Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Rahasia CEO Arogan

Istri Rahasia CEO Arogan

Evely gemetar ketakutan saat menolak pernikahan dengan Megantara, seorang CEO arogan yang terbiasa mendapatkan segalanya. Megantara yang murka merasa dihina oleh gadis miskin tersebut. Ia mencengkeram dagu Evely dan menekannya dengan ancaman keras untuk memberi pelajaran tentang kekuasaannya. Meski Evely mencoba melawan dan memohon agar dilepaskan, Megantara terus mendekat dengan senyum sinis, memojokkan gadis itu dalam situasi yang mencekam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Evely kebingungan mencari ke mana lagi uang yang akan mencukupi untuk membayar bunga satu persen utang ayahnya, pasalnya gajinya sama sekali tidak cukup untuk itu. Ia harus mencari pekerjaan lain, tetapi ia bingung pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Di kota besar seperti ini sangat sulit sekali mencari pekerjaan, apalagi dirinya yang hanya merupakan lulusan SMA karena tidak selesai dalam menjalani studi kuliahnya. Sebenarnya ada seorang teman kuliahnya yang menawarkan bantuan, tetapi Evely memilih menolak karena ia tidak mau merepotkan temannya itu. Ia tahu kalau temannya merupakan orang berada, tetapi percuma saja ia membayar utang itu dengan cara berutang juga. Akan sangat bagus jika ia benar-benar membayarnya dengan kerja kerasnya.

"Kau yakin tidak butuh bantuanku, Ev?" tanya Marker Aldridge—teman dekat Evely. Mereka bertemu saat acara OSPEK di kampus.

"Tidak, aku bercerita padamu bukan untuk meminta bantuanmu, Mark. Aku tidak ingin merepotkanmu," jawab Evely.

"Aku sungguh tak keberatan membantumu, Ev, aku tidak tega jika membiarkanmu harus banting tulang untuk melunasi utang mendiang ayahmu," ujar Mark.

"Aku tidak apa-apa, Mark, kau tidak perlu khawatir. Aku masih kuat untuk mencari pekerjaan agar aku bisa mendapatkan uang itu." Evely benar-benar tidak mau merepotkan Mark.

"Ya sudah, aku harap semoga kau bisa mendapat pekerjaan yang layak, Ev. Kalau kau nanti putus asa dan butuh bantuanku, maka jangan segan menghubungiku," ujar Mark.

"Terima kasih telah mendengarkanku, Mark, kau sungguh teman yang sangat baik." Mark tersenyum sekilas mendengar ucapan terima kasih temannya itu.

"Tidak perlu sungkan, Ev, aku akan selalu ada untukmu. Kau ini seperti dengan siapa saja? Bukankah kita ini teman?" Mark menepuk bahu Evely.

"Kau sungguh baik, siapapun gadis yang akan menjadi kekasihmu pasti akan sangat beruntung," ujar Evely membuat Mark terdiam.

"Andai kau tahu kalau sedari dulu aku menyukaimu, Ev," gumam Mark.

"Kau bilang apa, Mark?" tanya Evely yang tidak mendengar dengan jelas gumaman Mark.

"Bukan apa-apa. Ah, sepertinya aku harus pergi, sebentar lagi ada kelas Pak Albert," ujar Mark berdiri dari duduknya.

"Hati-hati, Mark." Evely ikut duduk.

"Jaga dirimu baik-baik, Ev, nanti kita bertemu lagi." Evely mengangguk, ia melambaikan tangannya ke arah Mark yang perlahan menjauhi area taman sekitarnya.

"Fyuhh." Evely mengembuskan napasnya, begitu berat rasanya hari ini.

Wanita itu berjalan meninggalkan taman tempat pertemuannya dengan Mark, ia memang meminta Mark menemuinya di taman karena laki-laki itu selalu menghubunginya dan menanyakan alasan kenapa ia berhenti dari kampus. Tidak ada yang harus Evely tutupi dari Mark karena pria itu banyak tahu mengenai dirinya dan ia memang tidak berniat menyembunyikan masalahnya. Ia butuh teman yang bisa diajak berbagi masalahnya, ia hanya ingin bercerita tetapi tidak untuk mendapat belas kasihan orang lain. Ia ingin Mark mendengarkan ceritanya agar hatinya setidaknya sedikit lega karena tidak mungkin ia menceritakan ini semua pada keluarganya di saat ia memang sengaja ingin menyembunyikannya dan diam-diam menyelesaikannya semua masalah ini sendirian.

"Hei!" Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya membuat dirinya yang tengah berjalan sambil menunduk pun mendongak, ia memicingkan matanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dari kejauhan ia tidak begitu jelas melihatnya, tetapi saat melihat orang itu senyumnya tak bisa ditahan.

"Elsa!?" teriak Evely sambil melambaikan tangannya ke arah seorang gadis yang ia panggil Elsa.

"Akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu, Ev," ujar Elsa saat ia sudah berdiri di hadapan Evely.

"Kau apa kabar, El? Sudah lama aku tak bertemu denganmu." Evely nampaknya begitu senang bisa bertemu dengan teman lamanya, ia dan Elsa sudah berteman sejak kelas satu SMP.

"Aku baik, kau sendiri apa kabar, Ev?" tanya balik Elsa.

"Aku juga baik."

"Sepertinya kita harus mencari tempat duduk agar obrolan kita bisa terasa nyaman," ujar Elsa saat sadar kalau sedari tadi mereka berdiri.

"Kau benar, El, tapi kita harus pergi ke mana?"

"Ah, bagaimana kalau sebuah kafe di sana?" Elsa menunjuk sebuah kafe millenial yang tak jauh dari mereka.

"Aku sedang tak punya uang untuk pergi ke sana, El, bisakah kita cari tempat lain?" tanya Evely sambil meringis membuat Elsa tertawa.

"Kau tak perlu khawatir, Ev, aku akan meneraktirmu. Kau tenang saja," ujar Evely.

"Tapi—"

"Tidak perlu sungkan denganku, lagipula kita sudah lama tidak bertemu. Aku sanggup rindu mengobrol denganmu, Ev." Tanpa menunggu penolakan dari Evely, Elsa menarik tangan teman lamanya itu dan mengajaknya pergi menuju kafe yang ada di dekat mereka.

Ragu-ragu Evely memasuki kafe itu saat Elsa terus memaksanya untuk masuk, hingga akhirnya mereka duduk saling berhadap-hadapan di salah satu bangku kafe itu. Elsa memesan minuman dan makanan ringan untuk mereka, sembari menunggu minuman dan cemilan itu disiapkan, mereka berbincang-bincang.

"Kau dari mana saja? Mengapa baru muncul sekarang?" tanya Evely.

"Kau tahu kalau aku saat ini sudah bekerja, Ev, pekerjaanku sangat sibuk sekali. Aku bahkan tak punya waktu istirahat, tapi demi mendapatkan uang yang banyak aku rela menghabiskan waktuku untuk bekerja," jawab Elsa.

"Kau beruntung sekali bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat bahkan saat kau lulus SMA, Ev. Kau tahu sendiri? Bagiku sangat sulit mencari pekerjaan, bahkan sampai aku berhenti dari kampus pun saat ini tak ada tempat yang menerimaku menjadi pegawainya," ujar Evely mulai bercerita tentang kesusahan yang ia alami.

"Kau keluar dari kampus, Ev? Benarkah itu? Bukankah masuk kampus itu adalah impianmu?" Elsa terkejut mendengar kabar kalau temannya berhenti kuliah.

"Aku terpaksa mengorbankan impianku itu, El, karena saat ini aku harus melunasi utang mendiang ayahku yang jumlahnya sangat besar." Evely bercerita dengan wajah sedihnya.

"Aku hanya diberi waktu sampai besok, jika besok aku tak membayar bunga satu persen dari utang ayahku maka rumah kami akan disita."

"Saat ini aku sangat bingung sekali harus mencari di mana lagi uang itu, semua sudah aku coba tetapi tidak ada yang menerimaku menjadi pegawai mereka. Aku sungguh sangat putus asa," sambung Evely.

"Kau mau suatu pekerjaan, Ev?" Tiba-tiba saja Elsa menawarkan sesuatu yang menarik bagi Evely.

"Apa itu, Ev? Apapun pekerjaan itu akan aku lakukan asal aku bisa mendapatkan uang dengan cepat."

"Kau mau bekerja di club malam tempatku juga bekerja?"

"Maksudmu menjadi ... tidak! Aku tidak mau, El, aku tidak mau mengorbankan harga diriku hanya demi uang." Dengan tegas Evely menolak sebelum mendengar perkataan Elsa selanjutnya.

"Dengar dulu apa yang aku katakan, Ev, ini bukan pekerjaan seperti yang kau pikirkan," ujar Elsa.

"Lantas, pekerjaan apa itu?"

"Kau hanya perlu menjadi pelayan di club malam, Ev, mengantar minuman untuk pengunjung yang datang. Bayarannya sangat besar karena pemilik club malam itu sudah sangat sukses, di sana ada banyak pengunjung yang berasal dari kalangan atas. Aku yakin dia pasti akan membantumu karena kebetulan sekali saat ini club malam itu sedang mencari pelayan baru," ujar Elsa.

"Tapi aku tak yakin, El."

"Kau coba dulu, Ev." Evely terdiam, ia kembali berpikir hingga kemudian akhirnya mengangguk. Semoga saja pekerjaan ini bisa menjadi ladang mencari uang baginya untuk melunasi utang yang begitu banyak itu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JQW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JQW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Brave Heart
8.7
Hidup Seruni Arkadewi hancur setelah kecelakaan membuatnya timpang. Ia dikhianati kekasih dan sahabatnya, lalu dipaksa ayah tirinya menikahi pria tua demi harta. Seruni pun kabur demi membuktikan kemandiriannya meski fisik terbatas. Di sisi lain, Antonio Brata Kesuma adalah pria kaya yang membenci segala bentuk kecacatan. Bagi Antonio, tekad Seruni hanyalah misi bunuh diri, namun Seruni tetap teguh berjuang menggapai mimpinya tanpa mau dikasihani.
Sampul Novel CINTA DI BALIK TOPENG
9.5
Seorang pebisnis ternama menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemimpin dunia bawah yang ditakuti. Takdir mempertemukannya dengan wanita penuh teka-teki yang juga memendam rahasia kelam. Di tengah kemewahan dan bahaya, benih cinta mulai tumbuh, memaksa mereka menghadapi konflik batin yang hebat. Hubungan ini penuh godaan mematikan saat topeng masing-masing perlahan retak, mengancam keselamatan serta posisi kekuasaan yang selama ini mereka bangun.
Sampul Novel Gairah Tuan Besar
8.2
Zain adalah pengusaha sukses yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak kecelakaan tragis lima tahun lalu akibat pengkhianatan istrinya, ia menderita disfungsi seksual. Bella memanfaatkan kondisi ini untuk berselingkuh secara bebas demi memeras harga diri Zain. Namun, pertemuannya dengan Yvone di sebuah kelab malam membangkitkan kembali gairah Zain yang lama padam. Masalah besar muncul karena Yvone ternyata adalah kekasih Daniel, anak tirinya sendiri.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Dikhianati Callan karena dianggap mandul, Amy memilih bercerai dan menghabiskan malam panas bersama seorang gigolo sebelum mengasingkan diri. Enam tahun berlalu, ia kembali membawa kejutan: enam anak kembar yang menggemaskan. Namun, Amy terkejut saat mengetahui bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Di tengah perbedaan status, mampukah Amy menyembunyikan rahasia besar ini dari sang CEO berkuasa yang selama ini juga dikira tidak bisa memiliki keturunan?
Sampul Novel KEKASIH HALALKU
9.3
Seorang wanita muda yang terbiasa hidup manja sebagai putri pengusaha kaya harus menghadapi garis takdir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia terpaksa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya untuk menjadi seorang istri muda. Menikah dengan pria yang memiliki perbedaan usia sangat jauh membuat dunianya berubah drastis. Kini, ia harus berjuang menjalani peran barunya dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia harapkan terjadi di hidupnya.
Sampul Novel Miss Villainess Is Wealthy
8.0
Terbangun kembali di masa lalu, Valerie berhasil lolos dari maut hanya untuk terjebak skandal cinta satu malam dengan pemuda misterius bernama Cedric. Mereka pun memulai pernikahan kontrak dua tahun demi perlindungan dari Keluarga Meyer. Meski Cedric memperingatkannya untuk tidak jatuh cinta, Valerie justru menghadapi kenyataan pahit bahwa sisa usianya tidak lama lagi. Di tengah drama yang menguji ketegaran, mampukah Valerie bertahan hidup?