
Istriku Berasal Dari Kerajaan Medang
Bab 2
“Ayo kita putus!”
Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari gadis manis di hadapanku. Ia pergi menjauh dariku setelah berkata demikian, meninggalkanku dengan perasaan campur aduk antara kaget, bingung, dan marah.
Entah apa yang dipikirkannya hingga berkata seperti itu dan sudah jelas hubungan kami berakhir saat ini juga. Apa dia tidak memikirkan perjuanganku selama ini untuk membuatnya merasa senang dan bahagia? Apa dia juga tidak memikirkan berapa banyak biaya yang telah kukeluarkan untuknya? Makan malam di restoran mahal, hadiah-hadiah mewah, dan waktu yang kuhabiskan hanya untuknya!
Dasar wanita! Seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang! Kalau saja ia bercerita kepadaku tentang apa saja perbuatanku yang salah, mungkin aku bisa memperbaikinya. Tapi, ya sudahlah, mungkin ini juga namanya bukan jodoh.
Aku berdiri di tengah trotoar, menatap kosong ke arah tempat dia berlalu. Beberapa orang yang lewat menatapku dengan rasa penasaran, mungkin mereka berpikir aku baru saja mengalami kehancuran hidup terbesar.
Sebuah pemikiran melintas di benakku. "Toh, daripada aku pusing memikirkan perkataan bodoh dari mantan pacarku, mending aku pulang dan tidur saja!"
Saat aku berjalan pulang, tiba-tiba saja langit mendung dan turun hujan yang sangat lebat. Benar-benar hari yang sial! Aku merasa seperti tokoh utama dalam film drama, di mana segala sesuatu yang buruk terjadi berturut-turut.
Tanpa ingin basah lebih lanjut, aku langsung berteduh di minimarket terdekat. Mengeringkan diri sedikit, aku memutuskan untuk membeli sebotol teh dingin untuk melepaskan dahagaku.
Dengan teh di tangan, aku duduk di bagian belakang minimarket sambil menenggak minuman tersebut. Kupandangi langit yang semakin gelap dan petir mulai menyambar, menambah dramatis suasana hatiku yang sudah muram.
Hujan pun turun makin deras, membuatku terjebak di minimarket ini. Bisa saja aku membeli payung dari minimarket dan langsung pulang, tapi karena masih kepikiran dengan ucapan gadis bodoh itu, aku memutuskan untuk tidak membelinya. "Biarkan saja aku terjebak di sini," pikirku sambil menyesap teh.
Sambil menunggu hujan reda, aku mulai memperhatikan sekeliling. Di depan, kasir minimarket yang cantik sedang melayani pembeli dengan senyuman. Setidaknya ada pemandangan yang menyenangkan di tengah hari yang sial ini.
"Setidaknya, duduk di sini dan melihat kasir yang cantik ini tidak dilarang, kan?" gumamku pada diri sendiri sambil tersenyum kecil. Menikmati momen kecil ini, aku merasa sedikit lebih baik.
Kulirik jam tangan, sudah menunjukkan pukul 17.05. Gawat, semakin petang saja tapi hujan belum menandakan akan berhenti. Sembari menikmati pemandangan kasir minimarket yang sibuk melayani pelanggan, dengan suara rintik hujan yang menenangkan, aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celanaku dan menaruh sebatang di mulutku.
Saat mencoba mengambil korek gas dari saku kemejaku, seseorang menepuk ringan pundakku. “Maaf, Kak, dilarang merokok di dalam minimarket,” katanya sopan.
Aku melirik ke arah suara itu dengan sebatang rokok masih menempel di mulutku. Seorang pria muda berseragam minimarket yang sama dengan kasir tadi tersenyum sembari memegang pundakku.
Tanpa pikir panjang, kucabut rokok dari mulutku dan menyimpannya kembali ke dalam bungkus. "Maaf, lupa," kataku dengan senyum malu-malu.
Aku tersenyum malu sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, benar-benar merasa malu! Tanpa sengaja, aku melihat kasir cantik tadi tengah tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan mungilnya. Sial! Benar-benar menyegarkan mataku!
Pria yang memperingatkanku tadi berjalan menuju meja kasir yang berada di dekat pintu toko. Untuk menghilangkan rasa malu, kutenggak lagi minuman yang kubeli, sambil diam-diam mencuri pandang ke arah kasir cantik itu.
Saat aku sedang menikmati minuman dan pemandangan, tiba-tiba saja aku melihat sesuatu yang membuatku terkejut. Pria yang tadi memperingatkanku mengelus lembut kepala kasir cantik itu, dan kasir cantik itu membalasnya dengan pelukan hangat.
“Bruffffttttt!! Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Aku langsung menyemburkan minumanku dan terbatuk-batuk, membuat keributan kecil di sudut minimarket.
Beberapa orang yang ada di sekitar menoleh ke arahku, termasuk pasangan kasir dan pria berseragam itu. Mereka terlihat terkejut, lalu pria itu berjalan mendekatiku lagi dengan senyum ramah di wajahnya.
"Apakah Anda baik-baik saja, Kak?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.
Aku hanya bisa mengangguk sambil menahan rasa malu yang semakin menumpuk. "Iya, aku baik-baik saja, hanya tersedak sedikit," jawabku, mencoba untuk tetap tenang.
Kasir cantik itu ikut tersenyum dan berkata, "Maaf kalau kami membuatmu terkejut. Kami baru saja bertunangan minggu lalu."
Sialan, ternyata mereka baru tunangan! Cukup sudah! Aku sudah muak dengan hari ini! Mungkin saja ini adalah salah satu hari paling sial dalam hidupku!
Dengan rasa kesal, aku mulai keluar dari minimarket itu. Aku menerjang hujan lebat dengan pakaian yang basah kuyup. Aku berjalan hingga sampai ke sebuah sungai dengan jembatan yang cukup besar di atasnya.
Merasa kedinginan akibat pakaianku yang basah, aku memutuskan untuk berlari ke bawah jembatan untuk berteduh kembali. Saat sampai di sana, aku melihat rumput di daerah itu sudah terlalu tinggi dan lebat untuk dilalui. “Sial, ternyata rumput di sini sudah terlalu tinggi dan lebat untuk dilalui.”
Menyesal dengan keputusan sesaat, aku menggerutu kesal dan melempar botol minumanku ke arah tepian sungai. Botol itu melayang di udara, memantul sekali di permukaan air, dan akhirnya menghilang di arus sungai yang deras. Aku berusaha mencari tempat yang lebih kering di sekitar bawah jembatan.
Mengutuk dalam hati, akhirnya aku menemukan tempat yang cukup terlindung dari hujan, meski masih sedikit lembap. Sambil duduk di sana, aku merapikan rambutku yang basah dan mencoba menenangkan diri.
“Seharusnya aku membeli payung tadi,” gumamku, menatap ke arah sungai yang deras mengalir. “Tapi, ya sudahlah, semuanya sudah terjadi.”
Kulepas kemejaku dan mulai memerasnya hingga kusut agar air benar-benar terbuang dari kemejaku. Saat aku meremas kemejaku, tanganku tak sengaja memegang benda aneh yang ada di saku. Benda itu agak padat dengan warna coklat.
“Apa ini?” gumamku, penasaran. Saat kulihat lebih dekat, aku teringat sebungkus rokok yang tadi tak sempat kubakar dan kuhisap akibat melihat pemandangan di minimarket itu.
Melihat bungkusan rokokku yang sudah tak berbentuk lagi akibat kuperas kemejaku dengan sekuat tenaga, aku membuang sebungkus rokok yang masih tersisa enam batang di dalamnya. “Buang-buang uang saja,” gerutuku. "Sepertinya harus kucoba untuk berhenti menghisap benda itu."
Lagipula, merokok tidak baik untuk kesehatan. Tapi kenapa aku merokok? Kuingat-ingat alasanku mulai merokok dan akhirnya teringat juga kenapa aku menjadi pecandu rokok.
“Sepertinya itu terjadi sekitar empat bulan yang lalu saat—” Aku berhenti mengoceh saat mengingat keadaan yang membuatku menjadi pecandu rokok.
Itu semua karena mantan pacarku yang baru saja mengakhiri hubungan kami secara sepihak dan tanpa penjelasan sedikit pun! Saat itu aku terbuai dengan ucapannya bahwa laki-laki keren harus merokok.
Aku tertawa mengingat hal bodoh yang kulakukan di masa lalu agar bisa menggaet seorang gadis yang kini berstatus mantan pacarku. Kenangan itu membuatku melamun, meratapi semua kejadian sial yang hari ini terjadi. Dari saat aku keluar rumah, diputuskan pacarku, masuk ke minimarket dan melihat kejadian yang membuat mataku sakit hingga kini terjebak hujan di bawah jembatan besar.
Lamunanku pecah saat mataku tanpa sengaja melihat sesuatu yang terlihat seperti tubuh seorang wanita yang mengambang di pinggir sungai tempatku berteduh.
"Sial, apa itu?" gumamku, setengah berharap itu hanyalah ilusi karena hari yang penuh kesialan ini. Dengan hati-hati, aku mendekati tepi sungai, mencoba memastikan apa yang kulihat.
Rasa takut menyelimutiku saat aku berjalan mendekati sesuatu yang mirip tubuh manusia itu. Kuperhatikan dengan seksama, ternyata itu memang tubuh manusia yang mengapung di pinggir sungai! Lebih mengerikan lagi, itu adalah tubuh seorang gadis yang penuh dengan luka goresan.
“Apa yang harus kulakukan dengan penemuan mayat ini?” pikirku panik. Dengan semua hal yang terjadi seharian ini, aku sangat tidak ingin harus berurusan dengan polisi setelah menemukan mayat seorang gadis.
Aku berlari kecil di antara rerumputan yang agak tinggi, meninggalkan mayat yang ada di hadapanku menuju tempat di mana aku menyimpan kemejaku. Saat berlari, pikiranku dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Bagaimana bisa hari yang sudah begitu buruk ini berubah menjadi mimpi buruk?
Seketika, langkah kakiku terhenti setelah telingaku menangkap suara tak jauh dari tempatku berdiri. Suara itu terdengar seperti desahan lemah. Kutengok sekeliling, mencoba mencari sumber suara tersebut. Kulihat sekeliling hingga berputar-putar, tapi sejauh mata memandang, tidak ada satu pun manusia kecuali diriku di tempat ini.
“...to..long...” Tubuhku bergidik merinding saat mendengar kembali suara seorang gadis yang merintih meminta tolong.
“...tolong...aku...” Suara itu terdengar begitu lemah, namun cukup jelas untuk membuat bulu kudukku berdiri. Apakah tempat ini angker dan berhantu? Apakah si manis penunggu jembatan kini akan menampakkan dirinya di hadapanku saat ini juga?
Entahlah, yang kupikirkan saat ini hanyalah ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, suara itu terus memanggil.
“...tolong...aku...paman...” Apa? Paman? Dimana?
“Paman yang ada di pinggir sungai...tolong angkat aku dari sungai ini...”
!!!
Setelah mendengarkannya dengan seksama, aku sadar kalau gadis yang ada di sungai itulah pemilik suara ini. Rasa takutku berubah menjadi rasa tanggung jawab. Kuberanikan diri menengoknya, dan benar saja, seonggok tubuh seorang gadis yang mengapung di sungai itu masih hidup.
Tanpa pikir panjang, aku mulai menariknya ke pinggir sungai. Dengan sekuat tenaga, kuberanikan diri mendekat dan menarik tubuhnya yang lemah keluar dari air. Setiap tarikan terasa berat, tetapi dorongan untuk menyelamatkannya memberiku kekuatan lebih.
“Tenang, aku akan membantumu,” kataku dengan suara yang berusaha terdengar tenang, meskipun hatiku berdebar kencang. Gadis itu terlihat sangat lemah, tapi matanya yang setengah terbuka menunjukkan bahwa dia masih sadar.
Tubuhnya lemas dan dipenuhi luka memar, napasnya terengah-engah menandakan bahwa dia kelelahan. Entah apa yang sudah dialaminya hari ini, tapi aku merasa iba melihatnya.
“...terima kasih telah menolongku, paman...” Itulah kata terakhir yang kudengar darinya sebelum dia tak sadarkan diri dan pingsan dalam pelukanku.
Aku memeluknya dengan lembut, mencoba memberikan sedikit kenyamanan dalam keadaannya yang lemah. Pikiranku berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dia, apa yang terjadi padanya, dan bagaimana aku bisa membantunya lebih lanjut.
Anda Mungkin Juga Suka





