Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatuh Cinta Dengan CEO Duda

Jatuh Cinta Dengan CEO Duda

Pasca perceraian yang menyakitkan, Dimas tumbuh menjadi pengusaha dingin hingga ia bertemu Sinta. Sekretaris barunya yang penuh keceriaan itu perlahan mencairkan hatinya yang beku. Sinta bahkan menjalin ikatan emosional dengan Arya, putra Dimas yang selama ini merasa kesepian. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, mantan istri Dimas datang kembali untuk mengusik ketenangan mereka. Akankah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi gangguan masa lalu tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, suasana kantor PT Pratama Jaya terasa berbeda. Para karyawan yang biasanya sibuk dengan rutinitas masing-masing tampak berbisik-bisik di lorong. Sebagian besar dari mereka membicarakan hal yang sama, kehadiran sekretaris baru direktur utama, Dimas Pratama.

"Eh, itu ya sekretaris baru Pak Dimas yang lolos kemarin?" tanya salah satu staf yang bekerja di kantor tersebut.

"Saya dengar dia orangnya ceria banget," bisik salah satu staf kepada rekan kerjanya.

"Iya, katanya sih pintar dan ramah. Tapi, kasihan juga, harus kerja sama Pak Dimas. Beliau kan... ya, kamu tahu sendiri," balas yang lain dengan nada pelan.

Dimas memang terkenal sebagai pemimpin yang profesional, tetapi juga dingin. Ia jarang terlibat dalam percakapan santai dengan karyawannya dan selalu menuntut kesempurnaan. Banyak yang menduga bahwa bekerja langsung di bawah Dimas pasti terasa seperti berjalan di atas tali tipis.

Namun, Sinta Rahayu, sekretaris baru itu, tampaknya tidak terpengaruh oleh reputasi Dimas. Wanita muda dengan senyum lebar dan mata cerah itu memasuki kantor pagi itu dengan langkah penuh percaya diri. Rambutnya tergerai rapi di bahu, dan ia mengenakan blazer biru muda yang memberi kesan segar namun tetap profesional.

"Selamat pagi!" sapa Sinta ceria kepada resepsionis di depan.

"Selamat pagi, Mbak Sinta," jawab resepsionis itu, terkejut sekaligus terpesona oleh keramahan Sinta.

Sinta baru kemarin bekerja, tetapi kepribadiannya yang hangat sudah membuat banyak orang terkesan. Ia mudah bergaul, dan tidak ada kesan angkuh meskipun ia sekarang memegang posisi penting di perusahaan. Namun, meskipun ia tersenyum kepada semua orang, Sinta tahu bahwa ada satu orang di kantor ini yang jauh lebih sulit ia dekati, yaitu bosnya sendiri, Dimas Pratama.

****

Tok! Tok! Tok!

Sinta berdiri di depan pintu ruang kerja Dimas seraya mengetuk pintu.

"Masuk," terdengar suara Dimas dari balik pintu setelah Sinta mengetuk pelan.

Saat Sinta membuka pintu, ia melihat Dimas sudah duduk di kursinya, sibuk dengan beberapa dokumen di meja. Jas hitamnya menggantung rapi di belakang kursi, dan kemeja putihnya terlihat tanpa cela.

"Selamat pagi, Pak Dimas," sapa Sinta sambil berjalan masuk.

"Pagi," jawab Dimas singkat tanpa mengangkat pandangannya dari dokumen.

Sinta menaruh map berisi jadwal hari itu di meja Dimas. Ia tetap berdiri, menunggu arahan lebih lanjut. Namun, Dimas tidak langsung berbicara. Ia membaca dokumen dengan seksama, kemudian mencoret sesuatu dengan pulpen di tangannya.

"Sinta," akhirnya Dimas membuka suara.

"Ya, Pak?" sahut Sinta.

"Pastikan rapat dengan klien pukul dua belas dimulai tepat waktu. Tidak ada penundaan."

"Siap, Pak. Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal," jawab Sinta sambil mencatat di buku agendanya.

Sikap profesional dan serius Dimas tidak mengejutkan Sinta. Ia sudah mendengar banyak cerita tentang pria itu sebelum mulai bekerja. Namun, ia tidak membiarkan sikap dingin Dimas mengintimidasinya. Ia justru menganggap ini sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa ia adalah sekretaris yang kompeten.

"Kalau tidak ada lagi, saya kembali ke meja saya, Pak."

"Baik," jawab Dimas tanpa melihatnya.

Sinta keluar dari ruangan itu dengan senyum kecil di wajahnya. Bagi sebagian orang, interaksi seperti itu mungkin terasa kaku dan menegangkan, tetapi Sinta melihatnya sebagai bagian dari pekerjaannya. Ia yakin bahwa di balik sikap dingin Dimas, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum ia pahami.

Sinta segera kembali ke mejanya yang terletak tidak jauh dari ruangan Dimas. Ia mulai mengatur jadwal rapat, mengecek ulang dokumen yang perlu dipersiapkan, dan memastikan semua keperluan Dimas sudah tertangani. Meski pekerjaannya cukup berat, ia melakukannya dengan semangat.

"Wah, Mbak Sinta kelihatan sibuk sekali," komentar Yuli, salah satu staf administrasi yang kebetulan lewat.

"Memang begitu, Mbak Yuli. Tapi saya menikmatinya," jawab Sinta sambil tersenyum.

"Kalau begitu,  saya duluan ya mbak Sinta."

Sinta tersenyum dan menjawab, "Silakan mbak."

Sikap ceria Sinta menarik perhatian banyak orang. Dalam waktu singkat, ia berhasil membangun hubungan baik dengan hampir semua staf di kantor. Beberapa bahkan mulai mengagumi dedikasinya dan cara kerjanya yang cepat.

Namun, tidak semua orang langsung menyukainya. Ada juga yang merasa bahwa Sinta terlalu berlebihan dalam mencoba menyesuaikan diri. Salah satu dari mereka adalah Rina, staf senior yang sebelumnya sering berinteraksi dengan Pak Dimas.

"Kita lihat saja berapa lama dia bertahan," gumam Rina pelan saat ia melewati meja Sinta.

Sinta tidak terlalu mempedulikan komentar seperti itu. Ia tahu bahwa setiap pekerjaan memiliki tantangannya masing-masing, termasuk menghadapi rekan kerja yang mungkin kurang bersahabat.

****

Saat jam makan siang tiba, Sinta memilih untuk tetap berada di mejanya. Ia menggunakan waktu itu untuk menyusun laporan yang diminta Dimas. Beberapa staf yang lewat menawarkan untuk makan bersama, tetapi Sinta menolak dengan sopan.

"Mbak Sinta, kok masih sibuk, ayo makan siang bareng kita di kantin." ajak salah satu staf wanita menghampiri Sinta. 

"Saya masih harus menyelesaikan ini. Tapi terima kasih sudah mengajak," katanya.

"Ya udah kalau gitu, kita duluan ya."

Sinta tersenyum dan mengangguk pelan dengan sopan. 

Ketika Dimas keluar dari ruangannya untuk pergi makan siang, ia melihat Sinta yang masih sibuk bekerja di mejanya. Sesaat, ia merasa terkejut. Kebanyakan sekretaris sebelumnya selalu memanfaatkan waktu makan siang untuk beristirahat atau bersosialisasi, tetapi Sinta tampaknya berbeda.

"Kamu tidak makan?" tanya Dimas singkat.

Sinta mendongak dan tersenyum. "Nanti, Pak. Saya ingin menyelesaikan laporan ini dulu."

Dimas hanya mengangguk kecil sebelum pergi.

Di dalam hati, Dimas mulai mengakui bahwa Sinta mungkin memiliki potensi besar. Ia belum lama bekerja, tetapi sudah menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Namun, seperti biasa, Dimas tidak membiarkan pikirannya terlihat di wajahnya.

****

Menjelang sore, kantor semakin sibuk. Rapat dengan klien besar akan dimulai dalam waktu kurang dari satu jam, dan Sinta memastikan semua persiapan sudah beres. Ia mengecek ruang rapat, mengatur ulang posisi dokumen di meja, dan memastikan proyektor berfungsi dengan baik.

Ketika rapat dimulai, Sinta duduk di sudut ruangan, siap mencatat poin-poin penting yang mungkin dibutuhkan Dimas nanti. Ia memperhatikan cara Dimas memimpin rapat, tenang, tegas, dan fokus. Tidak ada satu pun detail yang terlewat dari pengamatannya.

Saat rapat berakhir, Dimas memberi isyarat kepada Sinta untuk mengikutinya kembali ke ruangan.

"Bagaimana menurutmu rapat tadi?" tanya Dimas tiba-tiba.

Sinta terkejut sesaat, tetapi segera menjawab, "Saya rasa itu berjalan lancar, Pak. Klien tampak puas dengan presentasi kita."

"Benar. Tapi ada beberapa hal yang harus kita perbaiki," ujar Dimas sambil menyerahkan catatannya kepada Sinta.

Sinta menerima catatan itu dengan serius. Ia tahu bahwa Dimas adalah orang yang selalu mengejar kesempurnaan, dan itu membuatnya semakin bertekad untuk memenuhi harapannya.

****

Ketika jam kerja hampir selesai, Sinta mengemasi barang-barangnya dengan hati-hati. Hari keduanya sebagai sekretaris Dimas mungkin melelahkan, tetapi ia merasa puas dengan apa yang telah ia capai.

"Kerja bagus hari ini," kata Dimas singkat saat ia melewati meja Sinta.

Sinta menoleh dengan mata berbinar. "Terima kasih, Pak. Saya akan terus berusaha."

Dimas tidak menjawab, tetapi ada sedikit senyuman samar di wajahnya, sesuatu yang jarang terlihat.

Saat Sinta meninggalkan kantor malam itu, ia merasa yakin bahwa ia telah membuat kesan pertama yang baik. Ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, tetapi ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Di sisi lain, Dimas kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Kehadiran Sinta, meskipun baru sekejap, telah memberikan sedikit warna pada rutinitasnya yang dingin dan monoton. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Baginya, semua ini hanyalah bagian dari pekerjaan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
9.6
Cinta adalah mahasiswi pekerja keras yang berjuang demi kesembuhan neneknya. Tanpa disadari, kepolosannya dimanfaatkan oleh sang paman yang tega menjualnya demi uang. Di tengah kemalangan, ia bertemu pengusaha kaya yang jatuh hati dan melindunginya. Namun, hubungan mereka penuh rintangan, mulai dari persaingan bisnis yang kejam hingga gangguan keluarga besar sang nenek yang terus menyudutkan Cinta atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.
Sampul Novel Hasrat Cahaya Bulan: Lamaran Sang CEO yang Berani
8.7
Bertha melakukan kesalahan fatal dengan meminta kiriman video dewasa kepada CEO-nya di tengah malam. Alih-alih mendapatkan apa yang ia inginkan, sang bos justru menawarkan demonstrasi nyata secara langsung. Usai menghabiskan malam penuh gairah yang tak terduga, Bertha pasrah akan nasib kariernya. Namun, kejutan besar datang saat Justin justru melamarnya untuk menikah. Di tengah kebingungan, Bertha pun mempertanyakan apakah bosnya itu sedang bercanda.
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Pasca ditinggalkan kekasih karena kondisi ekonomi yang sulit, Andra bangkit dan sukses membangun kekaisaran bisnisnya sendiri dalam enam tahun. Kini ia dikenal sebagai bos kejam dengan aturan yang sangat kaku. Namun, reputasi dinginnya mulai goyah saat seorang pelamar kerja wanita hadir di hadapannya. Pertemuan tersebut perlahan mencairkan kebekuan hati Andra dan membukanya kembali pada harapan akan cinta baru yang telah lama ia lupakan.
Sampul Novel Imperium Rahasia Miliaran Dolar Penggantinya
9.0
Lima tahun Anya menyamar jadi wanita miskin demi mendanai kesuksesan Bima sebagai CEO teknologi. Namun, Bima justru membawa Katrina dan mengkhianati Anya. Setelah dipermalukan di lelang bawah tanah agar tunduk, Anya mendengar pengakuan kejam bahwa dirinya hanyalah pengganti Katrina. Bima tak sadar bahwa Anya adalah investor rahasia di balik kekayaannya. Saat hubungan mereka hancur, Anya memutuskan menghubungi Kian untuk segera menikah dan meninggalkan Bima selamanya.
Sampul Novel Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
8.0
Hidup Deana hancur setelah orang tuanya wafat. Kini, ia terdesak ancaman preman yang menagih utang besar keluarganya. Demi keselamatan nyawa, Deana nekat menjual kesuciannya kepada pria asing bernama Marvin. Namun, Marvin justru memberikan tawaran tak terduga yang bisa menghapus seluruh beban finansialnya. Deana diminta melahirkan seorang anak untuknya. Meski menjadi solusi instan, kesepakatan dingin ini justru menjadi awal dari masalah baru yang lebih rumit.
Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Sella mengalami nasib tak terduga saat niat melamar kerja justru berujung pada pernikahan kontrak. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Rishan, CEO yang menikahinya hanya demi memenuhi janji kepada sang ibu. Tanpa landasan cinta, keduanya terjebak dalam rumah tangga yang penuh ego dan aturan sepihak dari Rishan. Sella harus menghadapi sikap dominan suaminya yang sering menuntut hal aneh, sembari berjuang menata hatinya yang terus goyah dalam ikatan paksaan ini.