Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatuh Padamu

Jatuh Padamu

Andreas Pramoedya menjadi sosok yang makin dingin dan tertutup sejak kematian tragis istrinya, Namira. Peristiwa memilukan itu memperkuat keyakinannya bahwa ia memang ditakdirkan untuk ditinggalkan. Namun, pertahanannya goyah saat Serena Amerta hadir dan menyusup ke hatinya. Meski gairah panas membara setiap kali mereka bersentuhan, Andreas bersikeras menutup diri. Ia takut kembali terkecoh oleh perasaan yang berujung pada luka abadi yang perlahan akan membunuhnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kembali terjebak pada fatamorgana mengerikan di alam bawah sadarnya, Andreas tahu ia tak punya jalan keluar selain terus mengikuti alurnya hingga usai. Kesakitan menyembilu tiap kali mimpi tersebut datang bertandang, selalu menyiksanya dengan rasa pedih yang sama. Titik-titik peluh mulai membanjiri pelipisnya ketika mencoba berebut udara agar sesak yang ada sedikit diredakan.

Namun selama ia masih terperangkap di tubuh kurus ceking ini, tak ada yang bisa dilakukannya selain memilih tetap bertahan. Membiarkan rasa sakit turut puas menghantamnya dengan gamblang. Bahkan kedua matanya juga tak kalah ingin berkhianat, memaksanya agar tetap terjaga menyaksikan pemandangan mengerikan yang takdir sajikan.

Ia menunggu pasrah dalam luka dan kesakitan, sampai nanti perlahan roda kenangan ini akan segera memudar dengan sendirinya, kemudian pelan-pelan mengantarkan kesadarannya kembali mencumbu dunia nyata.

Sapuan lembut di puncak kepala adalah hal pertama yang pria itu rasakan saat ia berhasil menarik diri dari mimpi mengerikan tersebut. Meski belum tersadar seutuhnya karena masih didera rasa kantuk yang hebat, Andreas masih dapat menangkap samar-samar suara yang terdengar cukup dekat, seolah sedang berbisik lirih di telinganya.

"Lagi-lagi kamu mengernyit dan gelisah dalam tidur."

Andreas mengenali pemilik suara yang bergumam pelan di dekatnya. Namun kedua matanya terlampau berat untuk sekedar terbuka. Jadi ia hanya membiarkan suara itu kembali sibuk bermonolog dengan sendirinya.

"Apa ini yang selalu kamu rasakan setiap kali kenangan itu datang? Tersiksa hampir sepanjang malam?" lirih suara itu lagi, diikuti sapuan jemari yang sudah berpindah merapikan helai-helai anak rambutnya di garis pelipis.

"Tapi kamu selalu menyimpan rasa sakit itu untuk kamu nikmati sendiri, Deas. Kamu bahkan enggan untuk membaginya dengan siapapun."

"Kadang orang-orang seperti kita memang lucu. Ingin berteriak meminta pertolongan, tapi di satu sisi juga menolak saat orang lain ingin mengulurkan tangan."

"Jadi apa jalan keluar terbaik untuk manusia putus asa seperti kita, Deas? Karena bertahan tanpa kepastian dengan jiwa yang sekarat dari dalam, benar-benar hal yang melelahkan."

Ada titik basah yang bisa Andreas rasakan jatuh menyentuh bagian pelipisnya. Pertanda bahwa siapapun yang sedang bergumam di jangkauan pendengarannya, tengah menitikan air mata.

"Aku berharap setelah semua ini, ada masa di mana kita mendapatkan kelegaan yang kita cari, bahkan dengan cara paling menyakitkan sekalipun."

"Kamu masih ingat apa yang kamu katakan di hari pertama setelah janji pernikahan kita di altar? Agar aku tak mengharapkan apapun dari kamu, termasuk hati kamu. Karena tentang bagian itu, ternyata kita berdua memang sama-sama hancurnya."

"Jadi mulai detik ini, aku ingin kita memilih jalan kita sendiri. Dan jika Tuhan cukup berbaik hati, aku berharap salah satu dari kita bisa keluar sebagai pemenang dari pertandingan panjang ini."

Itulah kalimat terakhir yang masih bisa Andreas tangkap di sela-sela rasa kantuk yang makin melingkup. Lalu sebuah kecupan ringan yang mendarat di sudut bibir pria itu, seolah menjadi pengantar tidur yang kembali membawanya ke batas terujung kesadaran.

Seandainya di menit tersisa itu, ia sanggup menahan diri dan memilih terjaga dari rayuan lelap. Atau bagaimana ia cukup peka dan mau berempati sedikit memahami makna tersirat dari kalimat-kalimat bernada putus asa tersebut.

Mungkin ia tidak akan menyesali apapun tentang malam itu. Karena ketika pagi datang menjelang, saat ia terbangun di atas ranjang dengan sisi kosong di sampingnya, atau saat panggilan masuk dari nomor asing menginterupsi di tengah kebimbangannya, semua pengandaian itu pun tak lagi ada gunanya.

Tak peduli sekuat apapun ia memacu kecepatan mobil di antara lalu-lalang kendaraan, ataupun berlari tergesa menyusuri lobi rumah sakit dengan langkah panjangnya, namun begitu mendapati tubuh pucat wanita itu sudah terbaring kaku di atas brankar jenazah, tampak dingin tak tersentuh di ruangan hening ini, Andreas tahu bahwa ia sudah benar-benar terlambat.

Untuk kesekian kalinya, dengan luka baru yang sama. Andreas kembali ditinggalkan.

***

"Saya tidak bisa memberi pinjaman kembali di luar ketentuan perusahaan, Rena. Ada kebijakan yang harus dipatuhi. Apalagi jangka waktu pinjaman karyawan kamu sebelumnya baru akan jatuh tempo dua bulan lagi."

"Apa tidak bisa pengajuan pinjaman berikutnya saya minta keringanan untuk dimajukan? Tidak masalah kalau harus diberi bunga sedikit lebih tinggi, Bu. Saya benar-benar butuh untuk keadaan mendesak."

Wanita paruh baya itu menggeleng lemah. "Aturan pinjaman karyawan hanya berlaku enam bulan sekali, dan harus sesuai persyaratan yang ditentukan oleh manajemen. Dalam hal ini tidak diperkenankan untuk karyawan yang masih terikat perjanjian hutang sebelumnya, mengajukan pinjaman baru kembali. Itu akan melanggar peraturan yang berdampak bagi keuangan perusahaan."

Menyadari hanya jalan buntu yang akan ia dapatkan, tak peduli seberapa keras ia mencoba memohon dan meminta pengertian, Rena memutuskan untuk menyudahi usahanya. "Baik. Saya mengerti, Bu. Kalau begitu saya pamit permisi."

"Rena...," panggil wanita itu ketika Rena hendak berbalik berjalan keluar dari ruangan. "Saya minta maaf. Saya tahu kondisi kamu sedang sulit, tapi posisi ini juga tidak memberikan saya wewenang apa-apa untuk membantu."

"Sekalipun ingin, manajer biasa seperti saya tetap tidak bisa berbuat banyak. Saya harap kamu bisa mengerti."

Rena mengulas senyum tulus. "Tidak apa-apa, Bu. Apa yang Ibu Marisa lakukan untuk saya selama ini sudah lebih dari cukup." Seraya menundukkan kepala sekilas untuk mengundurkan diri dengan sopan, Rena kembali meneruskan langkah mencapai pintu keluar ruangan manajemen personalia. Ini adalah kali kedua ia menyambangi divisi Human and Resources tersebut dengan alasan yang sama, yaitu mengajukan pinjaman karyawan di perusahaan tempatnya bekerja mencari nafkah selama hampir delapan tahun ini. Namun usahanya kali ini berakhir nihil, karena harus berujung sebuah penolakan.

Begitu pintu kaca tersebut tertutup, Rena menyandarkan diri sejenak dengan helaan napas panjang yang tak dapat menyembunyikan kegusarannya. Bu Marisa adalah satu-satunya orang yang terlintas untuk dimintai bantuan saat ia berada dalam situasi buntu seperti sekarang.

Gaji di bulan kemarin yang tersisa di dompetnya, jauh dari kata cukup membiayai proses hemodialisis sang Ibu. Gagal ginjal kronis yang diderita ibunya, mengharuskan wanita itu rutin melakukan hemodialisis atau cuci darah berkala setidaknya 3 sesi seminggu. Biaya yang digunakan pun tak bisa terbilang murah untuk proses rutin pengobatan tersebut.

Belum lagi tanggung jawab memberi uang saku bulanan pada Kayla agar dapat memenuhi kebutuhan kuliahnya. Meskipun Kayla sendiri selalu berusaha menolak, karena gadis itu bersikeras masih punya uang cukup dari sisa hasil beasiswa pemerintah yang rutin ia terima selama tiga bulan, ditambah gaji tak seberapa dari pendapatan pekerjaan sampingannya, tetap saja Rena tidak ingin melewatkan kewajibannya sebagai seorang kakak.

Selain itu, ia juga berharap uang saku bulanan yang ia kirimkan, lebih dari cukup untuk membuat Kayla berhenti bekerja sampingan sepenuhnya, dan justru lebih memilih fokus menyelesaikan sekolah dan merawat ibu mereka.

Di kondisi terdesak ini, Rena selalu dibuat patah arah dalam mencari jalan keluarnya. Dan satu-satunya tempat terakhir yang bisa diandalkan, juga tak dapat berbuat banyak.

Ia juga tidak bisa menyalahkan Bu Marisa karena menolak memberi bantuan saat dibutuhkan. Walau bagaimanapun, wanita paruh baya itu sudah sangat berjasa mengantarkan hidupnya hingga berada pada posisi lebih layak di perusahaan bonafide seperti sekarang. Sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan atau mampu dimimpikan oleh tamatan sekolah menengah seperti dirinya.

Tanpa tawaran dan bimbingan Bu Marisa, mungkin sampai hari ini ia hanya akan mampu bekerja serabutan atau tetap menjadi kasir swalayan dengan gaji pas-pasan. Jadi jika kali ini Bu Marisa terpaksa menolak permintaannya karena terikat oleh kebijakan perusahaan, Rena harus setahu diri itu untuk memakluminya.

Menegakkan kembali badan dari sandaran pintu, Rena memutuskan bergegas kembali ke kubikelnya sebelum istirahat jam makan siang datang, memilih melanjutkan sisa pekerjaan sebagai pelarian dari kekacauan pikiran yang ada. Nanti saja. Ia akan mencari solusi dari semua masalah ini nanti saja. Untuk menit sekarang, ada tanggungjawab lain yang harus ia selesaikan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Wedding
8.6
Fachmi heran mengapa matanya selalu tertuju pada Carissa, gadis SMK yang jauh dari kriterianya. Meski mengaku tak cinta, ia justru terhibur oleh kebencian gadis itu. Secara impulsif, Fachmi menawarkan pernikahan saat ayah Carissa mengeluhkan tingkah putrinya. Di sisi lain, Carissa yang baru tujuh belas tahun merasa hidupnya hancur. Ia terpaksa menikah muda dengan Fachmi, pria dewasa yang dicap hobi mempermainkan wanita. Akankah takdir ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Amnesia
7.9
Terbangun dalam kondisi hampa, aku mendapati diriku terperangkap dalam ketidaktahuan yang menyesakkan. Saat mata ini terbuka, segalanya terasa asing; mulai dari ruangan yang kutempati hingga wajah-wajah yang menatapku dengan penuh harap. Tidak ada satu pun memori yang tersisa untuk menjelaskan siapa mereka atau di mana aku berada. Bahkan, bayangan di cermin pun terasa seperti orang asing, meninggalkan pertanyaan besar mengenai identitas asliku yang hilang.
Sampul Novel Canda Cinta Kirana
8.2
Kirana, gadis terencana, hancur saat Zayn menyebut wanita lain sebagai cinta sejatinya di hari pernikahan mereka. Kisah ini membawa kita kembali ke masa sekolah, di mana Kirana yang cerdas bertemu Zayn, penerima beasiswa usil yang menyimpan luka dalam. Di antara tawa dan rahasia terpendam, dua dunia berbeda ini bersinggungan. Saat perpisahan tiba, mampukah kepercayaan pulih, ataukah perbedaan besar akan memisahkan mereka selamanya dalam duka mendalam?
Sampul Novel Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku
9.4
Demi melindungi wanita pilihannya, Regan terpaksa menikahi Ella dua tahun lalu. Di mata Regan, Ella adalah sosok licik yang menjeratnya dalam pernikahan, sehingga ia bersikap dingin dan mengabaikan pengabdian tulus Ella selama sedekade. Namun, saat Ella mulai lelah dan berniat menyerah, ketakutan melanda hati Regan. Ketika nyawa Ella terancam saat mengandung anaknya, barulah Regan tersadar bahwa cinta sejatinya selama ini hanyalah untuk sang istri.
Sampul Novel Cinta Sangkarku, Bukan Keselamatan
8.6
Kirana Adiwijaya mengira hidupnya sempurna sebagai pewaris agribisnis dengan suami idaman, Bima. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap: Bima memiliki keluarga tersembunyi bersama Rania yang selama ini dianggap tewas. Orang tua Kirana ternyata mendanai kebohongan ini dan berencana menyingkirkannya dengan obat penenang dosis tinggi. Menyadari cinta mereka hanyalah sangkar mematikan, Kirana berhenti menjadi korban. Ia kini siap membalas dendam lewat permainan yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Cintai Aku, Suamiku
9.2
Kehidupan pernikahan Suci dan Ricko didera ketegangan hebat saat Ricko menuduh istrinya telah berubah. Namun, Suci justru merasa sikap Ricko-lah yang mendingin sejak mereka menikah. Ricko tak membantah dan mengisyaratkan alasan di balik sikapnya tersebut. Suci menyadari bahwa sosok Lona kembali menjadi pemicu keretakan hubungan mereka. Di tengah tetesan air mata yang tak terbendung, Suci harus menghadapi kenyataan pahit bahwa bayang-bayang masa lalu suaminya belum juga sirna.