
KAHINA
Bab 1
"Anakku mana, Mbah?"
"Siapa?"
"Kahina!"
"Owh, itu di panci. Mau, Mbah masak rawon."
Laksmi menjerit histeris. Ia melihat baju anaknya bersimbah darah di samping panci besar. Saat tutup panci dibuka, benar saja di dalamnya ia menemukan potongan tubuh Kahina. Tubuh Kahina sudah dicincang kecil-kecil dalam panci yang sudah siap direbus, dengan campuran bumbu rawon yang sudah diuleg.
*******
Seorang wanita muda berlari dari pintu ke pintu. Wanita itu, mencari anak perempuannya yang masih berusia 3,5 tahun. Ia bingung, sejak sore tadi si anak belum saja pulang-pulang ke rumah. Anak perempuannya, minta ijin main dekat kandang. Bahkan, suara kumandang adzan magrib pun Laksmi abaikan. Ia terlalu khawatir dengan anaknya. Ia takut anaknya hilang, tersesat di hutan atau jatuh ke sumur.
Langit ketika itu mulai gelap. Awan hitam pun mulai menutupi sebagian langit. Suhu cuaca yang dingin mulai terasa, membuat permukaan kulit mulai merespon perasaan dingin. Suara adzan berkumandang, namun Laksmi tidak berhenti mencari dan memanggil nama anaknya.
Hilangnya Kahina, telah membuat warga yang berada di Desa Sumber Wangi Kabupaten Jember dibuat geger. Ada berbagai macam rumor yang beredar di masyarakat. Bahwa anaknya diculik oleh wewe gombel. Seorang wanita tua bergigi panjang yang jaman dahulu pernah menghebohkan desa, karena telah menculik sedikitnya 14 anak kecil dalam rumah kosong.
"Kahina!"
"Kahina!"
"Kahina!
Sejak tadi nama anak itu dipanggil, namun anak itu belum juga ada tanda-tanda kemunculannya. Tidak juga terlihat jejak dimana Kahina berada. Hari sudah semakin gelap. Waktu magrib sudah terlewatkan, Kahina belum jua ditemukan.
Puluhan warga membawa kentongan, api obor dan senter mencari Kahina. Semua warga mencari sampai ke semak-semak dan ke dalam hutan, namun anak kecil itu belum jua ditemukan. Pencarian ke hutan memang sengaja dilakukan, karena khawatir si anak itu masuk ke dalam hutan lalu tersesat, dan tidak tahu jalan pulang ke rumah.
Bukan hanya warga saja yang bergerak aktif dalam pencarian, kepala desa pun ikut turun tangan mencari si anak kecil bernama Kahina itu.
Di dalam sebuah rumah reot beratap genteng, dengan dinding yang berasal dari anyaman bambu. Di dalamnya terlihat cahaya lilin menyala, bergoyang mengikuti arah angin. Laksmi yang kenal dengan si pemilik rumah tersebut, mengetuk daun pintunya dari luar
Semua rumah Laksmi datangi, dan ia tanyai satu persatu. Mungkin saja anaknya ada di rumah salah satu warga. Mungkin saja anaknya tidak bisa pulang, karena takut dengan hari yang sudah gelap. Ia berharap, anaknya Kahina ada di dalam rumah itu.
"Mbah!"
"Mbah! Mbah Kawol." Laksmi memanggil, sambil mengetuk pintu kayu berulang-ulang.
"Nggeh..." Terdengar sahutan dari dalam, suara dari seorang wanita tua. Sambil menunggu pemilik rumah, Laksmi berdiri di ambang pintu. Suara pintu berderet saat dibuka dari dalam.
"Mbah, apakah Mbah tadi ada melihat Kahina main di sekitar sini Mbah?"
"Kahina, yang mana?"
"Yang sering kesini. Tiap sore, saya bawa melihat kandang kambing punya Mbah Darman."
"Owh, anakmu itu namanya Kahina?"
"Yang rambutnya segini?" Mbah Kawol meletakkan tangannya di pinggangnya, memberitahu rambut Kahina yang panjang sampai pinggang.
"Iya bener, Mbah?."
"Ada tanda lahir di perut sebelah kiri?" tanya Mbah lagi. Sejumlah pertanyaan Mbah Kawol, membuat Laksmi menjadi heran. Bagaimana Mbah bisa tahu, kalau Kahina memiliki tanda lahir di perut sebelah kiri.
"Iya, Mbah!" Wajah Laksmi terlihat cerah. Ia berharap, Mbah Kawol tahu keberadaan anaknya.
"Kahina, ada disini," Jawab mbah Kawol. Jawaban itu, terdengar bagai air surga, yang telah memadamkan rasa ketakutannya sejak tadi. Ia sangat khawatir anaknya hilang. Sebab selain hutan dan kebun yang lebat, ada juga sungai dengan arus deras yang membelah desa itu. Bisa saja anaknya jatuh ke sungai, seperti yang ia takutkan sejak tadi.
"Owh, syukurlah Mbah. Aku mencarinya sampai nangis-nangis, gak tau lagi mesti nyarinya kemana," Sahut Laksmi, sambil menghapus air mata.
"Itu, Kahina di dalam. Masuklah!" Ucap si Mbah. Mempersilakan Laksmi masuk ke dalam rumah reotnya, yang boleh dibilang lebih mirip gubuk.
"Kahina!" Laksmi memanggil anaknya, saat ia sudah berada di dalam ruang tengah Mbah Kawol.
"Kahina."
"Kahina, dimana Mbah?" Tanya Laksmi lagi. Saat dipanggil, anaknya sama sekali tidak merespon, tidak menyahut ataupun mendatanginya.
"Ada, itu. Kahinanya ada di dalam panci," Sahut mbah Kawol sambil tersenyum.
"Maksudnya, Mbah??" Tanya Laksmi, merasa ngeri mendengar jawaban dari Mbah Kawol.
Mendengar anaknya ada di dalam panci, jantung Laksmi langsung dag dig dug berdebar tidak menentu. Antara takut, ngeri serta was-was dan penasaran. Laksmi, bergegas ke dapur. Di area dapur yang tidak berlantai dan hanya beralaskan tanah, ia melihat memang ada panci dengan ukuran besar di sebelah tungku. Laksmi yang merasa penasaran, membuka tutup panci. Saat panci dibuka, benar saja ia melihat tumpukan daging dengan warna yang tidak biasa. Ia pun memastikan, apakah memang benar itu anaknya. Laksmi memutari pandangan matanya ke sekitar dapur mencari petunjuk, untuk meyakinkan rasa penasaran serta takutnya. Di atas meja, ia melihat tumpukan daun pisang. Saat ia perhatikan, di bawah daun pisang ia melihat ada baju anaknya yang masih berlumuran darah. Dan di sebelahnya ada bumbu rawon, yang baru saja selesai diuleg.
Laksmi berteriak histeris. la menjerit pilu. la yakin bahwa daging di dalam panci itu adalah anaknya Kahina. Ia sangat histeris, melihat kondisi anaknya yang telah dimutilasi jadi daging yang terpotong-potong.
Salat isya di langgar, baru saja selesai. Usai mengucapkan salam, para jama'ah langgar dibuat kaget, terdengar suara seorang wanita berteriak. Dari suara itu mereka tahu bahwa itu adalah suara Laksmi, ibu Kahina yang sejak tadi mencari anaknya yang hilang.
"Itu suaranya, Laksmi!" Seru salah seorang jama'ah di langgar.
"Iya, itu seperti suara Laksmi," sahut yang lainnya.
"Anaknya, mungkin sudah ketemu." Yang lain ikut menimpali.
Teriakan histeris itu, tentu saja mengundang puluhan orang berdatangan. Mereka yang baru saja usai melaksanakan salat isya terkejut, dan bergegas mendatangi sumber suara yang sepertinya berasal dari rumah Mbah Kawol.
Semua orang yang mendatangi Laksmi benar-benar dibuat terperangah, saat melihat tubuh Kahina yang telah dimutilasi dengan begitu keji. Beberapa bagian tubuhnya sudah dimasukkan dalam panci, dengan keadaan sudah dicuci bersih. Benar-benar siap akan dimasak oleh wanita tua yang sebenarnya tidak mereka sangka sama sekali, akan melakukan kegilaan seperti ini.
Melihat Laksmi bersimbah darah memeluk baju anaknya, kontan saja semua orang marah melihat perbuatan Mbah Kawol. Mereka yang geram, segera mengambil tindakan dengan mengikat kaki dan tangan wanita tua tersebut, dan tidak menggubris rengekannya sama sekali.
"Dasar iblis!" Teriak salah seorang warga, sambil meludah ke-wajah wanita tua itu.
"Kita apakan wanita ini, pak kepala desa?" Tanya warga pada kepala desa yang saat itu sudah berada di lokasi.
"Kita bawa saja dulu ke balai desa. Besok pagi, kita antar ke Polsek," Ucap kepala desa pada warganya.
Tubuh wanita tua yang telah terikat itu dimasukkan ke dalam kerangkeng kurungan anjing. Masyarakat yang berkumpul di depan rumah Mbah Kawol bermufakat, agar malam itu mereka akan mengkafani jenazah Kahina dahulu, mensalatkan serta memandikannya.
Usai menyelesaikan fardhu kifayah untuk Kahina, barulah mereka berpikir untuk membawa Mbah Kawol ke balai desa.
Anda Mungkin Juga Suka





