
Istri Yang Diacuhkan
Bab 2
Hari-hari yang dijalani oleh Gina adalah mengajar di salah satu PAUD yang merupakan milik dari orangtua teman baiknya selama kuliah dulu. Gina memang bukan basicnya mengajar. Tapi temannya mengatakan kalau ini memang bagus untuk Gina. Diberikan gaji yang cukup banyak juga. Dia bukan guru honorer, tapi diberikan gaji selayaknya dia mengajar di sini.
Harus memiliki banyak sekali pengalaman untuk bisa bersabar menghadapi anak-anak yang terhadang bertengkar setiap hari. Pertengkaran batinnya Gina juga tidak kalah besarnya dibandingkan dengan anak-anak yang bertengkar hanya untuk memperebutkan mainan.
Rumah ini adalah rumah pemberian dari Arvin beberapa tahun lalu. Atas nama Gina, dan akan tetap jadi milik Gina dengan Darcy.
Waktu dia merapikan bajunya usai disetrika.
Plaaaak.
Sebuah amplop berwarna kuning jatuh ke lantai saat Gina menarik salah satu baju yang ada di bagian lemari paling bawah untuk dikeluarkan sebelum memasukkan baju yang baru saja di setrika. Mengurus rumah sendirian, tidur dengan Darcy. Mengurus si kecil sendirian.
Nafkah setiap bulan diberikan oleh suaminya.
Gina duduk di pinggir ranjang lalu membuka amplop itu yang berisikan fotonya dengan Arvin saat menikah. Juga ada lembaran yang di bawahnya sudah dibubuhi tanda tangan persetujuan perceraian mereka.
Apa yang indah di dalam pernikahan ini? Sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan oleh Gina. Waktu memegang lembaran itu dia menoleh sejenak ke arah anak yang sedang tidur di ranjang yang sama dengan Gina.
Usai pulang dari rumah mertuanya, dan besok akan kembali lagi mengajar di sekolah. Lalu dia membaca semua isi yang dituliskan di sana. Bahwa Darcy adalah hak Gina. Bersyukur kalau dia tidak dipisahkan oleh Arvin dari anaknya.
Sebelum dia tidur, dia mendengar ponselnya dengan nada pesan singkat.
Gina mengambil ponselnya dan membaca pesan dari ayahnya. “Kapan ada waktu? Papa kangen sama kamu.”
Setiap kali dia libur mengajar pasti akan pergi ke rumah mertuanya. Bukan ke rumah orangtuanya. Gina membalas pesan itu dengan cepat. “Besok aku usahakan pulang ngajar langsung ke sana, Pa.”
Capek itu sudah pertama dirasakan oleh Gina semenjak dia mengandung Darcy tapi sikap Arvin tidak pernah luluh. Apa gunanya bertahan juga? Gina sudah tidak peduli lagi bagaimana perlakuan suaminya terhadapnya saat ini.
Dari awal menikah sampai sekarang ini Gina sudah tahu semuanya.
Dia berdiri di dekat ranjang, menatap anak yang mirip sekali dengan Arvin. Lalu dia berkata dengan lirih. “Maafin Mama yang nggak bisa tahan Papa untuk hidup sama kamu, Darcy.” Suaranya lemah sekali mengatakan itu ketika Darcy tidur memeluk gulingnya.
Gina meletakkan ponselnya di atas kasur lalu memasukkan pakaian yang sudah disetrika itu.
Gina juga memasukkan surat yang sudah ditanda tangani soal perceraian mereka. Darcy tidak pernah tahu apa yang terjadi antara mereka berdua. “Mama lebih sayang sama kamu, Nak. Nanti kita pulang ke rumah kakek dan ninggalin rumah ini. Biar kita sewakan. Kakek sama nenek pasti kangen.”
Orangtuanya selalu meminta untuk pulang sejak Gina menikah dengan Arvin. Tapi kalau Gina pulang membawa Darcy, sudah pasti Arvin tidak akan pernah mencari keberadaan Darcy.
Gina tidak sadar waktu menatap gadis mungil yang tidur di atas ranjang memeluk bantal dengan sangat nyenyak sekali. Air matanya mengalir tanpa disadari, sampai dia terkejut. “Apa ini?”
Pikirannya mulai tidak keruan. Kenapa malah menangis? Gina tidak pernah menangis sebelumnya walaupun selalu diperlakukan tidak baik oleh Arvin. Tidak pernah dihargai keberadaannya.
Jika keinginan Arvin untuk bercerai. Akan dia laksanakan juga sesuai dengan keinginan dari suaminya. Sementara sikap baik dari mertuanya selalu memperlakukan dia bak anak kandung sendiri. Tapi tidak dengan Arvin yang tidak menghargai keberadaannya sampai detik ini.
Kakinya bergetar, lemas dan tidak berdaya lagi saat ini. Arvin jahat?
Pikiran itu tidak ada, bahwa memang bukan miliknya. Arvin bukan miliknya yang harus ditahan oleh Gina. Jika pria itu adalah miliknya, sudah pasti mereka hidup di rumah ini bertiga dengan buah hati mereka.
Kenyataan itu tidak sama sekali. Arvin ada di luar, hidup dengan gaya sendiri. Hidup dengan pilihannya sendiri. Sementara Gina harus berjuang keras menghidupi anaknya. Arvin memang memberikan nafkah, memberikan rumah untuknya. Nafkah untuk Gina dan Darcy berbeda. Tapi apa gunanya?
Uang puluhan juta yang bahkan dalam sebulan bisa membeli satu unit mobil jika digabungkan nafkah untuk Darcy dan juga Gina. Tidak menyenangkan sama sekali.
Dibandingkan dengan mengajar, jika dikumpulkan tiga tahun pun belum menutupi uang yang diberikan Arvin untuk mereka berdua.
Semua kebutuhan untuk Darcy memang tidak pernah ada yang kurang. Satu yang paling disayangkan—keberadaan Arvin yang tidak bisa di sisi sang anak.
Pagi-pagi sekali Gina sudah diributkan oleh sang anak yang sudah tidak sabar pergi ke sekolah. Anaknya sudah tahu kalau setiap hari Gina mengajar. Dia mengambilkan sepatu untuk Darcy. “Pasang sepatu, terus ambil tasnya, ya. Kita berangkat.”
Sepeda motor matic yang dibeli oleh Gina dengan hasil jerih payahnya sendiri. Setiap uang yang diberikan oleh Arvin untuknya paling dia gunakan untuk makan sehari-hari. Mungkin tidak perlu bekerja pun sudah cukup uang itu. Tapi Gina tidak bisa tinggal diam saja.
Baru saja dia keluar dari rumahnya dan mengunci pintu. Gina melihat kalau ada Felysia—kakaknya di sana. “Kakak, ada apa pagi-pagi sekali?”
“Makanan buat Darcy, Mama yang suruh anterin. Kamu kenapa nggak pulang?”
Pertanyaan yang sama dengan yang semalam papanya katakan. “Aku pulang siang ini. Terima kasih sudah anterin.”
Waktu Gina melihat ada kue yang diberikan oleh mamanya untuk Darcy. “Aku berangkat ke kantor dulu.”
Kakaknya sudah menggunakan mobil, memang gajinya juga banyak. Tidak salah kalau sang kakak hidupnya agak sedikit jauh lebih baik. Sementara Gina tidak bisa menyetir.
Felysia melenggang pergi dari rumahnya waktu dia hendak pergi ke sekolah. “Kakak hati-hati di jalan!”
“Ya, kamu juga.”
Gina masuk kembali ke dalam rumah untuk menaruh kue itu. “Nanti makannya, ya. Kita ke rumah kakek juga hari ini. Katanya kangen sama adek.”
“Iya, Ma.”
Gina memasangkan helm untuk si kecil lalu anaknya naik ke atas motor saat sudah bersiap untuk berangkat.
Menghidupi satu anak ini akan dilakukan oleh Gina demi bisa membahagiakan Darcy. Entah itu ada Arvin atau tidak. Namun, tidak ada halangan yang membuat Gina menyerah untuk sang buah hati. Tidak peduli Arvin ada maupun tidak, bukan menjadi alasan yang tepat untuk Gina menyerah.
Dia bisa melewati semuanya tanpa ada kehadiran Arvin. Bukankah dari Darcy lahir, Arvin sudah sibuk dengan dunianya sendiri?
Anda Mungkin Juga Suka





