Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Is This Love?

Is This Love?

Farrel Aditama Effendi dikenal sebagai pria kaya yang gemar bersenang-senang, berbeda jauh dari Fachmi, kembarannya yang kaku. Karena obsesi memiliki sang kakak, Farrel bertekad menggagalkan pertunangan Fachmi dengan seorang wanita lembut. Namun, rencana sabotase ini berbalik saat Farrel justru jatuh cinta pada wanita tersebut saat menyamar menjadi Fachmi. Kini, ia terjebak dalam dilema besar jika rahasia tentang identitas aslinya terbongkar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kanza menatap cermin di kamar mandi lekat-lekat. Perhatiannya tertuju pada bibirnya lalu beralih pada pipi yang agak memerah. Buru-buru ia menangkupkan kedua tangan pada pipi, untuk menutupi perasaan malu akibat kejadian tadi.

Fachmi menciumnya. Dan itu adalah ciuman pertama Kanza.

Ya, kini Fachmi memang tunangannya. Tapi, Kanza tidak pernah berpikir bahwa dia akan kehilangan momen ciuman pertama dengan cara konyol seperti itu. Hanya karena berebut makanan.

Kanza mendesah, seraya menempelkan keningnya di cermin yang berada di belakang pintu toilet.

Saat pertama kali datang ke apartemen ini, dia sempat merasa geli sendiri kenapa harus ada cermin di kamar mandi. Sekarang dia bersyukur karena cermin itu membuatnya bisa berkeluh kesah akibat perbuatan Fachmi tadi.

Tok tok tok.

Ketukan tiba-tiba di pintu kamar mandi membuat Kanza kaget hingga kepalanya terantuk cermin. Dia meringis, mundur beberapa langkah seraya menggosok keningnya.

"Hei, Nenek Sihir!"

Kanza menatap kesal pintu kamar mandi mendengar suara Fachmi.

Apa lagi yang diinginkan tunangannya yang mendadak jadi menyebalkan itu? Apa dia ingin mempermasalahkan ciuman tadi?

Wajah Kanza terasa panas karena pemikiran itu. Tadi dia memang kabur ke kamar mandi secara tiba-tiba begitu Fachmi melepaskan tautan bibir mereka dan dirinya berhasil menguasai diri kembali dari keterkejutan.

Tok tok tok.

Kali ini suara ketukan semakin keras dan menuntut.

"Nenek Sihir! Akan kudobrak pintunya jika belum kau buka dalam hitungan ketiga. Satu...dua..."

KLEK.

Kanza melotot seraya berkacak pinggang begitu pintu kamar mandi terbuka. Dia menatap garang ke arah Fachmi. "Tidak sopan sekali kau mengganggu-"

Farrel tidak ambil pusing perkataan Kanza. Dia bergegas melewati wanita itu bahkan sengaja menubrukkan bahunya ke salah satu lengan Kanza yang masih berkacak pinggang.

"Hei, kau sungguh-"

Kanza tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena dia memekik seraya membalikkan tubuh lalu bergegas keluar kamar mandi dan tak lupa menutup pintunya rapat. Jantungnya berdegup kencang padahal tidak ada apapun yang sempat dia lihat.

Astaga, lelaki satu itu sepertinya tidak memiliki urat malu. Bagaimana bisa dia dengan santainya membuka bagian depan celana lalu buang air kecil sambil berdiri di depan kloset? Yah meski bagian belakang tubuh Fachmi masih tertutup, tetap saja perasaan malu mendera Kanza.

KLEK.

Kanza mundur beberapa langkah, kaget pintu kamar mandi mendadak terbuka kembali.

"Ah, leganya," desah Farrel, masih tanpa rasa bersalah. "Nenek Sihir, kalau kau mau membuat ramuan atau bertapa jangan di kamar mandi. Gara-gara kau, aku harus menahan buang air kecil. Kalau kantung kemihku pecah apa kau mau bertanggung jawab?"

Kanza melongo mendengar ucapan panjang Farrel. Kali ini bukan hanya wajahnya yang memerah melainkan telinganya juga. "Kau-di...di kamarmu kan juga ada kamar mandi," sembur Kanza dengan nada terbata.

"Jaraknya lebih dekat ke kamar mandi di sini dan aku sudah tidak sanggup menunggu lebih lama." Farrel tidak mau kalah. Dia memang sengaja memilih kamar mandi tempat Kanza bersembunyi untuk mengganggu wanita itu. Sungguh lucu melihatnya lari terbirit-birit setelah ciuman itu. Yah, tidak bisa dikatakan ciuman sih. Tapi kurang lebih sama.

Kanza kehilangan kata. Dia menghentakkan kaki kesal lalu berbalik menjauhi Farrel.

"Nenek sihir, buatkan aku puding seperti tadi!"

Kanza berbalik kembali menghadap Farrel seraya melotot. "Sebut namaku yang benar baru aku mau membuatkanmu makanan lagi. Jika tidak, silahkan masak sarapanmu sendiri besok." Setelahnya Kanza bergegas menuju kamar dengan hati dongkol.

Sampai di depan pintu yang menjadi kamar Kanza di apartemen itu, mendadak tangan lain mendahului memegang handle pintu lalu membukanya tanpa permisi. Kanza hanya bisa mematung menatap punggung Farrel yang sudah masuk ke kamarnya dan membuka-buka lemari.

"He-hei, apa yang kau lakukan?" Kanza bertanya bingung begitu kesadarannya kembali. Lama-lama dia bisa mati berdiri jika lebih sering melihat tingkah tak biasa Fachmi.

Farrel mengabaikan pertanyaan Kanza. Dia beralih menuju laci nakas setelah mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari Kanza dan tidak menemukan yang ia cari.

"Fachmi!" seru Kanza seraya menarik lengan Farrel. "Apa yang kau cari?"

Farrel menatap jari lentik yang melingkari lengannya. Mendapat tatapan seperti itu membuat Kanza buru-buru melepaskan lengan Farrel. Dia menggigit bibir sambil menyembunyikan jemari di belakang tubuh.

Kini perhatian Farrel beralih ke bibir yang sedang digigit Kanza. Mendadak dia ingin melakukannya juga. Segera dia mengalihkan perhatian ke arah nakas sebelum menyerang wanita itu dan melakukan apa yang diinginkan nafsunya.

"Hmm," Kanza berdehem untuk menarik perhatian Farrel. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau cari?"

"Mana KTP-mu?" tanya Farrel tanpa menatap Kanza.

Kening Kanza berkerut. "Untuk apa?"

Mendadak Farrel menoleh dan membalas tatapan Kanza. "Aku ingin tahu namamu."

Bibir Kanza terbuka. Kalau ini film kartun jepang pastilah sekarang Kanza jatuh terjengkang mendengar penuturan Farrel. "Kau benar-benar tidak tahu namaku?" nada tidak percaya terdengar jelas dalam suara Kanza.

"Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya padamu?" Farrel pura-pura frustasi.

Kanza menunduk, menatap kakinya dengan perasaan dongkol. Kemudian dia kembali mendongak, membalas mata hitam Farrel dengan mata cokelatnya. "Namaku Chika Kanza." Entah Fachmi hanya ingin mengerjainya atau bagaimana, Kanza memilih mengalah agar ia tidak semakin dibuat kesal.

"Oh, Chika. Harusnya kau mengatakannya dari tadi." Farrel mengangguk-angguk.

Kanza sungguh terpana dengan kelakuan Farrel. Apa dia mengalami kecelakaan dalam perjalanan hingga benar-benar melupakan nama tunangannya?

"Kanza! Panggilanku Kanza!" Kanza berkata tegas.

Farrel mengangkat bahu tak peduli. "Mana KTP-mu?"

"Untuk apa lagi?"

"Aku masih perlu tahu usiamu, kota kelahiranmu, dan alamatmu sebelum tinggal di sini."

Sejenak Kanza memejamkan mata lalu membukanya kembali. "Aku enam tahun lebih muda darimu. Dan untuk dua hal lainnya yang ingin kau tahu, kurasa itu tidak penting."

"Berarti kau masih dua puluh satu tahun? Jadi kau tidak kuliah?"

"Seharusnya kau sudah tahu!" lama-lama Kanza jadi tidak sabar sendiri menghadapi Farrel. "Kau pasti mengalami kecelakaan dalam perjalanan hingga amnesia."

"Mungkin," sahut Farrel tak acuh. "Apa kau tidak mau memberitahuku tanggal dan bulan kelahiranmu?"

"Untuk apa?"

"Mungkin saja kau berharap hadiah dariku di hari ulang tahunmu."

Kanza memijit kepalanya. Dia tidak bisa menghadapi Fachmi yang berubah aneh ini lebih lama lagi. Sebaiknya Kanza tidur. Mungkin besok pagi ada keajaiban dan Fachmi berubah kembali menjadi pribadi yang Kanza kenal.

"Aku ingin tidur." Kanza berkata lemah seraya mendorong punggung Farrel agar keluar dari kamarnya.

"Buatkan aku susu hangat dulu."

"Buat sendiri."

"Kau kan tunanganku."

"Kau bahkan tidak ingat nama tunanganmu."

"Sekarang aku sudah ingat."

Kali ini Kanza tidak menyahut. Dia mendorong kuat-kuat punggung Farrel lalu segera menutup pintu kamar.

Desah lelah dari bibir Kanza terdengar saat menatap kekacauan yang telah dibuat Farrel. Segera ia merapikan kamar itu karena tidak akan bisa tidur dengan barang berserakan. Sekitar lima belas menit kemudian, wanita itu rebah di ranjang dengan pikiran tertuju pada tunangannya yang mendadak berubah aneh.

***

"Mana pakaianmu?!"

Bisa dibilang Kanza bertanya dengan nada histeris melihat Farrel dengan santainya masuk ke dapur bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek, seolah mempertontonkan tubuh atletisnya. Ternyata pagi inipun sikap Farrel masih sama anehnya seperti semalam.

"Kau tidak lihat aku masih berkeringat?" balas Farrel acuh seraya membuka kulkas lalu mengambil sebotol air mineral, meneguk isinya langsung dari botol.

"Memangnya apa yang kau kerjakan sampai berkeringat begitu?" dengan malu Kanza melirik tubuh Farrel yang bisa membuat air liur menetes tanpa sadar.

"Menonton tv."

Kening Kanza berkerut dengan tatapan masih tertuju ke dada lebar Farrel yang sepertinya nyaman untuk bersandar. "Sejak kapan menonton tv bisa membuat berkeringat?"

Farrel berkacak pinggang sambil menahan senyum saat menyadari ke arah mana pandangan Kanza. "Terus bertanya dengan setengah melamun seperti itu dan biarkan masakanmu gosong hingga apartemen ini kebakaran."

Kanza buru-buru berbalik lalu memekik melihat kepulan asap di atas wajah yang hendak digunakannya untuk membuat nasi goreng. Segera dia mematikan nyala kompor lalu memegang dada karena jantungnya berpacu cepat akibat kejadian tak terduga tadi.

"Makanya, tidak perlu terpesona seperti itu. Kapanpun kau ingin melihat tubuhku, tinggal katakan saja."

Kembali Kanza memekik karena mendadak Farrel berbisik tepat di dekat telinganya. Dia berbalik tiba-tiba hingga punggung tangannya tanpa sengaja mengenai wajan yang masih mengepulkan asap.

"Aw!" Kanza meringis sambil meniup-niup punggung tangannya. Kali ini dia tidak memedulikan posisi tubuhnya yang nyaris saling berpelukan dengan Farrel.

Farrel berdecak melihat warna merah seperti terbakar di punggung tangan Kanza. Dia memegang bahu wanita itu lalu mendudukkannya di kursi depan meja dapur.

"Diam di sini!" perintah Farrel tegas lalu keluar dari dapur.

Kanza hendak memaki lelaki itu. Gara-gara dia tangan Kanza jadi terluka. Tapi beruntung Farrel segera pergi sebelum menerima semburan amarah Kanza.

Tidak sampai lima menit, Farrel kembali ke dapur dengan membawa pasta gigi. Tanpa kata dia berlutut di depan Kanza lalu mengoleskan pasta gigi berwarna putih ke punggung tangan Kanza yang memerah.

Rasa dingin dari pasta gigi bercampur hangat dari jemari Farrel membuat Kanza kaget lalu refleks menarik tangannya. Namun tangan Farrel yang lain segera mencengkeram pergelangan tangan Kanza agar tidak menjauh.

"Hmm, seharusnya kau tidak perlu repot-repot mengambil pasta gigi. Menggunakan mentega juga bisa." Kanza berusaha memecah keheningan yang tidak mengenakkan ini. Keheningan yang membuat suasana terasa lebih intim.

"Aku hanya tahu pasta gigi," sahut Farrel, dengan perhatian masih tertuju pada apa yang dikerjakan jemarinya.

Melihat kulitnya yang memerah sudah rata tertutup pasta gigi, segera Kanza menarik tangannya. "Kurasa sudah cukup, terima kasih." Dia hendak berdiri namun Farrel menghentikannya.

"Kau duduk saja. Biar aku yang membuat sarapan." Farrel berkata lembut, tak lupa dengan senyum tipis di bibirnya.

Sejenak Kanza tertegun. Apa Fachmi sudah kembali seperti semula? Meski kelakuannya bertelanjang dada tidak seperti Fachmi yang Kanza kenal, tapi sikapnya mulai familiar kembali.

Dengan tenang Farrel berdiri di depan kompor, memberi pemandangan punggung tegapnya yang menyempit di bagian pinggang. Otot-ototnya tampak bertonjolan tiap kali lelaki itu bergerak.

Kanza sama sekali tidak menyia-nyiakan rezeki tak terduga itu. Dia membenarkan posisi duduknya. Kedua siku ia letakkan di atas meja sementara dagu bertumpu pada punggung tangannya yang tidak terluka.

Kanza akui, meski Fachmi kadang dingin dan terasa jauh atau aneh seperti sebelumnya, fisik lelaki itu sungguh sempurna. Seolah Tuhan menciptakannya dengan penuh senyuman. Bahkan Kanza berani mengatakan bahwa dadanya bergetar ketika ditatap dengan dalam oleh mata hitam itu dan ketika mendapat sentuhan ringan sekalipun.

"Jangan terlalu mengagumiku. Bisa-bisa kau jatuh cinta setengah mati padaku." Farrel berkata tanpa membalikkan tubuh. Kedua tangannya masih tampak asyik berkutat dengan wajan untuk membuat telur mata sapi.

"Kau tunanganku. Itu hal wajar," sahut Kanza.

Farrel menoleh. "Baru tunangan. Bisa saja kita tidak sampai pelaminan." Kemudian ia kembali menghadap kompor.

Kening Kanza berkerut. "Kau berkata seolah mengharapkan kita tidak jadi menikah."

Farrel mengangkat bahu. Otot punggungnya tampak bergerak mengikuti gerakannya. "Aku hanya berpikir realistis. Apa yang kita harapkan dan rencanakan belum tentu bisa terwujud. Jadi sebaiknya kita bersiap sebelum terluka nanti dan malah tidak bisa bangkit." Kalimat ini Farrel ucapkan dengan serius. Dia tahu Kanza pasti akan terluka nantinya karena Farrel akan mengusahakan segala cara untuk memisahkan Kanza dan Fachmi.

Kanza mengangguk. "Kau benar. Manusia hanya bisa berencana dan berharap. Sementara hasil akhirnya berada di tangan-Nya."

Mendadak Farrel diliputi rasa bersalah ketika Tuhan diungkit dalam pembicaraan mereka. Akhirnya dia memilih tidak menanggapi ucapan Kanza dan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Tak lama kemudian, sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi dan segelas jus jeruk sudah tersaji di depan Kanza. Kanza menelan ludah melihat makanan yang tampak lezat dan harumnya menguar memenuhi dapur.

Sebelumnya Fachmi juga pernah memasak untuk Kanza. Dan dia berani mengacungkan dua jempol untuk sajian, aroma, dan rasanya. Kanza bahkan merasa menikmati masakan hasil tangan koki ternama.

"Makanlah." perintah Farrel lembut.

Kanza mendongak menatap Farrel yang berdiri di sampingnya. "Kau tidak makan?"

"Tidak, aku masih kenyang."

Kanza masih hendak mengajukan pertanyaan ketika sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya, membuat lidah Kanza kelu dan kehilangan kata-kata. Dia bahkan masih mematung seperti kehilangan jiwa beberapa menit setelah Farrel menghilang ke dalam kamar.

"Astaga, Kanza! Sadarlah!" Kanza menepuk-nepuk pipinya sendiri. Sungguh, keberadaan Fachmi berhasil menjungkir balikkan perasaannya.

Dia menggeleng pelan untuk menyadarkan otaknya yang mendadak beku. Setelah mengambil napas panjang, Kanza pun menyendok banyak-banyak nasi di piring lalu memakannya lahap, namun-

"Uhuk...hukk...hukk!"

Demi Tuhan! Rasanya seperti makan garam dengan bumbu nasi. Segera Kanza meraih jus jeruk lalu-

"Huaaaahhhhh...haaahh...hahh!"

Andai ini serial tv, pastilah saat ini mulut Kanza yang menganga lebar sedang mengeluarkan semburan api bak naga. Dia sampai tersedak dan hidungnya terasa panas ketika air jeruk yang terasa luar biasa pedas itu masuk ke saluran pernapasannya. Buru-buru Kanza menuju kulkas, mengambil air lalu meneguk isinya dengan rakus. Samar-samar ia mendengar tawa keras seseorang dari arah kamar.

"FAAACCHHMMIII!!!" teriak Kanza keras hingga benda-benda dalam dapur itu bergetar.

-----------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Posesifku
9.5
Richard Lewis awalnya meremehkan Viola, sekretaris barunya yang cantik namun ternyata sangat cerdas dan tangguh. Terpikat oleh pesonanya, Richard berupaya keras memenangkan hati Viola meski sang wanita masih menutup diri akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Lewat sikap posesif dan aturan ketat, Richard mencoba membuktikan kesungguhannya. Namun, Viola tetap bergeming. Akankah Richard berhasil meluluhkan Viola di tengah persaingan dengan dua pria lainnya?
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam
8.3
Dua tahun Nayara terkurung dalam pernikahan tanpa cinta akibat paksaan ibu Ravian. Sebagai pemimpin perusahaan yang dingin, Ravian Aditya Maheswara hanya menganggap hubungan ini kewajiban belaka. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian berubah drastis. Alih-alih setuju, ia justru mulai mempermainkan perasaan Nayara, menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan tepat saat ia ingin pergi menjauh dari bayang-bayang pria itu.
Sampul Novel HOLD ME
9.6
Alice, siswi berprestasi berusia delapan belas tahun, bermimpi menjadi desainer ternama. Namun, dunianya runtuh saat orang tuanya tiada dan Martin, kakaknya sendiri, menjualnya kepada Devan Adipati Gumilang. Devan adalah pemuda kaya raya yang dominan dan dikenal sangat brengsek di Jakarta. Kini, Alice terjebak sebagai pemuas nafsu bagi Devan yang memperlakukannya bak mainan. Mampukah ia meloloskan diri dari cengkeraman pria tampan yang berhati iblis tersebut?
Sampul Novel Kehidupan Malam Mendatangkan Cinta
8.2
Demi membiayai pengobatan sang ibu dan melunasi utang yang menjerat, Maudy nekat menerima tawaran pekerjaan misterius dengan upah menggiurkan. Ia terjebak dalam dunia malam di kota Alka, bekerja di sebuah lokalisasi demi bertahan hidup. Di tengah kerasnya kehidupan tersebut, Maudy justru jatuh hati pada sosok pria kaya raya yang ternyata adalah pemilik asli tempat itu. Namun, perjalanan cintanya takkan mudah dan penuh dengan rintangan yang tak terduga.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun Loraine setia mengabdi, namun Marco justru memperlakukannya dengan hina. Muak dengan pengkhianatan suaminya, Loraine memilih cerai demi mengejar warisan triliunan rupiah. Publik awalnya mengira ia gila, hingga identitasnya sebagai miliarder termuda terungkap. Saat Marco melihat mantan istrinya dikelilingi pria tampan, ia menyesal dan memohon untuk rujuk demi aliansi bisnis. Namun, Loraine hanya menatapnya penuh rasa jijik dan sudah tak lagi mencintainya.
Sampul Novel Rahim Lima Ratus Juta
9.7
Demi imbalan ratusan juta, seorang wanita setuju menjadi ibu pengganti bagi pria kaya. Namun, peringatan keras menyertainya: ia dilarang mencintai janin di rahimnya agar perpisahan nanti tidak terasa berat. Begitu bayi lahir, sang ayah akan segera membawanya pergi tanpa memberi kesempatan untuk melihat wajah sang anak. Pernikahan kontrak ini dirancang agar mereka menghilang sepenuhnya dari hidupnya seolah-olah pertemuan itu tak pernah terjadi.