
ISTRI ORANG
Bab 3
Setelah mendapatkan persetujuan dari Dev. Ayana akhirnya melamar di sebuah perusahaan koran terbesar sebagai jurnalis disana.
Langkahnya begitu tegas, serta raut wajah penuh semangat saat pertama kali memasuki perusahaan itu.
Saat bertemu dengan si pemilik perusahaan, Ayana langsung memperkenalkan diri serta keahliannya dalam bidang itu. Namun herannya, pemimpin perusahaan itu malah menatapnya begitu dalam. Membuat Ayana sedikit risih dan tidak nyaman.
"Maaf Pak, apa Anda mendengar yang saya katakan tadi?"
"Ah, ya... Anda diterima bekerja disini. Kami sangat menunggu berita menarik dari Anda."
"Benarkah? Terimakasih banyak kalau begitu," Ada binar bahagia dimata Ayana. Akhirnya dia bisa melanjutkan kembali cita-citanya yang sempat tertunda.
"Nama saya Javier," Ayana menatap tangan besar yang terulur kearahnya. Dengan segera dia menyambut tangan itu.
"Baiklah Pak Javier."
Setelah kepergian Ayana, Javier tidak hentinya tersenyum. Bahkan sejak kedatangan wanita itu, Keterkejutannya langsung digantikan dengan perasaan senang. Dia tidak menyangka, bahwa wanita yang pernah dia lihat waktu itu, kini datang dengan sendirinya. Tanpa dia harus bersusah payah untuk mencarinya.
Rasa penasaran kini menyelimuti hati Javier. Pria itu kini sedang sibuk mencari informasi data pribadi Ayana. Ingin mengetahui latar belakang wanita yang menurutnya cukup menarik itu.
Seketika saja ekspresi wajah Javier berubah, saat mengetahui Ayana sudah menikah. Rasa kecewa terlihat jelas diwajahnya.
Sial. Aku kalah cepat rupanya...
"Kau sedang apa?" suara tegas seorang wanita membuat Javier mengalihkan perhatiannya.
Vara, Sosok wanita yang menjadi teman baiknya kini berada dihadapannya.
Javier tidak menjawab. Namun pria itu menunjukkan padanya tentang biodata Ayana di laptopnya. Seulas senyuman mengejek terlihat jelas diwajah Vara.
"Hahah... Kasihan sekali temanku yang tampan ini, rupanya menyukai istri orang!"
"Berhenti mengejekku! Sialan... " Javier mendegus sebal.
"Tapi bukankah ada yang bilang, kalau istri orang jauh lebih menantang! Ini akan seru... Ayolah Javier jangan menyerah," Vara memberikan semangat pada Javier, pria itu juga nampak menimbang-nimbang ucapan sahabatnya itu.
Karena memang selama ini Javier selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Seringai iblis muncul diwajahnya.
Melihat hal itu, membuat Vara berhenti menggodanya. Tidak dia sangka, bahwa lelucon yang dia buat, dianggap serius oleh Javier.
"Oh no. Aku hanya bercanda Javier. Jangan kau anggap serius ucapanku! Dan berhentilah tersenyum sinting seperti itu. Itu mengerikan," Vara bergidik negeri melihatnya.
"Bantu aku Vara... "
"Bantu mendekati istri orang? Hah! Jangan gila Javier. Masih banyak wanita lain diluar sana," Vara menatap sinis pada Javier yang menatapnya penuh arti.
"Tapi aku penasaran dengan Ayana. Aku tidak akan berlama-lama. Hanya sedikit bermain-main saja, setelahnya selesai."
"Ck, enteng sekali mulut sialanmu itu saat bicara! Kau pikir aku tidak tahu siapa kau ini Javier? Kau adalah sosok iblis yang menjadikan ketampanan sebagai topeng. Dan akulah orang menyedihkan yang akan mendapatkan getah atas perbuatanmu."
Seperti biasa, Javier malah terkekeh setiap kali mendengar makian dari Vara. Pria itu menatap geli pada sosok wanita menyedihkan dihadapannya ini. Karena setiap kali Javier selesai dengan mangsanya. Vara lah yang akan membujuk para wanita agar berhenti mengejar Javier dengan segala cara. Termasuk berpura-pura menjadi istri sah nya.
"Come on, Vara. Help me... "
"No."
"Liburan ke florida?" Javier mencoba membujuknya.
"Aku tidak tertarik!"
"Kau yakin? Bukankah kau suka pantai florida. Kau tidak akan sendirian kali ini. Aku akan ikut. Kita akan bersenang-senang disana."
Vara menyipitkan matanya. Menatap Javier penuh selidik. "Kau mencoba menipuku?"
"Mana ada tampang penipu dari seorang Javier,"
"Cih, buktinya kau selalu menipu wanita!"
"Tapi tidak denganmu. Aku serius! Aku juga butuh refresing. Kita akan pergi kesana."
"Wajahmu meragukan, Javier... Tapi baiklah. Aku akan membantumu sekali lagi."
"Good girl," Javier mencubit pipinya dengan gemas. Namun Vara malah mendengus.
"Kau yang terbaik Vara.. "
"Dan kau yang selalu membuatku sial!"
Lagi-lagi Javier terkekeh karenanya.
*****
Rumah besar itu nampak sepi, saat para penghuninya disibukkan dengan aktifitas mereka masing-masing. Bahkan saat dirumah seperti ini, mereka hanya berlalu lalang tanpa menatap satu sama lain. Seolah saling tak mengenal.
Dev bahkan tidak perduli Ayana mau bekerja dimana dan bersama siapa. Sikap dingin pria itu membuat Ayana merasa hanya sebagai pajangan disana. Rumah besar itu bagaikan penjara baginya. Satu-satunya cara untuk mengalihkan semua pikirannya ialah bekerja.
Ayana memutuskan untuk pergi ke St. Petersburg. Mencoba mencari berita menarik disana. Sayangnya sampai saat ini, dia belum menemukan ide apapun sebagai bahan risetnya. Namun yang membuatnya sedikit tertarik adalah sebuah lukisan yang berjejer disana.
Lukisan yang dibuat di atas kayu. Itulah souvenir bernama palekh. Tradisi melukis di atas kayu sendiri sudah ada di Rusia sejak abad 12, yakni di Desa Palekh, Kholuy, Mstyora dan Fedoskino.
Kini, lukisan Palekh sudah bisa ditemukan dengan mudah di sepanjang jalan-jalan di kota St. Petersburg.
"Ayana..."
Ayana menoleh kesumber suara yang baru saja memanggil namanya. "Pak Javier?"
"Sedang apa kau disini? Meriset?"
"Aku sedang mencari pemilik lukisan-lukisan indah ini," Ayana menunjuk beberapa lukisan disana.
"Aku tahu pemiliknya. Ikutlah denganku, kau bisa bertemu dengan pelukisnya langsung."
Ayana masih mematung ditempatnya. Ada sedikit keraguan didalam dirinya saat mendengar tawaran Javier.
"Tenanglah, aku tidak akan menculikmu."
Ayana tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Javier. Saat itu pula, senyuman mengembang diwajah Javier. Kali ini dia berhasil menggenggam tangan Ayana. Mungkin lain kali akan lebih dari ini.
Sebuah awalan yang bagus untuknya.
Javier juga memerintahkan asistennya Regan, untuk mencari tahu tentang suami dan kehidupan Ayana. Barangkali dia bisa menemukan hal menarik yang bisa membuat Ayana berpaling dari suaminya.
Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai ketempat tujuan. Ayana tidak menyangka bahwa dia benar-benar akan bertemu langsung dengan si pembuat lukisan.
"Halo paman Thom... "
"Oh haii, Orlando. Aku senang kau datang lagi kemari."
"Ayana, kenalkan ini paman Tom," Javier mencoba memperkenalkan Ayana dengan pria tua yang sedang sibuk dengan lukisannya.
"Ayana, Tuan... "
"Panggil saja paman Thom, seperti Javier."
"Baiklah paman Thom."
"Ayana, kau boleh mewawancarinya langsung. Aku akan menunggu disana," Javier menunjuk sebuah tempat yang memperlihatkan lukisan-lukisan besar.
"Baiklah Pak Javier."
"Sepertinya kalian sangat dekat," Thom mencoba membuka suara saat melihat cara Ayana memandang Javier. Padahal itu bukanlah apa-apa. Tapi entah apa maksud dari perkataan Thom tadi.
"Sepertinya tidak. Aku baru kemarin bekerja padanya."
"Dan dia memperlakukanmu dengan baik," tuduh Thom dengan pandangan anehnya.
"Aku rasa semua orang memang seperti itu. Kecuali suamiku,"
"Dia memang pria baik. Tidak salah jika kau memilihnya... "
"Oh maaf, sepertinya Anda keliru paman. Aku sudah menikah," Ayana menunjukkan jari manisnya yang sudah tersemat sebuah berlian indah.
Thom menatap heran.
Untuk apa Javier menyuruhku membantunya mendekati wanita yang sudah bersuami. Si brengsek itu memang aneh!
Anda Mungkin Juga Suka





