
Jodoh yang ditakdirkan
Bab 2
Setibanya di depan rumah Yuna, Ivan segera turun, dan membukakan pintu untuk Yuna.
"Turunlah!" perintah Ivan.
Dengan wajah yang masih cemberut, Yuna terpaksa keluar dari dalam mobil.
"Sudah malam, sebaiknya aku langsung pulang saja. Tolong sampaikan permintaan maafku pada om Ardy karena tidak bisa mampir!"
Usai mengatakan itu, Ivan langsung membuka pintu mobilnya, namun belum sempat dia masuk, protes dari Yuna menghentikannya.
"Kamu tidak menciumku dulu?"
"Yuna, sudah berapa kali aku bilang, kita baru bisa melakukannya setelah menikah!" tolak Ivan dengan tegas.
"Tapi, kita juga sudah akan menikah, apa salahnya, sih...! Ayolah, ini hanya sebuah ciuman, semua pasangan juga melakukannya!" bujuk Yuna lagi.
Kali ini Yuna bertekad tidak akan membiarkan Ivan pulang sebelum mendapatkan keinginannya.
Ivan menghela napas panjang. Dia tidak ingin waktunya terbuang karena rengekan Yuna.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Ivan maju menghampiri Yuna, lalu mencium pipinya.
Hal itu justru membuat wajah Yuna semakin cemberut dibuatnya.
Kenapa dia masih saja mencium di pipi, dan bukannya di bibir? gerutu Yuna dalam hati
Bukankah berciuman di bibir merupakan hal yang wajar bagi sepasang kekasih?
Apalagi sebentar lagi mereka akan menikah.
Berpikir seperti itu, wajah Yuna semakin cemberut.
"Baiklah, aku pulang dulu! Assalamualaikum...!" pamit Ivan lagi tanpa mempedulikan wajah kesal Yuna.
Dia langsung masuk ke mobilnya dan pergi dari sana.
Kini wajah Yuna tidak hanya cemberut, tapi sudah diliputi kemarahan.
Pria itu dengan tega langsung meninggalkannya, tanpa menunggunya masuk rumah terlebih dahulu.
Tidak hanya tidak peduli, Ivan bahkan tidak memberikan kado, ataupun ucapkan selamat ulang tahun padanya.
Yuna menatap tidak percaya ke arah mobil yang perlahan menghilang di hadapannya.
Dengan perasaan marah Yuna memencet bel pagar rumahnya berkali-kali.
Ting tong ... ting tong....
Pagar rumahnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar satu setengah meter saja, sehingga dari balik pagar, Yuna bisa melihat seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar, berjalan setengah berlari ke arah pintu pagar.
Dia adalah bi Sumi, asisten rumah tangga (ART) yang paling lama bekerja di rumah itu, dan mungkin satu-satunya asisten yang masih betah bertahan di sana.
Tadinya mereka memiliki tiga ART termasuk bi Sumi, namun dua di antaranya tidak pernah bertahan lama, karena tidak tahan dengan sikap kasar Yuna, atau dipecat Yuna.
"Kok lama sekali, sih, Bi....! Bisa kerja gak, sih...!? Kok lelet amat jadi orang!"
Yuna langsung menumpahkan kekesalan yang ditahannya sejak tadi, pada bi Sumi.
"Maaf, Non ... tadi bibi sibuk nyuci piring di dapur!"
Bi Sumi yang sudah terbiasa dengan sikap kasar Yuna, menjawabnya dengan maklum.
Yuna langsung berjalan masuk, tanpa mempedulikan bi Sumi yang masih mengunci pagar.
Saat membuka pintu, dilihatnya papanya masih duduk di sofa ruang tamu, dengan koran di tangannya.
Entah sudah berapa lama pria paruh baya itu ada di sana, karena cangkir kopi yang ada di hadapannya telah habis.
"Oh, baru pulang, Yuna ...!" sapa pria paruh baya itu, begitu mendengar pintu ruang tamu dibuka seseorang.
Dia langsung melipat koran di tangannya, dan meletakkannya begitu saja di atas meja.
Dia adalah Ardy Salim, ayah Yuna.
Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, dia masih saja berpenampilan seperti anak muda di jamannya.
Dengan gaya rambut yang sengaja dibuatnya gondrong, dengan poni panjang berbelah tengah, justru membuatnya terlihat seperti preman pasar.
Mungkin juga dia sengaja berpenampilan seperti itu mengingat pekerjaannya sebagai kreditur, atau lebih tepatnya, rentenir.
Ya, pekerjaan Ardy memang meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi.
Bagi orang lain, itu merupakan riba yang di haramkan, tapi bagi Ardy sendiri, dia justru merasa telah menolong orang yang sedang kesusahan.
Yuna duduk di sebelah Ardy, lalu memperlihatkan cincin di jarinya.
"Jadi, dia telah melamarmu?" seru Ardy senang sambil meraih tangan Yuna, dan memperhatikan cincin itu dengan seksama.
"Hahaha ... akhirnya aku bisa mempunyai menantu kaya!"
Ardy tertawa senang lalu memeluk Yuna.
"Astaga Yuna, apa benar Ivan telah melamarmu?!"
Seruan seorang wanita yang baru saja turun dari lantai-2, membuat Ardy dan Yuna berpaling ke arahnya.
Wanita itu adalah Soraya, ibu sambung Yuna. Penampilannya juga tidak jauh berbeda dari Ardy, sama-sama terlihat seperti anak muda di era 80-an.
Rambutnya sengaja dibuatnya bergelombang, dengan rambut depan yang di blow tinggi ke samping.
Sepertinya, kedua orang itu masih saja terpaku dengan masa mudanya.
Namun tidak seperti ibu sambung pada umumnya yang memperlakukan anak sambungnya dengan kejam, Soraya justru memperlakukan Yuna dengan baik.
Dia seorang janda tanpa anak sebelum menikah dengan Ardy.
Dulu mereka bisa menikah, juga karena sering bertemu di sebuah klub malam.
Maklum, keduanya mempunyai hobi yang sama, suka clubbing dan minuman beralkohol.
Mungkin itu juga sebabnya Yuna memiliki kebiasaan yang sama seperti mereka.
Meski usianya sudah menginjak 45 tahun, namun Soraya terlihat masih seperti berusia 30-an.
Itu karena dia sangat menjaga tubuhnya dan rutin melakukan perawatan di salon.
Mungkin juga karena dia belum pernah melahirkan, sehingga bentuk tubuhnya tidak berubah.
Soraya memang tidak ingin punya anak, agar bentuk tubuhnya tetap terjaga.
Dia tidak ingin bernasib sama seperti wanita kebanyakan, yang diceraikan, karena tubuhnya sudah terlihat tidak menarik lagi. Oleh karena itu, dia bersikap baik pada Yuna, agar Yuna kelak juga bersikap baik padanya.
Namun bersikap baik, bukan berarti Soraya menyayangi Yuna.
Sejak kecil, Yuna tidak pernah diurus olehnya.
Soraya tidak pernah peduli dengan Yuna, apalagi sampai memberikan kasih sayang seorang ibu padanya.
Soraya langsung mengambil tempat duduk di samping Yuna, dan ikut meraih tangan Yuna untuk memperhatikan cincinnya.
"Yuna, indah sekali cincin ini ... berliannya juga sangat besar!" komentar Soraya dengan mata berbinar.
Yuna tidak menjawab, dia menarik tangannya, lalu duduk dengan wajah ditekuk.
"Hei, kenapa dengan ekspresimu itu, Yuna?!" Soraya bertanya dengan heran.
"Aku hanya lelah, Tan!" jawab Yuna dengan malas.
"Lalu, kapan Ivan dan keluarganya akan datang melamar secara resmi?" tanya Ardy dengan antusias.
"Entahlah, Pa, aku juga belum tahu!"
"Sayang, kalau begitu besok kami harus ke salon dan butik buat persiapan. Aku butuh uang 25 juta!"
Soraya langsung menodong Ardy dengan meminta uang.
"Ya, besok aku transfer!" jawab Ardy dengan enteng.
Tidak masalah dia harus menghabiskan uang untuk mempercantik Yuna di acara lamarannya nanti. Baginya ini sebuah investasi, karena apa yang akan didapatkannya dari menantu kayanya itu, jauh lebih besar.
Yuna tidak peduli dengan pembicaraan Soraya dan Ardy, dia langsung pamit untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai-2.
Rumah itu terdiri dari dua lantai, dengan 3 kamar tidur.
Dua kamar terletak di lantai atas yang merupakan kamar utama, dan satunya lagi berada di lantai bawah, yang merupakan kamar untuk asisten rumah tangga, dan semua kamar di rumah itu, dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya.
Rumah tipe 60 yang berada di kawasan orang kaya itu memang sengaja dibeli Ardy, untuk menaikkan status sosial mereka. Tujuannya tidak lain agar Yuna bisa menikah dengan orang kaya.
Di kamarnya, Yuna berendam sambil memperhatikan tablet di tangannya.
Sesekali dia menggeser layar, mencari dokter bedah terbaik untuk melakukan operasi hymenoplasty.
Yuna berpikir untuk menjalani operasi selaput dara, karena dulu dia pernah mendengar dari temannya, kalau operasi itu bisa mengelabui pasangan.
Buktinya pernikahan temannya itu sampai sekarang baik-baik saja, dan suaminya itu sampai sekarang tidak tahu kalau sewaktu menikah dulu, istrinya sudah tidak perawan.
Hanya saja, Yuna tidak mungkin menanyakan dokter pada temannya itu, selain mereka tidak dekat, dia juga tidak ingin masalah ini diketahui siapapun.
Sejujurnya Yuna juga takut menjalani operasi itu, namun demi mempertahankan Ivan, dia nekat untuk melakukannya.
Sambil membaca testimoni orang yang pernah melakukan operasi itu, Yuna juga mencari tahu nama-nama dokter yang direkomendasikan mereka.
"Dokter ini sepertinya memiliki banyak ulasan positif! Hmm ... yang ini saja! Senin aku akan menemuinya untuk konsultasi!" gumam Yuna, lalu menyimpan alamat tempat praktek dokter itu, dan meletakkan tabletnya.
Yuna kembali menyandarkan kepalanya pada pinggiran bathtub dan memejamkan matanya.
Kini dia sedikit lebih tenang, karena sudah menemukan solusi atas masalahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





