Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kedua, Luka Pertama

Istri Kedua, Luka Pertama

Rafindra Mahardika, pewaris tunggal ningrat, dipaksa ayahnya mencari keturunan baru setelah kematian putri sulungnya. Nadira, gadis 19 tahun, terpaksa menjadi istri kedua demi biaya pengobatan ibunya meski ia sangat mencintai kekasihnya, Farel. Di kediaman Rafindra, Nadira menderita akibat perlakuan buruk istri pertama tanpa perlindungan dari suaminya. Mampukah ia bertahan di tengah intrik kejam keluarga ini ataukah hatinya akan hancur selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari Nadira di rumah keluarga Mahardika mulai terasa semakin menekan. Setiap sudut rumah, setiap langkah, setiap percakapan seakan dipenuhi pengawasan, penilaian, dan ancaman terselubung. Bahkan benda-benda yang tampak biasa, seperti vas bunga, lukisan, atau buku di rak, terasa seperti ujian yang menunggu untuk dijatuhkan padanya.

Pagi itu, suara lonceng jam di ruang makan terdengar nyaring. Nadira bangun lebih awal dari biasanya, menyiapkan diri dengan hati-hati. Ia harus memastikan tidak ada kesalahan yang terlihat oleh Rafindra maupun Clarissa. Satu kesalahan kecil bisa dijadikan alasan untuk menjatuhkannya, dan Nadira tidak siap menghadapi hal itu.

Saat ia melangkah ke ruang makan, Rafindra sudah duduk di kursi kepala, membaca surat kabar dengan ekspresi serius. Wajahnya dingin, matanya tajam, tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini. Tatapannya sekilas menandakan perhatian yang lebih, bukan hanya ketegasan yang biasa.

"Pagi," Nadira menyapa dengan suara pelan, mencoba menahan detak jantung yang kencang.

Rafindra menatapnya sebentar, lalu kembali membaca surat kabar. "Sarapan sudah tersedia. Pastikan kau datang tepat waktu. Aku tidak suka menunggu."

Nadira mengangguk, duduk di kursi, dan mencoba menenangkan diri. Namun ketegangan meningkat begitu Clarissa masuk, matanya menyipit saat menatap Nadira. "Kau tampak lelah, Nadira. Apakah ini akibat tugas-tugas yang memberatkanmu?" Suaranya terdengar manis, tapi menyiratkan sindiran yang menusuk.

Nadira menelan ludah. "Aku... baik, Bu Clarissa."

Clarissa tersenyum tipis, namun nadanya menegaskan hierarki mereka. "Baik atau tidak, kau harus belajar bahwa di sini tidak ada toleransi untuk kelemahan. Setiap kesalahan akan dicatat."

Makan pagi berlangsung hening, hanya suara alat makan yang saling bersentuhan yang terdengar. Nadira merasa seperti berada di arena perang, setiap gerakan diamati, setiap kata diukur. Namun di hatinya, satu hal tetap membara: ia tidak boleh menyerah, tidak boleh kehilangan tekadnya, apalagi untuk Farel.

Selesai sarapan, Rafindra memanggil Nadira ke ruang kerjanya. "Hari ini aku akan menjelaskan beberapa aturan baru," katanya tegas. "Ini penting untuk kelancaran rumah tangga. Kau harus mematuhinya tanpa protes."

Nadira mengangguk. "Baik, Tuan Mahardika."

Rafindra menunjuk daftar aturan yang tertempel di papan kayu. Aturan itu mencakup segala hal: mulai dari jadwal bangun, tata cara berpakaian, interaksi dengan staf, hingga bagaimana menghadapi tamu. Nadira mencatat semuanya, meski hatinya terasa berat. Ia tahu bahwa setiap aturan ini bukan sekadar formalitas; ini adalah alat untuk menguji kesabaran, ketahanan, dan kecerdikannya.

Di tengah pembicaraan, Rafindra menatap Nadira tajam. "Aku ingin kau mengerti satu hal: pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini tentang tanggung jawab, kesetiaan, dan keteguhan hati. Jika kau gagal menyesuaikan diri, aku tidak akan segan memberi konsekuensi."

Nadira menelan ludah. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti ini, tapi setiap kali Rafindra menegaskan perintahnya, rasanya seperti tekanan semakin berat. Ia mencoba menguatkan hati. "Aku akan berusaha, Tuan Mahardika. Aku akan belajar."

Rafindra mengangguk, tampak puas dengan jawaban itu, meski ekspresinya tetap dingin. "Belajar bukan cukup. Aku ingin kau bisa membuktikan bahwa kau mampu menghadapi tekanan ini. Tidak ada toleransi untuk kesalahan."

Setelah pertemuan itu, Nadira harus mengikuti jadwal yang ketat. Ia berlatih sopan santun, merapikan kamar, mengatur pakaian, dan mempelajari kebiasaan keluarga Mahardika. Clarissa selalu hadir untuk mengawasi, memberi komentar tajam, dan menanamkan rasa takut. Setiap kali Nadira melakukan kesalahan kecil, Clarissa tidak segan menekankan kelemahannya dengan kalimat penuh sindiran.

Namun di balik tekanan itu, Nadira mulai belajar memahami lingkungan barunya. Ia mulai mengamati Rafindra dari jarak dekat, memperhatikan gerak-geriknya, cara berbicara, dan kebiasaan yang tidak terlihat pada awalnya. Ia menyadari bahwa Rafindra bukan sekadar pria dingin yang menakutkan; ada kedalaman dalam sikapnya yang jarang diperlihatkan orang.

Suatu sore, saat Nadira sedang merapikan ruang tamu, ia menemukan Rafindra duduk di sofa dengan buku di tangan. Tanpa ia sadari, Rafindra menatapnya dari kejauhan. Nadira merasa jantungnya berdebar. Ia menunduk, berusaha tetap tenang.

"Kenapa kau berdiri di sana? Masuklah," suara Rafindra terdengar tenang tapi tegas. Nadira melangkah pelan, mencoba menahan rasa gugup.

Rafindra menutup buku dan menatapnya. "Aku ingin kau mengerti pentingnya ketelitian dalam rumah ini. Setiap gerakanmu akan diamati, setiap tindakanmu dinilai. Tidak ada ruang untuk kelalaian."

Nadira mengangguk. "Aku mengerti, Tuan Mahardika. Aku akan lebih berhati-hati."

Rafindra menghela napas, lalu menambahkan, "Selain itu, aku ingin kau belajar menyesuaikan diri dengan Clarissa. Aku tahu kalian tidak akur, tapi kau harus bisa menghadapinya. Dunia ini tidak selalu adil, Nadira. Kau harus belajar bertahan."

Mendengar kata-kata itu, Nadira merasakan campuran emosi: takut, penasaran, dan sedikit ketertarikan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia menyadari bahwa Rafindra bukan hanya sekadar suami yang dingin; ia juga manusia dengan sisi yang kompleks, penuh rahasia, dan menantang untuk dipahami.

Malam harinya, Nadira kembali menulis pesan untuk Farel. Setiap kata yang ia tulis adalah pelepasan dari tekanan yang ia rasakan seharian. Ia menulis tentang Rafindra yang tegas, Clarissa yang menusuk, dan bagaimana ia berusaha tetap kuat meski dunia seakan menentangnya.

"Farel, aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan di sini. Tapi aku akan mencoba. Aku harus. Untuk ibu, untuk kita. Aku rindu padamu setiap detik. Tolong tunggu aku."

Sementara itu, Rafindra duduk di ruang kerja, memikirkan Nadira. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis muda itu bisa mempengaruhi pikirannya sedemikian rupa. Ia tetap dingin di luar, tapi ada rasa ingin tahu yang tak ia akui pada dirinya sendiri. Ia mulai melihat Nadira sebagai sesuatu lebih dari sekadar pengantin yang dipaksakan-ia mulai mempertanyakan perasaannya sendiri, sesuatu yang jarang terjadi dalam hidupnya.

Hari-hari berlalu, dan setiap interaksi antara Nadira dan Rafindra menimbulkan ketegangan baru. Clarissa semakin licik dalam menanamkan rasa takut, tapi Nadira mulai menemukan cara untuk menghadapi tekanan itu. Ia belajar membaca situasi, menahan emosi, dan bahkan mengekspresikan keteguhan hati yang membuat Rafindra terkadang tersentak.

Suatu sore, Nadira mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Rafindra sendirian di taman rumah. Angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya, dan suara burung terdengar di kejauhan. Rafindra menatapnya dengan serius.

"Kau berbeda dari wanita lain," katanya tiba-tiba. Nadira terkejut. "Apa maksudmu, Tuan Mahardika?"

Rafindra menghela napas, matanya tetap fokus padanya. "Kau tidak mudah menyerah, meski tekanan datang dari semua arah. Itu langka. Aku ingin kau tahu bahwa aku memperhatikanmu, meski aku tidak mengatakannya."

Nadira menelan ludah, jantungnya berdetak kencang. Kata-kata Rafindra membuat hatinya bergejolak. Ia tidak tahu apakah harus merasa senang, takut, atau bingung. "Aku... aku hanya berusaha bertahan," jawabnya pelan.

Rafindra mengangguk. "Itu sudah cukup. Tapi jangan kira aku akan memudahkan hidupmu. Aku menuntut ketekunan, bukan kelembutan. Kau harus siap menghadapi dunia ini apa adanya."

Nadira mengangguk, meski hatinya sedikit lega. Ia menyadari bahwa meski dunia menekan, Rafindra mulai melihatnya sebagai seseorang yang layak dihargai, bukan sekadar pengantin yang dipaksakan.

Malam itu, sebelum tidur, Nadira menatap jendela kamarnya. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit, dan ia berbisik pelan, "Aku tidak akan menyerah. Aku harus bertahan, untuk ibu, untuk Farel, dan untuk diriku sendiri."

Dan di luar, Rafindra berdiri di balkon, menatap kota yang tenang, pikirannya berputar. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Nadira bukan gadis yang mudah ditaklukkan, dan ia mulai merasakan sesuatu yang asing: rasa ingin melindungi, rasa ingin memahami, bahkan rasa kagum pada keteguhan hati gadis itu.

Konflik, tekanan, dan rindu mulai membentuk dunia baru bagi Nadira dan Rafindra. Dunia di mana cinta mungkin muncul dari tempat yang tidak terduga, tapi juga penuh ujian dan intrik yang bisa menghancurkan atau memperkuat mereka.

Hari-hari berikutnya, Nadira harus menghadapi ujian baru: pertemuan dengan kerabat keluarga Mahardika yang penuh sindiran, tugas rumah tangga yang semakin berat, dan percikan perhatian dari Rafindra yang membuat hatinya semakin bingung. Setiap langkahnya adalah pertarungan antara rasa takut, rasa cinta, dan tekad untuk bertahan hidup.

Di tengah semua itu, satu hal tetap jelas: Nadira tidak akan menyerah. Ia akan menghadapi Clarissa, menahan tekanan Rafindra, dan menjaga cintanya pada Farel. Dan Rafindra, di sisi lain, mulai menyadari bahwa gadis itu bukan sekadar pengantin muda yang lemah, tapi seorang wanita dengan keberanian dan keteguhan hati yang mungkin, suatu hari, akan mengubah hatinya selamanya.

Pagi itu, udara rumah Mahardika terasa semakin dingin dari biasanya. Nadira menatap langit yang cerah di balik jendela kamar barunya, tapi hatinya penuh kekhawatiran. Pikirannya tak lepas dari pesan terakhir dari Farel semalam, yang mengingatkannya untuk tetap kuat. Ia tahu bahwa di balik senyum dan tatapan dingin Rafindra, ada dunia yang keras menantinya.

"Nadira, cepatlah sarapan! Aku tidak mau menunggu lama," suara Clarissa terdengar dari bawah, tegas tapi terselip nada sinis yang membuat bulu kuduk Nadira meremang.

Nadira menelan ludah, mengikat rambutnya lebih rapi, dan menuruni tangga. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai marmer itu menuntutnya untuk tunduk pada setiap aturan dan pengawasan yang ada. Di ruang makan, Rafindra sudah duduk tegap, membaca laporan bisnis sambil sesekali menatap Nadira dari sudut mata.

"Pagi," Nadira menyapa pelan, mencoba tetap tenang.

Rafindra mengangkat satu alis, matanya menatapnya sebentar sebelum kembali fokus pada dokumen. "Pagi," jawabnya singkat. Nada suaranya tetap dingin, tapi ada ketelitian yang berbeda. Ia memperhatikan setiap gerakan Nadira, menilai ketekunan dan sikapnya.

Clarissa duduk di sisi lain meja, menatap Nadira dengan senyum tipis yang menusuk. "Sepertinya kau belum terbiasa dengan rutinitas di sini, Nadira. Tapi jangan khawatir, aku akan mengajarkanmu cara bertahan di dunia Rafindra."

Nadira menelan ludah, mencoba menenangkan hati yang berdebar. "Terima kasih, Bu Clarissa. Aku akan belajar."

Namun Clarissa hanya tersenyum tipis, penuh sindiran, lalu beralih membicarakan masalah rumah tangga lainnya, sambil menyisipkan komentar pedas tentang ketidakmampuan Nadira menyesuaikan diri. Setiap kata yang keluar dari mulut Clarissa adalah ujian bagi keteguhan hati Nadira.

Setelah sarapan, Nadira diminta membantu menyiapkan dokumen-dokumen bisnis untuk Rafindra. Sementara Nadira sibuk, ponselnya bergetar dengan pesan masuk dari Farel:

"Nadira, aku tahu ini berat. Jangan menyerah. Aku akan datang sebentar lagi. Hati-hati di sana."

Nadira tersenyum tipis, merasa sedikit hangat di tengah tekanan yang mencekam. Namun senyumnya segera memudar ketika Clarissa menatapnya dengan tajam.

"Siapa yang kau kirimi pesan di tengah bekerja? Jangan biarkan perhatianmu terganggu oleh hal-hal sepele. Di sini, hanya pekerjaan yang penting," Clarissa menasihati dengan nada sinis.

Nadira menunduk, mencoba mengangguk. Ia tahu bahwa setiap detik adalah ujian; setiap kontak dengan Farel bisa menjadi senjata bagi Clarissa untuk menjatuhkannya.

Beberapa jam kemudian, Rafindra memanggil Nadira ke ruang kerjanya. Nadira merasa jantungnya berdebar kencang. Apa yang akan Rafindra katakan kali ini? Apakah ia akan menegurnya, ataukah ada hal lain yang lebih mengejutkan?

"Duduklah," Rafindra memerintah, matanya menatap tajam. Nadira duduk dengan hati-hati, menahan napas.

"Aku mengamati perilakumu sejak beberapa hari terakhir," Rafindra memulai. "Kau berbeda dari wanita lain yang pernah berada di rumah ini. Kau tidak mudah menyerah, meski tekanan datang dari segala arah. Itu langka. Tapi jangan salah, aku menuntut kesempurnaan. Setiap kesalahan akan memiliki konsekuensi."

Nadira menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Aku akan berusaha, Tuan Mahardika. Aku ingin belajar."

Rafindra menatapnya lama, lalu terdengar suara yang lebih lembut. "Aku tahu kau berusaha, dan itu terlihat. Tapi jangan kira aku tidak melihat kesulitanmu. Aku tahu Clarissa membuat segalanya lebih sulit. Kau harus kuat, Nadira. Lebih kuat dari yang kau kira."

Nadira terkejut. Rafindra, yang biasanya dingin dan kaku, mengucapkan kata-kata yang memberi semangat. Sebuah rasa aneh muncul di hatinya: campuran rasa kagum dan kebingungan. Ia tidak tahu apakah harus senang atau takut.

Saat itu juga, sebuah kabar baru datang dari pamannya, Herman. Nadira menerima telepon yang membuatnya terguncang. Pamannya menegaskan kembali bahwa jika Nadira menolak pernikahan ini, ia tidak akan membiayai pengobatan ibunya. Nada suaranya tegas, penuh tekanan, dan tak terbantahkan.

Nadira menutup telepon dengan tangan gemetar. Tekanan yang datang dari berbagai arah membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan emosional. Ia menatap keluar jendela, mencoba menarik napas panjang. Rasanya seperti dunia menekan dirinya dari segala sisi: Clarissa yang licik, Rafindra yang tegas, pamannya yang kejam, dan jarak yang memisahkan Farel.

Malam itu, saat semua orang sudah tidur, Nadira duduk di meja belajar, menulis surat untuk Farel. Kata-kata yang ia tulis adalah pelampiasan dari tekanan yang mengekangnya. Ia menulis tentang bagaimana Clarissa selalu mencari celah untuk menjatuhkannya, tentang Rafindra yang menuntut kesempurnaan, dan tentang pamannya yang tidak memberi pilihan.

"Farel, aku lelah... tapi aku tidak akan menyerah. Aku harus kuat, demi ibu, demi kita. Aku rindu padamu setiap detik. Tolong tunggu aku."

Beberapa hari kemudian, Farel benar-benar datang ke kota. Ia tahu bahwa Nadira terikat dalam dunia yang penuh tekanan, tapi cintanya padanya membuatnya nekat. Ia mencoba mencari cara untuk menemui Nadira tanpa menarik perhatian keluarga Mahardika.

Malam itu, Nadira menyelinap keluar kamar melalui jendela belakang, seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Farel menunggunya di taman, wajahnya penuh perhatian dan kekhawatiran.

"Nadira, kau baik-baik saja?" Farel bertanya, menggenggam tangannya.

Nadira mengangguk, meski hatinya masih bergelora. "Aku... aku baik, Farel. Tapi semuanya begitu sulit di sini. Clarissa... dan... Tuan Mahardika..." Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.

Farel menatapnya dengan lembut. "Aku tahu, Nadira. Tapi kau tidak sendirian. Aku akan selalu ada untukmu. Kita akan melewati ini bersama."

Kehangatan Farel membuat Nadira merasa sedikit lega. Ia menutup mata, merasakan pelukan Farel yang menenangkan, meski ia tahu waktu mereka terbatas dan risiko besar menunggu jika mereka ketahuan.

Keesokan harinya, Clarissa mulai curiga dengan gerak-gerik Nadira. Ia menaruh mata-mata di sekitar taman dan rumah, berusaha mencari bukti. Segala tindakan Clarissa semakin licik, mulai dari menanyai pelayan, menyebarkan gosip, hingga mencoba membuat Rafindra melihat sisi negatif Nadira.

Namun Rafindra, yang mulai memperhatikan Nadira dengan cara berbeda, mulai menangkap keteguhan dan keberanian gadis itu. Ia tidak langsung mengintervensi, tapi dalam diam ia menilai setiap gerak Nadira, dan sedikit demi sedikit, rasa kagumnya tumbuh. Rafindra mulai menyadari bahwa Nadira bukan sekadar pengantin yang dipaksakan, tapi seorang wanita yang memiliki keberanian, kecerdikan, dan keteguhan hati.

Hari-hari berikutnya menjadi pertarungan nyata bagi Nadira. Ia harus menahan tekanan dari Clarissa, menjaga rahasia pertemuannya dengan Farel, dan tetap menunjukkan ketekunan di hadapan Rafindra. Setiap langkahnya adalah ujian, setiap keputusan membawa risiko. Namun di dalam hatinya, satu hal tetap menyala: cinta dan tekad untuk bertahan.

Pada satu malam yang tenang, Rafindra menatap Nadira dari balkon kamarnya. Ia memikirkan gadis muda itu, mengingat keteguhan dan keberaniannya. Ia tahu bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang tanggung jawab dan kewajiban, tapi juga tentang memahami hati orang lain. Ia mulai merasa tertarik pada Nadira, meski ia menolak mengakuinya pada diri sendiri.

Di sisi lain, Nadira menatap langit malam dari jendela kamarnya, menulis pesan untuk Farel:

"Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan di sini, tapi aku akan mencoba. Aku harus bertahan, demi ibu, demi kita, dan demi cintaku padamu. Tolong tunggu aku."

Dunia mereka kini saling terkait dalam pernikahan yang dipaksakan, namun penuh intrik, tekanan, dan kemungkinan tak terduga. Konflik, rindu, dan ketegangan membentuk babak baru dalam hidup Nadira dan Rafindra, di mana cinta mungkin muncul dari tempat yang tak terduga, tetapi juga penuh ujian dan bahaya.

Dan di sinilah mereka berada, pada titik di mana setiap langkah, setiap kata, dan setiap keputusan bisa mengubah masa depan mereka selamanya. Nadira harus tetap kuat, Rafindra harus tetap tegas, Clarissa harus terus berhati-hati, dan Farel harus menemukan cara untuk tetap dekat. Pertarungan emosi, kekuasaan, dan cinta baru saja dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DUNIA MAYA
9.2
Aruni Maya adalah wanita tangguh yang hancur setelah kehilangan ibu dan anak angkatnya. Di tengah duka, dia harus menghadapi kekejaman Toni, suaminya yang ternyata hanya mendekati Maya demi membalas dendam masa lalu. Namun, sebuah rahasia besar terungkap bahwa Maya bukanlah anak kandung dari orang tua yang dibenci Toni. Penyesalan datang terlambat saat Maya berjuang bangkit dari pengkhianatan, menemukan jati diri aslinya, dan menghadapi ujian hidup baru yang mendewasakan.
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.
Sampul Novel Istri yang terbuang
9.2
Natasha terpaksa pergi setelah diusir oleh Aiden, suami yang sangat ia puja, di depan seluruh keluarga besar hanya karena masalah sepele. Ironisnya, tak ada satu pun anggota keluarga yang mencari atau mempedulikannya. Saat Natasha mencoba menghubungi mereka, panggilannya pun diabaikan. Di bawah guyuran hujan deras, ia jatuh pingsan sambil meratapi kehancuran pernikahannya. Akankah Natasha sanggup memaafkan Aiden setelah pengkhianatan menyakitkan ini?
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Dua tahun Nina terikat pernikahan kontrak dengan pria misterius yang identitasnya tidak ia ketahui sama sekali. Sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia salah memasuki kamar dan menyerahkan kesuciannya pada orang asing. Terdesak beban kompensasi pelanggaran kontrak, Nina nekat mengajukan perceraian. Namun, saat ia menemui suaminya untuk menyerahkan dokumen tersebut, Nina terkejut menyadari bahwa pria itu adalah orang yang sama yang menidurinya malam itu.
Sampul Novel Mekar dan Pudar pada Bunga Matahari
8.4
Kenia Watson memilih bergabung dengan Dokter Lintas Batas di Otresh demi meninggalkan masa lalunya yang kelam. Di tengah perjuangan melawan kanker, dia harus menghadapi pengkhianatan suaminya, Hobson, yang berselingkuh dengan adik tirinya. Kenia memutuskan bercerai dan merahasiakan keberangkatannya agar bisa bebas. Namun, saat kondisi kesehatannya kritis, Hobson justru bersimpuh di sisi ranjangnya sambil memohon agar wanita itu tetap bertahan hidup.
Sampul Novel PEMBALUT SUAMIKU
9.3
Setelah menghilang tanpa jejak selama sepuluh tahun dan sempat dinyatakan wafat, suami Laksmi tiba-tiba kembali ke rumah. Namun, kepulangannya justru membawa suasana mencekam bagi sang istri. Laksmi menemukan sebuah kebiasaan mengerikan yang dilakukan suaminya, yakni mengumpulkan serta menyimpan pembalut bekas pakai secara sembunyi. Perilaku ganjil tersebut memicu kecurigaan besar di benak Laksmi tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini.