
Jebakan Cinta SANG MANTAN
Bab 3
***
Ivander membanting seluruh barang yang ada di hadapannya, ia berteriak dan memaki karena garis takdir seolah kembali mempermainkan dirinya. Bertahun-tahun lamanya Ivander menghukum diri
atas kesalahannya, hidup dalam rasa penyesalan.
Selama ini dia memang hidup, tapi hanya raga saja. Perasaan dan jiwanya hilang entah ke mana. Hidup seolah tak berarti, bagai kehilangan arah dan tujuan. Gairah diri meredup semakin gelap, tak terjangkau.
Tuhan. Engkau boleh menghukumku sesuka hati bahkan mencabut nyawaku, dengan senang hati aku akan menyerahkannya untuk-Mu. Tapi ... tapi kenapa harus Nada? Kenapa Tuhan?
Ivander tidak tahu harus berkata apa lagi, luka lama yang tak akan pernah hilang kini kian bertambah. Air mata mengalir deras membasahi pipi, tangan mengepal kuat dan gemuruh dalam dada memberontak.
"Kenapa tak Kau ambil saja nyawaku ini, kenapa?" Tangis Ivander makin tak tertahan, apa pun yang ia lakukan seolah takdir tidak pernah berpihak padanya.
Bahkan takdir seolah mempermainkan dirinya kembali, mengulang rasa sakit yang
telah membuat hidupnya lelah.
Ellie, Mama Ivander tampak terkejut dan sangat cemas dengan keadaan putranya, dia hanya mondar-mandir di depan kamar dan beberapa kali mendengar bunyi benda pecah dan dibanding.
Teriakan demi teriakan Ivander membuat Ellie semakin sedih, ada apa Ivan? Bukan hanya sekali saja Ivander melakukan hal ini, Ellie sangat tahu apa yang dirasakan putra kesayangannya itu. Hidupnya tak lagi sempurna, bagai cangkang tak berisi.
"Bi, tolong perhatikan Ivan. Beritahu saya bagaimana keadaan dia setelah ini," pinta Ellie pada Bi Sumi.
"Baik, Nyonya," balas Bi Sumi yang memang sudah mengurus Ivander sejak lahir.
"Saya pergi dulu."
Sumi ikut sedih melihat keadaanIvander, dia merasa kehilangan sosok tuan muda yang penuh senyum dan tawa.
Tentu karena sejak kecil Sumi sudah membantu mengasuh Ivander ketika Ellie
sibuk dengan pekerjaannya, Ivander telah dia anggap seperti putranya sendiri.
"Bibi harap Aden bisa bahagia," ucap Sumi ikut bersedih.
***
Ivander terlihat begitu tampan bak dewa-dewa Yunani, menjulang tinggi dengan dada bidang yang menggoda.
Tatapan tajam bagai elang, hidung mancung dan bibir sensual membuat dirinya semakin membuat kaum hawa tak berdaya melihatnya.
Setelan berwarna putih membalut tubuh indahnya, raut wajah datar tak mengurangi ketampanan ia dalam hal ini. Bahkan senyum pun tak terukir indah di bibir itu, seolah hidup semakin tak berarti lagi untuknya.
"Ivan," panggil Ellie sebelum acara dimulai.
"Iya, Ma," jawabnya.
"Kamu yakin dengan pernikahan ini?!" Ellie sedih menatap wajah Ivander yang memang jauh dari ekspresi bahagia.
Ivander memang hanya diam tak berekspresi, banyak hal yang telah dia pendam. Cukup dia saja yang mengalami ini
semua, orang lain tidak perlu tahu.
"Aku sudah lelah dan terserah dia ingin berbuat apa pun," tambah Ivander yang memang sudah lelah akan hidupnya.
Ya, hari ini adalah pernikahan Ivander dan Nada. Sebuah pernikahan yang tak diinginkan.
Degup jantung Nada semakin tidak
menentu, berkali-kali dia menghembuskan napasnya dengan kasar. Bahkan tangan
sampai berkeringat karena begitu gugup menghadapi hari pernikahannya, bukankah
ini yang ia inginkan. Menikahi seorang Ivander Mahaprana.
"Tenanglah," ucap MUA bernama Gladis yang memoles wajah Nada.
"Aku hanya terlalu gugup," jawab Nada tersenyum.
"Wajar kamu gugup karena akan menikah dengan orang yang kamu cintai," ujar Gladis tersenyum.
"Aku sungguh iri dengan kalian, saling mencintai dan aku harap kalian bisa menua bersama kelak," pesan Gladis.
Nada hanya memaksakan senyumnya, itu karena yang dikatakan Gladis adalah salah. Dirinya dan Ivander tidak saling mencintai, pernikahan mereka terpaksa dilakukan karena perbuatan Nada yang menjebak Ivander.
"Kamu cantik sekali," puji Gladis ketika menyelesaikan make up.
"Terima kasih," jawabnya.
"Semoga kalian bahagia," pinta Gladis tersenyum dan Nada mengangguk saja.
Nada mengenakan kebaya berwarna putih, senada dengan setelan yang dipakai oleh Ivander. Seseorang membimbing Nada berjalan menuju ke tempat acara berlangsung, degup jantung Nada semakin
menggila karena sebentar lagi sampai.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Nada begitu anggun menggunakan kebaya, tanpa sengaja tatapan Nada bertemu dengan Ivander. Wanita itu tersenyum, tapi tidak dengan lelaki tampan itu.
Tatapan dingin Ivander seolah membuat senyum Nada memudar, tapi dia tetap
tersenyum ceria di hadapan semua orang.
Nada duduk di samping Ivander, sebuah kain putih menutupi keduanya. Acara ijab kabul pun dimulai.
"Saudara Ivander Mahaprana bin Jovin Mahaprana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Nada Cinta Ravindra binti Jordan Ravindra dengan mas kawin seperangkat alat Sholat
dan uang senilai lima puluh juta. Tunai."
Ivander yang menjabat tangan Jordan langsung membalas. "Saya terima nikah dan kawinnya Nada Cinta Ravindra dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai."
Ivander mengucapkan ijab kabul dengan datar dan tak bersemangat, karena dia tidak menginginkan pernikahan ini. Persetan dengan semua orang yang berada di sini melihatnya seperti apa.
Penghulu menatap saksi yang tidak lain adalah Yonna-kakak Ivander dan Radit-tunangan Yonna.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu pada kedua saksi.
Yonna dan Radit saling pandang dan mengangguk. "Sah."
"Alhamdulillah."
Semua yang hadir mengucap syukur karena acara akad nikah berjalan dengan lancar, raut wajah Ivander masih saja sama. Datar tanpa ekspresi apa pun.
Ivander menyematkan cincin di jari manis Nada, begitu pun dengannya. Dengan gemetar Nada mengecup punggung
tangan lelaki yang kini berstatus suami, rasanya sungguh tidak percaya kini mereka sudah menikah.
Nada berusaha memberikan senyum terbaiknya pada Ivander, tapi itu tidak berlaku untuk lelaki itu. Ekspresi dan wajah datarnya masih sama, untuk apa Ivander tersenyum.
Ini bukan pernikahan yang dia impikan, bahkan pernikahan impiannya kini telah lama pudar. Tidak ada hasrat untuk menikah apalagi hasrat untuk hidup, kehidupan Ivander memang terlihat damai tapi tidak dengan hatinya.
Banyak orang memuji kalau Ivander dan Nada adalah pasangan yang serasi, tampan dan cantik. Keluarga keduanya juga masuk daftar kalangan atas yang menduduki posisi tinggi dalam setiap usaha, sungguh pernikahan bisnis yang sempurna.
***
Acara berlanjut pada resepsi di sore hari. Pesta mewah terselenggara di hotel Sheraton, banyak tamu undangan yang datang baik dari relasi bisnis Jovin maupun Jordan.
Gaun super mewah membalut tubuh indah Nada, make up soft dan juga tatanan rambut yang sederhana. Nada masih di
ruang tunggu sebelum acara di mulai, beberapa teman kuliah dan beberapa
pegawainya datang ingin melihat diri dia.
"Kamu cantik sekali, Nad," puji Sharon, sahabat Nada.
Nada tersenyum. "Terima kasih," balasnya. " Kamu datang sendiri? Mana Stefan?" tanya
Nada yang melihatnya seorang diri.
"Stefan sedang ada pekerjaan di luar kota," balas Sharon yang sebenarnya banyak pertanyaan dalam hatinya.
Nada tahu kalau Sharon ingin mempertanyakan sesuatu perihal pernikahannya dengan Ivander, pasalnya Sharon sangat tahu hal yang pernah terjadi di antara mereka.
"Kamu tidak perlu cemas, aku baik-baik saja." Nada mencoba tersenyum supaya Sharon tidak khawatir dengannya.
Sharon menggenggam erat tangan Nada, berharap bisa memberikan semangat untuknya. "Apa pun masalah kamu, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Entah apa yang sedang kamu alami, yang jelas aku hanya ingin kamu bahagia," pesan Sharon.
"Terima kasih, kamu memang
sahabat terbaikku," balas Nada sedikit merasa terhibur.
Acara akan di mulai, Nada berjalan dan bertemu dengan Ivander yang menunggu di pintu masuk. Nada tak dapat mengalihkan pandangannya dari Ivander, sungguh lelaki itu teramat tegas nan gagah.
Tatapan dingin dan ekspresi datar tidak mengurangi kadar ketampanan lelaki itu, bahkan di saat usianya semakin matang membuat Ivander berubah menjadi sosok yang sempurna.
Pintu terbuka, keduanya berjalan menuju pelaminan. Banyak pasang mata melihat kedua pasangan yang sedang berbahagia ini, bahkan banyak yang memuji betapa beruntungnya Nada mendapatkan suami seperti Ivander.
"Apa berbahagia di atas penderitaan orang lain itu begitu memuaskan?!" Ivander mencibir Nada ketika mereka bersama di pelaminan.
Senyum yang awalnya Nada pasang dengan sempurna kini kian memudar, dia hanya ingin semua orang tahu kalau pernikahan mereka terlihat sempurna.
Apa salah jika Nada menginginkan hal itu? Menikah sekali seumur hidup dan ingin menikmati senyuman di atas pelaminan bersama orang terkasih, Ivander.
Anda Mungkin Juga Suka





