
Istri Yang Kau Remehkan
Bab 3
Pagi yang cerah tak lagi memberikan ketenangan seperti dulu. Seraphina duduk di meja makan, menatap sarapan yang disiapkan oleh para pelayan. Namun, pikirannya jauh melampaui ruang makan yang mewah ini. Sesuatu telah berubah dalam dirinya, dan dia tahu bahwa perubahannya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Setiap keputusan yang diambil, setiap langkah yang diambil, harus dihitung dengan cermat. Kepercayaan dirinya kini jauh lebih besar, namun juga lebih berbahaya.
Hari ini, dia harus mengambil langkah berikutnya dalam permainan ini. Dia tahu, dengan kekuatan yang dia miliki sekarang, dia bisa mengubah segalanya-termasuk dirinya sendiri. Dan lebih dari itu, dia akan membuat orang-orang di sekitarnya melihatnya dengan cara yang berbeda.
Lysander, suaminya, belum kembali ke rumah. Seraphina menduga dia tengah menyelesaikan urusan bisnis, mungkin juga mencari cara untuk menghadapi perjanjian yang baru saja ia temui. Namun, bagi Seraphina, itu bukanlah masalah utama. Yang lebih penting adalah bagaimana dia bisa memanfaatkan informasi yang baru saja ia terima dan menggali lebih dalam ke dalam permainan yang sedang terjadi.
Kunci dari semua ini adalah kekuatan. Kekuatan yang tersembunyi dalam diri Seraphina, yang selama ini tak pernah ia ketahui benar-benar ada. Kini, dia memegang kendali atas banyak hal yang sebelumnya tidak terjangkau olehnya. Tetapi, seperti halnya kekuatan, ia harus hati-hati dalam menggunakannya. Jika salah langkah, permainan ini bisa berakhir cepat, dan dia akan kembali menjadi perempuan yang dilupakan, perempuan yang hanya dianggap sebagai ibu rumah tangga biasa, tak lebih.
Pikirannya dihentakkan oleh suara Lydia yang memasuki ruang makan. Ibu mertuanya itu tampak sedikit lebih cemas dari biasanya, dengan raut wajah yang penuh pertanyaan. Seraphina menatapnya tanpa ekspresi.
"Apa yang kau lakukan dengan rumah ini?" Lydia bertanya, melirik perubahan besar yang terjadi di setiap sudut rumah.
Seraphina menatap ibu mertuanya dengan tenang. "Mengubahnya menjadi lebih baik, Ibu. Tak ada yang salah dengan itu, bukan?"
Lydia menghela napas panjang, seakan enggan untuk mengungkapkan ketidakpuasannya secara terbuka. "Ini bukan sekadar perubahan kecil. Kau tahu betul ini tidak hanya soal furnitur dan dekorasi."
Seraphina tetap diam, hanya mengangkat bahu. "Kadang, kita memang harus mengubah sesuatu untuk melihat lebih jelas, Ibu."
Lydia mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan lebih banyak. Setelah beberapa detik yang terasa hening, dia pergi begitu saja, meninggalkan Seraphina dengan pikirannya yang sibuk merencanakan langkah-langkah berikutnya.
Setelah sarapan, Seraphina memutuskan untuk mengunjungi ruang pribadi Lysander. Ruang yang selama ini hanya ia lewati tanpa benar-benar peduli. Pintu kamar itu terkunci, namun kunci yang ada di genggamannya kini memberikan kebebasan untuk masuk. Dengan hati-hati, Seraphina membuka pintu dan melangkah masuk.
Ruangan itu terasa sepi dan terkesan pribadi-berbeda dari ruang-ruang lain yang lebih formal. Di meja kerja, terdapat tumpukan dokumen dan buku-buku yang tampaknya belum sempat dibereskan. Matanya segera menangkap sesuatu yang mencurigakan di atas meja-sebuah buku kecil yang tampaknya berisi catatan pribadi Lysander. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Seraphina mengambil buku itu, membukanya dengan hati-hati.
Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sebuah catatan tentang perjanjian yang ditandatangani oleh Lysander dan keluarga Haverston. Perjanjian yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya ia duga. Tidak hanya soal bisnis, tetapi juga tentang pengaturan keluarga, sesuatu yang Seraphina tidak pernah tahu. Tulisannya sangat jelas-ini adalah tentang masa depan mereka, masa depan Seraphina yang sudah tertulis tanpa sepengetahuannya. Ini bukan hanya tentang uang atau kekuasaan, tetapi tentang kekendalian.
Seraphina menyadari bahwa Lysander telah menutup banyak pintu bagi dirinya-sesuatu yang tak pernah diungkapkan kepadanya, meski dia telah menjadi bagian dari keluarga Elmswood. Namun, semua ini hanya semakin menguatkan tekadnya. Ia tidak akan duduk diam dalam pernikahan yang hanya menguntungkan satu pihak saja.
Setelah menutup buku itu, Seraphina merasakan sebuah rasa tak nyaman di hatinya-rasa ketidakadilan yang membuncah. Namun, ia tidak boleh terlalu emosional. Sekarang bukan waktunya untuk menunjukkan kelemahan. Justru, ia harus menunjukkan kepada Lysander dan seluruh keluarga Elmswood bahwa ia tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kini, dialah yang memiliki kendali.
Di saat yang sama, dia harus berhati-hati. Pahlawan yang terlalu tampak terang bisa mudah dihancurkan, jadi dia harus bergerak dengan langkah-langkah yang tersembunyi dan terencana.
Petang itu, Lysander akhirnya kembali ke rumah. Seraphina sudah menunggu di ruang keluarga, mengenakan gaun panjang yang memancarkan aura ketegasan. Saat Lysander memasuki ruangan, matanya langsung tertuju pada istrinya. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri Seraphina, sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan. Namun, ia berusaha tetap tenang.
"Kau kembali," Seraphina berkata, suaranya tenang namun penuh makna.
Lysander mengangguk. "Ada banyak yang harus dibicarakan, Seraphina."
Seraphina tidak bergerak. "Aku rasa aku sudah tahu sebagian dari apa yang harus dibicarakan. Tentang perjanjian yang kau buat dengan keluarga Haverston, dan tentang bagaimana semua itu mempengaruhi hidupku."
Lysander menatapnya tajam, tak menyangka Seraphina sudah mengetahui tentang perjanjian itu. "Kau tahu?"
"Ya," jawab Seraphina dengan suara rendah. "Dan aku ingin mendengar penjelasanmu, Lysander. Semua ini bukan hanya tentang perjanjian bisnis. Ini lebih besar dari itu."
Lysander menghela napas panjang. "Seraphina, ini bukan semudah yang kau pikirkan. Ada banyak yang terjadi di luar sana-dan aku terjebak dalam permainan ini lebih lama daripada yang kau bayangkan."
"Permainan?" tanya Seraphina dengan alis terangkat. "Jadi, kita ini hanya pion dalam permainan besar yang tidak pernah kita pilih?"
Lysander terdiam, akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan ini. "Aku-aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kau harus tahu, ini bukan sesuatu yang mudah diterima."
Seraphina menatapnya dalam-dalam. "Aku sudah siap mendengarnya."
Di dalam hati Seraphina, segala sesuatu mulai terjalin-permainan ini baru saja dimulai, dan dia akan menjadi penggeraknya.
Anda Mungkin Juga Suka





