Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku

Jangan Pernah Mengkhianatiku

Arvella Siregar melarikan diri dari kekejaman suaminya, Rivan, hingga tersesat di hutan dan diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan menjadi tangguh. Arvella mengungkap fakta bahwa kematian orang tuanya adalah konspirasi jahat, bukan kecelakaan. Bersama Kael, ia kini bersiap keluar dari hutan untuk membalas dendam dan mengungkap asal-usulnya meski nyawa menjadi taruhan utama.
Bab
Bagikan

Bab 2

Arvella membuka matanya perlahan saat sinar matahari menembus celah pepohonan. Hutan itu tampak berbeda di siang hari-lebih terang, tapi tetap terasa asing dan menakutkan. Suara burung dan gemericik air sungai menggantikan denting hujan semalam. Ia menarik napas panjang, merasakan udara segar masuk ke paru-parunya yang masih penuh ketegangan. Tubuhnya pegal, namun ada rasa puas yang aneh karena ia berhasil melewati malam pertama di hutan.

Kael sudah bangun, duduk di atas batu besar dekat sungai, matanya menatap arus air yang mengalir. Ia tampak seperti bagian dari hutan itu sendiri-tenang, mengamati, dan penuh kewaspadaan. "Kamu bangun lebih lambat dari biasanya," katanya, suaranya dalam tapi tenang.

Arvella tersenyum tipis, meski masih lelah. "Malam itu... aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak yang ada di kepala," jawabnya. Suara itu hampir tak terdengar di atas gemericik air, tapi Kael menangkapnya.

"Wajar," katanya, menatap Arvella. "Kamu baru saja keluar dari neraka yang panjang. Tidak mudah melupakan sesuatu seperti itu begitu saja."

Arvella mengangguk, menatap sungai yang bergerak pelan. Ia menyadari satu hal: hidupnya kini tergantung pada dirinya sendiri, tapi juga pada Kael, orang asing yang tanpa diminta telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia merasa campur aduk-percaya, takut, dan sedikit penasaran.

Hari itu, Kael memutuskan membawa Arvella lebih dalam ke hutan. Tujuannya bukan hanya tempat aman, tapi juga pertemuan dengan sekelompok orang yang memiliki kemampuan unik-orang-orang yang bisa membaca situasi dengan cepat, memiliki naluri tajam, dan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Kael memperkenalkan mereka sebagai "Bayangan Hutan," kelompok yang hidup di tepian dunia, jauh dari keramaian dan konflik kota.

Arvella merasa gugup saat mereka mendekati tempat pertemuan itu. Ada rasa waswas di hatinya-apakah orang-orang itu akan menerima dirinya? Apakah mereka akan melihatnya sebagai perempuan lemah yang baru saja kabur dari penderitaan? Namun, Kael tetap di sampingnya, memberinya rasa aman yang tak bisa ia jelaskan.

Mereka memasuki sebuah lembah kecil yang dikelilingi pepohonan tinggi. Dari balik semak, beberapa sosok muncul: seorang perempuan dengan mata tajam dan rambut pirang yang diikat rapi, seorang lelaki bertubuh kekar tapi gerakannya lincah seperti kucing, dan seorang anak muda dengan tatapan cerdas, seolah bisa membaca pikiran orang lain. Semua berhenti saat melihat Arvella.

"Kael, siapa ini?" tanya perempuan pirang, suaranya tegas tapi tidak kasar.

"Namanya Arvella," jawab Kael singkat. "Dia... baru saja melalui masa yang sulit. Aku membawanya ke sini agar dia belajar bertahan."

Perempuan itu menatap Arvella dengan seksama. "Kamu benar-benar baru, ya?" katanya, nada suaranya campur penasaran dan skeptis.

Arvella mengangguk, menundukkan kepala. "Ya... aku... aku tidak punya pengalaman. Tapi aku ingin belajar. Aku... aku ingin bisa melindungi diriku sendiri."

Anak muda itu melangkah mendekat, menatap Arvella dengan serius. "Kamu harus tahu, tempat ini bukan untuk yang lemah. Semua orang di sini memiliki kemampuan tertentu. Kamu harus siap menghadapi tantangan, atau kamu akan tersisih."

Arvella menelan ludah. Kata-kata itu menusuk, tapi juga membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Ia tidak ingin tersisih, tidak ingin dianggap lemah lagi. "Aku siap," jawabnya, meski suaranya gemetar.

Hari-hari berikutnya menjadi latihan keras bagi Arvella. Bayangan Hutan menuntut disiplin, ketelitian, dan keberanian. Ia belajar membaca jejak hewan, memanfaatkan lingkungan untuk bertahan hidup, mengenal tanaman beracun dan obat-obatan alami, bahkan belajar bertahan tanpa makanan cukup beberapa hari. Tubuhnya sering lelah, tapi setiap latihan membuatnya merasa lebih kuat.

Seorang lelaki kekar bernama Darian menjadi pelatih fisiknya. Ia mengajarkan Arvella cara menggerakkan tubuh dengan cepat, menghindari bahaya, dan mempertahankan diri. "Kamu tidak boleh mengandalkan orang lain," kata Darian suatu sore saat mereka berlatih memanjat tebing kecil. "Kalau kamu jatuh, itu kesalahanmu sendiri. Di dunia ini, tidak ada yang menunggu untuk menyelamatkanmu."

Arvella menatap tebing curam itu, merasakan adrenalin mengalir. Ia mencoba sekali, dua kali, jatuh beberapa kali, tapi akhirnya berhasil mencapai puncak. Napasnya terengah, tubuhnya berkeringat, tapi ada rasa puas yang luar biasa. Ia tersenyum lebar, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa menang.

Sementara itu, Kael mengajarinya strategi bertahan hidup lain. Ia menekankan pentingnya intuisi dan membaca orang. "Kekuatan fisik penting, tapi kekuatan pikiran lebih menentukan," katanya suatu malam saat mereka duduk di dekat api unggun. "Kamu harus tahu kapan harus menyerang, kapan harus mundur, dan kapan harus menunggu."

Arvella mendengarkan dengan seksama, mencoba menangkap setiap kata. Ia menyadari satu hal: kekuatan sejati bukan hanya kemampuan bertarung atau bertahan hidup, tapi juga kemampuan memahami dunia, mengantisipasi bahaya, dan memanfaatkan kesempatan.

Di tengah latihan itu, Arvella juga mulai menyingkap sisi lain dirinya. Luka masa lalunya, pengkhianatan Rivan, dan kehilangan orang tua mulai muncul kembali dalam ingatannya. Tapi ia tidak lagi membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan. Setiap ingatan menjadi bahan bakar, setiap rasa sakit menjadi motivasi untuk menjadi lebih kuat. Ia ingin tidak hanya bertahan hidup, tapi juga membalas dendam atas ketidakadilan yang menimpa keluarganya.

Hari-hari berikutnya, Arvella semakin terampil. Ia mulai bisa mengikuti ritme kelompok, belajar membaca bahasa tubuh, memahami strategi sederhana, dan bahkan mulai mengembangkan naluri sendiri. Anak muda cerdas yang awalnya skeptis mulai tersenyum padanya. "Kamu punya potensi," katanya suatu sore sambil mengamati gerakan Arvella saat berlatih menghindari jebakan yang ia buat sendiri. "Kalau kamu terus berlatih, kamu bisa menjadi salah satu yang terbaik di sini."

Arvella menatapnya, sedikit terkejut. Pujian itu membuat hatinya hangat, tapi juga membuatnya sadar bahwa ia mulai menemukan dirinya sendiri. Ia bukan lagi perempuan lemah yang lari dari rumah; ia mulai menjadi Arvella yang tangguh, siap menghadapi dunia, dan siap membayar dendam yang tertunda.

Kael tetap berada di sisinya, menatap dari jauh saat ia berlatih. Tatapannya selalu menenangkan, tapi ada juga sesuatu yang lebih dalam-seolah ia melihat lebih jauh dari yang bisa dilihat orang lain. Arvella merasa nyaman di dekatnya, tapi juga mulai merasa ada perasaan yang tumbuh perlahan. Perasaan yang ia kira sudah mati bersama masa lalunya.

Sore itu, setelah latihan panjang, Arvella duduk di atas batu, menatap langit jingga yang mulai gelap. Hutan ini, yang dulu terasa menakutkan, kini mulai menjadi rumahnya. Tempat di mana ia belajar bertahan, tempat di mana ia menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi. Tapi di dalam hatinya, benih dendam mulai tumbuh. Ia tahu, suatu hari nanti, ia harus kembali ke dunia luar, menghadapi Rivan, menghadapi orang-orang yang menghancurkan keluarganya, dan menuntut keadilan-atau setidaknya, balas dendam.

Kael duduk di sampingnya, menatapnya dengan serius. "Kamu berubah," katanya pelan. "Dulu aku melihat seorang perempuan takut pada dunia, sekarang aku melihat seseorang yang mulai menemukan kekuatannya sendiri."

Arvella tersenyum tipis, menatap api yang mulai redup. "Aku masih takut," ucapnya jujur. "Tapi... aku tidak lagi merasa lemah. Aku akan bertahan. Dan suatu hari... aku akan menemukan jawaban dari semua ini."

Malam itu, ketika hutan sunyi dan bintang-bintang muncul di langit, Arvella merasa sesuatu dalam dirinya terbangun. Ia tahu perjalanan ini baru awal. Banyak rintangan yang menanti, banyak rahasia yang harus diungkap, dan banyak pertarungan yang harus ia jalani. Tapi satu hal jelas: Arvella tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban lagi. Ia akan menjadi kuat, tangguh, dan tidak akan pernah mundur-tidak peduli seberapa gelap jalan yang harus ia lalui.

Di dalam hutan belantara itu, Arvella mulai menulis takdirnya sendiri. Ia mulai memahat jalan menuju kekuatan, keberanian, dan balas dendam yang kelak akan mengguncang dunia yang telah menghancurkan keluarganya. Bersama Kael, dan bersama Bayangan Hutan, ia belajar bukan hanya bertahan, tapi juga menguasai kemampuan yang akan membuatnya siap menghadapi dunia yang penuh tipu daya dan pengkhianatan.

Pagi itu, hutan tampak berbeda. Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon tinggi, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan. Arvella menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Sejak masuk Bayangan Hutan, hidupnya berubah drastis—tidak ada lagi rasa takut murni seperti saat kabur dari Rivan, tapi kini ada rasa waswas baru, campuran rasa penasaran dan ketegangan.

Kael berdiri di sampingnya, menatap Arvella dengan mata tajam yang penuh arti. “Hari ini kamu akan menghadapi latihan berbeda,” katanya, suaranya rendah. “Latihan ini bukan soal fisik, tapi soal intuisi dan pengambilan keputusan. Jika kamu gagal, kamu tidak hanya belajar perlahan, tapi berisiko melukai dirimu sendiri.”

Arvella menelan ludah, menatap Kael. Hatinya berdegup cepat, tapi ada rasa antusias yang sulit diabaikan. Ia sudah merasakan kemajuan fisik dan mental selama beberapa minggu terakhir, tapi latihan baru selalu membawa tantangan tak terduga.

Darian muncul beberapa langkah di belakang mereka. “Kalian berdua siap?” tanyanya, nada suaranya menantang. Ia mengibaskan tangan, dan dari balik semak, muncul jalan setapak sempit yang tampak seperti jebakan alami. Tanahnya licin, akar pohon menjulur ke segala arah, dan kabut membuat jarak pandang terbatas.

“Ini bukan jalan biasa,” kata Darian. “Di sini, kalian harus menemukan simbol tertentu yang tersembunyi di sepanjang rute. Simbol itu akan memberimu petunjuk untuk tahap berikutnya. Jika kamu tidak bisa menemukannya, kamu harus kembali ke titik awal. Dan percayalah, beberapa simbol itu tidak terlihat dengan mata telanjang.”

Arvella menatap jalan setapak itu, merasakan adrenalin mengalir. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mencoba mengatur napasnya. “Aku siap,” katanya mantap, meski hatinya masih sedikit ragu.

Mereka mulai berjalan perlahan. Kabut membuat setiap langkah terasa berat, akar yang menjulur seperti siap menjerat kaki siapa pun yang lalai. Arvella menatap sekeliling, mencoba membaca pola, mengamati cahaya yang menembus celah pepohonan. Setiap suara—daun jatuh, ranting patah, gemericik air—membuatnya waspada.

Setelah beberapa menit, ia melihat simbol pertama. Sebuah ukiran kecil di batang pohon yang hampir tertutup lumut. Arvella tersenyum tipis, mencondongkan tubuh untuk melihat lebih jelas. “Ada… di sini,” gumamnya.

Kael menatapnya sekilas, tersenyum tipis. “Bagus. Intuisi yang tepat,” katanya.

Namun latihan itu semakin sulit. Simbol berikutnya tersembunyi di antara akar pohon besar, sebagian tertutup tanah dan daun. Arvella harus meraba, merunduk, bahkan menggulingkan beberapa batu kecil untuk menemukannya. Tubuhnya lelah, tapi rasa penasaran mendorongnya maju.

Di tengah perjalanan, sesuatu mengganggu pikirannya. Sebuah tanda di tanah—jejak kaki yang berbeda dari jejak biasa, besar dan berat, seolah berasal dari seseorang yang ingin meninggalkan pesan. Arvella menunduk, mengikuti jejak itu dengan hati-hati. Ada rasa aneh yang menembus pikirannya, seolah jejak itu mengingatkannya pada sesuatu yang hilang dari masa kecilnya.

“Kael…” suaranya hampir berbisik, tapi cukup jelas bagi lelaki itu. “Lihat ini. Jejaknya berbeda…”

Kael mencondongkan tubuh, mengamati. “Hmm… menarik. Ini bukan jejak hewan biasa. Bisa jadi ini… manusia, tapi dengan langkah tertentu. Perhatikan, Arvella, setiap detail bisa menjadi kunci untuk memahami apa yang tersembunyi.”

Mereka melanjutkan perjalanan, menemukan simbol demi simbol, hingga akhirnya tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan. Di sana, seorang perempuan pirang dari kelompok itu sudah menunggu, menatap mereka dengan mata tajam. “Bagus, kalian sampai di sini,” katanya. “Tapi latihan sesungguhnya baru dimulai.”

Arvella mengerutkan kening. “Latihan sesungguhnya?” tanyanya, menatap sekeliling.

Perempuan itu mengangguk. “Ya. Sekarang, kalian akan dihadapkan pada keputusan sulit. Di sini, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Hanya ada konsekuensi. Kamu harus memilih satu jalan dari dua jalur, dan masing-masing jalur membawa risiko berbeda. Salah satu jalur penuh jebakan alami, jalur lain mungkin aman secara fisik, tapi ada hal lain yang harus dihadapi—ketakutanmu sendiri.”

Arvella menarik napas panjang. Ia menatap jalur pertama, akar menonjol, tanah curam, dan kabut yang membuatnya hampir tak terlihat. Jalur kedua tampak lebih ramah, namun ada rasa tak nyaman yang sulit dijelaskan. Intuisi mengatakan sesuatu yang aneh.

Ia menutup mata sejenak, merasakan detak jantungnya. Masa lalunya muncul: malam-malam penuh teror bersama Rivan, rumah yang hancur, rasa sakit yang membekas di tubuh dan hati. Semua itu menuntunnya pada satu kesadaran: ketakutan tidak boleh mengendalikan dirinya. Dengan napas mantap, ia memilih jalur kedua.

Langkah demi langkah, Arvella berjalan dengan hati-hati. Jalur itu ternyata lebih sulit dari perkiraannya, tapi tantangan berbeda—bayangan pohon, suara gemerisik, dan ketegangan psikologis. Ia harus menghadapi ketakutannya sendiri, bayangan masa lalu yang muncul dalam bentuk halusinasi samar: suara Rivan, jeritan yang menakutkan, bayangan rumah mewah yang hancur.

Arvella menutup mata sejenak, memusatkan pikiran. Ia mengingat latihan Kael, tentang mengontrol diri, membaca situasi, dan tetap fokus. “Aku bisa,” gumamnya pelan. “Aku tidak lagi korban.”

Saat ia melangkah lebih jauh, sesuatu menarik perhatiannya: sebuah ukiran tua di batu besar, berbeda dari simbol sebelumnya. Arvella mendekat, meraba permukaannya. Ada sesuatu yang familiar—sebuah lambang yang samar, seperti sesuatu yang pernah ia lihat saat kecil. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyentuh lambang itu, dan bayangan masa lalunya seolah terangkat sejenak.

Kael mendekat, menatap ekspresinya. “Arvella… apa itu?”

Arvella menelan ludah. “Aku… aku merasa pernah melihat ini… lama sekali… waktu aku masih kecil. Di rumah… tapi aku tidak ingat persisnya.” Suaranya bergetar, campur takut dan penasaran. “Ini… mungkin ada hubungannya dengan keluargaku…”

Dari kejauhan, Darian menatapnya dengan serius. “Bagus. Itu yang kami maksud dengan ujian sejati. Tidak hanya fisik, tapi juga menguji ketahanan mental dan emosional. Kamu baru saja menyentuh bagian pertama dari rahasia masa lalumu. Tapi ini baru awal, Arvella.”

Arvella menatap lambang itu, dan untuk pertama kalinya, rasa takut bercampur dengan rasa penasaran yang luar biasa. Ia tahu, lambang ini bukan sekadar simbol; ada kebenaran yang tersembunyi di baliknya, rahasia yang mungkin akan mengubah pandangannya tentang keluarga, masa kecil, dan alasan mengapa ia selamat dari tragedi yang menimpa orang tuanya.

Malam itu, Arvella duduk di dekat api unggun, menatap nyala api yang menari-nari. Ia mencoba mencerna semua yang terjadi hari ini. Latihan yang melelahkan, keputusan sulit yang harus diambil, dan simbol misterius yang memicu ingatan lama. Semua itu membuatnya sadar: perjalanan ini lebih dari sekadar pelatihan bertahan hidup. Ini adalah awal dari pencarian jawaban atas misteri kehidupannya.

Kael duduk di sampingnya, matanya menatap api. “Kamu berkembang dengan cepat,” katanya pelan. “Aku melihat bukan hanya fisikmu yang berubah, tapi juga mentalmu. Dan… ada sesuatu dalam dirimu yang berbeda dari semua orang di sini. Sesuatu yang membuatmu bisa bertahan menghadapi masa lalu dan siap menghadapi masa depan.”

Arvella menatap Kael, jantungnya berdegup cepat. “Aku… aku ingin tahu tentang keluargaku. Tentang apa yang terjadi padaku dulu. Aku ingin tahu siapa yang membuat semua ini terjadi.” Suaranya lembut tapi tegas. “Aku tidak akan berhenti sampai aku tahu.”

Kael menunduk sejenak, lalu menepuk bahunya. “Itu semangat yang tepat. Tapi ingat, jawaban yang kamu cari tidak selalu mudah ditemukan. Banyak rahasia yang tersembunyi lebih dalam dari yang bisa kamu bayangkan. Dan beberapa di antaranya… berbahaya.”

Arvella menatap api, matanya berkilat dengan tekad. Bahaya atau tidak, ia tahu satu hal: ia tidak lagi takut pada masa lalunya. Ia tidak lagi menjadi korban. Ia akan menghadapi apa pun yang menantinya, dan suatu hari nanti, rahasia keluarganya akan terungkap.

Hutan belantara, dengan kabut dan bayangannya, kini menjadi saksi transformasi Arvella. Dari perempuan yang ketakutan dan terluka, ia perlahan menjadi sosok yang tangguh, cerdas, dan penuh tekad. Bersama Bayangan Hutan dan Kael, ia memulai perjalanan panjang menuju kebenaran, kekuatan, dan balas dendam yang kelak akan menuntut semua yang telah menghancurkan keluarganya.

Di malam yang sunyi, Arvella menutup mata, merasakan udara segar di paru-parunya, dan berbisik pada dirinya sendiri: “Aku akan menemukan jawaban… dan aku akan membuat semua yang bersalah membayar. Tidak ada yang bisa menghentikanku lagi.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kisah Cinta di Batukarut
8.6
Lihar dipercaya memimpin perusahaan pasir di Batukarut menggantikan Pak Ajat yang menyimpan dendam. Meski dibantu Dadun dan Om Joni, tantangan berat muncul dari kecurangan pekerja hingga teror gaib garam misterius yang memicu kecelakaan beruntun. Di tengah kemelut bisnis, hubungan asmara Lihar dengan Yeti terancam oleh kehadiran Erom hingga memicu keributan warga. Meski teguh menghadapi sabotase mistis, Lihar harus tegar saat kariernya stabil namun kisah cintanya justru hancur.
Sampul Novel Occidens
9.7
Tumbuh dalam kebencian akibat keserakahan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran harus memikul kutukan berat. Namun, kehadiran Selena, si gadis pencari kayu yang ceria, mulai meluluhkan hatinya yang beku. Saat cinta mulai bersemi, takdir kejam menghalangi. Edgar terpilih menjadi pemimpin kaum immortal dan penguasa klan demon. Sebagai raja, ia dilarang memiliki pendamping atau ratu. Mampukah cinta mereka bertahan melawan hukum dunia immortal yang mutlak?
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Ela, karyawan swasta, menikmati liburan 12 hari di Luzern dan bertemu Ali, pengusaha properti asal Libanon. Kedekatan mereka memicu skandal saat paparazzi menuduh Ela sebagai orang ketiga dalam hubungan Ali dengan artis Nihan. Di luar dugaan, Ali justru mengakui Ela sebagai kekasihnya saat konferensi pers. Meski Ela ragu karena perbedaan negara, Ali membuktikan keseriusannya dengan menyusul ke Jakarta demi memperjuangkan cinta mereka berdua.
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun menjadi pendamping Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur seketika saat aku merasakan pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, mengungkap perselingkuhan keji mereka. Kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku akibat ikatan yang tercemar, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.
Sampul Novel Perangkap Cinta Mafia Queen
8.8
Christina Morgan, putri mafia terkuat di Eropa, kabur ke Korea Selatan demi hidup baru dengan identitas palsu sebagai Kim Ara. Namun, himpitan ekonomi memaksanya kembali ke dunia kriminal. Ia menerima misi berbayar mahal untuk membunuh CEO muda, Lee Joon Woo. Menyamar jadi sekretaris, rencana Christina goyah saat Joon Woo tulus mencintainya hingga mempertaruhkan nyawa. Akankah cinta sang CEO meluluhkan hati dingin sang pembunuh sebelum misinya tuntas?
Sampul Novel SANG ALPHA : Tak Tersentuh
9.8
Jordan Smith Watanabe, seorang pria religius yang teguh pada imannya, harus mendekam di penjara terpencil selama enam tahun akibat fitnah keji. Setelah bebas, ia terjepit dalam situasi sulit yang mengancam nyawanya. Terpaksa demi bertahan hidup, Jordan mengikuti arahan penyelamatnya untuk terjun ke dunia mafia yang brutal. Mampukah sosok pemeluk agama yang taat ini menavigasi kekejaman organisasi kriminal yang sangat bertentangan dengan prinsip sucinya?