
Janda Dua Anak Untuk Arjuna
Bab 2
Samuel Tirtha pria 41 tahun berwajah tampan putra konglomerat itu menampakkan raut putus asa, menggeleng kecil sebelum membuang asap rokoknya. Saat ini ia sedang bertemu dengan Fredi , salah satu sahabat baiknya yang bekerja di bank sebelah dan kebetulan baru seminggu dimutasi ke Surabaya sebagai Area Manager. Mereka berdua sedang duduk di smoking area kedai kopi yang berada di salah satu mall.
"Sam, mau sampe kapan lo nungguin Lidya jadi janda? Sepuluh tahun Bro, sampe anak gue mau tiga!" Fredi
mengacungkan ketiga jemarinya dengan senyuman tertahan sebelum menggulung ujung kemeja slim fit-nya hingga mendekati siku.
"Apa lo nunggu anak gue empat?" Fredi lalu memantik api dan membuang asap rokoknya. "Bucin boleh, bulol jangan....." Ujar Fredi pada sahabat nya itu.
"Gue tahu gue bego...." Jawab Samuel kembali menggeleng kecil. Sebelah tangannya yang bebas memangku kening. "Tapi cuma sama dia gue bisa ngerasa kayak gini. Pokoknya gue harus dapetin dia. Gue udah invest banyak waktu, uang, tenaga..... masa gue nggak dapetin dia? Gue udah effort abis-abisan. Gue sampe digosipin gay bertahun-tahun, gue terpaksa nggak peduli." Jawab Samuel menyesap frustasi rokoknya. Tentu saja ia tahu mengenai gosip itu.
"She's just playing games. Kalian pacaran putus, nyambung, putus, nyambung, putus lagi.... gitu terus. Sampai akhirnya dia nikah sama pengusaha batubara. Mau sampe kapan lo putus nyambung kek gini?" Ujar Fredi mencoba mengerutkan sahabatnya itu.
"Lo tahu gimana perjuangan gue sama dia..." Jawab Samuel.
"Perjuangan apa? Jadi selingkuhan istri orang?" Ledek Fredi sambil tersenyum menatap wajah Samuel.
"Ck." Samuel mendecih kecil. "Harus gue bilang berapa kali, waktu itu kita cuma temenan deket...."
"Waktu itu dia udah punya pacar," tukas Fredi. "Selama setahun lo rela nunggu dia putus sama pacarnya. Mau lo bilang bukan selingkuhan dia, tapi kalian deket waktu dia belum putus...."
Samuel membuang napas kasar.
"Terus itu namanya apa kalo bukan selingkuhan?" Fredi sengaja memasang raut sangsi.
"Ya karena emang gue bukan selingkuhan. Kita nggak ngapa-ngapain kok cuma temen curhat," kilah Samuel sambil membuang abu rokoknya pada asbak.
Fredi tersenyum kecil sambil mengernyitkan dahi. "Tapi kayaknya lo udah tahu sifat Si Lidya itu. Lo bisa terima dia punya banyak temen cowok. I mean.... lo bisa santai gitu dengan track record dia? Kalo gue sih, nggak terima ya cewek gue deket sama cowok lain, selain gue." Ujar Fredi mengemukakan keberatan nya.
"Lidya itu emang friendly...." Bela Samuel kekeh dengan pembelaannya.
"Lo nggak usah ngebela dia. Iya gue tahu dia friendly, temen cowok dia banyak. Yakin dia cuma friendly? Se-friendly itu sampe.... nggak ada batasan? Kalo gue nggak mau sih cewek gue akrab sama cowok lain. Gue seposesif itu demi harga diri gue sendiri. Tapi kalo gue anggep itu cewek just for fun, oke lah, serah dia mau mepet cowok lain. Tapi kalo gue serius, ogah! Kalo gue. Apalagi sekarang dia statusnya bini orang. Lo mau dibilang pembinor"
Samuel menyesap frustasi rokoknya.
"Dulu lo rela nunggu dia putus sama pacarnya, sampe setahun. Lo selalu available buat dia. Tiap dia ribut sama pacarnya, dia lari ke lo. Lo bilang, dia nggak bahagia sama pacarnya dan lo jadi tempat ternyaman buat curhat bla bla bla. Akhirnya dia beneran putus dan jadian sama lo. Selama ini lo dalem sama dia, tapi nyatanya nggak cukup bikin dia yakin nikah sama lo. Kenapa nggak lo jadiin baby aja tiap kalian ketemu?dan sekarang dia bilang ga nyaman sama suaminya dan Lo balik jadi tempat dia curhat. Curhat kok dihotel..?" Cengiran nakal Fredi mengembang. "Dari pada lo digantung lebih lama lagi? Lo udah habis banyak waktu, uang, tenaga, pikiran buat dia. Toh kalian juga udah kayak begitu kan? Jadi kalian ini sekarang apa? Mantan with benefit? Nggak ada hubungan tapi kayak orang pacaran, mana lo setia nunggu dia." Tukas Fredi.
"Ya mana bisa gue begitu?" Samuel menatap protes. "Dia yang punya rahim, dia yang mutusin mau hamil apa nggak... Dan dia masih bini orang"
"Terus?"
"Ya udah...."
"Ya udah gitu aja?"
"Ya gue bisa apa? Gue udah berkali-kali ajak dia nikah tapi dia masih belum mau cerai,dan sekarang suaminya yang mau nyerein dia." Jawab Samuel.
"Ya dia nggak mau, soalnya dia masih pingin nguasaian harta suaminya! Sam come on, wake up!" Fredi menatap gemas. "Gue nggak tahu apa yang dia cari. I mean, umur dia juga udah 36."
"Ya dia emang, liberal gitu. Dia nganggap pernikahan itu ngerugiin cewek. Dia nggak pingin punya anak, cuma pingin hidup buat diri dia sendiri. Cowok itu buat dia cuma....."
"....... temen uhu uhu?" tukas Fredi santai sebelum membuang asap rokoknya. "Apa yang lo tunggu dari cewek yang pola pikirnya kayak gitu? Dia kayaknya nggak bakalan berubah pikiran mau nikah sama lo. Kalian udah jelas beda tujuan. Apa ntar lalu nih kalau kalian nikah, dan dia ga mau punya anak, Lo masih mau...?"
Fredi terpekur menatap meja. Sebenarnya, sampai detik ini ia masih berharap bisa merubah pandangan Lidya terhadap pernikahan itu harus mempunyai keturunan.
"Apalagi dia sekarang lagi deket sama cowok lain juga kan? Pengusaha Tionghoa yang kata lo koko itu punya pabrik? Sam, lo yakin mau saingan sama koko koko punya pabrik? Apalagi kata lo tuh koko bawaannya Mercy. Itu yang hari-hari, who knows di garasinya ada Lambo or Ferari. Pabrik lho Sam. Udah jelas jauh lebih tajir dia daripada suaminya sekarang,Lo nggak capek saingan terus? Jangan jangan Lo nanti bakal muncul bawa bawa bahwa Lo pewaris Tirtha Group...? Selama ini si Lidya belum tau kalau Lo anak konglomerat kan...?"
"Gue udah singkirin lawyer, jaksa, pegawai pajak, bankir juga, dokter bedah, owner club dugem, apalagi.... Gua yakin kok Lisdya bukan money oriented, jadi ga perlu gua nunjukin identitas gue." Jawab Samuel mengabsen satu demi satu laki-laki yang pernah ia kalahkan. Apa ada yang terlewat?
"Yang koko owner club dugem itu nggak lo kalahin. Si Lidya gagal sama tuh koko, soalnya si koko milih married sama cewek lain pilihan keluarganya yang mengharuskan si Koko nikah sama orang Thionghoa juga. Akhirnya Lidya balik kucing ke lo. Yang dokter bedah juga nikah sama sesama dokter." Fredi mengangkat kedua alisnya saat mengingatkan Samuel yang sesumbar dan berlagak amnesia.
"Gue curiga Lidya ini cindo hunter, tapi yang tajir. Lo bukan cindo, lo cuma cindang... " Ujar Fredi yang membuat bengong Samuel
"Cindang?" Samuel menatap heran.
"Cinta cadangan." Jawab Fredi menampakkan cengiran tanpa dosa.
"Ck!" Samuel kembali menatap meja dengan muram sambil memangku sebelah pipi seperti orang sakit gigi.
"Ya gue tahu, Lydia menurut lo cakep banget. Selera lo banget. Tapi, apa gunanya kalo lo cuma dimainin? Lo singkirin mereka semua tapi lo juga nggak dapetin dia. Sori, lo yakin kalo lo itu pemenang? Gimana kalo ternyata lo itu cuma ban serep? Atau coba tunjukkan kalau Lo seorang Tirta..?" Ujar Fredi.
Samuel menatap hampa wajah tega Fredi. Memang seperti inilah mulut Fredi yang sering kali kelewat pedas demi menyadarkannya.
"Sam , jangan saingan sama koko punya pabrik. Dah nyerah aja! Cari cewek lain. Lo ganteng, sukses, Man! Cewek kayak Lidya banyaaak! Satu lagi ..! Jangan rusak rumah tangga orang...!" Fredi menatap gemas pada Samuel.
"Lo tahu gue dalem banget sama dia," sahut Samuel lirih. Ia tahu Fredi tidak akan pernah berhenti menajamkan kembali logikanya yang sudah kelewat tumpul. Tapi hanya memang Lidya yang ia inginkan. Samuel tidak ingin mengganti pilihannya, hanya demi bersanding dengan perempuan yang tidak akan menyeret seluruh hatinya tanpa tersisa.
"Sammmmmmmm..." Fredi menatap malas sahabatnya sejak kuliah. Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga berada dengan latar belakang yang baik, membuat Samuel menjadi sangat pemilih dalam urusan tambatan hati, khususnya dari segi fisik. Apa daya, temannya yang kelewat pemilih itu terlanjur terpikat pada Lidya , yang sejauh ini di matanya hanya seorang player.
Anda Mungkin Juga Suka





