Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Istri Duda

Jadi Istri Duda

Tertekan oleh desakan ibunya untuk kencan buta, Juwita Anggari Hidayat nekat menikahi Jamal Antonio Ruhan, duda yang pernah menyelamatkannya. Kini ia harus beradaptasi menjadi istri sekaligus ibu tiri bagi remaja pendiam berusia lima belas tahun. Meski khawatir pekerjaannya di butik terganggu, Juwita justru menikmati peran barunya. Namun, rahasia masa lalu Jamal mulai terungkap. Mampukah Juwita bertahan saat mengetahui sisi lain dari keluarga kecil tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

Juwita terduduk di kursi depan salah satu ruangan VIP rumah sakit tempat Hellen bekerja. Di sampingnya ada adik tingkat sekaligus sahabatnya itu. Mereka sama-sama berdoa atas keselamatan orang yang baru saja dibawa masuk ke sana. Ya, tepat seperti apa yang sedang kalian pikirkan, pria penyelamat Juwita dilarikan ke rumah sakit ini. Hellen menemukannya tergeletak pingsan saat akan menyusulnya untuk menanyakan nomor teleponnya tadi.

Astaga, Juwita semakin merasa sangat bersalah dengan pria itu. Kenapa dia bodoh sekali hingga mengabaikan orang yang telah menolongnya dari pada pria berandal tadi. Kedua tangannya tergenggam gelisah. Bahkan dia masih menggunakan jas lelaki tersebut. Sungguh dia merasa menjadi orang yang tidak tahu terima kasih sekali sekarang. Belum lagi kata pria itu tadi dia harus pulang untuk menemui anaknya yang mungkin sudah menunggunya di rumah. Pikirannya mulai melanglang ke mana-mana. Hingga dia mengambil satu kesimpulan yang pasti. Dia harus melakukan yang terbaik untuk membalas kebaikan pria yang telah menyelamatkannya.

Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Rupanya pemeriksaan telah selesai.

"Bagaimana keadaan orang itu, Mas?" tanya Hellen cepat mewakili Juwita. Mas, Hellen memanggil dokter Ari demikian karena mereka sudah dekat sejak bangku sekolah. Juwita juga tahu hal tersebut.

"Kecapekan. Sepertinya dia juga kekurangan gizi. Aku curiga sesuatu, sih, Len." Ari tampak berpikir sejenak. "Dia juga ada demam, jadi perlu dirawat seenggaknya dua hari di sini."

"Ih, yang bener kalau kasih info." Hellen memukul pundak lelaki itu.

"Bentaran, elah. Enggak sabar banget."

"Kasihan Kak Juwita ini, loh, nungguin."

"Iya. Iya. Jadi ... tadi perutnya agak keras gitu di bagian kanan bawah. Perlu tindakan lanjutan, sih, biar tahu pasti. Omong-omong keluarganya orang itu mana? Enggak ada yang ngerawat, nih?"

"Aku bakalan rawat dia dan tanggung semua biaya pengobatannya. Jadi, tolong, ya, Dok. Lakukan yang terbaik buat kesembuhan orang itu." Juwita langsung menjawab tanpa ragu dan memohon dengan sungguh-sungguh. Nah, ini baru Juwita yang Hellen kenal.

"Emangnya Kak Juwita ini siapanya pria itu?" tanya Ari dengan santai. Sepertinya dia tidak peduli dengan pakaian lusuh pria itu dan penampilan Juwita yang jauh dari kata baik-baik saja.

"Kak Ju habis ditolong sama orang itu tadi. Lihat, kan, wajahnya babak belur gitu." Hellen juga tidak habis pikir dengan temannya tersebut.

"Ah, makanya. Tapi tenang aja, Kak. Suster sedang mengobati luka dia kok."

"Iya kali, enggak." Geregetan juga Hellen kalau begini. Dia ingin mencubit ginjal pria di depannya ini.

Sedangkan Juwita, dia tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Bagaimana dia harus menghubungi kepada keluarga lelaki itu. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada anak pria itu. Bagaimana dia harus berbuat baik dan memenuhi semua kebutuhan keluarga pria tersebut selama dirawat di rumah sakit.

"Boleh masuk enggak?" tanya Juwita menyela percakapan yang lebih bisa disebut dengan 'percekcokan' antara Ari dan Hellen. Dia ingin melihat kondisi pria yang telah berjasa bagi kehormatannya itu.

"Iya, silakan. Bebas, kok. Enggak apa-apa." Ari merentangkan tangannya ke pintu cokelat itu.

Juwita pun permisi dan segera memasuki ruangan tersebut.

Di atas tempat tidur, pria tersebut terbaring dan masih belum sadarkan diri. Dengan memberanikan diri, Juwita mendekati pria itu dan duduk di kursi yang tersedia di tepi ranjang. Netranya menatap lekat wajah pria asing yang penuh lebam itu. Namanya Jamal. Dia mengetahuinya saat di kantor polisi tadi dan kembali membaca nama itu di papan nama pasien. Nama yang pantas dengan paras dan wajah tampannya meski sekarang wajah tersebut lebam dan sebagian ditutup dengan perban.

Terdengar suara ponsel berbunyi. Itu bukan dari milik Juwita. Dia langsung menoleh ke arah nakas seberang dan mendapati ada benda pipih canggih yang tergeletak di sana. Dia pun segera bangkit dan menghampirinya. Tertera nama penelepon di sana, Jevano Anak.

"Halo." Juwita mengawali percakapan. Tak ada jawaban dari seberang. Dadanya berdetak kencang. Terpikirkan tentang bagaimana keadaan anak pria tersebut yang menunggu ayahnya pulang. Dia pun mengulangi sapaannya lagi dengan nada yang sama lembutnya dengan yang pertama.

"Halo. Maaf, Anda siapa? Bisakah saya berbicara dengan Ayah saya?" tanya penelepon bernama Jevano itu.

Sopan. Juwita tersenyum di tengah suasana hatinya yang bercampur aduk. "Maaf, sebelumnya. Perkenalkan nama saya Juwita. Ayah kamu sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Kalau kamu mau ke sini, saya akan mendiktekan tempat rawatnya atau saya akan tunggu kamu di lobi."

"Ayah saya kenapa?" Suaranya terdengar tidak setenang tadi.

"Nanti saja saya akan menceritakan detailnya. Tolong kabari ibu kamu juga, ya. Ada yang perlu saya bicarakan."

"Maaf, tapi saya tidak punya ibu."

Seketika itu Juwita membeku. Astaga dia telah membuat seorang anak piatu menunggu ayahnya pulang sampai selarut ini. Pikirannya ke mana-mana. Bagaimana keadaan anak itu? Apakah dia sudah makan malam? Apakah dia butuh ayahnya dalam keadaan mendesak?

Tanpa dia sadari, satu bulir air matanya menetes. Rasa bersalah menguar di seluruh tubuhnya.

"Kamu tenang dulu, ya." Juwita mengelap pipinya yang dibasahi oleh air mata. "Kalau kamu ingin mengetahui keadaan ayah kamu, kamu bisa ke rumah sakit sekarang." Dia sengaja menawari begitu. Dia yakin bahwa anak ini bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Dari suaranya saja sudah dapat diperkirakan bahwa dia sudah remaja. Juga dengan cara berbicaranya, terdengar tegas, menunjukkan bahwa dia anak yang pintar dan tanggap.

"Iya," jawabnya singkat.

Juwita pun mulai mendiktekan letak ruang rawat Jamal. Namun, dia dihentikan.

"Rumah sakit mana?"

Juwita pun menyebutkan rumah sakit tempatnya berada sekarang. "Kamu hati-hati, ya, kemari." Dia meremas ujung bajunya dengan tangan yang berkeringat. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo cepat.

"Iya. Saya tahu jalan ke sana."

"Kamu ke sini mau pakai apa?"

"Saya akan mengurusnya sendiri. Anda jangan khawatir."

Lalu sambungan telepon antara keduanya terputus setelah anak itu undur diri. Air mata Juwita kembali menetes saat melihat ke arah Jamal. Ternyata pria yang menyelamatkannya ini menanggung kewajiban tunggal atas keluarganya. Dia jadi membayangkan bagaimana perasaan anak pria ini yang bernama Jevano itu saat tahu ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Terlebih lagi, dia sudah tidak mempunyai ibu. Astaga, malang sekali.

Lagi-lagi air mata Juwita jatuh. Dia jadi merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi dengan pria ini. Bagaimana tidak, karena menolongnya pria ini malah terbaring di rumah sakit dan itu membuat anaknya khawatir.

"Maafkan saya, Pak Jamal." Juwita berkata lirih sambil menunduk dalam tangisan yang memenuhi kesunyian ruang rawat tersebut.

***

Hari ini adalah hari kedua Jamal di rawat di rumah sakit. Juwita hendak pergi untuk menjenguk pria itu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi dia harus ditahan oleh video call dari mamanya. Berkali-kali Juwita harus memilin keningnya dengan ibu jari dan telunjuk. Berkali-kali pula telinganya memanas karena omelan sang mama. Ada papanya di sebelah sang mama.

"Mama enggak peduli. Pokoknya kamu harus temui cowok pilihan Mama kali ini. Udah berapa kali Mama bilang, umur kamu udah enggak muda lagi, Juwita. Kamu enggak bisa juga hidup kayak gini terus," ucap Nyonya besar keluarga Anggari itu membuat anak semata wayangnya memutar bola mata.

"Gak ada yang cocok, Mama. Juwita juga punya standar. Lagian kalau aku nikah sekarang, pekerjaanku gimana? Siapa dulu yang pengin aku jadi designer brand terkenal? Enggak gampang, loh, Ma, dapetin semua itu." Juwita tidak hanya diam. Topik ini sungguh membuatnya amat jengah. Perjodohan, kencan buta, dan pernikahan. Seperti tidak ada topik lain saja yang bisa dibahas.

Lain dengan dua wanita yang sedang bersikukuh via layar itu. Sang kepala keluarga, Tuan Anggari, hanya bisa menggeleng pelan, mendengarkan dua wanita yang sangat dia cintai mulai bercek-cok lagi. Bukan sekali atau dua kali ini terjadi. Bahkan dia sudah hafal dengan akhir percakapan mereka berdua. Dia pun memilih diam dan menyesap tehnya di samping sang istri sambil sesekali melirik ke layar untuk melihat wajah anaknya dan menikmati suasana ini dengan santai.

"Mau nyalahin Mama lagi?" Nyonya Anggari melotot nyalang. Dia bukannya sedang melampiaskan amarah. Hanya saja anaknya ini terus menentang. Dia jadi kehilangan kesabaran kalau begini.

"Enggak, Mama. Cuma, please, deh, Mama juga harus ngerti aku. Aku banyak kerjaan, Mama. Kalau sampai terbengkalai, bagaimana para klienku?"

"Ya, ampun, Juwita. Apa susahnya, sih, nurut sama Mama dan temui calon kamu?" Nyonya Anggari sungguh tak habis pikir dengan anak perempuannya itu.

"Mama juga udah tahu segalanya tentang dia? Ma, yang terakhir kali itu kelihatan banget kalau posesif. Aku gak mau. Masa mau ke kamar mandi aja dikintili."

Tuan Anggari menahan tawanya. Pundaknya dipukul dengan tidak suka oleh sang istri.

"Kok kamu ketawa, sih, Mas?"

"Itu bukan posesif lagi, Juwita. Mungkin dia dulunya stalker."

Juwita tertawa dan mengacungkan telunjuk dan ibu jarinya yang dibentuk seperti orang menembak kepada sang papa. Papanya memang tidak mengecewakan. "Ya, kan, Pa? Gak suka aku, tuh, sama pilihan Mama. Mama lihatnya cuma dari luar doang. Enggak tahu mereka gimana. Aku yang hadepin mereka cuma makan malam aja udah ogah ketemu lagi."

Nyonya Anggari menatap tajam Juwita. Masih untung hanya lewat layar. "Makanya kamu temui pilihan Mama yang satu ini biar tahu orangnya gimana."

"Ya ampun, Ma. Aku capek harus kencan buta terus sama orang yang bahkan enggak aku kenal."

"Ya, kalau kamu kenal namanya itu bukan kencan buta, sayang." Tuan Anggari memang berkepribadian santai. Ya, seperti yang kalian lihat, bahkan di situasi yang hampir memicu perang seperti ini pun beliau masih bisa berkelakar.

"Aku enggak mau kencan buta lagi, Papa." Juwita merajuk. "Ya ampun, kita ini hidup di jaman modern, loh. Masih aja, ya, keluarga kita butuh yang kayak ginian?"

"Papa kamu juga enggak selamanya bisa menanggung pekerjaan berat di kantor, Juwita. Kamu gak kasihan sama Papa?" Nyonya Anggari masih memperjuangkan pendiriannya.

"Ya udah lepas aja. Ada bawahan Papa yang bisa mengatasi semuanya. Selesai, 'kan?" Wanita dua puluh tujuh tahun itu menyandarkan punggung di kursinya. Kedua tangannya bersedekap.

"Aduh, Pa. Pusing aku sama anak kamu ini." Kini, giliran wanita paruh baya itu yang memilin kening. Dia terlihat lelah berbicara dengan anak semata wayangnya itu.

"Biarin aja, kali, Ma. Lagi pula itu yang dimau Juwita." Tuan Anggari mengedipkan satu matanya ke arah sang anak dan langsung dibalas dengan love sign ibu jari dan telunjuk.

"Ini lagi. Oke, deh. Kalau kamu enggak mau Mama suruh kencan buta, kamu bawa cowok ke hadapan Mama Papa. Kenalin cowok pilihan kamu kepada kami."

Juwita menghela napas lemas dan putus asa. Capek sekali dia. Dia kira percakapan mereka akan berakhir. Dia diam sejenak. "Mama, aku harus bilang berapa kali, sih? Aku enggak mau nikah. Aku bahkan gak tertarik sama sekali, Ma, buat nikah. Aku enggak ada waktu, Ma."

"Astaga, Ya Tuhan. Bukannya enggak ada waktu. Kamu enggak meluangkan waktu aja." Nyonya Anggari sudah tidak sabar. Anaknya ini sangat keras kepala sekali. "Ingat umur, Juwita. Papa juga harus punya penerus bukan hanya seorang pengganti. Perusahaan ini dipercayakan ke keluarga kita. Kamu enggak ingat gimana Papa kamu berusaha mempertahankan perusahaan rintisan mendiang Kakek kamu agar gak jatuh di tangan yang salah? Ini bukan sekedar karena harta tapi juga amanah."

Juwita diam. Memori di kepalanya berputar sangat cepat. Dia sangat ingat bagaimana papanya terluka karena serangan para saingan bisnis yang bahkan beberapanya adalah kerabat sendiri. Ya, dengan cara yang kotor tentu saja. Jangan ingatkan dirinya lagi tentang masalah itu. Itu membuatnya tidak bisa menahan air mata untuk tidak menggenang saat ini.

"Sudah. Sudah. Kita bicarakan tentang ini lain kali." Tuan Anggari menengahi. "Papa juga seneng, Sayang, kalau kamu segera menikah. Papa sama Mama juga pengin punya cucu dari kamu. Umur Papa sama Mama juga enggak ada yang tahu ujungnya sampai mana. Kalau kamu enggak mau sama pilihan Mama, ya, berusahalah untuk melihat sekeliling kamu. Coba buka hati kamu dikit aja. Jangan menutup diri. Pasti ada seseorang yang bisa buat kamu berpikir ulang tentang pernikahan."

Mata Juwita sudah mengeluarkan airnya sekarang. Kalau papanya sudah mengeluarkan suara, dia tidak bisa menentang. Dia tidak bisa beradu argumen dengan pria yang selalu membelanya itu. Pria yang memperjuangkan semua untuk dirinya.

"Oke. Malam ini kita sudahi sampai sini dulu. Kamu masih ada kesibukan, 'kan?"

Juwita mengangguk kecil.

"Ya, udah. Papa Mama pamit terlebih dahulu. Ada urusan yang harus kami selesaikan juga. Ini tadi Mama kamu beneran nyempetin waktu buat bicara sama kamu. Dadah, sayangnya Papa." Pria itu melambaikan tangannya ke layar.

Sambungan itu terputus, meninggalkan dirinya sendirian diruang istirahatnya. Pikirannya jadi buntu sekarang karena perkataan papanya barusan. Lalu sekarang dia harus bagaimana?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant Husband
8.4
Demi menyelamatkan aset berharga peninggalan sang ibu dari kebangkrutan total akibat utang miliaran, Alexa terpaksa menghadapi tawaran gila Damian. Pria arogan yang membenci wanita itu menuntut seorang anak sebagai syarat bantuan finansialnya. Meskipun saling membenci, Damian tidak bisa menepis obsesi gelapnya pada Alexa. Kini, Alexa yang keras kepala harus terjebak dalam dinamika panas bersama pria temperamental tersebut. Akankah hubungan penuh paksaan ini berakhir sesuai rencana?
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel Madu(Memilih Terluka Untuk Bahagia)
9.0
Hidup Ara hancur saat Revan menjatuhkan talak akibat fitnah kejam. Revan menuduh Ara mencoba membunuh Mayang yang sedang hamil hingga pendarahan, meski Ara tak tahu asal obat di kamarnya. Revan yang murka lebih memilih menceraikan Ara dan mengancam melaporkannya ke polisi. Di balik kebencian Revan, ada misteri besar tentang siapa dalang sebenarnya di balik keguguran Mayang. Akankah kebenaran terungkap saat pengorbanan Ara justru dibalas penghinaan?
Sampul Novel Menikah dengannya
8.8
Hasna memulai harinya pukul lima pagi untuk beribadah dan membantu ibunya di dapur. Di tengah perjuangannya yang belum membuahkan hasil dalam mencari pekerjaan baru, ia tetap berusaha tegar meski berbagai penolakan telah ia lalui. Namun, suasana setelah sarapan mendadak berubah serius saat kedua orang tuanya mengajak bicara. Sebuah kejutan besar menanti Hasna ketika mereka mengungkapkan niat untuk menjodohkannya dengan pria pilihan keluarga tersebut.
Sampul Novel Pak Jihan Jangan Galau Lagi, Nona Wina Sudah Menikah
7.8
Lima tahun lamanya Wina Septa bertahan sebagai kekasih rahasia Jihan Lionel, berharap kelembutan sikapnya mampu meluluhkan hati pria miliarder tersebut. Namun, harapan itu pupus saat Jihan memutuskan untuk meninggalkannya. Tanpa keributan atau tuntutan materi, Wina memilih pergi secara baik-baik demi memulai lembaran baru. Kehidupan mereka yang tenang mendadak guncang saat Wina memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Jihan yang didera cemburu tiba-tiba kembali hadir, menahan Wina secara agresif dan menciumnya dengan penuh keputusasaan, meninggalkan Wina dalam kebingungan mendalam atas perasaan mantan kekasihnya itu.
Sampul Novel Pemuas Birahi Setengah Baya
9.5
Anisa terjebak dalam pusaran gairah yang tak terduga saat ia mengenal dunia para pria matang. Di balik usia mereka, tersimpan pengalaman dan maskulinitas liar yang membangkitkan sensasi baru bagi Anisa. Melalui setiap sentuhan dan godaan penuh misteri, ia menemukan sisi lain dari nafsu yang lebih mendalam. Terpesona oleh stamina dan daya pikat pria setengah baya, Anisa pun menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk menjadi pemuas birahi dalam hubungan yang panas ini.