
Istri Kesayangan Tuan Mafia
Bab 2
Proyektil melesat tepat pada lengan kiri Reynand, merobek kulit dan meninggalkan rasa panas. Lelaki itu meringis, menatap darah yang mengucur. Keisha gemetar hebat, jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, sebelum akhirnya ia harus menghadang Reynand yang ingin mendekati Bram.
“Tidak, aku mohon. Jangan sakiti papa, Rey.” Keisha memeluk erat, demi membuat ayunan kaki urung dibuat oleh lelaki di depannya.
“Aku mohon ...,” pintanya menatap harap.
Reynand merapatkan gigi dalam mulut tertutup, menyaksikan permohonan Keisha adalah hal paling tak diharapkan. Lelaki itu menyambar tangan perempuan masih mendekapnya, menyeret pergi ke arah mobil berada.
“Lepaskan putriku!” erang Bram dari kejauhan, tubuhnya sudah dibekuk setelah pistol dirampas anak buah Reynand lebih dulu.
Keisha menoleh, tapi ia tak mampu menghentikan langkah. Reynand terus menyeretnya, tanpa memedulikan kesulitan dirinya menyelaraskan kaki.
“Ledakkan hotel ini, sekarang juga!” titah Reynand, mengejutkan perempuan di balik tubuhnya.
“Sesuai perintah, Tuan!” seru para pria berpakaian serba hitam.
Mata Keisha nanap, dia melihat sang papa juga punggung lelaki telah membukakan pintu untuknya. “Kamu sudah gila?! Bagaimana bisa kamu memerintahkan mereka untuk meledakkan tempat ini, Rey?!”
“Masuk!”
“Tidak akan pernah!” tekan Keisha. “Kalau memang kamu ingin menghancurkan tempat ini, biarkan aku menemani mereka di sini!”
Reynand geram, tarikan napas berat diciptakan olehnya, kemudian bersimpuh di samping Keisha. Bukan untuk memohon, lelaki itu merobek ekor gaun dan membuang asal. Tubuh Keisha pun didorong paksa untuk masuk dalam kendaraan, Reynand memutar dan berlabuh ke balik kemudi.
Mobil seketika dijalankan mundur, walau mata cemas Keisha masih tertuju pada papanya. Dia bahkan terus memohon, agar titah ditarik oleh lelaki yang mengemudi dengan kecepatan tinggi sekarang. Namun, sayangnya itu tak dipedulikan, oleh tuan muda di balik kemudi yang terus mengeraskan rahang.
“Jangan lakukan apa pun pada papa, atau aku akan melompat dari sini, Rey!” ancam Keisha serius.
Reynand sekedar melirik, dia begitu acuh dengan ancaman diberikan barusan. Bukan karena tak peduli, tapi karena si pemilik kulit putih itu yakin, bahwa Keisha tak akan bisa membuka pintu dan melancarkan ancaman.
“Rey! Aku serius dengan perkataanku!”
“Lompat dan matilah, kalau kau bahagia melakukan hal itu!”
“Apa?” tak percaya Keisha. “Ka—kamu bilang apa barusan?”
“Melompatlah!” Reynand menoleh, kedua mata dilebarkan sembari menegaskan kalimat.
Keisha membuka mulut lebar-lebar, mata tadi terbelalak berubah sayu. Tetap saja, lelaki berhati keras di sampingnya tak memedulikan. Reynand menekan sebuah alat kecil pada telinga kanan, itu adalah alat komunikasi yang menghubungkan dirinya, dengan semua bodyguard.
“Seret Bram ke hadapanku, bawa juga lainnya! Hotel itu, aku tidak ingin melihatnya berdiri lagi!” perintahnya, menyentak perhatian Keisha sekali lagi.
Mendengar hal itu, hati Keisha semakin tak karuan. Siapa yang tak mengenal bagaimana cara Reynand menghancurkan lawan, terlebih ketika sang penguasa itu telah menjatuhkan titah, agar musuh dibawa ke hadapannya. Ruang bawah tanah tersembunyi, seketika menghampiri benak Keisha. Dia menggoyangkan lengan Reynand, memohon dan merengek layaknya anak kecil.
Nihil. Semua masih diabaikan oleh tuan muda yang kini menekan klakson, menyadarkan pengawal di depan rumah akan kehadiran dirinya. Pagar hitam menjulang tinggi dibukakan segera, Reyanand menyisir halaman luas rumahnya, diiringi oleh tubuh-tubuh membungkuk bodyguard.
Kendaraan dihentikan tepat di depan teras, para pelayan pun telah berbaris menyambut hadir tuan mereka. Reynand turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Keisha dan menyeret masuk dalam rumah megah, dipenuhi oleh perabot-perabot berwarna hitam.
Elevator dalam rumah dijadikan jalan pintas oleh Reynand, untuk sampai lantai tiga, di mana ruang pribadinya berada. Genggaman belum dilepaskan dari tangan mungil Keisha, bahkan ketika pintu elevator sudah terbuka di lantai tujuan. Reynand menyisir lantai marmer hitam mengilat, membuka kasar pintu dan membanting kencang.
Tubuh Keisha dihempaskan ke ranjang, hingga perempuan terlihat sangat cantik dalam riasan nude menyegarkan itu, memekik kesakitan dengan memegangi lengan kanan. “Au!” seru Keisha meringis. “Kamu menyakitiku, Rey!”
“Menyakiti?! Apa kau tahu apa itu rasa sakit?!” Reynand bertolak pinggang, alisnya saling bertautan. “Kalau kau mengerti apa itu sakit, kau tidak akan mengkhianatiku seperti hari ini!”
“Aku tidak pernah mengkhianatimu sama sekali, Rey. Aku memiliki alasan, untuk apa yang aku lakukan!”
“Benarkah?! Alasan apa yang membenarkanmu untuk menikah lagi, sementara kau masih memiliki suami?!” teriak Reynand.
“Di depan mataku sendiri, kau bahkan tidak menolak saat dia menyentuhmu!”
“Berapa kali kau sudah tidur dengannya, Keisha? Atau ... kau bahkan sudah mengandung anaknya, sampai kau bersedia menikah dan melupakan pernikahan kita?! Katakan saja, apa itu alasanmu menggugurkan kandunganmu, Kei?!”
“Harusnya, dari awal kau mengatakan kalau tidak ingin mengandung anakku!”
Reynand terus meninggikan suara, tatkala bayang tentang Reza menggenggam tangan Keisha, membayangi ingatan. Napasnya memburu, hati memanas tak karuan, seolah siap untuk terbakar tanpa sisa.
Keisha tak mampu mempercayai apa diucapkan oleh lawan bicaranya, ia menelisik kecewa pada wajah merah padam dari lelaki yang berdiri di dekat ranjang. “Apa aku serendah itu di matamu, Rey? Mungkinkah, aku bisa melakukan hal serendah itu?”
“Harusnya, aku yang bertanya padamu, sudah berapa kali kamu meniduri Anita sampai dia hamil?! Kenapa kamu justru pergi meninggalkanku, hanya demi bisa hidup bersama Anita, Rey?!”
“Sedikit saja, apa kamu tidak berpikir kalau aku sangat terluka? Aku membutuhkanmu, tapi kamu justru meninggalkanku bersama Nabila, untuk membangun kehidupan baru dengan Anita!”
“Di mana hati nuranimu sebenarnya, Rey?! Kamu meninggalkanku dalam kondisi hamil, tanpa sedikit saja penjelasan!”
“Satu tahun, Rey. Satu tahun aku hidup dalam kebodohan, menyalahkan diriku sendiri tentang kenapa kamu bisa meninggalkanku seperti sampah tidak berharga!”
“Kenapa, Rey?! Katakan, kenapa kamu membawa Nabila pergi untuk tinggal bersama Anita?! Apa yang sudah aku lakukan, sampai kamu mencampakkanku seperti sampah?! Kenapa?!”
Keisha menggebu-gebu, teringat seperti apa kehidupan memaksanya menerima kenyataan pahit, kala diri tengah mengandung benih cintanya bersama sang suami.
Reynand mengeraskan rahang, memusatkan perhatian pada wajah terlihat frustrasi di depannya. Kaki kanan di angkat oleh Reynand menekuk di atas ranjang, mencapit wajah Keisha dan langsung menyergap bibirnya.
Tak ada kesempatan bagi Keisha menolak, tubuh terus terdorong sampai terbaring di atas ranjang. Refleks perempuan berambut hitam pekat itu membalas, setiap perlakuan dari lelaki yang sudah menyempurnakan posisi di atas tubuhnya.
Tangan-tangan Reynand mengobrak-abrik gaun pernikahan, membuang ke lantai tanpa menghentikan aksi gilanya. Keisha pun turut membebaskan tubuh kekar Reynand dari jas serta kemeja. Namun, semua terhenti ketika mata indahnya menangkap beberapa luka.
“Rey?” pilu Keisha, menyentuh dada dipenuhi oleh bekas luka.
Reynand menatap pada tubuhnya sendiri, kemudian menarik diri dan meninggalkan tubuh sangat ingin dinikmati. “Pakai pakaianmu, dan istirahatlah!”
“Tidak! Jelaskan padaku, bagaimana bisa kamu terluka seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi, Rey? Di mana Nabila sekarang?”
“Aku ibunya, Rey. Aku berhak tahu di mana putriku, dan apa yang sudah terjadi pada kalian berdua!”
Anda Mungkin Juga Suka





