
Istri Kontrak CEO Galak!
Bab 3
Setelah keluar dari rumah sakit, Leora berjalan tanpa tujuan. Dengan air mata yang setia menemaninya, ia bingung harus mencari uang dari mana untuk biaya operasi ayahnya. Bahkan Leora tidak memiliki keahlian khusus dalam hal bekerja, ia juga tidak tahu harus mencari pekerjaan di mana.
"Apa yang bisa aku lakukan, Tuhan. Aku tidak mau kehilangan papa. Cuma papa yang aku miliki," gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Baru saja ia akan melangkah lagi, mata Leora terbelalak ketika ia melihat seorang wanita paruh baya di tengah jalan raya, sebuah mobil melaju dengan kencang ke arahnya.
"Tante, awas!"
Sontak Leora berlari menghampiri wanita tua tersebut, mendorong tubuhnya hingga keduanya terjatuh di pinggir jalan, siku Leora terasa sakit karena menahan kepala wanita tersebut agar tidak terbentur ke jalan.
"Tante, kamu tidak apa-apa?" tanya Leora setelah berhasil menolongnya.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Leora. Sejenak, Leora menghela nafas lega, wanita paruh baya itu baik-baik saja. Meskipun sikunya terluka.
"Syukur, biar saya bantu," kata Leora membantu wanita itu berdiri.
"Terima kasih, siapa namamu?" tanya wanita itu sambil tersenyum pada Leora.
Leora pun membalas senyumannya, "Nama saya Leora Adhisti Ale..."
Leora menghentikan ucapannya, untuk sementara waktu Leora tidak mau menyebutkan nama keluarganya. Agar mudah mencari pekerjaan, dan untuk menghindari pertanyaan tentang perusahaan ayahnya yang bangkrut. Prayoga adalah seorang pengusaha, yang sesekali diliput media. Apalagi sekarang dia tiba-tiba seperti menghilang dari dunia bisnis, pasti banyak yang bertanya-tanya tentang dirinya.
Wanita itu mengangkat alis, menunggu kelanjutan dari perkataan Leora.
"Em, Leora Adhisti," lanjut Leora sambil tersenyum tipis.
"Namaku Rumi, terima kasih Leora sudah menolongku," kata Rumi, yang disambut anggukan kepala oleh Leora.
"Mama!" teriak seorang pria tampan, berhidung mancung dan berkulit putih. Dan mata cokelat, yang membuat Leora sedikit terpesona saat melihatnya. Jas abu-abu yang melekat di tubuhnya membuat karisma pria itu semakin besar.
Pria itu berlari ke arah Leora, tepatnya ke arah Rumi yang sedang bersama Leora.
'Tampan sekali,' pikir Leora, terpesona oleh ketampanan pemuda itu.
"Ada apa Ma? Mama tidak apa-apa?" tanya pria itu terlihat khawatir, sambil mendorong tubuh Leora menjauh dari ibunya.
Leora yang belum siap akhirnya terjatuh kembali ke tanah. Leora merasa kesal dengan pria yang ada di depannya, ketampanan pria itu seakan hilang karena perlakuan kasarnya terhadap Leora.
"Ah, apa dia tidak melihat aku di sini?" Leora menggerutu pelan, lalu berdiri menatap tajam ke arah pria menyebalkan itu.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku hampir saja tertabrak mobil, sayang," jawab Rumi.
Ya, pria itu adalah tuan muda Adnan Nicholas, miliarder muda yang tampan. Namun dibalik ketampanannya itu, tersimpan sifat arogan dan kasar. Membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri dan akan berpikir dua kali untuk berurusan dengannya. Karena Adnan tidak akan segan-segan menghancurkan dan membunuh semua musuhnya.
Adnan memelototi Leora, mencengkeram lengan Leora dengan kasar. Membuat wanita itu mengerang kesakitan karena sikunya juga terluka.
"Kau pasti yang melakukannya!" Adnan membentak, mencengkeram lengan Leora dengan kasar. Menatap Leora dengan tatapan mematikan.
"Aww, sakit," rintih Leora merasakan sakit di lengannya yang terluka.
"Kenapa kamu begitu bodoh, tidakkah kau lihat? Aku tidak mengendarai mobil. Bagaimana aku bisa menabrak ibumu, dasar setan!" Leora berkata tanpa berpikir panjang, tidak peduli siapa Adnan.
"Diam! Kalau kamu berani bicara lagi, aku akan potong lidahmu!" Adnan mengancam sambil mengencangkan cengkeramannya pada rahang Leora, membuat Leora semakin mengerang kesakitan.
Leora terkejut dengan kata-kata Adnan, ia menelan ludahnya dengan kasar, menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak menyangka ada orang seperti Adnan di dunia ini, sombong dan tidak berperasaan.
'Fiks, dia adalah manusia setan. Ada apa denganku Tuhan? mengapa Engkau mempertemukan aku dengan manusia seperti dia,' pikir Leora, bergidik ngeri melihat Adnan.
"Adnan! Hentikan, bukan dia yang melakukannya. Leora yang menolongku," kata Rumi sambil menarik tangan Adnan untuk melepaskan Leora.
Karena perintah ibunya, Adnan menurut dan melepaskan cengkeramannya pada rahang Leora. Bukannya meminta maaf karena telah salah menilai Leora, Adnan malah memalingkan wajahnya. Dengan sifat arogan, ia melipat kedua tangannya di depan dada, seakan-akan ia tidak memiliki dosa sama sekali.
Leora yang melihat hal itu tidak menyangka akan bertemu dengan manusia tak berperasaan seperti Adnan. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan manusia yang sombong dan menyebalkan seperti itu. Leora berharap tidak akan pernah mau, bertemu dengan Adnan lagi dalam hidupnya.
Setelah perdebatan panjang, Adnan meminta ibunya untuk pergi. Tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Leora.
"Ma, ayo kita pulang," katanya sambil menarik tangan Rumi dengan lembut.
Namun Rumi menggeleng, lalu berhenti di tempatnya. Ia menoleh ke arah Leora dan melihat siku Leora yang terluka.
"Leo, sikumu terluka. Ikutlah denganku ke rumahku, nanti aku akan bantu mengobati lukamu," kata Rumi menatap Leora sambil sesekali mengelus puncak kepala Leora dengan lembut.
Tiba-tiba Leora menggeleng pelan, ia merasa tidak enak jika harus ikut ke rumah Rumi. Apalagi melihat raut wajah Adnan yang tidak senang, kini ia menatap Leora dengan tatapan tajam. Membuat Leora bergidik ngeri melihatnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku mau pulang saja," katanya sambil tersenyum dipaksakan.
"Aku mohon padamu. Ikutlah denganku, ya, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih," kata Rumi.
Akhirnya dengan terpaksa, Leora mengangguk mengiyakan permintaan Rumi.
"Apa kalian akan terus-terusan ngobrol di sini?" tanya Adnan yang mulai malas.
Rumi menggeleng, menanggapi anaknya yang sangat temperamental.
"Ayo, Leora," kata Rumi yang di setujui oleh Leora.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil BMW milik Adnan dan segera pergi ke rumah Rumi.
Beberapa menit kemudian, Leora terkesima dengan megahnya rumah keluarga Rumi. Matanya memandang ke seluruh penjuru ruangan, dengan warna emas yang mendominasi seluruh ruangan. Sangat megah dan elegan, bahkan lebih besar dari rumah Leora yang lama.
"Leora, ayo duduk di sini," kata Rumi sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Menyuruh Leora untuk duduk.
Leora tersenyum lalu mengangguk pelan, kemudian duduk di samping Rumi. Sementara Adnan memilih untuk pergi begitu saja, ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan mereka berdua lakukan.
Anda Mungkin Juga Suka





