
Istri Sang CEO yang Melarikan Diri
Bab 3
Pemikiran bahwa Ryan mungkin ingin mempertahankan pernikahan mereka membuat jantung Jenessa berdetak kencang ketika menunggu jawabannya dengan penuh antisipasi.
Namun, di bawah tatapan penuh harapnya, Ryan berkata dengan dingin, "Jenessa, jangan menipu dirimu sendiri." Nada suaranya penuh ejekan dan setiap kata menusuk hati Jenessa seperti pisau. "Apa kamu pikir aku akan menolak perceraian?"
Dia memberikan tatapan sedingin es ke arah Jenessa. "Jenessa, jangan lupa bahwa kamu sendiri yang meminta cerai. Aku harap kamu tidak memohon untuk kembali padaku setelah kita resmi bercerai."
Kemudian, dia bangkit dari tempat tidur dan pergi sambil membanting pintu di belakangnya.
Jenessa berbaring dengan sedih di atas tempat tidur dan hatinya dipenuhi rasa kecewa.
Air mata membasahi pipi Jenessa ketika dia dengan lembut meletakkan tangan di perutnya dan merasakan kehidupan kecil tumbuh di dalam dirinya.
Awalnya, dia berniat membagikan kabar baik ini pada Ryan, tapi hanya dalam waktu beberapa jam, mereka malah akan bercerai.
Setelah merenung selama beberapa saat, dia memutuskan bahwa lebih baik dia merahasiakan kehamilannya dari Ryan. Meski mereka harus berpisah, dia mampu membesarkan bayinya sendiri.
Kemudian, dia merasa tidak berdaya saat teringat pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi Ryan.
Nenek Ryan mengatur agar dia bekerja di bawah Ryan untuk membina hubungan mereka, dan pada waktu itu, Jenessa merasa ide itu cukup masuk akal.
Namun, sekarang situasi mereka sangat berbeda dan dia merasa sudah waktunya untuk meninggalkan pekerjaan itu.
Di pagi hari, tidak lama setelah Jenessa tiba di kantor pusat Grup WorldLink, beberapa rekan kerja yang suka bergosip segera mengelilinginya.
"Kak Jenessa, kami sudah menunggumu sejak pagi! Apa yang terjadi antara Pak Ryan dan Maisie? Apa hubungan mereka sudah resmi?"
"Berita mengenai Pak Ryan mengadakan pesta penyambutan untuk supermodel internasional Maisie Powell telah menjadi viral dalam waktu semalam. Pak Ryan bahkan mengundang semua temannya. Sepertinya, dia berencana segera mengumumkan hubungan mereka!"
"Aku dengar mereka menghabiskan malam bersama setelah pesta berakhir. Mungkin, Maisie adalah calon istri Pak Ryan!"
Hati Jenessa terasa sakit ketika mendengar percakapan mereka. Setelah terdiam selama beberapa saat, dia menjawab dengan sedih, "Aku tidak tahu mengenai hal itu."
Rekan-rekannya saling bertukar pandang dan memutar bola mata mereka. Mereka tidak percaya pada jawaban Jenessa. "Ayolah, Kak Jenessa! Kamu adalah sekretaris pribadi Pak Ryan. Kamu pasti mengenal kepribadiannya dengan baik. Mana mungkin kamu tidak mengetahui informasi penting seperti itu? Cepat beri tahu kami!"
Jenessa memaksakan diri untuk tersenyum lemah. Semua orang tahu bahwa dia adalah sekretaris Ryan, tapi tidak ada yang mengetahui bahwa dia juga istri pria itu. Ryan bahkan enggan mengumumkan hubungan mereka ke publik.
Dia menghela napas, lalu berkata dengan tenang, "Aku benar-benar tidak tahu. Hentikan gosip kalian."
Rekan-rekannya masih belum ingin menyerah, tapi Jenessa segera menyela sebelum mereka sempat mengatakan sesuatu. "Aku bilang tidak ada yang perlu dibahas, jadi berhenti menggangguku. Apa perusahaan membayar kalian semua untuk bergosip? Cepat kembali ke pekerjaan masing-masing!"
Raut wajah tegasnya membuat mereka ketakutan, dan perkataan Jenessa memang tidak salah, jadi mereka harus mematuhinya.
"Baiklah, kami mengerti."
Saat Jenessa berjalan pergi, mereka hanya bisa menggerutu dengan suara pelan.
"Apa dia pikir dia sangat berkuasa? Beraninya dia memerintah kita. Huh! Pak Ryan memiliki banyak sekretaris, aku ingin lihat sampai kapan dia memiliki kemampuan untuk bersikap sombong."
"Ya, ketika dia tiba-tiba bekerja di sini tiga tahun yang lalu, kita semua mengira dia memiliki hubungan khusus dengan Pak Ryan. Namun, Pak Ryan tidak pernah memberikan perhatian khusus pada Jenessa dan tidak pernah membawanya bertemu dengan klien. Dia mengaku sebagai sekretaris pribadi Pak Ryan, aku rasa dia hanyalah dekorasi di kantor!"
"Aku yakin hari-harinya di perusahaan ini tinggal menghitung jari. Setelah Maisie menikah dengan Pak Ryan, aku yakin Jenessa akan dipecat. Wanita mana yang merasa tenang jika suami mereka memiliki sekretaris yang cantik?"
"Benar sekali!"
Suara tawa dan obrolan mereka memenuhi kantor, tapi Jenessa sengaja menutup telinga dan berjalan ke mejanya untuk menyelesaikan pekerjaan hari itu.
Dia tahu bagaimana pendapat rekan-rekan yang selalu bersikap ramah di hadapannya. Namun, dia tidak bisa berdebat dengan mereka karena dia sendiri merasa dirinya memang seperti lelucon.
Waktu berjalan dengan cepat, Jenessa menyadari bahwa sudah waktunya pulang kerja dan sebagian besar sekretaris telah pulang.
Saat Jenessa sedang mengemasi barang-barangnya, dia menerima telepon dari sahabatnya, Brinley Lloyd.
"Jenessa, aku melihat berita pagi ini. Apa yang terjadi antara Ryan dan Maisie? Berita itu hanya rumor, bukan?"
Jenessa menghela napas berat saat mendengar nada tidak percaya dalam suara sahabatnya.
"Berita itu tidak salah."
Brinley tersentak kaget ketika mendengarnya. "Apa?! Dasar pria brengsek!"
Jenessa telah merenung sepanjang hari, jadi dia terdengar tenang saat memberi penjelasan, "Ryan dan aku menikah bukan karena cinta. Aku tahu dia tidak memiliki perasaan padaku karena dia hanya menikahiku atas permintaan neneknya. Sekarang, wanita yang dia cintai sudah kembali dan aku tidak punya alasan untuk tetap tinggal di sana. Sudah saatnya aku pergi agar mereka bisa bersama."
Brinley merasa tidak percaya sekaligus marah mendengar penuturan sahabatnya. "Tapi ... bagaimana dengan bayi kalian? Apa kamu tidak akan memberi tahu Ryan?"
"Apa berita ini akan membuatnya merasa bahagia? Bagaimana jika dia tidak menginginkan anak ini?" Jenessa secara naluriah menyentuh perutnya yang masih rata sambil tersenyum pahit. "Jangan khawatir, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan bercerai dan membesarkan anak ini sendirian. Ryan tidak perlu mengetahuinya."
"Apa kamu serius? Kalian akan bercerai? Apa kamu yakin, Jenessa?" tanya Brinley dengan penuh perhatian. "Jika kamu tidak ingin Ryan mengetahui kehamilanmu, kamu tidak bisa lagi bekerja di perusahaan itu. Cepat atau lambat, perutmu akan semakin besar."
"Jangan khawatir, aku sudah memikirkan segalanya. Aku akan segera mengundurkan diri. Kemudian, aku bisa bekerja di bidang yang aku sukai."
Jenessa tersenyum tipis ketika membahas mimpinya yang telah lama hilang.
"Ya Tuhan! Jenessa, apa kamu akan kembali ke karier lamamu?" Brinley terdengar sangat senang. "Itu luar biasa! Aku selalu percaya pada kemampuanmu! Kamu adalah seorang desainer jenius! Aku sudah tidak sabar menunggu desainer Sloane Todd kembali ke industri fashion! Kamu seharusnya tidak menyia-nyiakan bakatmu dengan bekerja sebagai sekretaris Ryan. Dia tidak pantas mendapatkan pengorbananmu!"
"Sloane Todd ...." Jenessa tenggelam dalam lamunan saat mendengar nama yang sudah lama terlupakan.
Dia kehilangan jati dirinya karena Ryan. Dia hampir melupakan identitasnya yang sebenarnya.
"Jenessa."
Suara menawan dan maskulin tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Karena terkejut, Jenessa berbalik dan menemukan Ryan sedang berdiri di belakang dengan ekspresi menakutkan.
Anda Mungkin Juga Suka





