
Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
Bab 2
Suasana malam di Jakarta selalu sibuk. Jalanan penuh dengan kendaraan yang berebut ruang, suara klakson bersahutan, dan lampu-lampu kota yang berkelip tak kenal lelah. Nayara melangkah keluar dari gedung kantor sambil menenteng tas kerjanya. Udara agak lembap karena sejak sore hujan sempat turun, meninggalkan aroma tanah basah yang samar-samar menyegarkan.
Namun pikirannya jauh dari tenang. Kata-kata Leonardo tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Tiga tahun lalu... di acara amal di Hotel Grand Luxe. Itu kamu, kan?"
Bagaimana mungkin pria sekelas dia masih mengingatnya? Nayara bahkan berpikir pertemuan itu hanyalah sebuah insiden kecil yang tidak berarti. Tapi kenyataannya, Leonardo benar-benar mengenali dirinya.
"Kenapa harus aku yang dia ingat?" gumam Nayara sambil menghela napas panjang.
Ia menghentikan langkahnya di pinggir jalan, menunggu bus kota. Pikirannya masih penuh tanda tanya. Apakah ini hanya kebetulan? Atau ada alasan lain di balik sikap Leonardo yang seakan terlalu memperhatikannya?
Di sisi lain, Leonardo duduk di kursi belakang mobilnya yang melaju meninggalkan gedung kantor. Sorot matanya kosong, menatap keluar jendela yang dipenuhi pantulan lampu kota. Namun pikirannya justru terikat pada satu sosok-gadis yang ia temui kembali setelah tiga tahun.
"Nayara..." ia menyebut nama itu pelan, seolah mencoba mengukirnya di ingatan.
Asistennya, Marco, yang duduk di samping sopir, melirik dari kaca spion. "Tuan, apakah ada yang mengganggu pikiran Anda?"
Leonardo menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke luar. "Tidak ada yang penting."
Namun hatinya berkata lain. Sejak malam itu tiga tahun lalu, bayangan gadis dengan tatapan gugup dan senyum canggung itu sesekali muncul di kepalanya. Ia memang jarang mengingat wajah orang dengan jelas, tapi entah kenapa, wajah Nayara berbeda. Dan kini, takdir mempertemukan mereka lagi.
Keesokan paginya, Nayara kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk. Ia berusaha bersikap biasa saja, tapi jantungnya berdebar begitu melihat iring-iringan mobil hitam berhenti di depan lobi.
"Dia datang lagi," bisik Dita sambil mendorong lengan Nayara.
"Ya sudah, biarin. Kan dia memang pemilik perusahaan," balas Nayara setengah malas.
"Tapi aku yakin dia bakal nyari alasan buat deketin kamu, Nay. Percaya deh."
"Dit, jangan sembarangan ngomong. Aku nggak mau orang salah paham."
Namun kenyataannya, tak butuh waktu lama sampai ucapan Dita terbukti. Siang itu, saat Nayara sedang menyalin beberapa dokumen di ruang printer, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Dan sosok yang masuk membuatnya refleks menegakkan badan.
"Selamat siang," suara bariton itu terdengar jelas.
"Tu-tuan Leonardo?" Nayara tergagap.
Leonardo menatapnya dengan senyum samar. "Kebetulan saya sedang mencari seseorang untuk membantu memahami laporan keuangan cabang ini. Apakah kamu punya waktu?"
Nayara terperangah. "M-maksud Anda, saya?"
"Ya." Tatapan Leonardo tajam, tapi tidak menakutkan. Lebih seperti sebuah perintah halus yang sulit ditolak.
Nayara menelan ludah. "Baik, Tuan."
Mereka berdua akhirnya duduk di ruang rapat kecil. Leonardo membuka laptopnya, sementara Nayara menyiapkan dokumen yang diperlukan. Suasana canggung tercipta, hanya suara kertas dan ketikan keyboard yang terdengar.
Sesekali, Leonardo menatap Nayara dengan tatapan penuh arti. Nayara yang menyadarinya menjadi semakin salah tingkah.
"Kenapa Anda memilih saya untuk membantu, Tuan? Masih banyak staf senior yang lebih berpengalaman," tanya Nayara akhirnya, mencoba memecah keheningan.
Leonardo tersenyum tipis. "Karena saya percaya, terkadang orang yang terlihat biasa justru punya cara pandang yang lebih jujur."
Nayara terdiam. Jawaban itu terlalu aneh untuk sekadar basa-basi.
Waktu berjalan, dan tanpa mereka sadari, sudah lebih dari satu jam mereka berada di ruangan itu. Nayara mulai bisa sedikit rileks, menjelaskan angka-angka dengan lancar. Leonardo pun tampak memperhatikannya dengan serius, meski sesekali ia melirik wajah Nayara lebih lama daripada yang seharusnya.
Saat Nayara menunduk untuk mengambil dokumen, sebuah pulpen tergelincir dari meja dan jatuh ke lantai. Nayara buru-buru membungkuk untuk mengambilnya, namun di saat yang sama, Leonardo juga melakukan hal yang sama. Kepala mereka nyaris bertabrakan.
"Ah!" Nayara refleks mundur, wajahnya memerah.
Leonardo menatapnya dalam, lalu tersenyum samar. "Hati-hati."
Detik itu, jantung Nayara berdetak tak karuan. Ada sesuatu pada tatapan mata pria itu yang membuatnya sulit bernapas.
Usai pertemuan, gosip segera menyebar di kantor. Beberapa rekan kerja mulai berbisik-bisik setiap kali Nayara lewat. Ada yang menatapnya dengan iri, ada pula yang mencibir.
"Lihat tuh, Nayara kayaknya dekat sama bos besar."
"Wajar sih, dia kan cantik. Tapi ya ampun, cepat banget dapat perhatian."
Nayara pura-pura tidak mendengar, meski hatinya terasa sesak. Ia tidak pernah mencari perhatian siapa pun, apalagi Leonardo.
Dita mencoba menenangkannya. "Nay, biarin aja orang ngomong. Kamu nggak salah apa-apa. Lagian, siapa yang nggak bakal diperhatikan kalau ada di posisi kamu?"
"Tapi Dit, aku nggak nyaman. Aku cuma staf biasa, dan aku nggak mau masalah."
"Tapi kalau memang dia suka sama kamu, kenapa nggak? Hidup kan penuh kejutan, Nay."
Nayara hanya menghela napas. Ia tahu Dita bermaksud baik, tapi kenyataan tidak sesederhana itu.
Sore itu, saat semua karyawan bersiap pulang, Nayara kembali dipanggil oleh sekretaris pribadi Leonardo.
"Nona Nayara, Tuan Leonardo ingin bertemu dengan Anda di ruangannya," ucap sang sekretaris sopan.
Nayara tercekat. "S-sekarang?"
"Ya, sekarang."
Dengan langkah gugup, Nayara mengetuk pintu ruangan mewah itu. Dari dalam terdengar suara berat yang mempersilakan masuk.
Begitu pintu terbuka, ia melihat Leonardo sedang duduk di balik meja kerja besar dengan pemandangan kota Jakarta di belakangnya. Pria itu menatap Nayara dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Duduklah," ujarnya singkat.
Nayara duduk pelan, mencoba menenangkan dirinya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Leonardo menautkan jemarinya di atas meja. "Aku hanya ingin berbicara."
"Berbicara... tentang apa?" Nayara bingung.
Leonardo mencondongkan tubuhnya sedikit. "Tentang kamu."
Nayara terbelalak. "S-saya?"
"Ya. Tiga tahun lalu, aku hanya bertemu kamu sebentar. Tapi entah kenapa, wajahmu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku. Dan sekarang, kita dipertemukan lagi."
Nayara tercekat. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Leonardo melanjutkan dengan suara lebih pelan, namun tegas. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Nayara."
Kata-kata itu menggema di telinga Nayara, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Ia tidak pernah membayangkan seorang pria sekelas Leonardo Arvandre akan mengucapkan hal seperti itu padanya.
Namun, di balik rasa gugup dan jantung yang berdegup kencang, Nayara tahu satu hal: jalan yang baru saja terbuka di hadapannya bukan jalan yang mudah. Karena sejak hari itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





