
Jerat Cinta Dosen Killer
Bab 3
Arum menyusuri rak demi rak buku yang ada di perpustakaan. Jika ada satu hal yang paling dia tidak suka maka membaca buku yang halamannya melebihi tebalnya novel Harry Potter sudah pasti masuk dalam daftar. Pandangannya kembali menjelajah demi menemukan buku untuk menunjang riset skripsinya. Saat tangannya terangkat hendak meraih sebuah buku yang menurutnya menarik, getar ponsel yang ada di saku celananya membuatnya urung meraih buku yang dia inginkan.
"Jangan lupa nanti malam," ujar Intan dari ujung telepon sebelum dia sendiri sempat mengatakan apa pun.
Arum memutar mata. "Kabar baik juga Intan, Sayang," balasnya tersenyum meski sahabatnya tidak bisa melihatnya.
"Nanti malam gak lupa 'kan?"
"Tentu saja!" bisiknya, sadar dia masih berada di perpustakaan.
"Biasanya 'kan kamu pelupa."
Arum memutar mata. "Kalau untuk yang satu ini seorang Arum tidak akan melupakannya."
"Bagus, ketemu di tempat biasa."
"Okke." Dia menutup telepon dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Menit berlalu, dia luar biasa mengantuk.
"Apa aku menjelajah dunia maya saja?" bisiknya tiba-tiba. Dia mengantuk luar biasa. Pekerjaan ini rasa-rasanya bisa menunggu. Dia menutup buku dengan judul Ekuitas Merek karya David A Aaker dan membuka smartphonenya. Baru saja tangannya membuka lock screen seseorang merampas telepon genggamnya.
"He..." teriaknya tidak terima, namun langsung mengatupkan bibir saat sadar beberapa orang melemparkan tatapan jengkel padanya.
"Apa kamu tahu kenapa kamu tidak lulus-lulus kuliah? Kamu menghabiskan waktu mengisi otakmu dengan hal-hal yang tidak berguna."
Jleb
Dosen gila ini kembali mengganggunya. Kenapa dia selalu ada di mana-mana?
"Kenapa Bapak ada disini?" tanyanya risih. Dia menatap beberapa orang yang sekarang memerhatikan mereka dengan bisik-bisik.
Daffin menatapnya datar. Kemeja biru panjangnya dia gulung sampai siku dan mengambil tempat duduk di depan Arum yang menatapnya tidak mengerti.
"Jangan membuang waktu dengan sampah seperti ini."
"Maksudnya?"
Daffin menatap Arum dengan kening mengernyit. "Bagaimana kamu melalui semua harimu di kampus ini dengan otak kosong seperti itu?"
Cukup sudah! Arum menarik napas panjang dan berjalan menjauh sebelum emosinya meledak.
Buk
Kembali dia tersandung sepatunya sendiri.
"Dasar ceroboh!"
Arum melirik sinis. "Dasar dosen gila," gumamnya dan berlalu, mengabaikan ekpsresi terkejut Daffin. Arum sudah berjalan beberapa langkah saat dia menyadari sesuatu. Ponselnya. Dia memejamkan mata, lagi-lagi menyadari kecerobohannya. Apa dia kembali saja?
"Masa bodoh," gumamnya tidak peduli dan kembali melanjutkan langkah. Lebih baik dia bersiap-siap menjumpai sahabatnya. Arum berjalan dengan dagu terangkat, berharap tindakan ini sedikitnya akan membuatnya terlihat mengagumkan.
***
Arum memandang pantuan dirinya yang ada di cermin. Pakaiannya hari ini kasual. Dia hanya ingin berjumpa dengan sahabatnya. Rambut panjang sebahunya hari ini dia biarkan tergerai. Mengingat ponselnya masih di tangan dosen gila itu, Arum memutuskan untuk datang lebih awal. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi Arum bergegas keluar kamar.
"Bagaimana kuliahmu, Arum?"
Arum memutar mata, kenapa semua orang akhir-akhir ini begitu terobsesi dengan kuliahnya? Yang tidak lulus itu kan dia, harusnya yang heboh siapa coba?
"Baik, Bunda," jawab Aum berjalan mendekati bundanya.
Bunda Arum sedang menyiapkan makan malam keluarga mereka.
"Ada info baru?"
Berarti Bunda belum tahu tentang keputusan sepihak Ayah, suara kecil Arum kembali bersuara.
"Gak ada, Bund."
"Itu anak teman Bunda minggu depan mau nikah, loh."
Apa hubungannya dengan dia?
"Kamu jangankan nikah, lulus kuliah saja belum."
Oke, ini mulai berlebihan. Sebaiknya dia segera pergi sebelum pembicaraan semakin tidak menarik.
"Bun, Arum pergi sama Bunga dan Intan ya." Arum mencium pipi bundanya sebelum melongos pergi.
"Siapa yang antar?"
"Leon."
"Oke, Hati-hati kalau begitu."
Arum melambaikan tangan sebagai balasannya
Adiknya sudah menunggu di dalam mobil yang menyala begitu dia keluar rumah.
"Cepetan Kak!"
"Iya, bawel!"
Leon melaju dengan kecepatan normal, meski begitu karena saat ini sudah malam banyak kendaraan yang melintas. Arum melirik jam tangannya dan mulai meringis. Dia akan terlambat.
"Cepetan, Leon! Kakak akan terlambat ini!"
"Yee, Kakak sih kelamaan. Makanya disiplin dong!"
Arum mencebik. "Dasar!"
Beruntung pertengkaran mereka tidak berlanjut karena kafe tujuannya sudah terlihat. Arum melompat dari mobil dan langsung berlari, mengabaikan tatapan menegur adiknya.
"Sorry...sorry...sorry," ujarnya dengan napas ngos-ngosan. Tangannya dengan cekatan membuka kursi dan segera mendaratkan tubuhnya. Dia menatap kedua sahabatnya dengan wajah cengengesan. "Sorry," ucapnya tanpa suara.
"Sudah biasa." Intan bersuara santai.
Arum meletakkan tangan di dada, sebelum menunduk. "Terima kasih Nyonya atas pengertiannya," sindirnya membuat kedua sahabatnya tertawa.
"Kalian sudah pesan makanan?"
"Sudah, tinggal nunggu makanannya datang."
Arum mengangguk-ngangguk kecil. "Bagus deh. Aku sudah lapar, dari tadi siang belum makan."
"Eh, katanya kamu mau curhat ya? Kenapa?" Bunga bertanya begitu ingat alasan Arum ingin bertemu.
Arum langsung heboh, matanya membulat dan dia mendekatkan kursi dengan semangat dan menatap sahabatnya satu persatu. Waktunya bergosip.
"Keluargaku kayaknya lagi kesurupan deh, gimana bisa mereka minta seorang Arum lulus kuliah tahun ini coba? Belum lagi Ayah ngancam kalau gak lulus juga putri semata wayangnya ini akan diusir dan hidup menggelandang," ucapnya menggebu-gebu, menatap kedua sahabatnya tidak percaya.
Bunga dan Intan saling melempar pandangan. Beberapa detik kemudian tawa keduanya pecah membuat beberapa pengunjung melempar pandangan penuh minat ke arah mereka, namun baik Intan maupun Bunga terlihat tidak peduli. Keduanya masih sibuk tertawa.
Bunga bahkan sampai memegang perutnya karena berusaha menekan tawanya. Arum yang melihat reaksi kedua sahabatnya mencibir dengan hati dongkol.
"Bukan keluargamu yang aneh Arum Sayaang, tapi kamu tuh yang aneh. Lagian 7 tahun kuliah kenapa sih gak lulus-lulus juga?" Intan yang pertama mengungkapkan pendapatnya.
"Nyusun skripsi gak sesulit itu kali, atau ini karena ...,"
Arum melotot mendengar ucapan Bunga, tahu apa yang akan diucapkan sahabatnya.
"Ini tidak ada hubungannya dengannya," potongnya cepat.
"Soalnya kamu kan gak bodoh-bodoh amat, dan skripsi bukan ujian negara yang bisa meruntuhkan tatanan dunia dalam melakukan risetnya."
Arum menarik ujung rambut sahabatnya dengan kesal.
"Aww," gumam Bunga mengaduh.
"Usiamu sudah berapa sekarang coba? Teman-teman udah pada kerja atau bahkan udah ada yang S-2 tapi kamu ...."
Arum tiba-tiba teringat sesuatu saat sahabatnya menyebut S-2.
"Kalian percaya gak kalau ada yang sudah menyelesaikan S-3 di usia 23 tahun?"
Bunga dan Intan kembali saling melempar pandangan. "Kecuali orangnya benar-benar genius sepertinya gak mungkin." Intan mengambil kesimpulan.
Arum memukul meja dengan semangat membuat beberapa orang sekarang menatap mereka dengan jengkel, tapi Arum mengabaikannya.
"'Benarkan? Gak mungkin banget, tapi kalian tahu gak?"
"Kenapa?"
"Dosen pembimbingku usianya baru 23 tahun dan dia sudah menyelesaikan S-3nya!"
"WHATT!" Bunga berseru heboh lupa kalau mereka sedang di kafe.
"Sttt..." Intan mencoba menengahi kehebohan kedua sahabatnya.
Arum mengangguk antusias."Dan kalian tahu? Itu dosen nyebelinnya minta ampun tahu gak? Dia dosen paling nyebelin, gak punya hati, paling dingin sejagad raya yang pernah aku lihat," serunya penuh semangat.
"Kamu yakin?"
Arum merogoh sakunya bermaksud mengambil ponselnnya, sampai kemudian ingat kalau ponselnya masih ditangan dosen dingin itu.
"Minta Hp," ujarnya mengulurkan tangan pada Intan. Intan yang bingung mengulurkan ponselnya pada Arum. Arum membuka telepon sahabatnya, mengetik sesuatu dan meletakkannya di tengah-tengah meja.
"Nih, lihat!"
Meski tidak paham, keduanya mendekat agar bisa melihat apa yang ingin di tunjukkan Arum.
"Ini apa?"
"Itu akun sosmed dosen gila yang barusan aku bilang."
"Tuhan, Dosen kamu ganteng banget Arum. Gila, ini orang keturunan apa sih kok bisa seganteng ini. Astaga Arum kamu tuh beruntung banget bisa bimbingan sama dosen se perfect dia." Bunga berseru heboh dengan mata ayng terus menatap layar ponsel. Padahal foto dosen gila itu hanya profil doang, feednya kan isinya pemandangan semua.
"Ngapain ganteng kalau mulutnya pedas gitu," sahutnya malas.
"Eh, followersnya kok banyak banget?" Bunga lagi-lagi berseru tanpa peduli kejengkelan Arum.
"Emang dia seseram itu?" Intan bertanya sementara Bunga masih heboh dengan kegiatannya menatap layar ponsel.
Arum melotot dan mengeraskan suaranya.
"Dia tuh lebih seram dari Hitler tahu gak! Dosen yang kalau ngomong ngelebihin pedasnya saos. Pokoknya dia itu dosen kaku, dingin, nyebelin, irit banget kalau ngomong sama ...,"
"Arum ...,"
"Aku belum selesai Intan," sungutnya, kesal karena diinterupsi. "Bayangin tiap ketemu yang dia bilang cuma aku yang bodoh, otak udang—"
"Itu karena otakmu benar-benar bodoh seperti otak udang."
Deg
Arum mematung mendengar suara familiar dari belakangnya. Dia meringis dan menatap sahabatnnya dengan panik. Ini gak mungkin dia kan, suara hatinya berbisik memohon. Arum rela mempertaruhkan semua pudingnya agar tidak berpapasan dengan dosen sombong itu. Dia berbalik takut-takut.
Benar saja, berdiri di depannya Daffin dengan setelan santainya. Kaos putih dipadu dengan jaket kulit dan celana jeans. Permohonan Arum praktis tidak terkabul.
"Bapak..." cicit Arum nyaris tanpa suara, tidak berani menatap Daffin.
"Besok," ucap Daffin, meletakkan ponsel Arum dan segera berlalu.
Arum membuang napas yang sejak tadi ditahannya, dia melemparkan pandangan mencela pada kedua sahabatnya.
"Kalian kenapa gak ngomong kalau dia datang sih?" sungutnya jengkel.
"Tadi aku udah manggil tapi kamu tetap nyerocos gak henti."
"Adduh, gimana nasib aku sekarang," gumamnya merana. "Apa aku gak usah lulus aja ya? Daripada ketemu sama dia?" Arum bergumam sendiri sembari menatap pintu keluar kafe. Mulutnya kenapa gak punya rem, lagian itu dosen kok kayaknya ada di mana-mana?
Anda Mungkin Juga Suka





