
JUST MATE
Bab 2
Aneh! Benar-benar Aneh! Luar biasa Aneh!
Renata ingat dia baru saja meninggal. Namun, kini dia menemukan dirinya tiba-tiba terbangun di tempat tidurnya. Seperti minum dalam sekali tegukan.
Dia pun memeriksa handphone miliknya dan menemukan bahwa sekarang masih tanggal 7 Juli—sebulan sebelum kematiannya.
Ada apa ini? Apa semua hal yang aku rasakan tadi hanya mimpi? Namun, mengapa terasa begitu nyata?
"Nona Renata, apakah Nona ingin sarapan sekarang atau nanti?" tanya Ibu Sentia mengembalikan Renata dari lamunannya. Renata memandang wajah renta itu.
Dia mengingat Ibu Sentia yang tiba-tiba mengundurkan diri dua minggu sebelum Renata berumur 21 tahun. Perempuan itu telah merawat Renata sejak kecil dan mengabdi pada keluarga Soleil bahkan sebelum Renata lahir. Saat itu, Renata pikir semua hal itu wajar: mungkin, Ibu Sentia telah lelah dan ingin beristirahat. Namun sekarang, Renata sadar bahwa itu mungkin rencana duo iblis untuk menjauhkan Ibu Sentia dari Renata. Mereka tak akan berhasil membunuh Renata jika Ibu Sentia tetap ada di rumah sebab Ibu Sentia begitu teliti dan detail sebagai kepala pelayan di rumah ini. Kedudukan Sentia bahkan sedikit lebih rendah dibanding Bellacia di rumah Soleil.
"Nona?" kembali Ibu Sentia memanggil Renata.
"Sarapannya nanti aja, Bu, " balas Renata sambil tersenyum pada Ibu Sentia, "Oh iya, Bu. Sekarang jangan panggil aku nona lagi ya. Panggil aja Renata atau Nak seperti dulu lagi."
"Tapi, nanti Ibu Bellacia marah. Apa tidak apa-apa?"
Ya, Induk Iblis itu pandai sekali memanipulasi diriku dahulu. Aku bahkan sampai menuruti permintaannya untuk menerima Ibu Sentia memanggilku Nona, alih-alih namaku langsung atau nak seperti sejak aku kecil. Walaupun masih dekat, ada jarak yang tercipta antara Ibu Sentia dengan dirinya.
"Tidak apa-apa, Bu. Renata rindu dipanggil langsung namanya sama Ibu Sentia."
Mata perempuan tua itu berkaca-kaca. Dewa-Dewi tahu betapa dia menyayangi Renata sejak dalam kandungan. Dia merasa Renata bukan hanya tuannya, melainkan cucunya. Namun Bellacia hadir dan nyaris mengendalikan Renata tanpa gadis itu sadari.
Ibu Sentia ingin memberitahu namun panggilan Nona mengingatkan kembali perempuan tua itu akan tempatnya. Dia tidak bisa sembarang memberi nasihat jika tidak ingin dianggap sebagai pekerja yang kurang ajar. Bellacia begitu memengaruhi hidup Renata. Ibu Sentia pun tahu bahwa Renata masih haus akan kasih sayang Ibu dan mungkin didapatkan Renata dari Bellacia.
"Iya, Renata. Ibu juga rindu panggil nama Renata langsung," kata Ibu Sentia sambil mengusap setitik air mata yang tak terasa mengalir di pipinya, "kalau begitu, Ibu keluar dulu, ya."
"Baik, Ibu."
Renata kembali merenungi segala peristiwa yang baru dia alami ini. Mengapa dia bisa hidup dan kembali ke masa lalu? Perempuan itu berpikir namun tidak bisa menemukan jawabannya.
"Tunggu, jangan-jangan Dewa Fenrir yang membawaku kembali ke sini?" tanpa sadar Renata menyuarakan pikirannya.
Renata tidak menyadari bahwa dirinya tidak sendiri lagi di kamarnya. Seorang pria tua yang masih gagah telah masuk ke kamar Renata tepat setelah dia mengucapkan kata Dewa Fenrir. Maha Adil itu menunggu Renata sadar, tetapi perempuan itu tetap bergeming.
Merasa terlalu lama, sang Dewa pun mencolek pundak Renata dan menatap datar gadis itu seraya menyebut namanya, "Renata."
"AAA…Siapa Kau?"
"Dewa Fenrir. Aku datang sebab kamu tadi menyebut namaku."
"Ta-pi mengapa aku bisa melihat Dewa?"
"Kau penasaran?"
Renata mengangguk.
"Hufft. Baiklah, aku akan memberitahumu. Namun, hanya sekali dan tidak ada pengulangan. Jadi, dengarkan baik-baik. Kamu dapat melihatku karena kamu meminta untuk membalas dendam kepada manusia-manusia biasa itu. Selain itu, engkau memang salah satu anakku yang terpilih."
"Terpilih?"
"Ya, terpilih. Apakah kamu tahu kamu adalah keturunan manusia serigala yang berarti kamu adalah kaumku?"
"Maaf. Aku tidak ta—"
"Sebenarnya, Sarah mengajarkanmu apa, sih? Sampai kamu tidak mengetahui apa pun tentang kaummu sendiri?" gerutu Dewa Fenrir yang sekarang terlihat seperti seorang kakek yang mengomel. Jika saja Renata tidak ingat bahwa laki-laki di depannya ini adalah Dewa, dia tentu saja akan mengusir Dewa Fenrir dari kamarnya.
Tersadar dari lamunannya, Sarah kemudian kembali berbicara, "tunggu. Sarah? Apakah Dewa mengenal ibuku?"
"Tentu saja. Dia adalah salah satu keturunanku yang kusayang. Sungguh malang, dia tidak bisa pergi menemuimu karena satu dan lain hal, kecuali kamu ke Bulan."
"Apakah aku bisa ke Bulan?"
"Tentu. Tapi, kamu harus mati dan menjadi arwah saja. Wahai anak manusia serigala, bukankah kamu bilang ingin membalas dendammu?"
"Apa aku bisa?" ucap Renata yang masih labil. Bagaimana bisa dia memimpin suatu kaum. Sementara dia adalah manusia biasa yang kebetulan baru tahu sekarang dia merupakan kaum werewolf.
"Tentu saja, bisa! Mengapa kau meragukan dirimu? Aduh, kau sungguh berbeda dibanding Sarah, cucu kesayanganku."
"Berarti, aku ini cicit-Mu?"
"Aku benci mengakuinya, namun ya. Kau anak dari Sarah, berarti kau adalah cicitku. Yang paling menyebalkan adalah kau bahkan baru memanggil namaku dengan kesadaranmu sendiri setelah 21 tahun. Sungguh waktu yang lama!"
Dewa ini sungguh penggerutu. Mengapa dia begitu kekanakan? batin Renata.
"Hoi! Aku dapat mendengar suara hatimu jika aku mau! Ini adalah kedua kalinya kamu mengataiku."
Terkejut, Renata pun meminta maaf.
"Baiklah. Aku akan straight to the point, Renata. Kamu memang hidup kembali, tetapi kamu harus membalaskan dendammu tepat sebelum usiamu yang ke-21."
"Berarti sebulan lagi?" Renata masih menganggap jika ini adalah mimpi. Mimpi yang menjadi nyata. Dia menduga ini adalah halusinasi karena terlalu sering membaca komik serta buku-buku fantasi. Terutama buku werewolf. Renata bisa saja gila. Namun itu adalah nyata. Hal yang selama ini dibicarakan oleh mendiang Ibunya benar.
"Betul! Selain itu, kamu harus menemukan jodohmu. Ingat, kamu ini istimewa. Jadi, carilah pasangan yang tepat, ya!"
"Maaf, jika aku tidak salah mengingat, bukankah werewolf sudah memiliki jodoh yang ditakdirkan Selene?"
"Kau berbeda. Selene, kakakku, sangat menyayangimu dan memerhatikan kehidupanmu. Dia mengatakan bahwa dia akan memberikanmu tiga pilihan benang takdir yang harus kau pilih dengan baik."
"Kalau aku gagal memilih pasangan yang tepat?" tanya Renata.
"Kehancuran kaummu, anak muda."
"Apa? Mengapa konsekuensinya begitu besar?" Renata tak terima jika karena ulahnya, kaum, rakyatnya menjadi sengsara.
"Karena kau punya kekuatan besar. Kenalilah dirimu dan jangan memandang kecil dirimu. Selene sedikit memberikan spoiler bahwa kamu akan menjadi titik balik sejarah kaum werewolf dan manusia."
"Tapi—"
"Tidak ada kata tapi, Renata. Ah, ingat! Jodohmu bukanlah manusia biasa, ya!"
Tiba-tiba, Renata teringat tunangannya. Lalu, bagaimana nasib pertunangannya dengan Ferdinand? Renata sungguh menyayangi pria itu. Namun, belum sempat Renata bertanya, Dewa Fenrir telah meninggalkan kamarnya.
"Sial," lirih Renata
Anda Mungkin Juga Suka





