Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku

Istriku Bukan Selingkuhanku

Sepuluh tahun menikah, hubungan asmara antara aku dan Mas Bram tetap membara layaknya pengantin baru. Sebagai atasan perusahaan yang sibuk mengontrol cabang luar kota, ia selalu lihai menyusun alasan demi menemui diriku tanpa sepengetahuan ibunya. Pagi ini, kemesraan itu kembali hadir lewat pelukan hangat dan kecupan di leher saat aku memasak. Sosoknya yang romantis sangat memahami cara memuaskan keinginanku hingga aku tak berdaya dalam dekapan gairahnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

*BRAM POV*

Keesokan harinya, aku lihat bunda telah siuman. Dan aku melihat kondisi bunda dari jendela yang ada di ruang tamu pasien. Karena saat ini aku berada di ruang tamu, yang ada di ruang perawatan bunda.

Untuk saat ini, aku belum berani untuk bertemu bunda. Aku tidak ingin bunda mengingat kejadian kemarin. Oleh karena itu aku tidak ingin mengganggu ketenangan bunda.

Hanya dina yang menunggu bunda di dalam kamar perawatannya. Dan saat ini, aku melihat dina sedang menyuapi bunda. Tetapi aku sama sekali tidak bisa mendengarkan pembicaraan diantara mereka.

Aku masih menunggu di ruang tamu, ketika seorang perawat memasuki ruang perawatan, untuk memberikan obat yang harus di minum oleh bunda. Setelah itu, aku lihat bunda meminum obat yan diberikan obat pada perawat tadi. Lalu Dina terlihat, berpamitan pada bunda dan meminta bunda untuk beristirahat.

Dina akhirnya keluar dari kamar bunda. Dan melihat aku yang sedang duduk di sebuah sofa panjang ruang tamu. Ia pun langsung duduk di sebelahku.

"Mas Bram sudah sarapan?" tanya Dina padaku.

Aku hanya menggelengkan kepala. Karena memang, pagi-pagi buta aku keluar dari rumah Ajeng untuk mengetahui kondisi bunda di Rumah Sakit ini. Jadi aku tidak sempat untuk membeli sarapan pagi.

Lalu Dina mengajak aku untuk mencari sarapan pagi di kantin Rumah Sakit. Kami menyusuri lorong-lorong panjang yang ada di Rumah Sakit ini, untuk sampai ke kantin. Sesampai di kantin, kami duduk berhadapan dan memesan sarapan pagi.

Beberapa menit kemudian, sarapan pagi yang kami pesan pun telah disajikan. Kami pun menikmati sarapan pagi ini, tanpa berkata sepatah kata pun. Selesai sarapan pagi, kami memutuskan untuk duduk di taman yang ada di Rumah Sakit untuk membicarakan kondisi bunda.

Kami sampai di taman, dan duduk disebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu jadi. Aku lihat sebuah taman yang rapi dengan bunga-bunga indah dan taman yang terawat.

Seketika aku jadi teringat akan Ajeng, kekasih jiwaku. Kemarin aku hanya memberitahu Ajeng, kalau bunda kembali sakit dan harus dirawat. Tetapi aku tidak bercerita penyebab dari sakitnya bunda. Karena, aku tidak ingin Ajeng merasa bersalah atas kejadian antara bunda dan aku.

Aku takut terjadi sesuatu dengan buah cinta kami, kalau ajeng tahu penyebabnya. Hal itu akan menyita pikiran Ajeng, dan aku tidak ingin Ajeng stress memikirkan hal ini. Yang aku tahu, orang dengan kehamilan semester pertama atau hamil muda, hatinya harus terus bahagia, tanpa terbebani atas hal-hal yang menyita pikirannya. Dan kebanyakan beberapa wanita yang hamil muda lebih sensitif dan lebih mudah menangis.

Dan aku sangat mengerti pribadi Ajeng, yang selalu berempati dengan orang di sekitarnya, hingga terkadang ia jarang sekali untuk memikirkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

"Mas Bram...," panggilan Dina membuyarkan pikiranku tentang Ajeng.

"Yaa...Din, katakan padaku bagaimana dengan kondisi bunda saat ini?" tanyaku langsung ketika tersadar dari lamunan.

"Untuk saat ini, bunda harus lebih banyak ber stirahat, dan disarankan untuk tidak membuat emosi meledak, karena hal itu akan menyebabkan bunda terserang stroke kembali."

Mendengar jawaban Dina atas kondisi bunda saat ini, lalu aku pun bertanya pada Dina," Jadi sekarang harus bagaimana?"

"Aku tidak bisa lagi membiarkan Ajeng berkorban demi keluargaku.’’

Mendengar kata-kataku yang meluncur seketika dengan nada nada sedikit tinggi. Dina hanya terdiam, tertunduk. Lalu Dina berkata," Mas Bram, bicarakanlah hal ini dengan Ajeng, Aku yakin Ajeng akan mengerti dengan kondisi bunda saat ini."

Seketika aku hanya bisa terdiam dan melamun karena aku tidak tahu, apa yang bisa aku sampaikan pada Ajeng. Kemudian aku balik bertanya pada Dina," Dan kapan rencananya, kamu akan mengatakan yang sesungguh yang sebenarnya?"

Dina menoleh ke arahku dan dia hanya mengangkat bahunya. Tetapi ia menjawab pertanyaanku dengan kalimat yang menohok hatiku.

"Mas, aku tidak mungkin mengatakan hal yang membuat bunda sekarat, aku menyanyangi bunda melebihi rasa sayangku pada mama," ucap Dina dengan pandangan tajamnya kearahku.

Kami berdua dalam dilema yang sangat berat untuk bisa memutuskan apa yang harus kami dahulukan dan yang harus kami kesampingkan. Aku juga tidak bisa mengungkapkan rahasia sesungguhnya yang terjadi pada Dina.

Dulu ketika malam pertama kami, aku telah berjanji pada Dina untuk tidak membuka rahasia yang telah ia ceritakan padaku. Kecuali ia sendiri yang menceritakannya. Mungkin kelak kami akan menceritakan semua. Kami akan menunggu waktu yang baik dan tepat.

Kini aku menyadari, ternyata sebuah kebohongan akan menjadi kebohongan dan akan selalu di ikuti dengan kebohingan lainnya. Dan itu sangat kami sesali. Karena jalan di kedepan dari hidup kami, tidak ada satupun yang tahu. Hingga akhirnya kebohongan demi kebohongan kami lakukan selama sepuluh tahun.

Dulu kami berpikir kebohongan ini, sebagai rasa cinta kepada kedua orangtua kami. Dan menggangap kebohongan ini, untuk kebaikan semua pihak. Ternyata kebohongan adalah kebohongan. Tidak ada kebohongan yang akan berakhir dengan kebaikan.

Sekalipun beberapa orang menyebutnya, sebagai kebohongan putih, karena dilakukan untuk sebuah kebaikan. Dan kini akhirnya, aku menyesali atas segala kebohongan yang aku lakukan seoanjang hidupku.

Aku berpikir, ini adalah sebuah tindakan pengecut bagi kami, yang tidak bisa menerima kenyataan, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan bijak, hingga kami terseret dalam masalah yang demikian besar.

Kini kami harus bisa mengurai masalah besar yang telah seperti benang kusut. Kami tidak tahu awal mana yang harus aku perbaiki dari kekusutan masalah ini. Yang pasti aku sadari, korban yang sesungguhnya adalah hanya seorang Ajeng.

Dialah orang yang sangat menderita dan menjadi korban atas segala kebohongan kami. Kalau saja waktu itu, aku bisa mengambil langkah tegas atas segala yang telah aku ketahui, tentang rahasia masa lalu Dina. Mungkin kini, aku tidak akan terjebak dalam dilema ini.

Sakit sekali rasanya kepalaku saat ini, memikirkan janjiku pada Ajeng yng tidak pernah aku tepati. terasa sesak sudah dadaku. Hingga aku menghela bapas berulang kali, agar penat dan beban berat ini dapat aku atasi.

"Mas Bram, apa kamu saki?" Dins bertanya padaku, karena dilihatnya aku memegang kepala dan menghela napas panjang berukang kali.

"Tdak Din, mungkin aku kurang istirahat saja," Jawabku sambil melepas tangan Dina yang memegangi tanganku.

Karena untuk sesaat, mataku seperti berkunang-kunang ketiks memikirkan beban yang terasa berat. Hingga Dina pun mengetahui perubahan wajah dan diriku yang hampir terjembab dari kursi ini.

Selama ini aku selalu menghindari Dina. Aku tidak ingin ia menyentuh diriku. Baik itu tanganku apalagi yang lain. Karena aku tidak ingin mempunyai rasa apapun. Aku sebagai lelaki normal tidak ingin memanfaatkanya ketika aku jauh dari Ajeng.

Aku berusaha sedemikian keras, karena walau bagaimanapun, aku adalah lelaki yang mempunyai hormon lebih tinggi dari wanita. Dimana segala sesuatu hal bisa saja terjadi ketika kita tidak bisa mengontrol diri dan emosi kita.

Apalagi Dina seorang wanita yang cantik dengan kulit bersih, sexy dan penampilan dirinya yang energik dan terbuka pemikirannya membuat aku selalu menghindarinya.

Aku tidak berani membayangkan apapun tentang dirinya. Walaupun aku tahu sebagai lelaki, antara Dina dan Ajeng sangat berbeda jauh dari pisik mereka. Tetapi ketulusan dan cinta kasih Ajeng padaku selama ini, membuat aku bisa mempertahankan kelelakianku dihadapan Dina.

Dina sempat terhentak atas tindakanku yang melepaskan tangannya dari lenganku ketika, ia melihatku hampir terjatuh. Sempat pula aku dengar Dina berkata dengan nada tidak senang, karena aku menolak tangannya.

"Menurut mu, aku salah...jika memegang tangan mu ketika aku lihat kamu hampir jatuh?" Seloroh dina dengan pertanyaan nya.

"Tidak, bukan begitu Din," jawabku cepat dan singkat.

Akhirnya kamipun membisu satu sama lain. Hampir satu jam, kami hanya bemain dengan ponsel kami, dan tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan kulihat ada panggilan dari Ajeng.

"Yaaa sayang, sekarang mas ke rumah."

Setelah itu, aku pamit pada Dina, dan aku meminta ia mengabari aku jika ada sesuatu hal dengan bunda. Dina pun hanya menganggukan kepalanya, dan membiarkan aku beranjak dari kursi panjang di taman itu.

Aku lihat sebersit wajah Dina yang terlihat kecewa. Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Karena saat ini bagi diriku Ajeng adalah segalanya. Aku berjalan menyusuri lorong dan beberapa bangsal Rumah Sakit dengan sedikit berlari-lari kecil menuju parkir mobil.

Akhirnya akupun sampai diparkir dengan napas sedikit terengah-engah. 'hmmm lumayan jauh juga' ujar batinku.

Dalam perjalanan menuju rumah Ajeng, aku sengaja mampir ke toko roti, untuk membelikan beberapa roti kesukaan Ajeng. coklat adalah kesukaannya. Dan aku membelinya beberapa untuk di rumah.

Akupun kembali ke parkir mobil dan mulai menyusuri jalan menuju ke rumah mungil kami. Dan kulihat disekitar pinggir jalan ada beberapa lapak atau kios yang menjual beraneka ragam buah-buahan. Lalu akupun membeli beragam jenis buah-buahan yang disukai oleh Ajeng.

Saat ini, aku hanya berpikir untuk bisa memberikan hal yang terbaik untuk Ajeng dan bisa menjaga diri dan bayinya yang ada dalam masa kehamilan mudanya. Beragam buah-buahan telah aku beli seperti pir hijau, semangka, alpukat dan jeruk tentunya.

Setelah membayar, aku pun beranjak kembali ke mobil dan mulai meneruskan perjalanan ke rumah. Perlu sekitar tigapuluh menit dari penjual buah itu untuk sampai ke rumah mungil kami.

Ketika mobilku baru sampai pagar, Ajeng telah membukakan pintu gerbang dan menyambutku dengan senyum ayunya. Hal itulah yang tidak bisa aku tinggalkan dalam benakku walaupun sejenak.

Aku lihat, dia memakai daster warna hijau muda dengan satu tali dan agak terlihat tipis. Jadi ketika terkena matahari, aku dapat melihat lengkuk tubuhnya.

Aku tersenyum-senyum sendiri dalam mobil ketika memarkir mobilku. Setelah aku membuka mobil dan keluar dari sana, aku sudah disambut dengan ciuman hangatnya yang mendarat di pipiku. Kami beranjak masuk kerumah. Dan kamipun sampai kedapur.

"Kamu sudah sarapan sayang?" Tanyaku pada Ajeng

"Sudah mas, tadi aku buat telur dadar, karenakan aku tidak tahu, dimana harus membeli sesuatu disini," jawab Ajeng.

Dia membuka bungkusan yang aku bawa. Dan mengambil roti kesukaannya.

"Makasih mas Bram,’’ kata ajeng setelah dia memasukan sepotong roti pada mulutnya.

Aku bahagia melihat dirinya saat ini berada disisiku. Karena sejak kejadian beberapa hari lalu, tidak ada alasan lagi bagi Ajeng untuk kembali kekampung. Karena memang tempat dia seharusnya disini. Menemani kesepianku ketika dia berada jauh disana.

"Gimana mas, sudah bicara dengan ibunda?" tanya Ajeng disela roti terakhir yang dia makan.

"Ya, nanti aku ceritakan, sekarang minum dulu susunya yaa sayang," ucapkan sambil berpikir cara berbicara pada ajeng tentang kondisi bunda pasca pingsan kemarin.

Aku pikir, seharusnya tidak aku sampaikan dahulu perihal kejadian yang sesungguhnya. Karena aku tidak ingin terjadi dengan kandungannya di trisemester pertama. Yang diperlukan ajeng saat ini hanyalah rasa nyaman, bahagia dan ketenangan pikiran.

"Ayoo mas, ceritakan tentang kondisi bunda saat ini," ujar Ajeng dengan penasaran.

"Ajeng, aku belum menyampaikan apapun pada bunda, karena kondisi bunda belum stabil, penyakit gula bunda kambuh dan masih terus dalam pantauan Dokter di Rumah Sakit, kita tunggu sampai kondisi bunda stabil yaa," ucapku, seketika meluncur dari mulutku.

"Bagiamana kondisi terakhir bunda sekarang ini mas?" Terpancar kecemasan dalam wajah Ajeng, ketika bertanya tentang perihal ibunda.

"Tadi pagi aku lihat di Rumah Sakit, kondisi bunda terlihat sudah agak membaik," jawabku untuk menenangkan hatinyaSyukurlah mas," jawab Ajeng dengan wajah terlihat agak lebih tenang.

Setelah kami selesai menceritakan perihal tentang bunda, aku beranjak pergi ke kebun sedangkan Ajeng merapikan dapur dan menaruh beberapa roti dan buah-buahan yang telah aku beli.

Aku selalu merapikan tanaman yang dulu ditanam Ajeng ketika kami, pertama kali menempati rumah mungil ini. Ajeng yang memilih beberapa bunga dan pohon-pohon yang harus dibeli.

Begitupun dengan penempatan atas pohon-pohon besar ataupun beberapa tanaman kecil yang kami taruh di dalam pot. Seperti bunga melati dan bunga sedap malam, ditanam persis dibawah jendela kamar kami.

Kami sangat menyukai keharumannya sehingga kami tidak memerlukan aromatic untuk kamar kami. Beberapa pohon besar yang ditanam, selalu aku potong daun-daunnya agar terlihat rapih dan tertata apik.

Setelah semua pekerjaan rumah bagian kebun selesai, aku mulai membersihkan kolam kecil yang waktu itu aku buat. Waktu itu aku berpikir, hanya untuk mempermanis kebun itu ditambah suara gemericik air yang aku aliri dikolam itu, membuat rumah mungil kami lebih nyaman untuk kami tinggali.

Dan saat ini aku sangat berbahagia, karena rumah mungil ini yang biasanya sepi ketika aku membersihkannya sekarang sudah tidak lagi kosong dan sunyi. Ada suara Ajeng yang menemani aku berbicara.

Setelah pekerjaan selesai, aku beranjak ke rumah. Dan mendapati Ajeng sedang mempersiapkan makan siang seadanya. Aku melihat dia memasak nasi goreng di tambah dengan telur dan sosis.

Dia melihat aku menghampirinya dan ia tersenyum manis, sambil memberikan isyarat kalau masakannya hampir selesai. Dengan mimik, ia memberitahu aku dengan jari tangannya agar aku bersabar dan tunggu.

Aku hanya tersenyum, dan menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian, Ajeng menyajikan makanan di meja makan. Diavpun menyiapkan teh manis. Lalu kami pun makan siang bersama. Sungguh kebersamaan yang indah dan tidak pernah aku impikan selama ini.

Sesaat selesai makan, aku membantu Ajeng untuk merapikan meja makan, setelah itu aku memutuskan untuk mandi. Karena sewaktu di Rumah Sakit tadi pagi, aku belum mandi.

Aku lihat, Ajeng mencuci beberapa piring yang tadi kami pakai untuk makan siang kami ketika aku berlalu dari dapur menuju menuju kamar mandi. Dan dengan sengaja aku tidak membawa handuk. Karena aku ingin, nanti Ajeng yang akan mengambilkan handuk untukku ke kamar mandi.

Dengan demikian aku akan bisa mengajaknya mandi bersama. pikiran nakalku, membawa aku ke kamar mandi dengan senyum dan hasrat yang akan aku habiskan bersama Ajeng.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal
8.8
Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Sampul Novel BAYAR dengan Tubuhmu
9.6
Celina terpuruk dalam kehancuran setelah dikhianati oleh tunangannya sendiri. Tak hanya difitnah, ia bahkan dijadikan jaminan hutang demi melindungi saudara laki-lakinya. Kini, ia terpaksa menyerahkan dirinya kepada Mikhael, seorang pria berkuasa yang dingin. Namun, saat Celina datang dengan wajah sembab penuh duka, Mikhael justru mencemooh kondisinya yang menyedihkan. Di tengah tekanan keji ini, Celina harus bertahan melayani pria yang terang-terangan menghinanya.
Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Gerry's Love Story
8.5
Kehidupan Gerry berubah total sejak pertemuannya dengan seorang janda kaya raya. Tanpa diduga, pernikahan mereka justru menjadi pembuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam dari masa lalu Gerry yang selama ini tersembunyi. Seiring berjalannya waktu, satu per satu misteri identitas aslinya mulai terkuak ke permukaan, membawa konflik yang tak terbayangkan dalam hubungan rumah tangga mereka yang penuh kemewahan namun menyimpan banyak teka-teki.
Sampul Novel I’m Always Be Yours
8.8
Freya Angelicia, supermodel menawan berusia 23 tahun, terjebak cinta tak terbalas pada kakak angkatnya, Max Xavierano Miller. Meski dikagumi dunia, Freya justru menghadapi kebencian dari pria yang ia puja. Max, miliarder sukses yang trauma akibat dikhianati tunangannya, mendapati hidupnya penuh kejutan saat bertemu kembali dengan Freya. Namun, tepat ketika Max mulai menyadari perasaannya, muncul saingan berat yang siap merebut hati Freya darinya.
Sampul Novel Jodoh Pengganti
7.9
Shanaya menderita akibat perlakuan buruk keluarga kandungnya. Dianggap bak pembantu oleh ayah dan ibu tirinya, ia dipaksa menggantikan sang adik untuk menikahi putra keluarga Hartono. Sang adik menolak lamaran itu karena rumor mengerikan tentang sifat calon mempelai pria yang dikenal sangat kejam dan dingin. Tanpa pilihan, Shanaya harus menghadapi takdir baru yang penuh misteri. Akankah ia bertahan menghadapi pria yang ditakuti tersebut di dalam pernikahannya?