ini. Dari kejauhan, Alya menatap meja kerja sang bos sambil merasakan ketegangan yang nyata.