
Istri kecilku
Bab 3
" Nisa berhenti! "Teriak Aris seraya mempercepat langkahnya. Namun Gadis itu tak kunjung menghentikan langkahnya. Nisa, maafkan kakak, kakak hanya sedang emosi, jadi Bisakah kita pulang sekarang! "Tambah Aris lagi saat tangannya sudah berhasil menceka lengan gadis kecil itu.
"Nggak mau! Kak Aris jahat, bisa nggak mau pulang sama Kak Aris, Kak Aris nakal, huhuhu... Huhuhu... "Tangisannya semakin parah dari sebelumnya.
"Ayolah Nisa, Kakak minta maaf! Nisa Mau kan maafin kakak? Nanti Kakak beliin boneka beruang kesukaan kamu yang paling besar, jadi Mau kan maafin kakak?" Bujuk Aris lagi. Sambil mengelus-ngelus puncak kepala Nisa untuk meredakan tangisnya.
"Nisa nggak mau, bisa nggak mau pulang bareng sama Kak Aris, Kak Aris sudah jahat sama Nisa, Kak Aris jahat, hiks.. hiks..." Teriak Nisa.
Sambil tangannya mencoba untuk melepaskan genggaman tangan arus di lengannya. Namun semuanya hanya sia-sia belaka karena tenaga mereka yang tak sebanding. Sementara semua orang yang berada di situ pun langsung melihat ke arah mereka, karena mendengar kehebatan itu.
"Pak Aris, Kenapa ini? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda? "Ucap seseorang yang suaranya terdengar sangat familiar di telinga Aris. Aris pun lantas menolehkan wajahnya.
"Wisnu! Kebetulan sekali kau ada di sini, tolong kau antarkan Nisa pulang ke rumah orang tuaku! Saat ini aku sudah kelelahan, Aku ingin istirahat sesegera mungkin, "ujar Aris
"Baik Pak, serahkan saja urusan ini pada saya," wajar Wisnu menyahut.
Lalu mengalihkan pandangannya ke arah gadis kecil itu untuk meluluhkannya.
"Sayang, ayo Om antar pulang ke rumah, ini kebetulan Om punya coklat buat kamu, tapi syaratnya kamu harus mau Om antar pulang ke rumah dulu, bagaimana, mau kan? "Tanya Wisnu lembut secara mengusap air mata gadis kecil itu.
"Ya, Nisa mau," sahut bisa akhirnya. tangisannya pun sudah mulai reda, sementara tangannya sudah mengambil bungkusan coklat yang ada di tangannya Wisnu.
" Kalau begitu saya pamit undur diri dulu Pak, "minta Wisnu lalu membungkuk hormat kepada atasannya itu, karena sudah berhasil membujuk target.
"Ya," sahur arus datar. Setelah itu dia pun langsung kembali ke mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumahnya.
***
Sudah selama 1 jam setengah Ana duduk di teras rumah majikannya itu, mungkin dengan cara begini Ana pikir majikannya itu pasti sudah tertidur dan tak akan menunggu kepulangannya ke rumah lagi. Karena bawaan malam yang semakin bertambah larut.
"Ya Allah lindungilah hambamu ini! "Doa ana.
Sebelum membuka pintu.
Kreeit...
Pintu rumah pun terbuka.
Malamnya Baru beberapa langkah Ana berjalan ke arah kamarnya tiba-tiba dia langsung dikagetkan oleh suara bentakan seorang pria yang berasal dari sofa ruang tamu rumah majikannya itu.
"Masih punya muka berani pulang ke rumah hah! Bukannya tadinya tengah berkencan dengan kekasih hatimu itu? Lantas Kenapa masih kembali ke sini? Atau jangan-jangan kekasihmu itu sudah mencampakkanmu sekarang, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan? "Suara Aris terdengar begitu nyaring sampai menggema di dalam ruangan itu.
Andaikan saja rumah mereka berdekatan dengan rumah para tetangganya mungkin saja semua tetangganya itu akan langsung terbangun saat itu juga karena mendengar suaranya yang begitu nyaring Mbak memakai microphone itu.
Untungnya jarak rumah Aris dengan para tetangganya lumayan cukup jauh, sekitar 10 m dari rumahnya. Arif memang sengaja membeli rumah yang letaknya agak jauh dari tetangga kiri kanannya, agar terhindar dari ikut campur orang lain terhadap urusan privasinya itu.
Walau bagaimanapun juga harus memang tak ingin hak privasinya itu tersebar ke khalayak keluar, terlebih karena statusnya Yang menyandang sebagai suami Bella namun hanya menikah secara diam-diam dari dunia luar dan di belakang seluruh keluarganya itu.
"Ya Allah, mengapa kau tak mengabulkan doa hambaMu yang lemah ini? "Karena sudah putus asa seluruh tubuhnya juga gemetaran karena ketakutan.
Baru kali ini Aris membentaknya dengan begitu luar biasa kerasnya, mungkin dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya Aris memang pernah membuat nyalinya sempat menciut karena takut. Namun dibandingkan dengan hari itu, kali ini kemarahan harus jauh lebih luar biasa dari sebelumnya.
"Apa kamu tak punya mulut hah! Aku sedang berbicara denganmu Kenapa kamu tak menjawab!"suara Aris semakin meninggi dari sebelumnya karena pembantunya itu tak kunjung membuka mulutnya.
Sementara itu, Ana lagi-lagi hanya terdiam, dia justru menunjukkan pandangannya ke bawah, karena semakin merasa takut pada majikannya itu.
"Semoga ini hanya mimpi, aku yakin ini hanya mimpi gumam Ana membohongi dirinya sendiri.
Sambil menggigit-gigit bibirnya agar terbangun dari mimpi buruknya itu.
"Apa kamu lupa kalau aku ini adalah majikanmu? Berani-beraninya kau keluar rumah tanpa seizinku, selama ini aku membiarkanmu keluar rumah tanpa seizin ku hanya untuk pergi ke sekolah, bukan untuk berpacaran di luar rumah, mau ditaruh di mana mukaku hah! Kalau sampai kau hamil saat tinggal bersamaku, mukaku akan langsung tercoreng di luar sana karena pembantuku hamil diluar nikah! "Aris sudah mencengkram dagu Gadis itu agar menatap ke arahnya, sementara Ana hanya meringis kesakitan dan juga kecewa karena semuanya adalah kenyataan.
"Ayo jawab! Kenapa kau masih diam, atau kau mau malam ini tidur di jalanan, Karena tak menjawab pertanyaanku?!"
Dua... Dua... Suara gemuruh Guntur menggelegar di luar sana, Lalu Tak lama setelah itu langsung turun hujan, dengan begitu derasnya karena saat ini ibukota memang tengah dilanda musim hujan.
"Ya Tuhan, bahkan kau lebih memihak pada pria ini dibanding hambaMu yang lama ini, "batin Ana
Andai di luar sana tidak turun hujan, saat ini dia pasti sudah keluar dari rumah itu.
"Ma maafkan Ana Pak, Ana tidak melakukan tuduhan seperti yang bapak katakan, Ana hanya jalan-jalan saja bersama Kak Aldo, selain itu kami tidak akan melakukan hal lainnya lagi, "sahut ana gemetaran
Air matanya sudah merembes keluar, dia tak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan pria itu agar dia tak diusir malam ini..
"Ana, kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa! Saat ini kamu sedang berbicara dengan orang dewasa, bukan dengan bocah ingusan, kau pikir aku akan langsung percaya begitu saja dengan ucapanmu itu! "Saat ini Aris benar-benar dikuasai oleh gejala amarah yang begitu mendidih.
Aris tahu sendiri siapa itu Aldo, Aldo adalah seorang pria brengsek yang suka menggonta-ganti pasangannya, apalagi saat dia mengingat status Aldo yang tidak hanya tampan dan juga mempunyai banyak uang tersebut, Aldo bisa saja mendapatkan wanita manapun yang ia mau hanya dengan sekali rayuan.
Bukankah kebanyakan orang akan menilai kalau uang adalah segalanya, begitu pikirnya. Apalagi untuk mendapatkan wanita cantik seperti Anna yang ekonominya berasal dari kelas bawahan, bagi Aldo itu adalah hal yang sangat mudah, ditambah lagi dengan statusnya yang akan menjadi pewaris sah perusahaan Sam gong group yang terus-menerus menjadi perusahaan pesaing bisnisnya turun-temurun itu.
Anda Mungkin Juga Suka





