Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janji Selamanya

Janji Selamanya

Hari pernikahan yang seharusnya sakral berubah kacau ketika sahabat kecil tunanganku datang memakai gaun pengantin yang identik denganku. Saat melihat mereka menyambut tamu bersama, aku justru memuji keserasian mereka. Sahabatnya pergi dengan kesal, sementara tunanganku malah menuduhku picik. Puncaknya, dia nekat pergi bulan madu bersama wanita itu. Tanpa air mata, aku langsung menghubungi pengacara untuk menyelesaikan hubungan ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di hari pernikahan, sahabat kecil tunanganku muncul di lokasi dengan mengenakan gaun pengantin yang sama persis denganku.

Melihat mereka berdiri berdampingan menyambut tamu, aku tersenyum dan memuji bahwa mereka benar-benar pasangan yang serasi.

Sahabat kecilnya langsung pergi dengan wajah malu dan kesal, sementara tunanganku menuduhku picik dan suka membuat keributan di hadapan semua orang.

Setelah resepsi berakhir, dia malah pergi ke tempat bulan madu yang sudah kami pesan bersama sahabat kecilnya.

Aku tidak menangis dan ribut, melainkan langsung menelepon pengacara.

Setelah menyelesaikan semua urusan dan pulang ke rumah, hari pun sudah larut malam.

Cahaya bulan menyinari ruang tamu, membuat seluruh ruangan terasa semakin sepi.

Dengan tubuh yang kelelahan, aku masuk ke kamar. Saat melihat hiasan pernikahan berwarna merah di dalam kamar yang biasanya melambangkan kebahagiaan pernikahan, aku malah merasa itu sangat sarkastik.

Kelopak bunga di atas ranjang belum sempat dibereskan, tapi karena benar-benar terlalu lelah hari ini, aku hanya menyapunya ke lantai seadanya, lalu menjatuhkan tubuh ke ranjang empuk.

Saat mengisi daya ponsel, aku kebetulan melihat unggahan Steve di instagram.

[Sungguh beruntung bisa bersamamu di masa muda ini.]

Dengan foto dirinya merangkul Cindy. Keduanya saling bertatapan mesra, hampir berciuman dan di tangan mereka terlihat memakai gelang pasangan.

Jika ini terjadi dulu, aku pasti langsung pergi menemui Steve dan menuntut penjelasan.

Namun sekarang, aku hanya diam-diam mematikan ponsel dan berbalik tidur.

Beberapa hari berikutnya, aku sama sekali tidak menerima kabar dari Steve, hanya sesekali melihat unggahan tentang perempuan itu di instagramnya.

Mereka tampak sedang berpelukan, berfoto dan jalan-jalan bersama.

Aku tidak peduli, malah langsung menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian.

Aku dan Steve sudah pacaran enam tahun, dari SMA sampai sekarang.

Meski baru mengadakan pesta pernikahan beberapa waktu lalu, sebenarnya kami sudah menikah secara hukum sejak lulus kuliah, karena waktu itu kami menikah secara impulsif.

Walau belum mengadakan resepsi, dia tetap memberikan uang mahar, perhiasan dan cinta yang tulus.

Namun sekarang, cinta itu sudah lenyap, yang tersisa hanya kekacauan belaka.

Setengah bulan kemudian, saat aku sedang duduk di rumah membaca draft awal dari pengacara, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

Saat menoleh, aku melihat Steve masuk sambil menggandeng tangan Cindy.

Begitu tatapan kami bertemu, aku melihat ada sedikit kepanikan di mata Steve. Dia buru-buru melepas tangan Cindy dan berbicara dengan nada agak canggung,

“Cindy belum pernah keluar negeri, jadi aku mengajaknya pergi.”

“Lagian kamu juga sibuk bekerja, jadi aku pergi bersamanya….”

Belum selesai dia bicara, aku sudah mengalihkan pandangan kembali ke draft di tanganku dan mengangguk santai.

“Oh, iya.”

“Ke….”

Kata-katanya langsung terputus. Melihat aku tetap fokus ke laptop tanpa memberi reaksi apapun, dia terlihat semakin kesal dan bertanya dengan dingin,

“Perlukah kamu begitu? Aku sudah jelasin kalau Cindy belum pernah keluar negeri, makanya aku membawanya pergi.”

“Lagipula, bulan madu itu bisa kapan saja, untuk apa ribut begini?!”

“Aku juga sudah bilang berkali-kali, aku dan Cindy itu hanya….”

Melihatnya bicara tanpa henti, akhirnya aku langsung memotong ucapannya.

“Aku tahu, kamu hanya menganggapnya adik.”

Aku menatapnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi marah sedikit pun.

Wajahnya justru semakin dingin. Dia menatapku sambil mengernyit, nada suaranya terdengar tak berdaya.

“Terus apalagi yang kamu ributkan?”

“Aku lagi sibuk.”

Jawabku santai, lalu kembali fokus ke pekerjaanku tanpa melihat wajah Steve.

Cindy yang dari tadi diam, tiba-tiba maju selangkah, menggandeng lengan Steve dan berkata manis,

“Jangan marah, Kak Luna. Kamu juga tahu aku dan Steve sudah kenal sejak kecil.”

“Lagipula, meski Steve nggak pergi denganmu kali ini, dia tetap menyempatkan diri untuk belikan hadiah untukmu, lho.”

Usai bicara, dia menatap Steve dengan pandangan lembut.

“Steve, ayo cepat kasih lihat hadiah untuk Kak Luna.”

Mendengar itu, Steve buru-buru mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya, membukanya dan menyodorkannya padaku.

“Ini khusus untukmu, coba dibuka.”

Steve terlihat cukup bangga, seolah yakin aku bakal sangat berterima kasih.

Aku melirik sekilas ke dalam kotak, sepasang anting dengan desain simple, dihiasi mutiara dan permata biru berbentuk bunga, tampak manis dan segar.

Namun, aku hanya melihat sekilas, lalu mendorong kotak itu kembali ke arahnya.

“Nggak perlu, aku nggak punya hobi mengumpulkan barang gratisan.”

Seketika, suasana membeku. Ekspresi Steve langsung memuram.

“Luna, apa maksudmu?”

Aku menatap santai jam tangan di pergelangannya yang nilainya puluhan juta, lalu menatap matanya dan berkata pelan,

“Sesuai apa yang kubilang barusan. Kamu kasih anting ke orang lain, lalu kasih aku hadiah gratisannya. Kamu pikir aku hanya pantas dikasih barang gratisan?”

Mungkin Steve tak menyangka aku akan menyinggung barang gratisan itu secara langsung, ekspresinya langsung terlihat canggung.

Namun, Cindy langsung menyahut dengan nada manja tapi menyebalkan,

“Jangan marah, Kak Luna. Sebenarnya anting itu dikasih ke aku karena aku sangat suka. Tapi, kalau Kak Luna nggak senang, aku kasih saja ke kakak.”

“Jangan sampai kalian bertengkar gara-gara aku, nggak sepadan.”

Meski bicara seperti itu, tangannya tetap diam saja. Ekspresinya malah seperti merasa kasihan pada Steve. Tapi, saat matanya beralih padaku, justru penuh dengan sindiran.

Melihat reaksinya, Steve langsung menggenggam pergelangan tangannya, lalu menatapku dengan tidak senang.

“Cindy, jangan dengarkan dia. Anting itu sudah kukasih ke kamu, jadi itu punyamu.”

“Dia memang begitu, perhitungan dan picik.”

Aku hanya melirik mereka sekilas dan tak menjawab, lalu kembali menatap layar laptop di depanku.

Sikapku itu justru membuat Steve semakin marah. Dia malah langsung merangkul Cindy dan berjalan keluar. Setelah melewati pintu, dia sengaja membanting pintu terbuka, lalu berdiri di ambang pintu sambil menatapku.

Aku tahu, dia sedang menungguku luluh. Menungguku seperti biasanya, mengalah dan minta maaf duluan.

Dulu, selalu aku yang mengalah dan minta maaf duluan. Tapi, yang kudapat justru sikapnya yang semakin keterlaluan.

Namun sekarang, aku bahkan tak meliriknya. Aku malah menambahkan harga anting yang dia belikan untuk Cindy ke dalam catatan pembagian harta.

Melihat sikapku, akhirnya Steve membanting pintu sekuat tenaga dan pergi.

Tak lama setelah mereka pergi, orang tuaku menelepon dan menyuruhku pulang makan malam bersama.

Aku tak menolak, tapi tak menyangka bakal bertemu Steve di depan rumah orang tuaku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menyerah, Memilih Pergi
9.8
Naira mengabdikan hidupnya sebagai istri dan ibu tiri yang tulus bagi Danang dan putranya, Arka. Namun, pengorbanannya selama bertahun-tahun hanya dibalas dengan sikap dingin dan penghinaan. Puncaknya, saat nyawa Naira terancam dalam sebuah serangan keji, suami dan anak tirinya justru mengabaikan permintaannya untuk ditolong. Merasa dikhianati di titik terendahnya, Naira akhirnya memilih bangkit dan meninggalkan keluarga yang tak pernah menghargainya tersebut.
Sampul Novel BERBAGI RANJANG DENGAN KAKAK TIRI
8.2
Kebahagiaan rumah tangga Kenanga hancur seketika saat Dion, suaminya, mengkhianati janji suci mereka. Luka itu kian mendalam karena wanita yang menjadi selingkuhan Dion adalah kakak tiri Kenanga sendiri. Di tengah kemelut poligami yang menyakitkan, Devano hadir kembali. Sahabat masa kecilnya itu datang membawa perasaan lama dan mencoba mengejar cinta Kenanga. Kini, Kenanga terjebak dalam dilema antara mempertahankan pernikahan atau berpaling pada Devano.
Sampul Novel Harta Tahta Obsesi Gila
8.8
Arleta memiliki paras mempesona, namun hidupnya jauh dari kata indah. Alih-alih gaun putri, ia terpaksa memakai baju zirah demi bertahan hidup dari obsesi gila pamannya, Joshua, yang menyebabkan luka mendalam. Di tengah trauma dan bayang-bayang masa lalu yang kelam, ia menutup hati demi keamanan dirinya. Kini, Arkana Sadewa, seorang fotografer, harus berjuang keras menaklukkan tembok pertahanan Arleta yang menganggap cinta hanyalah kelemahan yang membuang waktu.
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan mendapatkan peluang kedua dari Andara Jeo untuk memulihkan pernikahan mereka yang hancur. Namun, tantangan baru muncul saat kepribadian Andara berubah drastis, termasuk permintaan anehnya saat mengidam. Situasi kian rumit ketika Jaren Adiyaksa menuduh Vante menjemput wanita hamil lain. Meski Vante bersikeras dirinya tidak berselingkuh, ia harus berjuang keras menghadapi segala ujian kesetiaan dan perubahan sikap istrinya demi menjaga rumah tangga mereka.
Sampul Novel My [Secret]ary
8.6
Keputusan Raya menolak jabatan pimpinan di anak perusahaan Chinar Group justru mempertemukannya dengan Jevano, kakak tingkat masa kuliah yang kini menjadi sekretarisnya. Meski Jevano bersikap dingin dan acuh tak acuh, Raya tetap menaruh hati padanya. Namun, di balik topeng profesionalitasnya, Jevano menyimpan misteri besar yang tersembunyi rapat. Dia bukanlah sekadar staf biasa, melainkan sosok penuh rahasia yang jauh lebih dari apa yang terlihat.
Sampul Novel Obsession of teacher
9.6
Kehidupan seorang mahasiswi tingkat akhir di universitas ternama New York berubah menjadi mimpi buruk yang sangat kelam. Tindakan brutal dari dosennya sendiri meninggalkan luka mendalam yang menghancurkan jiwanya. Akibat pemerkosaan keji tersebut, ia terperosok ke dalam depresi berat dan trauma yang nyaris membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Kisah tragis ini menggambarkan perjuangan seorang wanita di ambang kehancuran akibat obsesi yang salah.