
Janur Kuning di Rumah Tanteku
Bab 2
Selain melarikan diri dari pernikahannya, Ningsih juga meninggalkan surat berisi rincian hutang yang harus dilunasi tantenya, Hanum. Angka yang tidak kecil bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.
Bukan hanya dikejutkan oleh hutangnya, Hanum juga sedang mondar-mandir memikirkan siapa yang akan menggantikan pengantin wanita?
“Ibu kira ini pertunjukan drama, yang setelah selesai akan kembali ke kehidupan nyatanya masing-masing?” Rey mulai emosi mendengar tawaran tidak masuk akal dari wanita yang mungkin akan menjadi ibu mertuanya.
“Bukan begitu maksud ibu, Nak!” Hanum menyentuh punggung tangan lelaki yang tepat berada di hadapannya. “kita tidak mungkin membatalkan acara yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bagaimana dengan semua tamu undangan? Teman-teman bisnis kamu?” Hanum melanjutkan argumennya.
Ya, benar saja, sebagai seorang pengusaha ternama, tentunya akan sangat memalukan jika pesta megah yang telah disusun seapik mungkin, dibatalkan. Belum lagi jika tragedi mengenaskan itu benar terjadi, maka ia akan menjadi tranding topik di koran lokal esok pagi.
Rey terlihat memijat kepalanya, sembari merebahkannya ke sandaran kursi, helaan napasnya terdengar jelas.
Ia masih belum percaya, bagaimana mungkin seorang Ningsih, wanita cerdas dan punya karakter yang baik bisa melakukan semua itu padanya. Rey merasa waktu sudah cukup meyakinkannya untuk percaya pada Ningsih. Bagaimana tidak, mereka sudah berpacaran sejak bangku SMA. Tentunya ia sudah sangat paham tentang watak Ningsih yang tidak mudah berubah pikiran dan teguh pada keputusannya.
“Ibu juga tidak menyangka Ningsih akan seperti ini, maafkan ibu ya!” Hanum kembali menyentuh pundak Rey. Namun lelaki itu tidak ingin menjawab apapun.
Rey masih belum menyerah, ia menghubungi pihak event organizer (EO) untuk membatalkan prosesi acara megah tersebut. Namun pihak EO tidak menyanggupinya, mereka menyarankan Rey mencari alternatif lain, mengingat ada banyak wartawan dan orang-orang penting yang hadir, tentunya ini akan berdampak buruk pula pada Rey nantinya.
“Sungguh tega kamu, Ning!” monolognya.
Rey mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menuju rambut ikalnya, hingga leher. Ia mencoba melenturkan otot-otot yang sedari tadi mengencang. Pikirannya tak karuan, berkali-kali ia mencoba menghubungi Ningsih, tapi tak ada jawaban. Jika memang hanya karena hutang 100 juta, Rey bisa menanganinya segera, dan ia yakin Ningsih juga tahu kemampuan Rey, tentunya uang sebanyak itu bukan sesuatu yang sulit baginya.
“Tunggu sebentar!” balasnya. Ia menanggapi salah satu EO yang berbisik mendekatinya. Rey masih meminta penghulu dan para tamu untuk bersabar. Sayup-sayup terlihat tamu mulai mendeskripsikan rasa penasarannya masing-masing. Ada yang berpikir Rey mulai mengurungkan niatnya menikahi gadis miskin yang kini menjadi mempelai wanita. Ada pula yang berpikir Rey sedang memikirkan cara membatalkan pernikahannya karena ia mulai sadar bahwa keputusan yang dibuatnya keliru.
Terlepas dari semua itu, di sudut ruang rias, ada Rey yang sedang kalut dan tak tahu harus berbuat apa.
“Tidak ada jalan lain, nikahi dia!” Retno, yang merupakan ibu kandung Rey tak bisa berbuat banyak. Ia juga tak ingin bisnis keluarganya hancur. “menikah dengan perjanjian kontrak!” lanjutnya.
Rey mengerutkan dahi, ia masih belum paham dengan apa yang dimaksud sang ibu.
“Ini hanya pernikahan untuk menyelamatkan keluarga kita!” sambungnya.
****
Mendadak Febi menjadi ratu dalam hitungan tidak sampai satu jam. Menatap wajahnya di cermin, ia masih belum yakin dengan apa yang sedang terjadi padanya. Baru saja ia bersiap dengan seragam khusus keluarga untuk tampil menjadi deretan keluarga pihak mempelai wanita. Namun seketika justru ia yang menjadi mempelai wanitanya. Benarkah takdir seperti membalikkan telapak tangan?
Matanya berbinar, bagaimana tidak, Rey adalah satu-satunya lelaki yang selama bertahun-tahun ia munajatkan dalam doa. Setiap detik, ia masih saja meminta Tuhan menyandingkannya dengan Rey, bahkan di hari akad ini. Dan Tuhan benar-benar menunjukkan kekuasaan-Nya.
“Apa ibu terlihat memaksamu, Nak?” tanya Hanum pada putri kesayangannya.
Febi menggeleng. Bibirnya tak mampu berkata apapun, ia begitu bahagia, namun tetap terbalut rapi dalam karakternya yang tak banyak bicara, ia tak ingin banyak orang yang tahu tentang perasaannya. Tertutup dan lembut, itulah sifat asri Febi.
“Tapi Bu, aku mengkhawatirkan Ningsih, kemana dia? Aku takut terjadi sesuatu dengannya!” Febi memang sangat menyayangi sepupunya itu, mereka bersama sejak kecil, sejak kedua orang tua Ningsih meninggal dunia.
“Ibu yakin Ningsih baik-baik saja, mungkin ada sesuatu yang mendesak dan membuatnya melakukan semua ini,” jelas Hanum.
Hanum mengantarkan putrinya menggapai tangan calon suaminya. Berbalut gaun putih dan dihiasi bunga yang menyelimuti sebagian rambutnya, membuatnya terlihat bak ratu Inggris. Tubuh idealnya dan hidung mancungnya ikut menjadi warna tersendiri bagi Febi. Wanita yang tak pernah suka berdandan itu, kini memperlihatkan pesonanya pada para tamu. Semua terpukau.
Febi pun seolah menyembunyikan senyumnya, ia tidak ingin Rey menyadari bahwa inilah yang diinginkan wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya yang sah, di mata hukum dan agama.
Sebaliknya, Rey sama sekali tak ingin menatap calon istrinya. Tetapi lelaki tampan itu juga pandai menyembunyikan kegalauan hati yang sebenarnya sangat mengganggu.
“Sah!”
Febi mencium punggung tangan suaminya. Kini ia resmi bergelar istri. Kenyataan yang dalam mimpi pun takut ia lakukan. Namun kini Tuhan mengabulkannya.
Rey sedikit canggung saat harus mencium kening istrinya, ia masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Pesta pernikahan megah, dengan makanan yang tak kalah mahal, membawa tamu merasakan kebahagian yang dirasakan kedua mempelai. Mereka tidak tahu, ada secercah luka yang disimpan Rey, berusaha ia sembunyikan sekuat tenaga.
“Mas, kok canggung begitu? Dipegang dong tangan istrinya, ini foto pernikahan, bukan foto KTP!” gurau sang potografer.
“Maklum masih baru!” sambung teman-teman Rey. Mereka tertawa, tapi Rey hanya diam dan tak berkomentar.
Rey sendiri bukan tipe lelaki yang suka bercanda dan tidak banyak bicara. Namun saat bersama Ningsih, ia seolah tak menjadi dirinya sendiri. Ningsih berhasil membawa Rey menuju dunia yang lebih nyaman dan bebas. Sifat Ningsih yang ceroboh dan tak bisa diam, membuat Rey ikut terikat. Mungkin itu pula yang membuatnya hanya jatuh cinta satu kali, karena Ningsih mengerti apa yang ia butuhkan.
****
“Kemana?” Febi menyelidiki
“Aku gak tahu, tapi dari keliatannya sangat buru-buru” jelas seorang kerabat.
Febi tak menyangka, suami yang baru saja menikahinya pergi tanpa berpamitan. Setidaknya Rey bisa mengabarinya terlebih dahulu, pikirnya. Ia tertegun di kamarnya yang tak seberapa luas. Matanya sedikit berkaca, ia menggenggam kuat kedua tangannya.
‘Apa langkah yang kuambil ini salah?’ monolognya.
Kini Febi mulai ragu dengan semua yang telah ia lakukan. Ia sadar mungkin apa yang ia inginkan adalah sebuah pemaksaan.
‘Tapi ini bukan salahku!’ ia kembali meyakinkan diri.
Berusaha membenarkan diri sendiri itu memang melelahkan. Namun terkadang kenyataan adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan dihindari.
Malam pertama yang biasanya lumrah dinantikan pasangan pengantin baru, kini Febi habiskan bersama ibunya. Mereka saling menguatkan, tanpa sedikit pun menyalahkan Ningsih.
Ini adalah takdir yang diinginkan Febi, namun tidak pernah dibayangkan Rey.
Anda Mungkin Juga Suka





