Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ISTRI GEMOY SUAMI LETOY

ISTRI GEMOY SUAMI LETOY

Lima tahun menikah tanpa anak membuat Arman tega menghina fisik Monika yang berisi. Merasa sakit hati karena terus dirundung, Monika membalas dengan meragukan kejantanan suaminya di ranjang. Konflik makin memanas akibat campur tangan mertua dan lingkungan sekitar. Saat Arman terbukti berkhianat dengan menikahi wanita langsing secara siri, Monika membalas dendam dengan mendekati sahabat suaminya sendiri. Drama perselingkuhan pun pecah di tengah kemelut rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pulang dari pasar, dengan barang belanjaan segambreng, mertuaku sempat sempatnya mengajakku ke sebuah klinik untuk memastikan apakah aku benaran hamil atau tidak.

"Bu, Monik belum hamil Bu. Tadi itu dipasar Monik mual mual karena mencium bau got yang beleberan hingga ke jalan,"

"Udahlah Monik,  kamu manut saja kata kata ibu. Ibu yakin, diperut kamu itu pasti sudah ada jabang bayik nya. Kamu enggak usah cerewet, biar kita periksa sama sama!" Perintah ibu mertuaku bersikeras.

Aku menghela nafas. Susah sekali rasanya meyakinkan ibu ibu kebelet pengen nimang cucu satu ini.

"Kalau ternyata hasilnya masih negatif, ibu enggak akan marah kan sama Monik?" Cicitku lagi.

Bu Leli memukul pelan lenganku sambil melotot.

"Kamu ini ngomong apa!? Apa segitu enggannya kamu punya anak? Kalau kamu kepingin cepat punya anak, kamu harus yakin dan optimis! Lima tahun bukan waktu yang sebentar lho Monik? Harusnya ibu sudah punya dua orang cucu dari kamu!" Omelnya lagi sambil bersungut-sungut.

Ya kali, membuat anak semudah menguleg sambel di cobek. Tinggal masukin garam cabe terasi langsung jadi. Tapi masalahnya kan ada di mas Arman? Pria itu syusah sekali memuaskan hasrat ku. Bahkan, baru sekali dua kali celup, mas Arman sudah crot duluan!

Ingin rasanya aku mengadu pada ibu mertuaku yang paling baik ini. Tapi manalah mungkin beliau mau mendengar keluh kesah ku mengenai hubungan ranjang kami? Yang ada aku bakalan disemprot karena telah menyebar aib suami! Heuhh!

Kami pun tiba didepan sebuah klinik. Ibu berpesan ke pada mang bajaj agar mau menunggui kami karena barang belanjaan kami cukup banyak jumlahnya.

"Silahkan ibu kencing di kamar mandi. Jangan lupa sebagian urin ditampung kedalam wadah ini ya Bu," ucap seorang perawat cantik berpakaian serba putih seraya menyerahkan sebuah cup penampung air seni padaku.

Aku yang sejak tadi selak kencing akhirnya bisa membuang seluruh air seni yang kutahan tahan. Tak lupa aku menyisakan sebagian urin dan memasukkannya kedalam wadah.

"Sudah dok," aku keluar kamar mandi seraya memegangi satu cup penuh air seni-ku.

Perawat tadi membuka satu buah tespack kehamilan lalu mencelupkannya kedalam air seni-ku.

Aku berdebar debar.

Kulirik Bu Leli juga wajahnya tampak serius dan menegang.

Hingga akhirnya perawat itu menghela nafas panjang lalu berkata dengan kalimat yang sudah bisa aku tebak.

"Ibu, mohon maaf, hasil tespacknya masih negatif. Ibu belum hamil,"

"Ah, masa sih dok!? Itu salah kali hasil tespeknya. Coba saya mau, tespecknya di ulang. Saya mau pakai tespack yang lebih mahal dan akurat!" Sangkal Bu Leli dengan dahi mengkerut kecewa.

Suster pun menuruti kemauan ibu mertuaku yang sudah kebelet pengen menimang cucu. Dicelupkannya sebuah alat tespeck yang harganya lebih mahal. Hanya dalam lima detik, hasilnya sudah keluar.

"Maaf ibu. Hasilnya sama saja. Masih negatif. Ibu mohon bersabar ya, saya sarankan agar ibu mencobanya lagi dirumah. Perbanyak makan makanan bernutrisi, jangan sampai ibu stress, kalau perlu cari waktu untuk berlibur bersama  dengan suami mencari suasana baru," nasihat perawat cantik itu lagi sembari tersenyum lebar.

Wajah Bu Leli terlihat masam. Sembari menatapku penuh kecewa, beliau mengajakku untuk segera pulang.

"Maaf ya Bu, Monik belum bisa mewujudkan keinginan ibu untuk menimang cucu..." Lirihku seraya menatap wajahnya yang tampak frustasi.

"Ya sudah. Lain kali kamu harus lebih berusaha lagi wik wik wik nya sama si Arman! Ajak suami kamu itu liburan sekali kali. Ibu perhatikan dia lebih senang bekerja daripada dirumah bersama kamu!"

"Iya Bu," jawabku lemah.

Apa yang dibilang ibu mertuaku ini seratus persen benar adanya. Mas Arman Setiap harinya pergi pagi dan pulang selalu malam hari sekitar pukul delapan. Setiap kali kutanya, jawabannya lemburlah, meeting lah, ketemu klien lah, dan aku? Bisa saja aku menyuruh seseorang untuk memata matai mas Arman dan melaporkan apa saja kegiatannya selama dikantor padaku, mengingat perusahaan besar itu dipimpin oleh ayahku sendiri.

Namun aku bukanlah type istri over possesiv. Aku tetap berpositif thinking pada suamiku dan tak ingin terjebak dengan rasa curiga yang menyiksa.

Siang ini aku sebenarnya ada kelas yoga dipusat kebugaran tempat biasa aku menempa diri. Tapi berhubung aku malas, aku hanya rebahan saja dirumah seraya bermain ponsel dan menonton drakor kesukaanku.

Sementara itu, si ibu mertuaku yang paling baik hati, bersama bi Iyem- pembantu dirumahku, sama sama memasak menyiapkan menu spesial untuk calon ibu yang ingin hamil.

Heuh, sedari tadi Bu Leli menyodoriku cemilan berupa buah buahan yang dia beli dari pasar tradisional.

****

Seperti biasa, pukul delapan malam, mas Arman pulang bekerja. Sudah ada ibu mertua yang siap sedia menyambut kedatangannya.

"Lho, ibu sudah disini Tho, kemana Monik?" Sekilas kudengar mas Arman menanyakan keberadaan ku.

Aku yang biasa setiap hari menyambut kedatangan suamiku memilih melipir saja, mengamati dari jauh karena tak ingin disebut lancang, bersaing dengan ibu mertua untuk merebut hati dan perhatian mas Arman.

"Halahh, jangan kamu pedulikan istri pemalasmu itu Arman! Sedari tadi kerjaannya cuma main handphone saja di kamar. Sudahlah gendut, pemalas pulak. Jiih,, kalau bukan karena dia puteri CEO tempat kamu bekerja, mana mau ibu membiarkan kamu menikah dengannya lima tahun tanpa kehadiran seorang @nak!" Ketus ibu mertuaku dengan suara sedikit dipelankan. Namun meski dipelankan, aku masih bisa mendengar jelas semua kalimatnya.

Aku terjengit kaget. Tak menyangka ibu mertua yang kukira sangat baik dan perhatian itu nyatanya menyimpan sesuatu yang busuk dalam hatinya.

"Sstt.. ibu jangan ngomong keras keras. Nanti didengar sama Monik," kudengar mas Arman memperingatkan sang ibu.

Bu Leli menuntun putera kesayangannya itu ke arah meja makan. Wanita itu melayani suamiku bak sedang melayani suaminya sendiri. Benar benar penjilat dan ratu drama!

"Ini, ibu sudah masakkan sayur kesukaanmu Arman. Dimakan yang banyak ya," wanita itu tampak mengambilkan beberapa lauk ke piring mas Arman, sementara lelaki itu diam saja.

Memang sih, selama ini aku tak pernah berlaku demikian pada mas Arman. Aku berfikir tugasku adalah memasak dan  menyiapkan makanan. Sisanya dia bisa ambil sendiri apapun yang dia suka. Berbeda dengan perlakuan ibu mertuaku yang memperlakukan puteranya bak seorang raja.

"Man, tahu tidak. Tadi ibu sempat mengira istrimu itu sedang hamil karena dia mual mual saat di pasar! Awalnya ibu sangat senang sekali, lalu membawanya ke klinik. Disana Monik di tespeck. Dan kamu tahu hasilnya?" Bu Leli sengaja menjeda kalimatnya agar sang putera memperhatikannya dengan seksama, dan triknya berhasil. Mas Arman menghentikan suapannya seraya menatap penasaran pada sang ibu.

"Dia tetap belum hamil!" Tandas Bu Leli dengan suara menggebu gebu.

"Monik akan selamanya sulit hamil Bu! lihat saja badannya sebongsor itu. Kalau dia mau hamil, minimal Monik harus menurunkan setengah dari bobotnya yang sekarang," timpal mas Arman seraya asik menyantap makan malamnya.

Aku mendengus kesal. Bisa bisanya dia menyalahkan diriku didepan ibu tercintanya itu. Padahal selama ini kan mas Arman sendiri yang tak sanggup memenuhi kebutuhan batinku diatas ranjang? Dia seperti tak berselera menyentuhku. Bahkan ingin cepat cepat crot lalu mengakhiri permainan! Sekarang dia malah menjelek jelekkan aku didepan ibunya!? Huh! Anak dan ibu sama saja! Menyebalkan!

"Itulah yang ibu selalu bilang sama istrimu itu man! Tapi apa? Dia bilang olahraga itu membosankan, diet makanan sehat itu menyiksa, minum jamu itu membuat dia mual! Dan banyak lagi alasan lainnya jika ibu memberinya petunjuk agar dia cepat hamil!" Tandas ibu mertuaku yang mengadu pada puteranya.

"Ya terus ibu mau bagaimana sekarang? Menceraikan Monik? Jelas enggak bisa Bu, karier Arman sedang bagus bagusnya di perusahaan," ucap mas Arman tanpa rasa berdosa.

Mataku seketika memanas. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata kata menyakitkan itu dengan entengnya. Jadi selama ini mas Arman mau menikah denganku yang gemuk ini, hanya karena gara gara uang dan jabatan!?

"Kamu bisa menjalin hubungan dengan wanita yang sehat dan cantik diluaran sana Arman. Kalau perlu, kalian menikah saja secara siri! Ibu udah enggak tahan lagi kepengen menggendong cucu darimu! Menunggu Monik hamil hingga bertahun tahun lamanya, hanya membuat batin ibu merasa tertekan!"

Aku menggeleng sambil berderai air mata. Aku sama sekali tak menyangka jika mas Arman dan ibunya sama sama busuk! Bagaimana bisa seorang ibu memberi nasihat menyesatkan seperti itu kepada putranya? Padahal dalam agama pun melarang, menikah secara diam diam tanpa persetujuan dari istri sah adalah haram.

"Ya sudah nanti Arman pikirkan lagi Bu. Ibu yang sabar ya, saat ini Arman sedang fokus dengan karier Arman. Urusan Monik, biar Arman saja yang mengurusnya," ucap mas Arman seraya menyudahi makan malamnya. Lelaki itu kemudian bangkit dari meja makan.

Aku yang menangis dipojokan tangga buru buru berjingkat lalu masuk kedalam kamarku di lantai dua.

Hatiku rasanya teriris perih mengetahui motif sebenarnya mas Arman mau menikah denganku selama lima tahun ini!

Pintu kamar terbuka. Aku rebahan sembari memejamkan mata, berpura pura tidur agar mas Arman tak curiga.

"Ya ampun... Babi satu ini malah tidur duluan. Suami pulang bukannya disambut dan dilayani dengan baik? Ckckckc" kudengar dengan sangat jelas mas Arman berdecak kesal.

Sudah biasa lelaki itu memanggil aku dengan sebutan babi, kuda Nil, gajah, atau ubur ubur. Meski hatiku terasa sakit, namun aku berusaha menanggapinya dengan santai.

Tapi setelah tahu jika dia dan ibunya merencanakan sesuatu dengan menikahiku, seketika rasa sakit itu berubah menjadi rasa benci. Pantas saja selama ini mas Arman tak pernah menunjukkan rasa peduli dan kasih sayangnya padaku. Dia seolah tak peduli dengan perasaanku!

'Aku tak menyangka kalau kamu dan ibumu bisa sejahat ini sama aku mas! Lihat saja, suatu saat aku akan membalas semua perbuatanmu, lalu membuangmu bak seonggok sampah!' tekad ku dalam hati.

Tentu saja rencana itu tak serta Merta aku lakukan dengan tergesa gesa. Aku perlu memberinya pelajaran atas semua rasa sakit yang aku rasakan selama ini....

(Bersambung)

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Salesman Biasa
9.0
Hidup Ardhan Aji Pradiptio berubah total setelah menolong kakek misterius dan menerima benda ajaib sebagai imbalan. Sebelumnya, ia selalu dirundung malang, mulai dari karier yang mandek, hinaan atasan, hingga batalnya pernikahan. Kini, ia memiliki kemampuan unik untuk melihat kadar kebaikan atau kejahatan seseorang melalui matanya. Namun, sebuah pertemuan dengan pria bermata ganjil membuatnya bimbang. Mampukah Ardhan mengungkap identitas sosok misterius tersebut?
Sampul Novel Crazy Playboy - Gairah dan Obsesi Aktor Tampan
9.7
Permainan Truth or Dare mengubah hidup Syila saat ia memilih tantangan berani. Ia diwajibkan mencium pria pertama yang ditemuinya di depan toilet. Takdir mempertemukannya dengan Jaguar Adytama, aktor tampan yang kerap terjerat skandal bersama banyak wanita. Pertemuan tak terduga itu membuat Jake menjadi pria pertama dalam hidup Syila. Kini, Syila harus menghadapi konsekuensi setelah berurusan dengan sang playboy yang penuh gairah dan obsesi.
Sampul Novel Darah Muda
8.4
Menjadi remaja berarti menyelami dunia penuh euforia dan dinamika rasa yang membuncah. Terinspirasi dari semangat darah muda yang legendaris, kisah ini merajut memori manis sekaligus pelik tentang perjalanan anak manusia. Anda akan diajak bernostalgia menyusuri setiap kepingan masa lalu yang bergejolak di dada. Namun, di balik itu semua, terdapat alur yang panjang dan rumit untuk diungkap. Mari rasakan kembali sensasi masa muda yang penuh suka duka dalam narasi ini.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Hasrat Liar Istri Hyper
7.9
Zara, wanita cantik dengan gairah besar, terjebak dalam pusaran perselingkuhan yang berbahaya. Hasratnya yang tak terbendung membawanya menjalin hubungan rahasia dengan Pak Haris, atasan suaminya, hingga Dr. Zein yang memikat. Di tengah pertemuan terlarang ini, batas moralitasnya mulai memudar. Zara kini harus menghadapi konflik batin antara kenikmatan sesaat dan rasa bersalah yang mengancam kehancuran hidupnya. Mampukah ia berhenti sebelum semuanya musnah?
Sampul Novel Istri Bayaran Untuk Bos Galak
8.9
Keinginan Devan untuk memiliki Cecil kembali berujung pada ancaman yang sangat ekstrem. Meski masa kontrak mereka telah berakhir, Devan menolak melepaskan wanita itu begitu saja. Dalam suasana penuh tekanan, sang bos yang angkuh bersumpah akan menghamili Cecil agar ia tak bisa pergi lagi. Cecil yang ketakutan mencoba memohon, namun Devan justru semakin terobsesi untuk mengikatnya melalui kehadiran seorang anak demi mempertahankan hubungan mereka.