
Janda Rasa Melon
Bab 3
Malam semakin sunyi. Detik jam berdetak pelan, sementara pikiran Ryan mengulang suara Andri dan Dayat: godaan, tawa, dan bisikan tentang gairah istrinya. Ia menatap ponsel Vina—kosong tanpa notifikasi—namun bayangan istrinya tertawa saat dibonceng lelaki lain, tak juga pergi.
Lampu dimatikan, hanya remang dari jendela. Mereka berdua berbaring seolah tertidur pulas, tapi di dalam dada masing‑masing masih bergolak: Ryan dibelit curiga dan malu; sementara Vina bertanya-tanya dalam hati, apakah keramahnya disalah-pahami oleh para lelaki kampung ini?
Lima tahun sudah Ryan dan Vina menikah. Hidup mereka tenang, meski belum juga dikaruniai anak. Di luar, gosip tetap beredar, katanya salah satu dari mereka mandul, atau Ryan tak mampu memuaskan istrinya. Padahal baru setahun mereka tinggal di kampung.
Ryan dan Vina tak pernah ambil pusing. Tak merasa perlu menjelaskan pada orang-orang yang cuma melihat dari jauh. Ryan tahu siapa istri dan dirinya, dan Vina pun tahu siapa suaminya. Mereka saling menerima, bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi tak semua hal mesti diceritakan pada semua orang.
Ryan berusia 30 tahun, sedangkan Vina lima tahun lebih tua. Tapi siapa pun akan mengira Vina masih berusia awal dua puluhan, tampak muda dengan kulit bersih, gaya anggun, dan tutur kata lembut. Ia memang perempuan kota, dan kesan itu belum hilang. Tak heran kadang orang mengira kalau usia Ryan justru yang lebih tua.
Mereka bertemu di kota, saat Ryan masih kerja serabutan dan mencari arah hidup. Vina hadir seperti bayangan indah yang sulit digapai. Vina nyaris tak pernah cerita masa lalunya, dan Ryan pun tak pernah memaksa.
Kini sudah setahun mereka tinggal di kampung yang relatif ramai dan dinamis. Menempati rumah warisan ayah Ryan. Pak Abdullah kini tinggal bersama istrinya dekat dengan anak perempuannya di Karawang. Dulu Pak Abdullah, Kades di desa ini, tokoh yang sangat dihormati, jadi kembalinya Ryan ke kampung ini, disambut dengan hangat oleh semua warga.
Sejak sebelum menikah, Ryan tahu, banyak lelaki yang memandangi Vina dengan cara yang tak pantas, baahkan ketika mereka masih tinggal di kota. Tapi Ryan percaya, istrinya tahu batas, tahu diri, dan selalu menjaga sikap dalam kesetiaan tanpa batas.
Ekonomi, mereka cukup mapan. Ryan mengurus sawah dan kebun warisan yang cukup luas dan subur, sementara Vina punya kerjaan pelayan toko mainan Bude Ana. Mereka malah sering diminta bantuan oleh tetangga yang kesulitan uang. Sesekali mereka pun masih mendapatkan bantuan tunai dari orang tuanya.
Ketika ada acara hajatan, Vina selalu diandalkan menyambut tamu, bantu prasmanan, atau apapun yang ngebikin suasana hajat jadi lebih hidup dan berwarna, walau godaan justru semakin hebat. Semua dilakukan dengan senang hati, tanpa mematok bayaran. Dan Ryan pun sangat mendukungnya. Bagi mereka, itu merupakan bentuk pengabdian pada tetangga.
Semua orang sepakat, jika dilihat dari permukaan, ada satu hal yang mencolok dari pasangan itu: Vina terlalu cantik untuk ukuran perempuan kampung, sementara Ryan terlalu sederhana untuk mendampinginya. Tidak sampai seperti film ‘Si cantik dan si buruk rupa’, tapi ketimpangan itu memang ada dan terlihat nyata.
Sering orang bertanya-tanya “Bagaimana bisa, Vina memilih pria seperti Ryan buat jadi suaminya?
Di antara tatapan heran dan bisik-bisik yang tak pernah sepenuhnya padam, mereka tetap berjalan berdampingan. Tak pernah membalas cemooh, tak juga membanggakan diri. Karena mereka tahu, perbedaan mencolok di mata dunia, tak pernah bisa menandingi kesesuaian yang hanya bisa dirasakan dalam diam.
Bahkan cukup banyak yang berharap Vina menjadi janda, termasuk Pak Kades dan Pak Camat.
Pagi datang menyapu pekarangan dengan cahaya yang lembut. Embun belum sepenuhnya menguap ketika aroma kopi dan sabun cuci mengambang di dapur rumah Ryan.
Hari itu Vina sengaja tidak berangkat kerja. Ia ingin rehat sejenak setelah seminggu penuh bekerja. Sambil mencuci piring bekas sarapan, ia sesekali menoleh ke arah halaman, tempat matahari menari di atas daun jambu yang rimbun, sekaligus jalan setapak tempat beberapa tetangganya lalu lalang.
Setelah isi rumahnya rapih, Vina pun mulai menyapu halaman. Gerakannya pelan, menyusuri tiap sudut teras seperti ingin menyingkirkan kegelisahan yang menempel.
“Wah, Mbak Vina tumben libur ya. Rumahnya jadi makin kinclong gini,” sapa Bah Andi, petani singkong berusia senja namun masih gagah.
Vina menoleh, senyum sekilas. “Iya, Bah, mumpung bisa nyapu pagi-pagi.”
Bah Andi tertawa kecil, matanya sedikit terbelalak menatap paha mulus Vina di balik daster pendeknya yang sedikit tertiup angin.
“Jangan lupa, yang disapu bukan cuma halaman, hatinya juga ya, biar makin kinclong luar dalam.” Bah Andi tertawa kecil, Vina pun membalasnya.
Sudah biasa Vina menerima pujian samar macam itu—sejenis perhatian lelaki kampung yang bungkusnya candaan, isinya entah apa.
Tak lama, suara motor tua terdengar. Pak RW Kosim, melintas perlahan, sempat-sempatnya melongok ke arah Vina yang sedang menyapu.
“Waaah, Mbak Vina cocok buka jasa bersih-bersih hati nih. Kalau saya daftar, bisa gak?” serunya sambil tertawa sendiri.
Vina membalas dengan senyum sabar. Ia sudah sangat hafal gaya bapak-bapak kampung yang berani menggodanya, karena mereka tahu, kalau Vina ada di rumah, pasti sedang sendirian. Ryan bahkan dianggap terlalu rajin untuk ukuran petani, yang seolah ingin menghabiskan seluruh waktunya di sawah atau di kebun.
Lalu datang Pak Ilham, guru olahraga dari SDN 2, yang nyaris setiap hari lewat depan rumah Vina. “Mbak Vina nyiram bunga tiap pagi, ya?” tanyanya sambil memperlambat langkah.
“Iya, biar gak mudah loyo, Pak Guru,” jawab Vina sembari menyeka peluh di lehernya
“Pantesan punya saya selalu segar, mungkin karena selalu disiram tiap hari kali, ya, hahahah.” Pak Ilham membalas sambil tertawa. Tapi matanya tidak sedang melihat bunga, fokus pada daster mini yang dikenakan Vina. Vina pun hanya membalas candaan itu dengan tertawa pelan.
“Mbak Vina mau ikut ngerumpi di PAUD gak, kita main yuk...” Mbak Isah berteriak lantang diantara barisan ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya ke PAUD. Vina hanya melambaikan tangan sambil tersenyum dan berucap helo pada bocah-bocah imut.
Tak lama, datang Nurdin, pemuda kampung yang lumayan brengsek tapi suka nongkrong di pematang sawah, sambil mancing belut untuk dijual buat beli miras.
“Mbak Vina, suka belut gak?” tanyanya tiba-tiba.
Vina nyengir. “Kalau yang besar, panjang dan seger, suka banget dong. Kenapa emang, Din?”
“Saya sering dapet yang gede dan panjang. Nanti saya bawain deh, spesial buat Mbak Vina.”
“Hehehe… boleh tuh.!”
“Beneran ya, Mbak Vina sukanya yang gede dan panjang?” tanya Nurdin sambil nyengir geli. Vina hanya menutup mulut menahan geli, tak menjawab lebih jauh, tahu arah candaan itu kemana.
Tak bisa dipungkiri, Vina sangat menikmati momen-momen konyol nan sederhana seperti itu, Dia merasa selalu hidup. Bukan karena menggodanya. Tapi karena jadi pusat pusaran kecil di kampung yang tenang dan terasa damai itu.
“Hidup di kampung mah simple. Jangan aneh-aneh, pasti aman,’ batinnya.
Hari merambat siang, angin semilir dari arah kebun menelusup ke sela-sela jendela. Vina duduk berselonjor di lantai dapur setelah selesai merapikan seisi dapur dan halamannya. Dia membaca pesan dari grup Bude Ana yang selalu berisik seperti biasa.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Suaranya pelan tapi mantap. Vina menyeka tangan dengan lap dapur, lalu berjalan ke ruang tamu. Begitu daun pintu dibuka, wajahnya seketika berubah semringah.
“Bapak?” serunya pelan, tercekat tak percaya.
Di hadapannya berdiri lelaki paruh baya dengan kemeja lengan panjang yang rapi dimasukkan ke celana kain. Rambutnya yang memutih disisir rapi ke samping. Meski tak lagi muda, wibawa khas mantan kepala desa masih sangat terasa dari sorot matanya dan cara ia menjejak tanah.
“Eh, menantu bapak, sehat?” sapa Pak Abdullah hangat sambil tersenyum lebar.
“Alhamdulillah, Pak. Ayo masuk dulu. Mas Ryan tadi subuh udah ke sawah, katanya ada saluran air yang jebol.”
Pak Abdullah tertawa pelan. “Ya, ya. Bapak juga enggak niat ganggu. Tadi sekalian mampir aja. Ini Bapak bawain ketan duren sama ikan asin buatan ibu.”
Vina menerima plastik oleh-oleh berisi makanan khas ala ibu mertuanya dengan wajah berseri sumringah. Mereka pun duduk di ruang tamu yang sederhana, tapi selalu tertata rapi berkat tangan Vina yang telaten.
“Bapak makin seger aja, masih rajin olahraga ya?” tanya Vina dengan wajah yang kian berbinar.
“Wajib itu, biar tetap perkasa, jangan sampai kaya ibumu yang makin lama makin renta, hehehe.”
“Iya, ibu kan emang dari dulu kesehatannya kurang fit ya.”
“Ya, makanya Vina harus rajin olahraga dan jaga kesehtan, mungpung masih muda.”
“Iya Pak, pasti itu. Sebenarnya sih di toko juga kan olah raga tiap hari, Pak.”
“Tapi harus diimbangi dengan olahraga khusus yang teratur, mungkin senam atau lagi pagi. Kaya Bapak ini.”
“Kalau senam harus bayar, sayang uangnya.”
“Ah, sayang apa, buat kesehatan jangan sayang-sayang. Nanti Bapak kirim uangnya, terus daptar ya di sanggar senam yang bagus. Biar bulanannya juga tanggung jawab Bapak.”
Obrolan mertua dan menantu itu pun mengalir hangat dan akrab. Mereka membahas cuaca, hasil panen, dan kabar sanak saudara juga par tetangga. Vina menyuguhkan teh panas dan pisang goreng, sementara Pak Abdullah mengelus kumis dsn janggut pendekanya yang mulai memutih, namun terawat dengan sangat baik. Sesekali mengangguk-angguk pelan.
Dari percakapan itu, Vina baru tahu bahwa ibu mertuanya sehat walafiat walau kadang rentan mudah terkena penyakit menahun. Pak Abdullah sebenarnya sedang menginap beberapa hari di rumah anak sulungnya, Ridwan, di kampung seberang. Rupanya Ridwan berniat menjual sawah warisan di daerah sana karena sudah lelah mengurus lahan yang jauh dari rumah.
“Ya, mungkin Bapak setuju juga. Lagian Mas Ridwan udah sepakat. Kalau memang berat ngerawatnya, ya dijual aja. Tapi masih pikir-pikir, karena sawah itu kan peninggalan almarhum kakekmu,” ujar Pak Abdullah sambil menyesap teh.
Vina mengangguk pelan, mencoba memahami. “Kalau sawah di sini, yang Mas Ryan garap, gimana, Pak? Masih aman?”
Pak Abdullah tersenyum. “Aman. Malah Bapak bangga, dia bisa jaga sawah sendiri. Bukan cuma kerja keras, tapi juga enggak neko-neko. Dan kamu, Vin… terima kasih, ya. Sudah nemenin dia. Rumah ini adem. Bapak selalu senang kalau mampir ke sini.”
Vina tersipu, menunduk sebentar, lalu tertawa kecil. “Saya juga bersyukur, Pak. Mas Ryan orangnya baik dan sabar.”
“Syukurlah, bapak senang ngedernya, Vin.”
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





