Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ipar Tercinta

Ipar Tercinta

Permintaan terakhir sang kakak sebelum tiada mengubah total hidup Diraya Paramitha. Dira diminta menggantikan posisi kakak perempuannya sebagai ibu bagi keponakannya sekaligus menjadi istri bagi Wira Dharmawan. Di usia yang masih muda, ia terjebak dalam tanggung jawab besar dan pernikahan mendadak. Akankah cinta tulus tumbuh di antara Dira dan Wira seiring berjalannya waktu, ataukah ikatan mereka selamanya hanya sebatas kewajiban demi sang buah hati?
Bab
Bagikan

Bab 2

Wira merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk ketika Giskha datang padanya dan memberikan undangan pernikahan secara tiba-tiba dan setelah itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Wira. Ya Wira mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), suatu kondisi mental dimana seseorang mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma dari pengalaman masa lalu yang menekan emosinya.

Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat bagi siapapun. Hal Itu juga terjadi 5 tahun silam saat Wira mengalami kecelakaan setelah ia bertemu Giskha yang memutuskan hubungan mereka. Wira yang saat itu tengah hancur dan patah hati mengendarai motor dengan keadaan pikiran yang kacau, hingga kemudian motornya kehilangan kendali dan bertabrakan dengan motor yang melaju dengan cepat.

Tabrakan tidak bisa di hindari, dan itu membuat Wira trauma karena motor yang menabraknya di kendarai seorang Bapak dan anak kecil yang baru berusia 3 tahun yang tewas dalam kecelakaan itu, dan Wira mengalami patah tulang dan trauma karena keluarga korban yang tidak terima anaknya menjadi korban meninggal, sejak itu Wira menjadi ketakutan luar biasa karena takut akan masuk penjara dan ia begitu takut karena telah melayangkan satu nyawa orang tidak bersalah meski pun bukan dirinya yang menabrak.

Keluarga korban membawa masalah tersebut ke jalur hukum, namun Wira tidak sepenuhnya bersalah karena motor korbanlah yang pertama menabrak, dan ada saksi yang melihat kejadian saat itu. Namun Wira begitu terpukul dan merasa selalu dihantui oleh anak kecil yang meninggal tersebut, sehingga ia sulit tidur karena merasa cemas, dan akhirnya orangtuanya membawanya ke psikiater untuk diterapi. Namun meskipun dinyatakan sembuh rupanya penyakit itu terkadang kambuh jika Wira kelelahan, seperti saat ini mimpi buruk dan ketakutan itu kembali lagi.

Wira membuka kopernya mencari obat Prazosin-nya agar ia bisa tidur, namun ia lupa karena barang-barang di angkut oleh teman-temannya obatnya lupa tidak dibawa. Wira menutup Kopernya dengan kasar, ia mengusap wajahnya gusar, ia sudah pasti tidak akan bisa tidur dan akan terus seperti ini hingga esok hari.

Wira gelisah, kedua sahabatnya sudah tertidur sejam beberapa jam yang lalu, sekarang waktu menunjukan pukul 00:15 menit. Wira sudah berkeringat dingin ia benar-benar ketakutan. Bayang-bayang saat motornya bertabrakan dan anak kecil tersebut terlempar dari motor dan jatuh ke aspal di depan mata Wira, masih terekam jelas di ingatannya. Wira melihat darah yang keluar dari kepala anak itu, dan kemudian orang-orang mulai berkerumun menyelamatkannya.

Wira mengambil jaket dan ponselnya, ia memilih berjalan keluar dari kamar penginapannya dan mencari udara di luar. Wira berjalan ke arah pantai, tidak begitu gelap karena banyak lampu yang bersinar menerangi, Wira duduk di kursi dekat pohon tidak terlalu jauh dari tempat penginapannya. Ia mengambil Rokok di saku jaketnya dan kemudian menghidupkan korek dan mengesapnya dan membuang asapnya ke udara.

"Iya teh, nanti Dira pulang kok, sekarang kan masih sibuk kuliahnya", ucap seseorang sedang menelepon.

"Yaudah teh udah malem , teteh juga besok mau kerja kan? Semangat yaa, dadah." ucapnya mematikan teleponnya.

Wira yang sedang bersandar di kursi langsung mencari arah suara yang tengah menelepon itu, Wira melihat wanita yang ia kenal. Diraya wanita yang baru saja menjadi pusat perhatiannya, Dira baru saja menelepon dengan seseorang di arah belakang tempat duduknya tepatnya di arah penginapan Dira, wanita itu sedang duduk sendirian sambil menelpon.

"Bukannya itu Diraya? Kenapa keluar malam-malam?" tanya Wira bingung.

Dira memasukan ponselnya ke saku jaket, ia kemudian menghembuskan nafasnya dengan keras sambil menatap langit, entah apa yang ia pikirkannya saat ini, seperti beban yang begitu berat ia dapatkan, hingga beberapa tetes air mata lolos begitu saja tanpa ia sadari. Ia memejamkan mata dan menghapus bulir air matanya, kemudian ia tersenyum sebelum masuk ke dalam kamarnya.

Wira hanya menatap heran dengan apa yang ia lihat, Diraya menangis tiba-tiba dan kemudian tersenyum? Ada apa? Wira bertanya-tanya tapi entah untuk apa ia peduli.

*-*-*-*-*-*

Wira sudah sampai di rumahnya, dengan badan yang masih lelah Wira memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Wira baru sampai subuh tadi, ia memutuskan mengistirahatkan badannya sebentar sebelum kembali ke kantornya karena ada beberapa pekerjaan yang akan ia kerjakan.

"Mas Wira, bangun" ucap Maya yang langsung masuk ke kamar Wira.

"Isshh, apaan sih, Mas mau tidur!" ucapnya memeluk guling.

"Ihh Mas cepetan mandi Ayah udah nungguin tau", ucap Maya kesal.

"Mas capek mau tidur, bilang aja sarapan duluan", ucapnya dengan mata terpejam.

"Mas Wira ih cepetan, nanti kalau Ayah meledak gimana?" ucapnya sambil menggoyang badan Wira.

Wira tidak peduli pada sang adik Maya yang terus berusaha membangunkannya. Maya adik satu-satunya yang paling cantik, mukanya hitam manis dengan bulu mata lentik, ia kini menginjak kelas 12 SMA di salah satu sekolah swasta favorit. Maya yang paling dekat dengan Wira karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh di banding kakak pertama Wira bernama Artha. Wira sangat menyayangi adiknya yang mengemaskan.

"Kamu tuh kesambet apa sih bawel banget pagi-pagi, lagian ya mana mungkin Ayah meledak kayak bom aja", ucap Wira kemudian bangun.

Maya mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Wira yang malah meledeknya, Wira tahu Maya akan kesal jika ia goda seperti itu.

"Udah jangan ngambek ntar tambah jelek atuh ", ucap Wira mengelus kepala Maya

"Ahh.. Mas Wira jahat" ucapnya langsung pergi dengan muka yang makin ditekuk.

Wira pun tertawa melihat tingkah adiknya yang menggemaskan itu, ia akhirnya memilih mandi dan langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.

"Wira kenapa lama banget sih?" omel Bunda yang sedang menuangkan nasi di piringnya.

"Mandi dulu Bunda, tadi juga baru sampai jadi istirahat sebentar." ucapnya kemudian meminum air putih yang menjadi kebiasaannya sebelum makan.

"Gimana liburannya? Pakde sama Budhe apa kabar?" tanya Ayah dengan logat jawa yang khas sambil menutup korannya.

"Alhamdulillah baik Yah", ucap Wira tanpa menatap Ayahnya.

"Habis ini kamu antar Maya ke sekolah terus langsung pulang ya gak usah ngantor", ucap Ayah.

"Nggak mau Yah, Maya mau naik ojek aja ke sekolah", ucap Maya langsung menolak titah Ayahnya.

Bunda yang terkejut menatap ke arah Maya yang sedang mengunyah makannya sambil menatap tajam ke arah Wira yang malah santai dan mengedipkan matanya pada Maya.

"Kenapa gak mau di anterin Mas? Nanti kamu kesiangan Dek", ucap sang Bunda.

"Mas Wira tuh jahat, Adek gak mau diantar Mas", ucapnya kesal langsung menundukkan kepalanya takut Ayahnya marah.

"Lho, kenapa toh kalian berdua? Katanya kemarin Maya kangen sama Masnya sekarang Masnya udah ada malah ndak mau", ucap Ayah.

"Nggak. Adek marah sama Mas Wira"

"Wira kenapa sama Adekmu?" tanya Bunda

"Nggak tahu Bun, Adek lagi PMS mungkin", ucapnya tak peduli.

Lagi-lagi Maya menatap kesal pada kakak keduanya itu, Wira malah menatap cuek sambil tertawa jahil pada Maya yang sudah menatap tajam padanya.

"Sudah-sudah selesaikan makan kalian." lerai Ayah yang membungkamkan semuanya.

Lima belas menit sudah berlalu, meja makan sudah bersih kembali, Wira masih duduk di kursi makan bersama Ayah yang masih sibuk membalik-balikan korannya mencari berita kriminal yang menjadi hobinya.

Ayah Wira sudah pensiun dua tahun silam, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah dan bertemu beberapa temannya yang sering mengadakan kunjungan atau reunian. Wira paling menghormati Ayahnya itu, Ayahnya memang asli Yogyakarta namun sangat tegas bahkan saat mendidik anak-anaknya termasuk Wira. Namun bukan berarti Ayahnya orang menakutkan, Ayahnya selalu mengembangkan ilmu agama pada Anak-anaknya. Dulu Wira disuruh untuk mengenyam pendidikan di Pasantren namun karena Wira tidak mau akhirnya Ayah memilih memasukan Wira kesekolah berbasis Agama hingga tamat sekolah dan terbukti Wira selalu shalat 5 waktu meskipun sering telat namun tak pernah ia tinggal, jika berada di rumah Wira akan selalu di tunjuk menjadi Imam shalat berjamaah.

"Yah, kenapa Wira gak boleh langsung ke kantor?" tanya Wira heran.

"Ayah mau ada acara nanti siang jadi kamu harus di rumah", ucap Ayahnya sambil meminum kopinya.

"Acara apa Yah? Gimana kalau Wira ke kantor dulu terus nanti agak siang Wira pulang lagi sebentar?".

"Ndak bisa nak, Ayah udah terlanjur janji sama teman Ayah, dia mau ketemu kamu", ucap Ayah kembali.

"Iya, kamu antar adekmu dulu gih, nanti langsung pulang", ucap Bunda yang menaruh camilan di meja makan.

Wira hanya menganggukan kepalanya dan langsung menemui adiknya yang sedang memakai sepatu di teras rumah.

"Pake sepatu sendiri aja lama gini, gimana nanti pakein sepatu suaminya", ucap Wira.

"Ih apaan sih Mas, ganggu aja!" ucapnya yang sudah memakai sepatunya dan merapihkan kerudungnya.

"Nih pake helmnya", ucap Wira memberikan helm pada Maya.

"Ndak mau, adek mau naik ojek aja!" ucapnya memutar bola matanya ke arah gerbang.

"Yakin? Emangnya ada Mang ojek di sini?" ucap Wira.

"Gapapa ntar jalan aja kedepan komplek banyak ojek", ucapnya langsung pergi.

Wira menatap adiknya tersenyum, kelakuan adiknya memang tidak berubah, Wira tak yakin jika Maya akan menaiki ojek karena ia terlalu penakut.

"Neng ojek Neng", ucap Wira menghampiri Maya yang masih berjalan.

Maya tak menghiraukan Wira dan langsung mempercepat langkahnya.

"Neng jangan marah-marah nanti cepet tua", tambah Wira sambil membawa motornya pelan-pelan.

"Ih Mas Wira mah nyebelin!" ucapnya berhenti dan menatap Wira.

"Udah cepetan naik, nanti kalau Mas udah nikah gak ada yang nganterin lagi", ucap Wira.

Maya malah terdiam dan menunduk, kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, Wira yang heran langsung mematikan motornya dan berdiri ke arah adiknya itu.

"Eh kenapa malah ditutupin mukanya?" tanya Wira.

"Mas Wira mau nikah? Nanti gak ada yang nganterin adek lagi?" ucapnya menangis.

"Eh Mas tadi bercanda Dek, jangan nangis", ucap Wira langsung memeluk Maya.

"Maya gak mau kehilangan Mas Wira." ucapnya.

"Mas gak kemana-mana kan sekarang ada di depan kamu Dek " ucap Wira mengelus kepala Maya.

"Tapi katanya kalau Mas Wira nikah ntar gak ada yang nganterin Adek lagi", ucapnya tersedu-sedu.

"Mas belum ada rencana nikah, kan Mas masih muda masih cocok jadi anak SMA juga", ucapnya.

Maya menghetikan tangisnya dan menatap ke arah sang kakak yang tingginya jauh darinya, Wira menghapus air mata Maya dan langsung merapihkan kerudung adiknya itu yang hampir kusut.

"Udah atuh jangan nangis nanti tambah jelek", ucapnya.

"Gapapa jelek juga yang penting Mas Wira tetep sayang", ucapnya tersenyum.

Wira ikut tersenyum ke arah adiknya dan langsung memeluk adiknya itu sebelum memberikan helmnya pada Maya.

*-*-*-*-*

"Mas sudah ganti baju?" teriak Bunda dari luar kamar.

"Iya Bunda ini mau turun sebentar lagi", jawab Wira.

"Ayah sudah nunggu di bawah", ucap Bunda kemudian turun ke bawah.

Wira hanya menghela nafasnya, baru kali ini Wira di suruh untuk ikut bertemu dengan teman Ayahnya sampai libur ngantor. Wira sendiri tak bisa menolak permintaan Ayahnya karena katanya ini acara yang penting. Wira hanya menuruti saja, ia sudah merapihkan rambutnya dengan pomade merk hits di indonesia, ia menggukan kameja lengan panjang yang ia gulung hingga ke siku.

"Nah Ini Wira", ucap Ayah saat Wira turun menghampiri mereka.

"Lho sudah besar saja anakmu", ucap lelaki sebaya Ayah yang langsung menerima salam Wira.

Wira duduk bersama Ayah, sedangkan Bunda sibuk membuatkan minum untuk tamu. Teman Ayah usianya tampak lebih muda sedikit, ia bersama istrinya dan anak perempuannya yang berhijab tengah duduk di hadapan Wira. Perasaan Wira mendadak tidak enak tatkala memandang ke arah mereka bersama anak perempuannya.

"Wir, kamu tidak ingat sama Pak Sanjaya?" tanya Ayah.

"Nggak Yah" ucapnya tersenyum bingung.

"Sudah tidak apa, dia lupa sama saya karena sudah lama juga tidak bertemu", ucap Pak Sanjaya tersenyum pada Wira.

"Itu lho yang nganterin kamu ke rumah sakit waktu jatuh dari sepeda waktu kamu SD", ucap Bunda yang tiba-tiba datang menaruh cemilan dan minuman.

"Ayah sama pak Sanjaya sudah kenal lama, kebetulan pak Sanjaya itu Camat di kompleks sebelah", ucap Ayah.

Wira hanya mengangguk dan tersenyum kecil ke arah pak Sanjaya, sedangkan istrinya sedang asyik mengobrol dengan Bunda yang duduk disebelahnya dengan akrab.

"Hmm.. gimana Naraya sekarang sudah bekerja?" tanya Ayah pada wanita berhijab yang menunduk itu.

"Sudah Pak." ucapnya tersenyum ke arah Ayah.

Wira yang dari tadi diam menatap gadis itu yang terlihat malu-malu karena wajahnya selalu tertunduk, Wira menatap gadis itu berparas manis namun entah mengapa Wira malah mengingat wajah Diraya yang sudah malah tiba-tiba menghantui pikirannya.

"Kerja dimana Nak?" tanya Ayah.

"Di perusahaan Astra Mandiri", ucap Naraya

"Lho itu perusahaan Wira, kebetulan sekali", ucap Ayah menepuk bahu Wira yang ikut terkejut.

"Wira kamu bangun perusahaan?" tanya pak Sanjaya.

"Iya Pak, baru beberapa tahun", ucap Wira dengan canggung.

"Kamu ndak kenal sama Naraya Wir?" tanya Bunda.

"Nggak Bun" ucapnya jujur dan tersenyum kaku ke arah mereka sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Lah kalian satu perusahaan kok gak kenal, kamu gimana toh, karyawan kamu aja gak tahu jangan-jangan di kantor kamu jadi bos yang sombong ya?" selidik Ayah.

Wira hanya diam menahan nafasnya, tiba-tiba rasa gerah ia rasakan, ia juga merasa sedikit canggung dengan situasi seperti ini.

"Ya, sudah kalian harus kenalan, gimana toh bos sampai gak tahu yang kerja di sana", ucap Ayah kesal pada anaknya itu.

"Yang nerima karyawan kan Bagian personalia Yah, Wira jarang merhatiin katyawan juga", ucapnya sopan.

"Naraya kamu sudah kenal dengan Wira?" tanya Pak Sanjaya.

"Sudah, pernah bertemu beberapa kali", jawabnya sopan

Wira menatap ke arah wanita berhijab itu, ia mengerutkan keningnya heran, apakah mereka pernah bertemu apakah wanita ini karyawannya? Ia bahkan tak pernah ingat karyawan di tempatnya kecuali jika mereka menyapanya, Wira memang cuek terlebih pada wanita karena masih merasa sakit hati dengan masa lalunya.

"Wira.. Wira, ya sudah begini saja kalian lebih baik berkenalan dulu, sesekali saling bertegur sapa, Wira jangan sombong mentang-mentang kamu bosnya." tegur Ayah.

"Iya Yah", ucapnya menunduk sambil tersenyum gugup pada Ayah.

Wira merasa tidak enak berada dalam situasi seperti ini, mengapa juga ia harus bersikap ramah pada Naraya karyawannya, namun ia tak bisa menolak permintaan Ayahnya yang ia hormati itu bagaimanapun Ayahnya mendidiknya dengan benar.

"Kalau begitu mulai besok kalian berangkat kerja bareng, Wira kamu jemput Naraya ya", ucap Bunda.

Wira yang baru saja meminum teh buat Bunda langsung terbatuk dan menatap Bunda dengan tanda tanya.

"Nggak usah, Naraya bisa berangkat sendiri tante", ucapnya.

"Ndak papa, Naraya berangkat bareng Wira aja mulai besok, lagipula rumah kamu gak terlalu jauh kan jadi sekalian lewat, Wira kamu mau kan" tanya Ayah

"Eh tapi gimana Yah kalau ada gosip gak enak nanti?" tanya Wira khawatir

"Lho ndak apa toh, kan Ayah memang mau menjodohkan kalian berdua, lagipula umur kalian itu sudah pas, apalagi Naraya cantik baik juga cocok buat kamu", ucap Ayah spontan.

Wira menatap ke arah Ayah dengan tatapan terkejut, apa maksudnya menjodohkan Wira dengan Naraya? Wira masih merasakan luka di hatinya yang belum sembuh, sekarang malah ia akan di jodohkan dengan karyawannya sendiri?

Wira menatap ke arah Naraya yang nampaknya tenang, sepertinya ia sudah mengetahui kabar ini, Wira hanya terdiam dan bingung harus menjawab apa pada Ayahnya, karena seumur hidupnya Wira tak pernah menentang atau melawan perkataan Ayahnya yang ia hormati itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Berbalas Dusta
9.0
Angel Mudryy adalah model asal Rusia berusia 19 tahun yang membangun karier di Paris. Sebagai tulang punggung keluarga yang lugu, kesuksesan dan kecantikannya memicu rasa iri banyak pihak. Kini, hidupnya terjebak dalam dilema sulit antara dua pria yang terobsesi padanya: seorang bujang hipersex dan duda playboy. Akankah Angel menolak keduanya atau justru terpaksa memilih salah satu? Ikuti perjuangan Angel menghadapi pengkhianatan dan cinta yang penuh dengan kepalsuan.
Sampul Novel Harem milik Suamiku
9.1
Demi lepas dari desakan orang tua, Marigold memutuskan menikah dengan Maximilian. Sang miliarder sendiri terikat ramalan untuk menyunting tujuh istri bernama bunga demi kejayaan bisnisnya. Di sebuah mansion mewah, ketujuh wanita ini bersaing ketat demi status sosial, harta, dan gengsi sebagai pendamping pria sempurna. Maximilian pun harus menghadapi dinamika serta pesona unik para istrinya setiap hari. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang tuan tanah?
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat
8.9
Alya Rahayu pindah ke Jakarta demi karier impian, namun nasib malang membuatnya kehilangan segalanya. Di titik terendah, ia bertemu Dira Pratama, mantan kekasih yang kini menjadi CEO dingin penuh rahasia gelap. Lima tahun berlalu, Dira bukan lagi pria lembut yang ia kenal, melainkan sosok obsesif yang menyimpan dendam masa lalu. Terjebak sebagai bawahan Dira, Alya harus menghadapi trauma dan kenyataan pahit di balik alasan pria itu meninggalkannya dahulu.
Sampul Novel Passionate Hubby
9.3
Ayyana Binar Keana yang berusia 22 tahun mendambakan kehidupan pernikahan penuh gairah. Namun, harapannya hancur karena Biru Evaksa Aiden, suaminya yang berumur 29 tahun, memiliki kelainan tertentu. Kondisi medis Biru membuat mereka belum dikaruniai keturunan meski sudah menikah selama sebelas bulan. Bahkan, Ayyana masih menjaga kesuciannya karena sang suami tidak mampu memenuhi kewajiban batinnya, menciptakan konflik dalam hubungan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Pewaris Sejati yang Terlupakan Menyerang Balik
8.1
Jennifer Bennett, pewaris asli Keluarga Bennett, justru disingkirkan oleh penipu demi mendapatkan pengakuan. Setelah difitnah dan dipermalukan secara publik, ia memilih berhenti mengejar restu keluarga. Jennifer bangkit untuk membalas ketidakadilan tersebut, menjadi ancaman bagi mereka yang menindasnya. Saat keluarga Bennett berusaha menghancurkannya, Jennifer justru meraih kesuksesan luar biasa. Bagi Jennifer, kekuasaan adalah jawaban mutlak atas segala pengkhianatan.