
Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
Bab 2
Kata-kataku bagaikan batu berat yang jatuh ke dalam kolam yang tenang dan damai.
Di tengah bisikan-bisikan dari kerumunan, aku hampir tidak dapat mengingat bagaimana aku bisa berjalan meninggalkan altar.
Tanpa menghiraukan saudara dan sahabat yang mengejarku, aku memanggil taksi dan pergi.
Awalnya aku ingin pulang, tetapi aku berubah pikiran di tengah jalan dan langsung menuju ke rumah sakit.
Aku cari tahu di bangsal mana Marina berada. Ketika aku masuk, aku melihat dia masih mengenakan gaun pengantin dari tadi malam, meskipun perban tebal di pergelangan tangannya sangat mengganggu.
Marina sudah bangun, wajahnya sepucat kain kafan.
Ketika dia melihatku, dia terkejut dan secara naluriah bergerak mendekati Brendan.
"Ada apa?" Brendan bertanya, jelas gugup.
Aku mengejek diriku sendiri. Ternyata ketika seseorang terlalu peduli terhadap orang lain, mereka menjadi buta terhadap orang lain.
Butuh beberapa saat bagi Brendan untuk mengikuti pandangan Marina.
Ketika akhirnya dia melihatku, dia tampak terkejut dan secara naluriah melindungi Marina di belakangnya.
"Eleanor, apa yang sedang kamu lakukan?"
Pertanyaan dan reaksi Brendan terasa bagai pisau yang menusuk hatiku.
Aku mengabaikannya, memfokuskan pandanganku pada Marina.
"Aku dengar kamu mencoba bunuh diri, jadi aku datang untuk menylamatkanmu. "Belum mati?"
Menghadapi pasangan yang tidak bermoral ini, aku tidak bisa memaksa diri untuk bersikap ramah.
Aku merasa bahwa dengan tidak melakukan sesuatu yang drastis, aku sudah menunjukkan banyak rasa hormat kepada mereka.
"Eleanor, maafkan aku. Aku tidak menyangka Brendan akan meninggalkanmu di altar. "Aku minta maaf." Suara Marina dipenuhi isak tangis yang nyaris tak tertahan, seolah-olah aku telah menindasnya.
Namun bagi aku, setiap kata dipenuhi dengan kesombongan yang nyata.
Aku mengepalkan tanganku, berusaha mengendali amarah yang hendak meledak.
Namun, tubuhku tak terkendali.
Aku melangkah ke tempat tidur dan menampar wajah Marina.
"Eleanor, apakah kamu gila?" Brendan melompat dan mendorongku.
Suara tubuhku yang terbentur meja samping tempat tidur terdengar keras, dan rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhku.
"Brendan, apakah aku yang gila, atau kamu?"
Anda Mungkin Juga Suka





