
Ipar Jadi Pacar
Bab 2
Andre memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju rumah Kania, dia sudah berjanji akan datang.
Bagi Andre, Kania adalah segalanya. Namun, perjodohannya dengan Rhea empat bulan yang lalu, menghancurkan impian Andre mempersunting Kania. Dia harus tunduk pada omanya demi harta. Menikahi Rhea yang berpenampilan sederhana dan tidak cantik.
Begitu sampai, Andre langsung turun dari mobil. Lelaki itu tidak perlu berpayah mengetuk pintu karena mempunyai kunci pintu rumah Kania. Langkahnya memburu masuk ke rumah.
"Aku tahu kau yang datang." Kania muncul dari arah dapur, perempuan itu hanya mengenakan baju tidur berbahan satin dengan bahu yang terbuka. "Aku baru selesai masak. Ayo, sarapan."
Andre menggapai tubuh Kania. "Aku mau sarapan kamu." Kemudian mencium bibir Kinan. Lidahnya bermanuver agresif di dalam mulut perempuan itu. Tangan kanannya menyusup di dada Kinan.
"Ndre ...." Kania melepas pagutan, napasnya terengah. "Aku mau sarapan dulu. Lapar," katanya manja.
"Baiklah, mari kita sarapan dulu." Andre harus menahan gejolaknya. Tubuh indah Kania membuatnya candu. Dia benar-benar menyukai perempuan yang sedang membuat kopi itu. Tubuh tinggi dengan tungkai jenjang, kulitnya putih mulus. Rambut cokelat terang yang panjang.
"Benar semalam tidak terjadi apa-apa? Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan kekasihku bersama perempuan lain." Kania menaruh secangkir kopi hitam panas di meja.
"Rhea tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu, Kania. Perempuan itu tidak cantik sama sekali," sahut Andre.
Kania memiringkan kepalanya, Andre mengatakan hal itu supaya meredam rasa cemburunya. "Tidak cantik? Rhea itu manis dengan kulit cokelat yang indah, Ndre. Walaupun tidak tinggi, Rhea mempunyai dua bukit seperti melon."
Andre tidak berkomentar. Menyesap kopi dengan pelan-pelan. Ya, diakuinya, tubuh mungil Rhea indah dengan dada yang bulat penuh. Sebenarnya semalam dia hampir terlena.
"Ndre, aku takut kamu akan jatuh cinta pada Rhea," ujar Kania, lantas melahap roti isi.
"Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada Rhea. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh."
"Kan, setiap hari bertemu, Ndre. Ada pepatah Jawa 'witing tresno jalaran soko kulino'. Cinta hadir karena terbiasa." Wajah Kania merengut.
"Jangan meragukan aku, Kania. Sudah selesai sarapannya?" Andre beranjak dari kursi, membopong tubuh Kania pindah di sofa ruang keluarga. Kania hanya tinggal sendirian, jadi aman bercinta di mana saja.
"Rupanya kamu sudah tidak tahan," bisik Kania yang sekarang berada di pangkuan Andre. Mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Andre.
"Gara-gara mengurus pernikahan sialan itu, aku tidak bertemu denganmu selama seminggu. Bayangkan saja, betapa aku merindukan dirimu," ucap Andre, mencium pundak Kania, tangannya menarik tali kecil baju tidur milik Kania perlahan.
"Aku juga merindukanmu, Ndre. Sangat."
Andre langsung menyerang Kania dengan brutal. Menjelajahi setiap inci tubuh perempuan itu. Pagi yang dingin berubah memanas dengan suara desahan.
"Aku suka wangimu, Kania."
Kania membantu Andre melepaskan kaus dan celananya. Lantas, kembali berpelukan di sofa dengan hasrat yang meluap-luap. Namun, Kania langsung melompat turun dari tubuh Andre.
"Ada apa?" Andre memicingkan matanya.
"Sebentar." Kania berlari ke kamar mandi yang terletak di bawah tangga.
Andre melihat tubuh setengah polos itu hilang di balik pintu kamar mandi. Sebenarnya ada apa dengan perempuan itu? Main putus di tengah jalan.
Kania muncul kembali, dia mengenakan handuk putih yang melilit di tubuh indahnya.
"Ada apa, Sayang?" Andre mengulangi pertanyaan.
"Sori, mbak bulan datang." Kania tertawa cekikikan melihat wajah Andre berubah muram. "Canda, Ndre," katanya kemudian seraya melepaskan handuk. Duduk di atas tubuh kekasihnya, dan memulai aktivitas liar yang terjeda.
***
Rhea hanya berdiam diri di kamar. Sampai siang Andre belum pulang, dia tahu ke mana Andre pergi. Bukan ke kantor, tapi ke rumah Kania.
Sungguh mengenaskan nasibnya, pengantin baru yang kesepian dan penuh kesedihan. Rhea tanpa sadar menitikkan air matanya kembali. Dia menatap langit yang membiru sempurna. Sangat indah, kontras dengan hatinya.
Dering ponsel membuat Rhea berjalan ke meja rias. Nama Sita terpampang di layar.
"Hei, halo, pengantin baru. Aku tidak mengganggumu, kan?"
"Halo, Sita. Apa kabar? Aku senang kamu meneleponku."
"Aku baik. Aku sekarang berada di Jakarta. Maaf, karena pesawatnya delay aku tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu," jelas Sita.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kadang cuaca bisa mengubah rencana." Rhea tertawa hambar.
Sita adalah temannya. Mereka bertemu di rumah sakit, sama-sama menemani keluarga yang sakit. Walaupun usia Sita lebih muda empat tahun darinya, Rhea menemukan kecocokan. Bukan hanya usia, Sita juga berasal dari keluarga konglomerat.
Rhea hanya bekerja staf administrasi, sedangkan Sita menekuni karirnya sebagai desainer.
"Aku ingin bertemu denganmu, Rhea. Tapi, mungkin kau sudah berangkat bulan madu."
"Aku menunda bulan madu. Datanglah ke rumah suamiku. Atau kita bertemu di luar."
"Aku akan ke rumahmu saja, deh."
"Oke, aku tunggu."
"Sampai jumpa."
Rhea mengantungi ponselnya ke saku celana. Dia berjalan keluar kamar, dia mendapati pintu kamar di ujung lorong terbuka. Rhea pun penasaran.
Tampak Bik Darni sedang mengganti seprai. Tirai-tirai pun diturunkan oleh Pak Karto.
"Debu, Non. Jangan berdiri di situ," tegur Bik Darni.
"Mau ada tamu ya, Bik?" tebak Rhea.
"Den Samuel, adiknya Pak Andre besok pulang, Non."
Rhea mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia belum pernah bertemu Samuel, adik iparnya itu kuliah di luar negeri. Rhea hanya melihatnya di foto keluarga yang terpasang di ruang keluarga. Itu pun foto Samuel mengenakan seragam biru.
"Sudah tujuh tahun, akhirnya pulang. Den Samuel ngambek karena tidak diizinkan menjadi penyanyi oleh Nyonya Vena," kata Bik Darni.
"Oh, gitu."
"Makanya tidak mau pulang, Non. Tapi, sepertinya sekarang sudah diizinkan karena sudah selesai kuliah."
"Usianya Samuel berapa, Bik?"
"Kurang tahu, Non. Waktu pindah ke Belanda, baru lulus SMP."
Rhea mengira-ngira umurnya Samuel sekitar dua puluh dua tahun. Beda empat tahun dengan dirinya.
Rhea baru mengenal keluarga Rahardyan kurang lebih lima bulan yang lalu, saat ayahnya memberitahu bahwa dirinya dijodohkan dengan Andre. Jadi, dia tidak tahu persis kondisi keluarga suaminya.
"Rhea," panggil Oma Vena.
Rhea menoleh, melihat Oma Vena berdiri di ambang pintu kamar.
"Bisa kita bicara?"
Anda Mungkin Juga Suka





