
Istri rahasia Dosen dingin
Bab 3
Mobil yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Sebuah garasi kecil dan teras dipenuhi tanaman adalah pemandangan pertama saat aku menginjakkan kaki ke sana.
“Kenapa berdiri begitu? Ayo masuk.”
Alvin memecah hening, tapi meski tidak sabar ia tidak menarikku. Sosok tingginya menunggu di depan pintu rumah sambil bergumam akan sesuatu.
Aku ingin melarikan diri. Sayangnya keputusanku bisa jadi bumerang bagi diriku sendiri. Kami sama-sama tidak mau terlibat masalah.
“Jangan membuatku memaksamu lagi.” Suara stabil Alvin kembali meninggi. Kalau dipikir-pikir ngeri juga mengingat tinggi badanku hanya seratus enam puluh. Pasti mudah sekali mengangkatku dengan tubuh besarnya itu.
“Kita mau apa?” bisikku melirik sekitar. Tetangga kanan kiri pastinya sudah tidur mengingat ini sudah jam satu malam.
“Bicara, apa lagi?” gumamnya membuka pintu lalu mendorongnya sedikit.
Di mataku, itu adalah sebuah kandang di mana aku tidak bisa keluar lagi. Kini semua keputusan ada di tanganku. Mau berteriak menghabiskan malam dengan keributan atau masuk dan pasrah saja.
Anggap saja aku bodoh karena memilih yang kedua.
Blam.
Alvin segera menutup pintu sesaat setelah kami masuk. Tapi anehnya sengaja tidak dikunci. Seakan mengisyaratkan padaku kalau tidak pernah ada paksaan di antara kami.
“Anda tinggal sendiri?” tanyaku berusaha tidak gemetar.
Seperti rumah minimalis pada umumnya. Ada ruang tamu kecil yang dihiasi televisi, vas juga air pompa disudutnya. Ini jelas berbeda dengan pikiran semua orang yang mengira Alvin hidup dengan glamour. Semua nampak sederhana untuk ukuran dosen dengan latar belakang anak orang kaya.
“Aku lajang jadi tidak mungkin hidup dengan orang lain. Ngomong-ngomong, kamu bisa bicara santai. Aku sudah bilang status kita bukan lagi dosen dan mahasiswa kalau di luar,” kata Alvin menghidupkan lampu lalu duduk santai di pinggiran sofa.
Aku mulai terintimidasi lagi. Padahal tadi kami sudah berdebat, tapi begitu masih ruang tanpa sekat jiwa pemberontakku jadi setipis tissu.
“Duduk. Mau sampai kapan kamu berdiri begitu?” ucapnya menatapku dengan mata yang sedikit monoloid. Aku baru sadar tentang hal itu karena ia lebih sering memakai kaca matanya di kelas.
Aku menurut lalu memilih sofa yang agak jauh. Situasi macam apa ini? Hatiku menolak tapi tubuhku bergerak sendiri. Harusnya aku berlari keluar saja daripada menghadapi pria yang kutaksir sejak lama. Takutnya sikapku malah jadi murahan nanti. Baru juga bicara, suara bassnya sudah membuatku merinding.
“Jadi kapan kamu mau berhenti?”
Pertanyaan sama lagi-lagi membuat telingaku sakit.
“Itu mata pencaharian saya. Saya bukan melacur, tapi menghibur selama empat puluh lima menit.”
Dari sekian ucapan menyebalkan Alvin, aku paling tidak tahan dengan caranya merendahkan. Tidak ada hak sama sekali ia mempertanyakan kapan aku berhenti. Tugas dosen adalah melaporkan ke badan kehormatan kampus, bukan malah begini.
Alvin menghembuskan napas panjang. Ia kemudian mengusap-usapi wajahnya gusar.
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku ikut campur, kan?” ujarnya serius.
“Tentu saja, bapak aneh. Kita tidak dekat dan tidak punya hubungan apapun. Saya hanya mahasiswi tingkat pertama yang baru beberapa bulan lalu masuk. Asal bapak tahu saya kuliah karena ingin keluar dari tempat itu. Kalau disuruh berhenti, saya bukannya tidak mau, tapi tidak bisa.”
Begitu mendengar ucapanku, suasana mendadak hening. Alvin menggigit bibir lalu menyandar ke sofa. Tatapannya masih melekat padaku saat mengeluarkan ponsel dari saku celana.
“Ini alasannya.”
Ia bergumam, menaruhnya ke atas meja agar aku melihat isi albumnya. Kupikir itu mungkin kumpulan fotoku saat tengah ada di atas panggung pole dance. Dengan bra tipis dan celana dalam kecil. Tapi nyatanya dugaanku salah besar. Itu terlihat seperti diriku, tapi bukan aku.
“Siapa?” bisikku tak percaya. Aku langsung mengambil ponsel itu untuk menggeser isi album satu demi satu.
Wanita dengan sweater juga rok bunga itu sangat mirip denganku. Rambut panjangnya menjuntai hingga punggung dan tawanya begitu lepas tanpa beban. Di beberapa foto lain terlihat wanita itu bersama Alvin. Saling memandang mesra satu sama lain.
“Dia Gisel, calon istriku yang meninggal tiga tahun lalu. Kalian mirip kan? Itulah kenapa aku tidak bisa tinggal diam dan ingin ikut campur. Andai aku tidak melihatmu masuk kelas hari itu, mungkin sekarang kita tidak akan duduk dan bicara di sini. Aku masih sakit dan berencana pergi ke luar negri. Tapi kamulah yang menahanku.”
Alvin tiba-tiba berdiri untuk merebut ponselnya lagi. Sikap kasar itu langsung melemparku ke kenyataan di mana aku bukanlah apa-apa. Semacam bayangan dari seseorang yang sudah meninggal. Padahal kalau dilihat-lihat kami tidak begitu mirip. Bukan hanya style, tapi Gisel adalah langit dan aku bumi. Bagaimana bisa wanita yang terlihat seperti perempuan baik-baik sama dengan seorang pole dancer?
“Anda sakit kan? Mungkin itu efek depresi karena kehilangan pasangan. Tapi jangan melampiaskannya padaku. Itu mengerikan,” ucapku emosional.
Entah kesal karena apa yang jelas aku merasa tengah menghadapi pria sakit jiwa. Pantas selama ini ia begitu kaku dan dingin. Rupanya ada luka yang belum terobati. Dilihat dari setiap foto Gisel, nampak rasa cinta yang begitu besar.
Alvin membisu tapi wajahnya terlihat tegang seakan menahan perasaan.
“Saya pergi dulu. Keputusan saya masih sama. Pekerjaan tetap akan menjadi pekerjaan dan pendidikan tetap pendidikan. Kalau keberatan, laporkan saja ke pihak kampus tapi perlu anda ingat, saya tidak akan jatuh sendiri.”
Tidak ada tanggapan dari mulut Alvin. Ia hanya berdiri seperti patung saat aku beranjak pergi. Tadinya aku was-was takut dikasari. Bagaimanapun kini ia terlihat seperti pria yang bisa melakukan apa saja. Tapi ia benar-benar membiarkanku pergi.
“Tunggulah di luar, aku akan memesankan taksi.”
Untuk terakhir kalinya aku lagi-lagi menurut. Entah bagaimana menjelaskan, walau dipaksa Alvin berhasil membuatku merasa aman.
“Tadinya kupikir aku bisa membujukmu. Tapi aku salah besar, rupanya kamu keras kepala juga.”
Ia menyusulku ke depan teras kemudian duduk di salah satu kursi untuk merokok.
Aku sedikit terkejut mendapati nikotin ada di selipan bibirnya. Di kampus ia benar-benar berbeda. Tidak pernah kepergok merokok atau bicara seenaknya. Itulah kenapa aku sempat menjulukinya batu pualam yang tampan. Tapi hanya dalam semalam anggapanku itu dihancurkan. Bukan lagi dosen dingin, Alvin berubah seperti pria metropolis di klub malam. Dengan memicingkan sedikit mata, aku bisa membayangkan betapa hangat rengkuhan lengannya. Mungkin rasa bibirnya sedikit pahit karena rokok juga alkohol.
“Kenapa? Kamu mau rokok juga?” gumam Alvin memergokiku tengah menatapinya.
“Saya tidak merokok.”
“Gadis malam tidak mungkin tidak merokok.”
“Sekedar informasi, saya juga tidak minum atau melayani kencan berbayar. Jadi jangan menatapku kasihan atau meremehkan.”
Meski remang, aku melihat mata sipitnya melebar sedikit. Oke, tidak masalah kalau ia tidak percaya. Atau haruskah kubilang kalau aku masih perawan juga?
Obrolan kami ditutup dengan saling tatap. Jujur saja, hatiku seperti melompat-lompat. Desiran di dadaku tidak kunjung berhenti meski sudah semenit. Bibir tipis Alvin adalah alasan dari kegelisahanku. Padahal gaya merokok setiap orang selalu sama, tapi di otakku yang kosong, semua terkesan mengundang.
Tak lama terdengar suara kendaraan dari kejauhan. Benar saja, taksi warna biru berhenti tak jauh dari teras rumah.
“Taksinya datang. Ini, bawa saja.”
Alvin merogoh beberapa lembar uang dari sakunya, entah berapa. Buat apa ditolak? Waktuku memang terbuang hanya karena datang ke rumahnya.
“Kayra? Kamu tertarik padaku?” tiba-tiba ia menahan pintu taksi yang mau kututup. Tatapan matanya tiba-tiba sayu dan sedikit menggodaku.
Pertanyaan gila macam apa itu? Batinku mengumpat kesal. Jelas ia penasaran akan sesuatu.
“Tidak,” sahutku meringis.
“Kalau iya juga tidak masalah. Hubungi aku kapan saja dan kita bicara soal ini lebih jauh,” ucapnya menghisap rokoknya lagi lalu memberi isyarat agar aku segera masuk. Jangan-jangan kebohonganku terbaca?
Rupanya memang tidak ada yang namanya pria pualam atau pahatan Tuhan. Semua akan brengsek pada waktunya. Alvin adalah contoh kalau wajah malaikat kadang hatinya buruk rupa.
Anda Mungkin Juga Suka





